
*Colin*
Aku sudah bersiap-siap akan menerima cacian atau makian saat datang ke rumah Dira. Semua orang tahu bahwa aku dan Dira punya hubungan yang serius, bahkan kami berencana akan menikah pada awal tahun depan. Tepat setelah dia berusia sembilan belas tahun.
Namun aku tidak mendapatkan sambutan yang aku duga itu. Dira menyambut aku dengan ramah, begitu juga Mila. Tidak ada amarah atau tatapan cemburu di matanya saat dia menjabat tangan kami. Apa aku yang selama ini salah duga?
Kami sudah lama bersama, jadi hubungan kami tidak seperti sepasang kekasih pada umumnya. Kami layaknya dua orang sahabat yang sangat dekat. Kami tidak berpelukan, berciuman, bahkan tidak bergandengan tangan di depan umum atau saat berdua saja. Kami menghabiskan waktu bersama tanpa mengganggu kehidupan pribadi kami.
Dira tetap bisa fokus sekolah dan bekerja sebagai model, yang sangat aku syukuri. Aku bisa fokus kuliah dan mengumpulkan uang lewat hobiku. Sama sekali tidak ada drama tidak penting dalam hubungan kami. Dira tidak pernah merajuk karena kurang perhatian, aku juga tidak pernah protes dengan kesibukannya sebagai model.
Mungkin tanpa aku sadari, kami sudah tidak saling membutuhkan lagi. Dia nyaman dengan dunianya, begitu juga dengan aku. Sebelumnya, hal ini tidak mengganggu aku, tetapi mataku telah terbuka sekarang. Aku melakukan hal yang benar dengan membawa Mila bersamaku malam ini.
Mila memiliki daya tarik tersendiri, aku tidak akan membawa dia ke sini bila dia tidak cukup menarik untuk bersaing dengan Dira. Tetapi laki-laki mana pun tahu bahwa kecantikan Dira tidak bisa akan disandingkan dengan siapa pun. Jantungku berdebar lebih cepat melihat dia begitu cantik dari jarak sedekat ini. Sayangnya, aku punya misi yang harus aku selesaikan.
Entah apa yang menarik pada Mila, hampir semua orang dewasa fokus padanya, termasuk Uncle Hendra dan Aunt Zahara. Aku tidak bisa duduk di sampingnya atau berdiri di dekatnya, maka aku menyerah. Aku bergabung dengan Hadi dan Adi di sebuah sofa.
Mereka berdua tidak mau melihat atau bicara denganku. Jadi, aku mengikuti apa yang mereka lakukan, sibuk sendiri dengan ponselku sambil menyantap makananku. Ketika piringku hampir kosong, aku mendekati meja saji untuk mengambil makanan yang lain.
Aku bisa melihat dari sudut mataku bahwa Dira sedang berjalan ke arahku. Dia berbisik saat kami sudah dekat dan meminta aku untuk mengikuti dia, maka aku meletakkan piring itu di atas meja. Melihat segelas jus jeruk, aku membawanya beserta segelas air untukku.
Yang aku harapkan pun terjadi. Dira yang pertama kali mengucapkan kata putus. Aku tidak tahu bahwa rasanya akan sesakit ini. Dia duduk di depanku, berusaha sekuat tenaga untuk bersikap tegar, tetapi aku bisa melihat tangan yang ada di pangkuannya gemetar.
__ADS_1
Sejak aku mengenal dia, tidak sekalipun aku sengaja menyakitinya. Aku menjaga dia sebaik mungkin. Memperlakukan dia dengan hormat. Tetapi hari ini aku telah mematahkan hati orang yang sangat aku cintai. Rasanya aku ingin membatalkan semua rencana bodohku ini dan membujuk dia untuk memaafkan aku dan menerima aku kembali.
Namun layaknya seorang pengecut, aku malah menyetujui semua kalimat yang dia ucapkan dan keluar dari ruangan itu setelah menyakiti dia. Apa yang aku inginkan telah tercapai, tetapi mengapa aku tidak merasakan kelegaan apa pun? Mengapa aku justru merasa lantai yang aku injak bergoyang sehingga aku kehilangan keseimbangan saat berjalan?
Aku bergegas ke pekarangan depan merasakan dadaku begitu sesak. Udara sejuk dan segar yang menyambut aku, membantu aku untuk bernapas lebih lega. Sayangnya, jantungku yang berdebar begitu kencang tidak bisa aku tenangkan. Detakannya menyakiti dada kiriku.
“Kamu terlihat seperti orang yang baru saja mendengar vonis mati dari dokter,” kata Mila saat kami berada di dalam mobil, menuju hotel tempat dia menginap.
“Rencanaku berhasil. Ini pertemuan terakhir kita, jadi kamu tidak perlu menemani aku lagi. Aku akan menepati janji dengan membayar tiga pertemuan yang aku pesan.”
“Ah, tidak. Kamu tidak perlu membayar bila pertemuan ketiga dibatalkan. Aku punya klien juga saat mengerjakan misi bersama kamu. Tidak perlu merasa bertanggung jawab atas waktuku yang sudah kamu pesan,” katanya menolak.
“Mila, aku bukan orang jahat. Aku tahu kamu membutuhkan uang, jadi anggap saja aku berterima kasih karena apa yang aku harapkan sudah terjadi. Atau anggap saja itu sebagai bonus. Aku tidak mau mendengar kata tidak.”
“Tetapi kamu malah melepaskan gadis itu dengan memamerkan pacar palsumu di depan dia dan keluarganya. Mengapa menggunakan cara ini? Mengapa tidak bicarakan baik-baik dengannya? Lihat saja hasilnya, kamu tidak hanya melukai dia, kamu juga melukai dirimu sendiri.”
“Apa kamu selalu memberi kuliah begini pada klienmu pada setiap akhir pertemuan?” tanyaku yang mulai merasa tidak enak diingatkan lagi telah menyakiti Dira.
“Hanya pada klien yang telah melakukan hal bodoh,” jawabnya acuh tak acuh. “Aku memang hanya pacar palsumu, tetapi sebagai seorang perempuan, aku beri tahu kamu. Setelah apa yang kamu lakukan ini, aku harap kamu tidak menyesal. Karena dia tidak akan mau kembali lagi padamu apa pun yang kamu lakukan untuk membuat dia mencintai kamu lagi.”
“Aku tidak akan kembali padanya,” ucapku dengan tegas. Dia mendengus keras. “Aku serius. Aku juga tidak akan meminta dia kembali kepadaku.”
__ADS_1
“Taruhan. Dalam waktu kurang dari satu bulan, kamu akan menyesali keputusanmu itu. Aku minta uang sebesar tiga pertemuan yang kamu pesan ditransfer ke rekeningku, bila aku benar. Aku akan mentransfer jumlah serupa bila kamu yang menang.”
“Oke. Siapa takut?” Jumlah uang taruhan itu tidak sedikit, tetapi aku tidak keberatan membantu teman bila harus kehilangan uang sebanyak itu. Lagi pula harga diriku menolak direndahkan oleh orang asing yang merasa tahu segalanya tentang aku.
Hampir jam sebelas malam saat aku tiba di apartemen. Aku melewatkan satu hari tanpa membuka satu game pun yang sedang aku mainkan. Supaya aku tidak kehilangan hadiah harian yang harus aku buka dengan cara masuk ke permainan, aku harus melakukannya sebelum tidur. Besok adalah hari Minggu, jadi aku tidak perlu bangun pagi.
Langkahku terhenti ketika melihat Dad dan Mama duduk di kursi depan. Aku menelan ludah dengan berat melihat Mama memberi sinyal dengan matanya agar aku datang mendekat. Saat aku pikir Lily sudah tidur di kamarnya, gadis itu lewat di depanku dan duduk di salah satu sofa kosong. Aku ikut duduk di sampingnya.
Wajah Dad terlihat sangat serius. Dia meminum air dalam gelas, lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Dia adalah pria yang ramah dan murah senyum, jadi ekspresi ini sangat jarang dia tunjukkan. Tetapi sejak aku membuat masalah dalam hidupku sendiri, raut muka itu semakin sering aku lihat. Mama yang duduk di sisinya menutup bibirnya rapat-rapat, menunggu Dad bicara.
“Kita sudah bicarakan ini beberapa hari yang lalu,” kata Dad memulai pembicaraan. “Aku dengan jelas mengatakan agar kamu bicara dengan Dira mengenai hubungan kalian. Tetapi kamu merasa lebih pintar dengan bersikap layaknya anak berusia lima tahun.”
Dad menoleh ke arahku. “Belum cukup menyakiti gadis malang itu dengan membawa perempuan lain pada hari ulang tahun temanmu, kamu harus melakukan hal yang sama pada hari ulang tahun dia di rumahnya sendiri? Siapa kamu? Kamu bukan Colin yang aku ajari untuk menghargai wanita, tidak peduli siapa dia. Yang kamu lakukan itu sangat rendah dan aku malu karenamu.
“Aku sudah katakan bahwa umurmu masih terlalu muda untuk memahami arti pernikahan, tetapi kamu selalu bersikeras bahwa kamu akan menikah dengannya. Kamu akan menepati semua janjimu padanya dan orang tuanya. Lalu mengapa belakangan jadi begini? Ke mana Colin yang jatuh cinta pada Dira dan tidak berhenti memperjuangkan cintanya itu?
“Iya, Mila adalah gadis yang menarik. Tetapi kamu sudah sering bertemu gadis serupa dia dan tidak pernah berpaling sebelumnya. Mengapa kamu melakukan ini sekarang? Pernikahan kalian sudah di depan mata. Aku dan Hendra bahkan sudah membicarakan untuk memberi kalian sebuah rumah sebagai kado pernikahan. Apa yang harus aku katakan padanya ketika putraku bertindak bodoh dengan menyakiti putrinya di rumahnya sendiri?”
Mama menyentuh tangan Dad untuk menenangkannya. Aku sadar bahwa apa yang aku lakukan ini tidak termaafkan dan tidak akan ada yang bisa mengerti mengapa aku melakukannya. Tetapi seperti yang aku katakan pada Dira, suatu hari nanti mereka akan memahaminya dan memaafkan aku.
“Maafkan aku, Dad, Ma. Aku telah membuat kalian kecewa.” Aku hanya menundukkan kepalaku.
__ADS_1
“Maaf saja tidak cukup, Colin.” Dad menatap aku dengan serius. “Kamu harus jelaskan kepada kami mengapa kamu melakukan ini. Mengapa setelah sekian tahun, kamu memutuskan hubungan kalian dengan cara ini? Jangan bohong padaku dengan mengatakan bahwa dia pacarmu dari Amerika. Aku tahu dia besar di Indonesia. Aksennya bukan aksen orang Amerika asli.”