Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 124 - Persiapan Audisi


__ADS_3

“Apa kalian juga mengikuti kami ke sini?” tanya Kak Hadi yang sudah berdiri di sisi meja kami. Aku mengerang pelan, karena dia menginterupsi hal yang akan Wyatt sampaikan. “Aku tidak menyangka bahwa kedua adik kesayanganku begitu tertarik dengan aktivitasku sehari-hari.”


Aku memutar bola mataku. “Aku hanya ingin tahu apa yang Kakak lakukan di sini bersama Clarissa. Mengapa tidak bermesraan di rumahnya saja? Bukankah yang perlu kalian yakinkan hanya Luca?”


“Aku bukan aktor seperti kamu dan Clarissa. Aku tidak bisa berpura-pura untuk waktu yang terlalu lama. Apa kamu pikir aku senang berada di tempat ini berdua saja dengannya?” kata Kakak keras kepala. Dia duduk di sisi Colin dan membiarkan Clarissa duduk bersama Adi dan Lily di tempat mereka semula.


“Mengapa Kakak duduk di sini? Kakak, ‘kan, sedang kencan dengan Clarissa,” kataku heran.


“Kami tidak kencan, hanya makan siang bersama supaya laki-laki itu percaya bahwa kami serius berpacaran.” Kakak mengambil gelas berisi jus jeruk yang baru saja diletakkan pelayan di atas meja dan meminumnya. Aku hanya bisa pasrah melihat minuman bagianku diteguk habis.


“Mbak, tolong, jusnya satu gelas lagi, ya,” ucap Colin kepada pelayan tersebut. “Sudah. Minumanmu akan diganti dengan yang baru.” Dia mengusap-usap rambutku.


Adi dan Lily datang, lalu menggeser meja kosong di samping kami untuk menggabungkannya dengan meja kami. Dengan begitu, kami semua bisa duduk mengelilingi meja yang sama. Aku dan Charlotte saling bertukar pandang, lalu menoleh ke arah Wyatt. Informasi yang seharusnya dia sampaikan tadi terpaksa ditunda dahulu.


“Sebaiknya kalian tidak memakan piza terlalu banyak, juga hindari soda,” kata Kak Hadi dengan serius. Kami serentak menoleh ke arahnya. “Kalian akan menjalani pemeriksaan kesehatan besok. Jika dokter menemukan ada yang salah, maka kalian dinyatakan gugur.”


“Serius, Kak??” tanyaku terkejut.


“Serius, Hadi??” ucap Wyatt dan Charlotte nyaris bersamaan denganku.


Clarissa dan Colin tertawa kecil. “Tidak. Dia hanya menggoda kalian saja. Pemeriksaan itu hanya formalitas. Kampus hanya ingin tahu apakah kalian punya riwayat penyakit tertentu agar mereka bisa mengantisipasinya dengan menyarankan para mahasiswa baru untuk berobat dan sebagainya. Jadi, kegiatannya selama belajar di kampus tidak terganggu.”


“Kamu tidak asyik diajak bercanda, Clarissa. Seharusnya kamu biarkan saja mereka ketakutan.” Kak Hadi menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kami ber-huu ria sampai seorang pelayan datang meminta kami untuk menurunkan volume suara. Piza pesanan kami datang, maka kami menyantapnya bersama. Colin, sayangku, juga Kakak dan Clarissa berbagi kepada kami apa saja pemeriksaan yang akan kami jalani nanti. Aku lega mendengar bahwa pemeriksaan yang dilakukan hanya pemeriksaan biasa tidak selengkap seperti ketika kami menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan di rumah sakit.

__ADS_1


Colin menjemputku pada keesokan paginya agar aku bisa mengikuti pemeriksaan kesehatan di kampus. Aku sudah menolak, karena hari ini aku akan mengikuti audisi setelah makan siang. Vikal akan menjemput aku dari kampus dan menuju tempat audisi bersama.


Namun Colin memaksa, aku pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia benar mengenai masa liburnya yang tidak permanen. Begitu kuliah semester ganjil dimulai nanti, dia akan sibuk dengan skripsi dan praktik kerjanya. Aku juga tidak hanya sibuk kuliah, tetapi juga bekerja.


“Masuklah. Aku akan tunggu di sini.” Colin membantu membukakan helmku dari kepalaku.


Aku mengecup pipinya, lalu melambaikan tanganku kepadanya. Dia tersenyum tersipu membalas lambaian tanganku. Seorang petugas menerimaku dan meminta aku menunjukkan bukti untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah menandai namaku pada daftar hadir yang ada di atas meja, dia mempersilakan aku untuk masuk.


Cukup banyak pemeriksaan yang harus aku jalani. Mulai dari pemeriksaan fisik seperti berat dan tinggi badan, kemudian golongan darah, sebelum aku bertemu dengan berbagai dokter spesialis. Pemeriksaannya dilakukan secara acak. Tidak semua menemui Spesialis THT sebagai giliran pertama. ada yang bertemu dokter gigi terlebih dahulu, baru THT dan spesialis lainnya. Sepertinya disengaja agar tidak ada ruangan yang sempat kosong terlalu lama.


Ponselku bergetar ketika aku baru saja keluar dari ruang pemeriksaan terakhir. Aku memberikan semua berkas yang diserahkan dokter kepada petugas di pintu keluar. Aku mengeluarkan ponsel sambil menunggu petugas tersebut selesai memeriksa kelengkapan berkasku.


“Ya, Vikal,” sapaku setelah tahu dia yang menghubungi aku.


“Jangan lupa dengan jadwal audisimu siang ini. Aku akan menunggu di depan kedai kopi yang ada di sebelah gedung,” kata asistenku itu untuk kesekian kalinya.


Colin tersenyum menyambut kedatanganku. Dia memberikan helm kepadaku, tetapi aku tidak mau menerimanya. Aku membiarkan dia yang memasangnya di kepalaku. Dia hanya menggeleng pelan melihat sikap manjaku. “Vikal meneleponmu lagi?” tanyanya.


Aku mendesah pelan untuk mendramatisir. “Kamu percaya itu? Dia menelepon aku melebih jumlah obat yang diminum oleh pasien di rumah sakit dalam datu hari.”


“Dia hanya gugup. Setelah berbulan-bulan beristirahat, dia pasti cemas audisi hari ini tidak berjalan sesuai rencana.” Dia memegang tanganku. “Seperti sayangku yang juga sedang gugup.” godanya. Dia pasti merasakan tanganku yang dingin.


Aku segera menarik tanganku dari genggamannya. Pantas saja dia mendadak melakukan itu. “Ayo, cepat naik. Aku mau makan siang sebelum berganti pakaian. Kita ke kedai kopi sebelah gedung.”


Duduk di jok bagian belakang sepeda motor Colin adalah hal yang menyenangkan. Aku bisa memeluk tubuhnya dari belakang dan merasakan sejuknya angin. Hal yang tidak bisa aku nikmati di dalam mobil. Tetapi aku harus selalu menutup helmku agar tidak ada orang yang mengenali aku. Karena aku bisa dikejar-kejar wartawan atau fan bila mereka melihat aku di tempat terbuka begini.

__ADS_1


Colin dengan lincahnya melewati kendaraan demi kendaraan sehingga kami bisa tiba di tempat tujuan lebih cepat daripada bila aku diantar oleh Kakak atau Pak Sakti. Jantungku berdebar-debar entah karena baru saja duduk di sepeda motor yang bergerak cepat atau gugup menghadapi audisi.


“Kamu akan baik-baik saja. Ini hal yang sudah kamu lakukan sejak kecil.” Colin merangkul bahuku dan mengajakku memasuki kedai kopi.


“Memang hanya beberapa bulan, tetapi rasanya seperti memulai dari awal lagi,” akuku pelan.


Vikal melambaikan tangannya sehingga kami bisa melihat di mana dia berada. Pelayan mengantar kami ke tempat duduk, lalu memberikan buku menu kepada kami. Aku segera memesan makanan yang bisa dimasak dengan cepat dan segelas jus jeruk. Aku meninggalkan mereka untuk menuju toilet dan berganti pakaian.


Aku hanya memulas riasan seadanya, karena mereka biasanya tidak suka bila wajah natural kami tertutup banyak bahan kosmetik. Setelah yakin dengan penampilanku pada cermin, aku kembali ke meja di mana Vikal dan Colin berada.


Makanan pesananku sudah datang, jadi aku bisa segera menikmatinya tanpa perlu menunggu lagi. Vikal memberi aku instruksi apa yang harus aku lakukan di dalam nanti. Dia juga mengingatkan agar aku tidak banyak tersenyum, karena mereka mencari model untuk peragaan busana, bukan untuk iklan produk tertentu. Peragaan busana ini akan menjadi titik tolak kembalinya aku ke dunia model setelah lama beristirahat. Momen yang sangat tepat.


“Kamu sudah siap?” tanya Vikal. Aku mengangguk dengan yakin. “Ayo, kita masuk.”


Seorang petugas keamanan membukakan pintu untuk kami. Vikal berjalan di depanku, sedangkan Colin menggandeng tanganku menuju tempat audisi. Begitu kami berada di dekat pintu menuju halaman samping hotel, aku bisa melihat tenda dan banyaknya orang di sana.


Aku menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan saat seorang petugas keamanan lainnya membukakan pintu tersebut untuk kami. Audisi ini sudah dilaksanakan sejak pagi, tetapi masih ada banyak peserta yang tertarik untuk mengikutinya.


“Dira??” panggil seseorang yang suaranya sudah tidak asing bagiku. Aku menoleh dan melihat Laras sedang menatapku dengan mata berkaca-kaca. “Aku bahagia sekali melihat kamu sudah kembali.” Dia mendekat dan memelukku dengan erat.


“Hei, aku baik-baik saja. Mengapa kamu malah menangis?” Aku mengusap-usap punggungnya dengan bingung. “Kamu tahu bahwa aku cuti, karena alasan akademik, ‘kan?”


“Aku tahu. Tetapi aku juga tahu bahwa kamu butuh keberanian yang besar untuk bisa datang ke tempat ini sekarang.” Dia melepaskan pelukannya dan membelai pipiku. “Aku senang bersaing denganmu. Giliranku sudah usai, jadi aku harus pergi ke tempat selanjutnya.”


“Tentu saja. Semoga kamu beruntung.” Aku tersenyum kepada asistennya, lalu membalas lambaian tangan Laras. Aku melupakan hal itu. Aku datang dengan rasa gugup ke tempat ini bukan karena kejadian yang menakutkan itu, tetapi karena lamanya aku cuti.

__ADS_1


Jantungku yang sudah berdebar kencang, berdetak semakin cepat. Aku melihat ke sekelilingku dan orang-orang sedang mengarahkan pandangan mereka kepadaku. Ada yang menatapku dengan rasa kasihan, ada yang tersenyum mengejek, ada juga yang berbisik dengan orang di sampingnya sambil tertawa kecil, dan ada yang mengamati aku dari kepala hingga kaki.


“A-aku tidak bisa melakukan ini, Vikal.” Aku berjalan mundur. Colin yang menggandeng tanganku menatapku dengan bingung. “Me-mereka pasti ingat dengan siaran langsung itu.” Mereka semua pasti membicarakan video itu. Video di mana aku tidak berpakaian sama sekali. Bagaimana aku bisa melupakannya, lalu datang ke sini tanpa berpikir dahulu?


__ADS_2