
Pesan pertama dari perwakilan sebuah perusahaan yang namanya sangat terkenal. Isinya adalah permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang aku alami pada saat audisi bintang iklan mereka. Pesan kedua juga dari perwakilan sebuah perusahaan ternama dengan isi serupa. Aku menoleh ke arah Papa. Ini pasti karena Papa sudah bicara dengan mereka. Bagus sekali. Semoga mereka tidak melakukan hal yang sama lagi kepadaku atau korban lainnya.
“Ada apa, Nak? Apa ada yang mengganggu kamu?” tanya Papa melihat aku sibuk dengan ponselku.
Aku segera menggelengkan kepalaku. “Tidak, Pa.” Aku memeluk tubuhnya dengan erat. “Terima kasih. Aku sudah menerima permintaan maaf dari mereka semua.”
Papa mencium rambutku sambil mengusap-usap punggungku. “Tidak ada seorang pun yang boleh menghina, merendahkan, apalagi melecehkan putriku di depan banyak orang. Jangan diam saja jika masih ada yang berani menghina kamu.” Aku mengangguk menurut.
Adi yang semula begitu sombong dengan kemampuannya tidak berhenti menggigit jari melihat Papa dan aku yang keluar sebagai pemenang. Kakak terus mengejek Adi yang tidak bisa membuktikan apa yang dia ucapkan sendiri. Mama yang mencoba merusak konsentrasi Papa dengan bermain mata juga tidak bisa membuat tim mereka menang satu kali pun.
“Bagaimana? Kamu masih tidak percaya bahwa Papa jago bermain kartu?” ejekku kepada Adi.
“Wajar saja. Pengalaman Papa sudah puluhan tahun, sedangkan aku baru beberapa kali saja bermain kartu begini,” kata Adi membela diri. Aku dan Kak Hadi ber-huu ria mendengarnya.
“Katamu, yang terpenting adu strategi. Tidak ada menyinggung masalah usia,” ujarku mengingatkan.
Adi menguap lebar. “Aku mengantuk. Selamat malam semua.” Dia berniat berdiri, tetapi Kak Hadi segera menarik tangannya sampai di terduduk kembali.
“Aku percaya kepadamu, makanya aku mau satu tim denganmu. Ternyata kamu hanya omong besar.” Kakak menggelitik pinggang Adi. Aku ikut melakukan hal yang sama.
“Ampun! Ampun!” teriak Adi sambil tertawa terbahak-bahak. Kami semua ikut tertawa bersamanya.
Aku tidur pulas setelah bermain bersama keluargaku. Bangun pagi dan berolahraga bersama menjadi hal yang menyenangkan pada pagi harinya. Gold dan Black berlari di depan memimpin kami. Aku tersenyum melihatnya. Mereka tidak berlari di samping siapa pun adalah hal yang baik. Tidak ada satu pun dari kami yang sedang bersedih.
Kami sedang sarapan bersama ketika Pak Abdi masuk ke ruang makan dan memberi tahu ada buket bunga untukku. Aku menerimanya. Mawar putih yang dipadukan dengan baby’s breath. Ada kartu di antara mawar tersebut. Aku meletakkan buket di atas meja dan membuka kartunya. Ucapan maaf dari perwakilan perusahaan ternama yang sudah mengirim pesan pada malam sebelumnya.
Aku menoleh ke arah Papa dan Mama. “Mereka sudah mengirim pesan dan menyatakan ucapan maaf. Mengapa mereka mengirim bunga lagi?” tanyaku bingung.
Mama bertukar pandang dengan Papa. “Apakah itu dari perusahaan yang jurinya menghina kamu pada saat audisi?” tanya Mama. Aku mengangguk. “Seharusnya kamu tanyakan itu kepada mereka. Kami tidak tahu-menahu mengapa mereka melakukan ini.”
__ADS_1
“Ciiee …. Apa mungkin berikutnya mereka akan memberikan putra mereka kepada Kakak?” goda Adi. Aku cemberut mendengarnya.
Itu bukan buket satu-satunya yang diantar ke rumah. Ada belasan buket lainnya yang menyusul sampai aku berangkat bersama Adi dan Pak Sakti. Aku menyerahkan urusan itu kepada Mama dan Pak Abdi. Aku fokus pada kuliahku dan waktuku bersama Charlotte, Wyatt, juga Wendy.
Kami berjalan bersama menuju kantin ketika aku terpaksa menghentikan langkah. Wendy tiba-tiba saja memeluk aku. Dia tidak mengatakan apa pun, jadi aku menoleh ke arahnya. “Wendy, ada apa?” tanyaku khawatir. Apakah terjadi sesuatu dengan orang tua atau adiknya?
“Aku tidak tahu apa jadinya studiku tanpa bantuan kamu, Dira,” ucapnya lirih. “Terima kasih.”
“Hei, kamu sudah cukup mengatakan terima kasih.” Aku mengusap-usap lengannya. “Urusanmu dengan Nenek belum selesai. Jadi, jangan merasa lega dahulu.” Aku berusaha untuk mencairkan suasana. Terdengar suara tawa Wendy.
“Iya. Kami adalah saksi yang mendengar sumpah yang kamu ucapkan hampir setiap hari. Hasil studi kamu setiap semester harus baik,” kata Charlotte ikut menggoda Wendy.
“Itu masalah kecil.” Wendy melepaskan pelukannya. Aku menyodorkan tisu dan dia mengambil beberapa lembar, lalu menyeka wajahnya. “Aku serius. Nilaiku akan lebih tinggi dari kalian bertiga.”
“Mungkin akan lebih tinggi dari Wyatt. Tetapi tidak dariku,” kata Charlotte dengan penuh percaya diri. Wyatt segera memeluknya dan mengacak-acak rambutnya sampai Charlotte minta ampun.
Bisakah hidup kami damai seperti ini selamanya? Tertawa setiap hari dan tidak lagi memiliki musuh yang ingin menyakiti kami. Apakah harapanku itu terlalu besar sehingga sulit terwujud? Aku hidup sebaik mungkin, memperlakukan orang lain sehormat mungkin, tetapi selalu saja ada orang yang tidak suka kepadaku.
Sebentar saja, aku selesai membalas semua pesan yang masuk pada malam sebelumnya. Semoga saja mereka berhenti mengirim barang sebagai pernyataan maaf mereka. Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa dengan semua produk tersebut. Makanan dan minuman bisa kami habiskan bersama dan aku yakin tanggal kedaluwarsanya masih beberapa bulan lagi. Tetapi bagaimana kami bisa menggunakan barang yang tidak bisa dimakan?
“Wah. Ada apa ini?” Terdengar suara Colin dari arah belakangku.
“Hai, sayang!” Aku segera mendekat dan memeluknya dengan erat.
Colin tertawa kecil. Aku merasakan dia mencium kepalaku. “Apa Nenek Naava akan mengadakan acara sosial sehingga menitip barang yang akan dibagikan di rumahmu?”
“Tidak. Kamu tidak akan percaya.” Aku melepaskan pelukanku, tetapi tetap melingkarkan tangan kiriku di pinggangnya. “Ini semua kiriman dari perusahaan yang jurinya menghina aku pada saat audisi. Kamu ingat apa yang terjadi pada beberapa hari yang lalu, ‘kan?”
“Aku mengingat semuanya yang kamu ceritakan kepadaku,” gumamnya terkesima. “Kamu pasti sudah memberi tahu Uncle mengenai perlakukan mereka.”
__ADS_1
“Iya. Dan pada malam harinya, pesan demi pesan permintaan maaf masuk ke ponselku. Mereka mengirim buket bunga pagi tadi, sekarang ini.” Aku menunjuk tumpukan kardus tersebut.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan semua ini?” tanyanya bingung.
“Kamu sudah memberi aku ide yang bagus. Aku akan memberi tahu Nenek. Dia pasti tahu harus melakukan apa dengan semua ini.” Aku mengeluarkan ponselku. “Kalau ada yang kamu suka, kamu boleh mengambil sebanyak yang kamu mau.”
Nenek berjanji akan datang pada keesokan hari untuk mengambil semua barang itu dari rumah. Syukurlah, pada hari Minggu nanti ada acara sosial yang akan dibarengi dengan pembagian sembako. Mereka pasti senang mendapat barang lain selain bahan makanan pokok tersebut.
Ucapan terima kasih mengisi kotak masukku dan aku yakin mereka tidak akan mengirim apa pun lagi kepadaku. Colin segan memilih satu benda yang dia mau, maka aku memberikan sekotak keripik kentang kepadanya. Aku tahu bahwa dia dan keluarga suka menonton televisi sambil makan keripik. Apalagi keripik itu adalah merek dan rasa yang sama yang mereka sekeluarga sukai.
“Bagaimana cara aku membawa barang sebanyak ini dengan sepeda motorku, sayang?” keluhnya.
“Pak Sakti akan membantu mengikatkan kardus itu di jok belakang. Tenang saja.” Aku mengajaknya untuk duduk di ruang keluarga.
Aku senang melihat Colin sudah bebas beraktivitas. Tidak tersisa ekspresi khawatir pada wajahnya. Sepertinya dia tidak mengalami truma atau memendam amarah atas apa yang dilakukan Laras dan para polisi itu kepadanya. Semoga saja hal yang sama tidak akan terjadi lagi.
Colin datang hanya untuk menemui Kakak dan meminta bantuannya sehubungan dengan skripsi yang sedang dia kerjakan. Aku membiarkan mereka berdiskusi berdua. Mama tersenyum penuh arti melihat aku duduk di sisi Adi.
“Lihat putri kita, Pa,” ucap Mama seolah-olah aku tidak bisa mendengarnya. “Aku ingat sekali, dia dahulu suka marah-marah sendiri setiap kali Hadi dan Colin hanya mau berdua saja.”
“Jangan samakan aku yang sekarang dengan yang masih kecil, Ma. Kami jelas dua orang yang berbeda,” protesku. “Waktu kecil, temanku hanya Kakak dan Colin.”
“Waktu cepat sekali berlalu, ya, sayang. Anak-anak sudah mulai mandiri, menyelesaikan studi, lalu mereka akan membentuk keluarga mereka sendiri,” ucap Mama pelan. Entah mengapa aku merasa sedih mendengarnya. “Dira akan menjadi orang pertama yang keluar dari rumah kita, disusul oleh Hadi, kemudian Adi. Sebentar lagi kita hanya tinggal berdua saja di sini.”
“Mama jangan khawatir. Aku akan tinggal lama bersama Papa dan Mama di rumah ini. Aku tidak akan menikah muda seperti Kak Hadi dan Kak Dira,” ucap Adi menghibur Mama.
“Kamu mengatakan ini sekarang. Tetapi begitu kamu jatuh cinta dan bertemu wanita yang tepat, kamu akan mengikuti jejak kedua kakakmu. Pergi dari rumah ini untuk membangun keluargamu sendiri,” kata Mama menyanggah.
“Hadi akan tinggal beberapa waktu bersama kita setelah menikah, sayang. Barulah mereka tinggal di rumah Edu menemani masa tua mereka. Dia dan Colin tidak tinggal jauh dari kita. Mereka pasti akan sering datang berkunjung. Kita yang datang ke apartemen mereka juga bisa,” kata Papa. “Ketika mereka punya anak, percayalah, mereka akan merepotkan kamu dengan menitipkan mereka di sini.”
__ADS_1
Mama menoleh ke arah Papa. “Mereka tidak pernah mengatakan itu kepadaku. Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Mama heran.
Papa tersenyum. “Hanya menebak. Kedua anak kita akan bekerja, begitu juga dengan kedua calon menantu kita. Siapa yang akan menjaga anak-anak mereka kalau bukan kamu?”