Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 140 - Tiga Bulan Bersama


__ADS_3

*Clarissa*


“Hadi akan sangat marah ketika dia melihatku nanti.” Aku tertawa kecil membayangkan wajah kesalnya yang akhir-akhir ini menjadi sahabat baikku.


Selama satu minggu terakhir, aku datang ke rumahnya setiap hari untuk membantu Tante Zahara menyelesaikan materi buku barunya. Aku tidak berhenti kagum melihat dia sanggup menyelesaikan banyak pekerjaan sekaligus. Dia juga sedang menyusun naskah untuk salah satu bukunya yang akan ditayang secara daring di saluran televisi berbayar.


Aku tidak pernah bertemu Dira di rumah mereka. Dia kembali sibuk dengan mengikuti audisi model iklan maupun peragaan busana begitu lututnya pulih. Jadi, aku hanya bertemu Hadi dan Adi yang memang hobi berada di rumah saja.


Kesempatan yang tidak aku sia-siakan, apalagi Tante Zahara sangat mendukung semua tindakanku. Kami duduk bersebelahan, Tante Zahara kadang-kadang memaksa putranya untuk mengantar aku pulang, dan Nenek memanfaatkannya dengan mengajak dia minum teh di rumah kami.


Benar-benar minggu yang menyenangkan. Lalu dalam beberapa bulan ke depan, kami akan bersama lebih sering lagi. Aku berterima kasih kepada Charlotte yang sudah memberikan ide ini. Dia sendiri yang bicara dengan orang-orang yang bersangkutan dengan ide cemerlangnya tersebut. Aku hanya menerima beresnya. Tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan usaha kerasnya itu.


“Marah itu pertanda bagus. Itu artinya dia masih punya perasaan kepadamu. Jika dia diam saja dan mengabaikan kamu, menganggap kamu tidak ada, maka itu pertanda buruk.” Charlotte memeriksa penampilanku, lalu tersenyum puas. “Oke. Kamu sudah siap. Kalau Hadi tidak mengajakmu kembali setelah tiga bulan bersama, aku akan pikirkan cara lain lagi. Tenang saja.”


Aku sedikit gugup ketika tiba di gedung tinggi tersebut. Kakek yang mengantarku, mendorongku untuk masuk dengan lambaian tangannya. Aku menurut. Setelah menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan, aku melangkah bersama puluhan orang lainnya yang sebaya denganku dan mengenakan pakaian yang sama.


Kami diminta berkumpul di sebuah aula. Tepat pada jam delapan, seseorang berbicara di depan menyambut kami semua. Aku sempat berpikir Om Hendra sendiri yang akan menyampaikan pidato singkat untuk menyapa kami. Ternyata orang lain.


Mereka meminta kami untuk berdiri di depan orang yang mengangkat tangannya ketika namanya disebutkan. Berikutnya, kami akan menuju divisi kami masing-masing. Aku tidak tahu mengapa aku ditempatkan di bagian pemasaran, padahal aku mahasiswa akuntansi. Tetapi aku mengikuti nasihat Kakek. Ini akan menjadi pelajaran yang berharga yang berguna untukku kelak.


Kami mengantri menggunakan elevator, lalu dibagi ke dua grup agar muat dalam satu lift. Tiba di lantai tujuan, kami mengikuti mereka menuju sebuah pintu dan kami berada di ruangan yang luas dengan banyak bilik. Ini adalah kantor impianku yang sering aku lihat di film-film.


Seorang wanita menyambut kami dengan senyum ramah dan memperkenalkan dirinya sebagai manajer divisi pemasaran. Baru dimulai saja, aku sudah merasa nyaman. Orang-orang yang bekerja di sini sepertinya menyenangkan semua.


“Walaupun kalian hanya magang di sini, kalian tidak akan bekerja dengan gratis. Setiap bulannya, kalian akan mendapatkan sejumlah gaji yang pantas.” Terdengar sorakan senang rekan-rekan baruku. “Kalian akan dibimbing oleh beberapa orang kepercayaanku selama tiga bulan kalian bekerja di sini. Mereka sangat menjaga integritas. Kalian tidak akan bekerja sebagai pelayan, tetapi pegawai.


“Jadi, tolong laporkan kepadaku, jika ada mentor yang menyuruh kalian membeli makanan untuknya atau membuatkan minuman. Kalian akan bekerja dalam dua tim. Silakan dengarkan nama kalian dan ikuti mentor kalian masing-masing. Selamat bekerja dan bergabung bersama kami.” Semua orang bertepuk tangan begitu manajer tersebut menutup pidatonya.

__ADS_1


Aku tidak terkejut saat aku ditempatkan dalam tim di mana Hadi berada. Dia dari tadi memasang wajah cemberut, tidak peduli dengan sikutan rekannya yang meminta dia untuk tersenyum. Aku bisa melihat gadis-gadis dalam timku menatap Hadi dengan kagum. Apakah semua orang tahu siapa dia yang sebenarnya? Gawat. Aku punya banyak saingan.


Kami dibawa ke sebuah ruangan, lalu diminta untuk duduk. Pria bernama Tegar itu memberi tahu kami apa saja yang menjadi tugas kami. Kami akan menjalani masa percobaan selama satu bulan, lalu akan diberi tugas berbeda tergantung perkembangan kami masing-masing.


“Karena kalian juga termasuk karyawan di perusahaan ini, jangan segan memberi usul atau saran. Bos akan membayar setiap ide cemerlang dengan mahal,” kata Tegar menutup rapat singkat itu.


Kami diberikan sebuah buku besar berisi berkas promosi yang mereka lakukan pada produk baru belakangan ini. Juga produk-produk baru dengan keterangan lengkap seperti jenis bahan, harga, dan sebagainya. Aku punya beberapa pakaian sampai sepatu yang diproduksi atau didistribusi oleh perusahaan Om Hendra. Jadi, aku tahu kualitas barang yang mereka jual.


Aku tidak berhenti kagum melihat kreatifnya tim pemasaran memikirkan berbagai cara agar produk mereka dikenal banyak orang dan meningkatkan penjualan. Mereka tidak segan-segan melibatkan model untuk memamerkan produk baru mereka. Yang paling menarik, pakaian yang diproduksi juga tersedia ukuran untuk mereka yang berbadan besar.


Pada jam istirahat makan siang, aku tidak keluar dari ruangan seperti teman-teman yang lain. Nenek memberi aku bekal, jadi aku tidak perlu pergi ke mana pun. Aku menikmati mi goreng dengan ayam sambil membaca keterangan produk lainnya. Semakin banyak tahu, aku jadi ingin memiliki semua pakaian, tas, dan sepatu yang sangat bagus itu.


Namun ada satu hal yang aneh dari semua promosi yang mereka lakukan, baik lewat iklan di televisi, cetak, atau daring. Dira adalah seorang model, mengapa mereka sekali pun tidak menggunakan jasanya? Apa karena dia adalah putri Om Hendra atau ada alasan lain?


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Hadi dari ambang pintu yang terbuka. Aku mengangkat kotak makananku dan tidak menoleh ke arahnya. Berkas itu jauh lebih menarik darinya pada saat ini. “Kamu bisa membawa bekalmu ke kantin dan makan bersama teman-temanmu. Untuk apa makan sendirian di sini?” tanyanya yang sudah berdiri di sisiku.


“Kamu baru melihat produk pakaian wanita. Tunggu sampai kamu melihat produk pakaian pria dan anak-anak. Semua ini menjadi mungkin karena Papa mendengarkan permintaan dan kebutuhan para pelanggan.” Hadi duduk di kursi kosong di sebelah kiriku.


“Mendengarkan permintaan dan kebutuhan para pelanggan?” tanyaku bingung.


“Iya. Salah satu dari tugas divisi ini. Setiap kali mengadakan promosi, iklan, dan sebagainya, mereka membaca respons semua orang. Tentu saja harus dipilih mana komentar sirik dan mana yang serius mengevalusi keadaan produk yang dipromosikan,” jawabnya menjelaskan.


“Seperti halnya pakaian kerja. Banyak wanita yang menginginkan pakaian yang elegan sekaligus tidak mahal, nyaman dipakai di dalam maupun luar ruangan, dan mudah untuk dicuci. Ide-ide itu diterima oleh bagian produksi dan pengadaan barang, lalu mereka yang melakukan riset bahan dan model apa yang bisa menjawab kebutuhan tersebut.” Ada nada bangga pada suaranya mengatakan hal itu.


“Bagian yang paling aku suka adalah semua promosi ini jujur. Aku tahu kalimat yang kalian gunakan tidak berlebihan. Pakaian ini, misalnya. Aku punya satu berwarna krem dan bahannya persis seperti yang digambarkan pada pamflet ini. Padahal ada banyak produk yang suka berlebihan dan ketahuan tidak jujur begitu kita rasakan sendiri produk buatan mereka,” kataku lagi.


“Dari awal keluargaku mendirikan perusahaan ini, prinsip kejujuran tidak pernah dikesampingkan. Mempromosikan produk secara berlebihan yang ternyata tidak sebagus itu, kami sendiri yang akan rugi. Orang-orang akan mengatakan hal yang buruk mengenai produk kami dan sebentar saja, usaha ini sudah bangkrut. Papa mengikuti prinsip itu, makanya perusahaan ini semakin berkembang. Aku juga punya tekad yang sama.” Matanya berbinar bangga setiap kali membicarakan topik ini.

__ADS_1


Sepertinya aku tahu apa yang bisa membuat dia melupakan siapa aku dan apa hubungan kami. Dia terlihat begitu santai dan terbuka menyampaikan apa yang ada di dalam kepalanya ketika aku bicara tentang perusahaan milik keluarganya. Selain keluarganya, sepertinya perusahaan ini adalah hal berikutnya yang sangat dia sayangi.


“Ada apa? Mengapa kamu melihat aku seperti itu?” tanya Hadi dengan nada suara jengkelnya.


“Tidak ada apa-apa. Aku suka mendengar kamu bicara begitu bersemangat,” jawabku dengan jujur. Tidak ada gunanya berbohong, karena aku tahu wajahku sedang tersenyum bahagia.


Dia memicingkan matanya. “Jangan pikir bahwa cara ini akan membuat aku mau kembali kepadamu. Setelah datang ke rumah dengan kedok membantu Mama, kamu jadi pegawai magang di sini? Aku tidak tahu kamu ini mencintai aku atau terobsesi.” Dia segera berdiri, aku memegang tangannya.


“Aku sudah katakan kepadamu, Hadi. Aku akan mengejar kamu ke mana pun kamu lari.”


*******


Sementara itu di sebuah kafe~


“Jangan khawatirkan dia. Aku yakin setelah urusannya selesai, dia akan datang menemuimu lagi,” ucap Vikal yang menyentuh tangan Dira yang ada di atas meja.


“Dia tidak pernah begini sebelumnya. Bila ada masalah seberat apa pun, dia pasti akan datang dan menceritakan segalanya kepadaku. Tetapi ini sudah satu minggu lebih dan dia masih menghindari aku.” Dira mendesah pelan. “Kami sudah beberapa hari terakhir ini tidak melakukan panggilan video sebelum tidur. Itu pertanda buruk, Vikal.”


“Kamu percaya bahwa dia mencintai kamu, ‘kan?” tanya Vikal. Dira mengangguk dengan cepat. “Lalu apa yang membuat kamu ragu? Percayalah. Dia akan menemui kami begitu urusannya selesai.”


Sebuah ponsel yang ada di atas meja bergetar, mereka serentak menoleh ke arah benda tersebut. Dira tersenyum lega membaca nama pada layar. “Hai, sayang,” sapanya dengan cepat.


Colin tertawa kecil. “Hai. Kamu bersemangat sekali. Bagaimana audisi hari ini?”


“Semuanya berjalan dengan lancar. Vikal menemani aku dan kami sedang makan siang bersama. Bagaimana denganmu? Apa kamu sudah makan siang?”


“Sudah. Aku bersama Dad sedang di kantor polisi,” ucap Colin dengan suara lelah.

__ADS_1


Dira membulatkan matanya. “Di kantor polisi? Apa yang terjadi Colin? Apakah ada yang menyakiti kamu dan Uncle Will?”


__ADS_2