
~Hadi~
Adi terlihat murung sejak pagi. Kami sedang berada di rumah Kakek dan Nenek, orang tua Papa, untuk makan siang bersama. Tetapi melihat dia tertawa dan bicara tidak seantusias biasanya, aku tahu bahwa ada yang tidak beres.
Ketika keluarga kami keluar dari ruang makan, aku mendekati dia yang malas-malasan berdiri dari tempat duduknya. Para pelayan yang bekerja di rumah Kakek adalah orang yang bisa kami percayai. Kami tidak pernah khawatir sedikit pun bahwa percakapan kami yang mereka dengar akan mereka bocorkan ke orang luar.
“Ada apa?” Aku duduk di kursi di sebelahnya. “Sejak kamu tinggal lebih lama di toko perhiasan semalam, ada yang mengganggu pikiranmu. Apa kamu melihat sesuatu yang mencurigakan?”
Dia menghembuskan napasnya perlahan. “Pasangan yang berpapasan dengan kita saat kita keluar, apa Kakak ingat mereka?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. Clarissa mengatakan sesuatu tentang cara perempuan itu menatap aku, jadi aku mengingatnya. “Laki-laki itu pacar Diah.”
“Istrimu di dalam game,” ucapku mengonfirmasi. Aku ingat aku pernah mendengar nama Diah, tetapi aku tidak yakin wanita mana yang dia maksudkan. Dia mengangguk. “Lalu apa yang membuat kamu gelisah begini?”
“Kak, perempuan itu menggandeng tangan laki-laki itu dengan erat. Mereka berdiri terlalu dekat. Aku yakin Kakak tidak akan nyaman melihat Colin berjalan sedekat itu dengan gadis lain saat dia masih menjalin hubungan dengan Kak Dira,” katanya sedikit kesal.
“Colin berjalan sedekat itu dengan Lily. Bisa jadi perempuan itu adalah adiknya.”
“Aku sengaja memotret mereka dan merekam beberapa detik untuk aku kirimkan pada Diah. Wanita itu teman baik pacarnya, Kak. Apa Kakak bisa bayangkan itu? Laki-laki mana yang berjalan sedekat itu dengan teman perempuannya dan pergi berdua saja ke toko perhiasan? Diah tidak percaya padaku dan dia berpikir bahwa mereka sedang memilih perhiasan untuknya.” Adi mendengus kesal.
“Adi, apa aku boleh bertanya mengenai hal yang sangat pribadi?” tanyaku dengan suara pelan agar tidak ada yang mendengar selain dia.
“Tentu saja. Kakak mau tanya apa?” ucapnya cepat.
“Apa kamu menyukai wanita ini? Kamu suka dengan Diah?” tanyaku berhati-hati.
“Tentu saja. Dia wanita yang baik, pekerja keras, sangat sayang pada keluarganya, dan Kakak sudah lihat sendiri, dia cantik,” jawabnya tanpa ragu.
“Kamu menyukai dia sebagai perempuan atau teman?”
“Kak, aku bukan anak kecil lagi. Aku seorang remaja yang tahu apa itu suka pada lawan jenis. Kakak jangan khawatir, aku tahu bahwa aku masih kecil dan belum saatnya untuk berpacaran. Tetapi aku tidak bisa menyangkal perasaanku sendiri. Lagi pula dia sudah punya pacar dan mereka akan segera menikah. Anggap saja dia adalah cinta pertama yang tidak akan bisa aku miliki.”
“Adikku memang laki-laki sejati.” Aku menepuk punggungnya dengan penuh rasa bangga. “Biar saja dia dan pacarnya menjalani hubungan mereka tanpa intervensi. Kamu sebaiknya menjaga jarak dan tidak ikut campur, Adi. Perempuan sangat peka dan bila dia tahu kamu punya perasaan khusus kepadanya, hubungan kalian akan rusak.
“Bila laki-laki itu selingkuh, Diah pasti akan mengetahuinya. Seperti yang aku katakan tadi, insting perempuan itu sangat baik. Jadi, berhenti memikirkan dia dan pacarnya. Kita mengunjungi Kakek dan Nenek untuk bersenang-senang, bukan berduka.” Aku berdiri dan mengajaknya untuk kembali bergabung dengan keluarga kami.
__ADS_1
Keluarga kami sedang asyik mengobrol di teras samping. Nenek sedang bercerita mengenai gejala yang mungkin bisa menjadi tanda kemunculan kankernya kembali. Dia adalah penyintas kanker päyúdara. Sudah belasan tahun Nenek dinyatakan bersih dari sel kanker. Selama itu juga Nenek menjaga pola hidupnya tetap sehat.
Meskipun persentase kanker diwariskan kepada generasi berikutnya sangat kecil, Nenek meminta kami untuk menjaga pola hidup sehat. Itu sebabnya kami selalu berolahraga setiap pagi dan sebisa mungkin menghindari makan makanan di luar rumah. Aku yang akhirnya mengubah kebiasaan hidupku sendiri karena terlalu malu membawa bekal ke kampus.
Namun setelah aku dan Clarissa bertunangan, aku memutuskan untuk menjaga kesehatanku dengan baik. Aku tidak mau jatuh sakit dan menyusahkan istri dan anakku kelak. Papa jarang sekali sakit, kecuali dia punya kegiatan yang padat yang membuat dia tidak bisa makan dan istirahat yang cukup. Jadi, aku meniru caranya menjaga kesehatan.
“Jadi, kapan kamu akan menikahi gadis bernama Clarissa ini, Hadi?” tanya Nenek mengganti topik pembicaraan. Aku hanya tertawa menanggapinya.
Karena Uncle Mason dan Aunt Claudia akan kembali ke Amerika pada hari Minggu depan, maka acara pertunangan Wyatt dan Charlotte dijadwalkan pada hari Sabtu. Para ibu dan nenek sibuk menyiapkan acara tersebut. Sebagai gadis yang memang suka perhatian, Charlotte tampak bahagia dan tidak pernah lupa berbagi dengan Dira.
Mereka bicara di telepon hampir setiap jam mendiskusikan entah apa. Aku dan Adi hanya bisa saling bertukar pandang setiap kali Charlotte menelepon saat Dira sedang bersama kami. Tetapi aku ikut bahagia melihat Dira sibuk dengan berbagai aktivitas. Karena semua hal itu bisa membantu dia cepat pulih dari patah hatinya.
Papa meminta aku untuk fokus pada studi dan penelitian yang akan aku lakukan, maka aku tidak datang ke kantornya pada hari aku tidak ada jadwal kuliah. Aku lebih memilih berada di kampus agar bisa pulang bersama Clarissa. Dengan Finley yang masih berkeliaran dengan bebas, aku tidak bisa membiarkan tunanganku sendiri saja di kampusnya.
“Apa menurutmu kita perlu memberi hadiah khusus untuk Charlotte dan Wyatt pada hari besar mereka nanti?” tanya Clarissa saat kami dalam perjalanan menuju rumahnya.
“Ng, acara pertunangan kita diadakan secara mendadak, jadi wajar saja jika tidak ada yang memberi sesuatu sebagai ucapan selamat. Tetapi mereka berbeda. Semua orang menyiapkan acara ini dengan baik dan aku merasa tidak enak tidak membawa sesuatu untuk adikku dan pacarnya,” katanya memberi penjelasan yang sebenarnya tidak perlu.
“Terserah kamu saja. Aku bisa menemani kamu mencari kado di mal atau kalau kamu mau membeli secara online, aku akan membantu kamu memilih barang yang cocok.”
Saat kami tiba di rumahnya, seorang pelayan menolong membukakan pintu mobil untuknya. Aku menyerahkan kunci mobilku agar dipindahkan ke garasi. Aku menggandeng tangannya, lalu kami masuk ke rumah yang disambut oleh kepala pelayan.
Kami mendengar suara obrolan dari ruang keluarga yang pintunya dibiarkan terbuka. Sepertinya kedua neneknya sedang mengobrol dengan Charlotte dan Wyatt. Besok adalah hari pertunangan mereka, mungkin mereka sedang membahas persiapan terakhir.
“Aku sudah pulang,” seru Clarissa dari ambang pintu. Mereka semua menoleh ke arah kami. “Maaf, aku tidak bermaksud memotong pembicaraan kalian. Hadi dan aku akan mendiskusikan sesuatu di kamarku. Jadi, kalau butuh aku, panggil saja.”
“Oke, sayang. Bagaimana tadi di kampus? Semuanya baik-baik saja?” tanya Tante Lindsey.
“Baik, Nek. Aku akan ceritakan semuanya nanti. Kami ke atas sekarang, ya.” Clarissa segera mengajak aku keluar dari ruangan itu sebelum ada yang bertanya lagi.
Keadaan kamarnya tepat seperti yang dia ceritakan. Tempat tidur, warna yang mendominasi dinding, tirai, dan perabotan, semuanya persis seperti yang dia katakan. Biru, warna kesukaanku. Mungkin aku menyukainya karena aku menatap mata gadis kecil yang fotonya ada di kamarku setiap hari.
Dia mempersilakan aku duduk di salah satu sofa, lalu mengambil sebuah tablet yang ada di atas nakas. Dia duduk di sisiku dan memberikan benda itu kepadaku, meminta aku untuk memasang aplikasi untuk belanja online.
__ADS_1
Seorang pelayan datang mengantarkan minuman dan makanan sebagai kudapan untuk kami saat kami menunggu aplikasi terpasang. Aku meminta dia masuk menggunakan surelnya dan kami mulai melihat-lihat barang yang cocok untuk diberikan pada pasangan muda.
“Wyatt sepertinya menyukai jam. Bagaimana kalau kita beri mereka jam pasangan saja?” usulku saat dia belum juga menjatuhkan pilihan.
“Oke. Itu ide yang bagus.” Dia memilih bagian jam dan ada begitu banyak pilihan yang tampil pada layar. “Ah, aku pernah melihat Wyatt memakai jam yang seperti ini. Apa menurut kamu dia akan suka jam dari merek ini?”
“Rissa, kamu perlu melihat harganya.” Aku menunjuk ke angka yang cukup besar yang tertera di bagian bawah foto jam yang dia maksudkan.
“Harga bukan masalah. Aku punya uang yang cukup untuk membeli jam ini.” Dia memilih jam pasangan tersebut, lalu mengikuti petunjuk pembelian, dan mengonfirmasinya.
“Jangan lupa, kamu harus menyediakan uang yang cukup untuk acara liburan kita nanti.” Aku mengambil secangkir teh dan menghirup isinya.
“Aku tidak akan kalah darimu, Hadi. Kamu yang harus memastikan bahwa kamu punya uang yang cukup untuk liburan kita nanti. Jangan lupa, Charlotte dan Wyatt pasti ikut juga.” Dia mengambil cangkir tehnya, lalu tiba-tiba memekik kesakitan. “Ah, tabletku.”
Cangkir yang dia pegang lepas dari tangannya sehingga isinya tumpah ke atas meja. Aku mencoba menyelamatkan tabletnya. Ternyata kami meraih benda yang sama dan kepala kami terantuk. Kami serentak mengaduh kesakitan. Dia yang pertama tertawa, maka aku ikut tertawa bersamanya.
Aku memberikan benda itu kepadanya. Ketika dia menoleh ke arahku, aku ikut melakukan hal yang sama. Aku tidak menyadari bahwa wajah kami berada begitu dekat. Jantungku berdebar lebih cepat menatap mata birunya yang indah itu. Saat dia memejamkan matanya, aku merasa kehilangan sehingga aku menyentuh pipinya, berharap dia akan membuka matanya kembali.
Dia memenuhi permintaan yang tidak aku ucapkan dan detak jantungku semakin liar. Mengapa jantungku berdebar secepat ini? Mengapa aku suka menyentuh kulitnya? Mungkinkah aku mulai jatuh cinta padanya?
*******
Sementara itu di balik pintu~
Lindsey dan Claudia menempelkan telinga mereka ke daun pintu. Tetapi yang mereka dengar hanya suara bisikan yang tidak bisa mereka pahami. Mereka saling bertukar pandang dengan kening berkerut.
“Apa kamu mendengar sesuatu? Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Claudia setengah berbisik, penasaran.
“Sepertinya mereka hanya bicara, tetapi tidak tahu membahas apa.” Lindsey mengangkat bahunya. Dia menempelkan telinganya lebih dekat, tetap saja yang terdengar hanya suara bisikan.
“Mereka tadi buru-buru masuk ke kamar, bukankah itu sangat mencurigakan? Kamu tahu, ‘kan, seperti pasangan yang sudah tidak sabar untuk berdua saja.” Claudia tertawa geli.
“Claudia! Jaga bicaramu! Cucuku tidak akan melakukan itu sebelum mereka menikah.” Lindsey menjaga agar suaranya keluar sesenyap mungkin.
__ADS_1
“Aku tidak keberatan punya cicit sebelum aku meninggal,” kata Claudia dengan santai.
“Nenek? Grandma? Apa yang kalian lakukan di depan kamar Clarissa?” tanya Charlotte terkejut. Lindsey dan Claudia serentak meletakkan telujuk mereka di depan bibir, mengisyaratkan agar gadis itu tidak berbicara terlalu keras. Penasaran dengan apa yang kedua neneknya lakukan, Charlotte ikut menempelkan telinganya ke daun pintu.