
*Dira*
Kalimat Colin terngiang terus di telingaku sampai mengganggu tidurku. Tidak biasanya aku bangun lebih dahulu dari Mama. Dia sampai terkejut melihat aku sudah bangun saat dia berniat memanggil aku untuk olahraga bersama. Tetapi aku hanya tertawa menggodanya.
Apakah sebaiknya aku melibatkan Papa dalam urusanku dengan semua juri yang mata keranjang itu? Aku tahu mereka hanya melakukan tugas mereka, tetapi meminta aku untuk melepas pakaian di depan semua orang itu tidak bisa ditoleransi lagi. Yang paling menyakitkan mereka tersenyum seolah sudah menelanjangi aku dengan mata mereka.
Namun sampai kapan aku begini? Aku tidak bisa terus mengandalkan Papa dalam setiap masalahku. Aku juga tidak akan bisa datang kepadanya lagi setelah aku dan Colin resmi menikah. Itu sama saja aku belum siap untuk hidup mandiri, lepas dari orang tua.
“Ada apa, sayang? Apa ada sesuatu di wajahku?” kata Papa yang memeriksa pipinya.
Aku tertawa kecil. “Tidak, Pa.” Aku melanjutkan menggigit roti isiku.
“Lalu apa yang membuat kamu melihat aku terus? Apa ada hal yang ingin kamu sampaikan?” tanya Papa lagi. Dia dan Mama saling bertukar pandang.
Baiklah. Tidak ada salahnya melibatkan Papa. Lagi pula aku tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri, tidak dengan masalah sebesar ini. “Beberapa kali mengikuti audisi, juri meminta aku melakukan sesuatu yang tidak pantas, Pa.”
Satu kalimat itu mampu menarik perhatian Papa sepenuhnya tertuju kepadaku, begitu juga Mama dan kedua saudaraku. “Apa yang mereka lakukan kepadamu?” tanya Papa dengan wajah serius.
“A-aku, mereka menyebut tentang video itu dan meminta aku un-untuk melepaskan pakaianku.” Aku mendadak gugup dan permintaan mereka itu terdengar sangat konyol saat aku mengatakannya sendiri di depan keluargaku.
“Di depan semua kru yang lain?” tanya Papa dengan suara tertahan. Aku menganggukkan kepalaku.
“Oh, sayang.” Mama menyentuh tanganku dan memandangku dengan khawatir.
“Sudah terjadi beberapa kali dan kamu baru memberi tahu aku sekarang?” protes Papa.
“Aku pikir aku akan bisa mengatasinya sendiri. Pa, aku akan menikah. Aku tidak bisa bergantung kepada Papa terus,” kataku berusaha untuk menjelaskan.
“Sampai kalian atau aku meninggal, aku masih papa kalian. Apa pun status kawin kalian nanti, kalian tetap anak-anakku. Kalau bukan kita sebagai satu keluarga yang saling membantu, kepada siapa lagi aku dan kalian mengharapkan pertolongan?” ucap Papa dengan sedih. “Meminta tolong bukan berarti kamu belum dewasa atau tidak mandiri, sayang.”
__ADS_1
“Maafkan aku, Pa,” ucapku pelan. Dadaku rasanya sakit menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan. Aku menyakiti keluargaku. Seharusnya aku mendengarkan saran Colin.
“Apa Vikal tahu juri pada audisi mana saja yang memperlakukan kamu dengan buruk?” tanya Papa. Aku mengangguk pelan. “Oke. Aku akan mengurusnya. Kamu tenang saja. Apa pun alasan mereka melakukan itu, mereka telah melewati batas. Pengadilan sudah memutuskan siapa yang bersalah dan membayar perbuatan mereka. Tidak pantas orang-orang terus melecehkan kamu. Kamu adalah korban, bukan pelakunya.”
Papa dan Mama memeluk aku sebelum aku memasuki mobil. Aku semakin merasa bersalah melihat kesedihan di wajah mereka. Aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak melakukan hal ini lagi. Orang tuaku berhak untuk mengetahui apa pun yang aku alami di luar sana.
“Jangan dipikirkan, Kak. Papa hanya akan marah sebentar. Aku mengerti mengapa Kakak melakukan itu. Aku juga kadang-kadang ingin menjadi pahlawan bagi diriku sendiri,” kata Adi menghibur aku.
“Terima kasih. Bagaimana denganmu? Yakin kamu bisa melewati gerbang sekolah sendiri?” tanyaku khawatir. Sudah beberapa hari dia meminta Pak Sakti untuk tidak mengantar dia sampai kelas lagi. Dia sudah berani melewati gerbang sekolahnya sendiri.
“Yakin, Kak. Teman-temanku bisa, masa aku tidak bisa.” Dia tersenyum.
Seandainya Laras tahu apa dampak dari perbuatannya, maka dia tidak akan bisa tidur tenang di ruang tahanan. Bukan hanya siswa, tetapi para guru dan keluarga mereka berusaha untuk tabah dari kejadian yang sudah merenggut nyawa siswa, teman, anak, dan keluarga mereka. Pasti tidak ada yang pernah menyangka bahwa orang yang masih bersama mereka pada pagi hari sudah tidak bernyawa pada siang atau sore harinya.
Pak Sakti menerima telepon ketika kami dalam perjalanan menuju kampusku. Itu pasti dari Papa atau Mama. Pekerja kami tidak diizinkan menjawab panggilan masuk pada saat sedang menyetir, kecuali dari kami, majikan mereka. Melihat dia memutar mobil, aku semakin heran.
“Ada apa, Pak?” tanyaku. “Kita mau ke mana?”
Beberapa saat sebelum sampai di tujuan, aku sudah curiga ke mana Papa meminta Pak Sakti untuk membawaku. Kecurigaanku itu terbukti begitu mobil memasuki kantor polisi di mana Laras sedang ditahan. Apa gadis itu meminta Papa untuk mempertemukan kami? Tidak mungkin.
Papa dan Kakak segera berdiri begitu aku mendekati mereka yang berada di ruang tunggu. Om Zach datang mendekat dan mengajak kami untuk mengikutinya. Aku memandang mereka semua dengan heran. Apa hubungan Papa dan Kakak dengan Laras? Reese tidak ditahan di sini, jadi aku tahu ini pasti ada kaitannya dengan gadis itu.
Kami memasuki ruangan di mana Laras bersama orang tua dan pria yang tidak aku kenal. Orang yang tidak aku duga-duga adalah Colin dan orang tuanya. Mengapa dia ada di sini? Aku segera mendekati dia. Wajahnya terlihat lelah. Apa yang telah terjadi?
“Akhirnya, aku bisa membuat kalian datang ke sini,” ucap papa Laras dengan wajah puas. “Aku sudah katakan, masalahnya akan semakin berat kalau kalian meremehkan aku.”
“Tidak ada yang meremehkan siapa pun di ruangan ini, Pak,” ucap Om Zach. Pria itu melihat ke arah Papa. Bila dia pikir Papa akan membuka mulut, dia salah. Om Zach yang akan menjadi perpanjangan lidah Papa setiap kali ada masalah yang berhubungan dengan hukum.
“Kamu akan biarkan orang lain yang bicara untukmu?” Pria itu tertawa.
__ADS_1
Aku melihat ke arah Laras yang terus menundukkan kepalanya. Kedua orang tuanya dan pria yang bersama mereka memasang wajah serius. Aku tidak bisa bertanya atau bicara, jadi aku mencoba memahami apa yang terjadi dengan mendengarkan mereka.
“Aku harap kamu tahu apa hukuman untuk pemberi laporan palsu, Laras. Aku tidak akan menuntut kamu bila kamu mengakui yang sebenarnya terjadi. Tetapi jika aku yang membuka rahasiamu, maka tuntutanmu yang sudah berat akan semakin berat.” Om Zach menatap Laras dengan serius.
Dia hanya diam. “Apa kamu pikir kamu bisa mengancam putriku? Polisi akan menyelidiki kasus ini dengan adil. Jadi, semua orang yang terlibat harus dihukum juga. Ini bukan hanya kesalahan Laras.” Papa Laras itu menatap Om Zach dan Papa dengan tajam.
“Polisi akan melakukan penyelidikan dengan adil. Jika hukuman untuk Laras dikurangi, maka semua orang tahu bahwa ada yang salah dalam kasus ini. Orang tuanya membayar polisi, misalnya,” kata Om Zach dengan tenang.
Pria itu tersenyum. “Para petugas itu adalah orang yang berintegritas. Mereka tidak menerima uang dari siapa pun. Justru karena mereka bekerja dengan baik mereka berhasil menemukan orang yang bekerja sama dengan putriku dalam kecelakaan nahas itu.” Pria itu melihat ke arah Colin.
Apa? Colin bekerja sama dengan Laras? Omong kosong apa ini?
“Laras, ada yang mau kamu katakan?” tanya Om Zach. “Mengapa Colin sampai ditangkap pagi ini dari tempat tinggalnya? Apa yang kamu sampaikan kepada polisi?”
“Dia hanya mengatakan yang sejujurnya. Pemuda itu telah membuat putriku terpaksa melakukan kejahatan itu,” jawab papanya. Laras hanya diam dengan kepala tertunduk.
Aku tidak mengerti. Apa yang terjadi? Mengapa Colin ikut terseret dalam kasus ini? Dia ditangkap polisi pagi ini? Memangnya apa yang sudah dia lakukan? Apa yang Laras katakan sampai pacarku terlibat? Bukankah katanya dia menyesal? Lalu mengapa dia malah membuat keadaan semakin sulit?
“Laras, apa kamu akan membiarkan orang lain yang menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadamu? Beginikah cara kamu mengarang cerita sampai melibatkan Colin? Apakah papamu yang memaksa kamu untuk memberi kesaksian palsu?” tanya Om Zach bertubi-tubi. Laras masih diam.
“Jadi, apa kita sudah bisa membicarakan kesepakatan?” ucap pria yang sedari tadi hanya diam di sisi papa Laras. “Saya kuasa hukum mereka yang akan mewakili Laras dalam kasus ini.”
“Aku dengan senang hati akan mewakili Colin, tetapi aku sudah tahu bahwa dia tidak bersalah.” Om Zach melirik ke arah Colin yang semakin pucat. “Aku butuh bukti sehingga kalian menyeret dia ke kantor polisi hari ini dan mencoreng nama baiknya.”
“Buktinya sudah kami serahkan kepada polisi,” jawab kuasa hukum mereka dengan santai.
“Anda pasti menyimpan pertinggalnya. Aku perlu melihatnya,” desak Om Zach.
“Buktinya adalah sebuah video. Silakan lihat sendiri di komputer mereka.” Pria itu menantang Om.
__ADS_1
“Baiklah.” Om Zach melihat ke arah Laras. “Aku sudah berusaha agar masalah ini bisa kita selesaikan dengan baik. Yang rahasia tetap rahasia dan yang benar yang diungkapkan. Tetapi kamu memaksa aku mengambil jalan ini.” Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Untuk pertama kalinya, Laras mengangkat kepalanya dan melihat benda yang Om letakkan di atas meja. Aku menatapnya dengan bingung. Mengapa Om meletakkan ponselnya di atas meja?