Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 129 - Kasmaran


__ADS_3

Bukan begini yang aku bayangkan momen saat kami berciuman untuk pertama kalinya. Tidak dengan mencurinya, tanpa sepengetahuannya. Tetapi aku tidak sempat berpikir apalagi mempertimbangkan baik-baik sebelum melakukannya. Aku merasa aku harus menciumnya di sini saat ini juga.


Melihat Luca menunjukkan dirinya seolah-olah dia adalah tuan di rumah ini mendorong aku untuk melakukan sesuatu agar senyum arogannya itu hilang. Bila hubungan kami hanya pura-pura bagi Hadi, aku serius dengannya. Jadi, aku menciumnya untuk membuktikan kesungguhanku.


Aku tahu bukan hanya aku yang terkejut dengan tindakan gegabahku itu. Hadi juga merasakannya, dan matanya membulat ketika pandangan kami bertemu. Aku rasanya ingin mati saja. Jika dia tidak melakukan sesuatu, apa yang harus aku kerjakan selanjutnya?


Hadi yang sedari tadi bersikap dingin itu perlahan tersenyum. Matanya menatapku dengan lembut. Merasakan tangannya membelai pipiku, jantungku perlahan berdebar dengan cepat. Apa yang akan dia lakukan? Ketika tatapannya turun ke bibirku dan wajahnya mendekat, aku memejamkan mata.


Begitu bibirnya menyentuh bibirku, darahku berdesir dengan cepat dari kepala hingga ke ujung jari tangan dan kakiku. Aku bersyukur dia memeluk tubuhku, karena kakiku mendadak tidak sanggup menahan berat badanku sendiri.


“Clarissa,” bisik Hadi di telingaku. “Kita hanya berpura-pura, mengapa kamu mencium aku di sini?”


“Karena aku tidak berpura-pura menjadi pacarmu,” jawabku dengan jujur.


“Bohong. Kamu hanya memanfaatkan aku untuk membuat Luca menjauhimu,” balasnya.


“Mau sampai kapan kalian berpelukan begini?” kata Charlotte menginterupsi sebelum aku sempat meresponsi tuduhan Hadi itu. “Ayo, kalian masih bisa bertemu lagi besok. Kakek dan Nenek sudah senyum-senyum sendiri. Apa kalian mau sampai semua pelayan menonton baru berhenti?”


“Masuklah. Aku akan meneleponmu lagi setelah aku sampai di rumah.” Hadi melepaskan pelukannya. Aku mengangguk dan mengikuti Charlotte masuk ke rumah kami.


Kakek dan Nenek tersenyum penuh arti melihat kami mendekati mereka. Aku merasakan wajahku memanas. Oh, Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan tadi? Aku tidak hanya mencium Hadi di depan adikku dan orang asing, tetapi juga di depan pelayan serta Kakek dan Nenek.


Aku hanya pasrah saat mereka menggodaku sampai kami masuk ke kamar kami masing-masing. Aku bergegas mandi dan berganti pakaian, lalu duduk di tempat tidur menunggu Hadi menghubungi aku seperti janjinya. Pintu kamarku diketuk, aku segera tahu siapa yang mengetuknya sebelum pintu dibuka. Benar saja, Charlotte menyeringai licik dan segera duduk di sisiku.


“Syukurlah, aku tepat waktu. Dia belum menelepon kamu.” Dia tertawa geli.


“Charlotte, kamu tidak bisa berada di sini sekarang. Apa aku pernah mengganggu kamu saat sedang berduaan dengan Wyatt?” protesku.


“Itu salahmu sendiri. Aku tidak pernah keberatan kamu ikut mengobrol bersama kami,” katanya dengan santai. “Mengapa kamu tidak mau aku ada di sini. Kamu tadi berani mencium dia di depan semua orang. Bukan hanya ciuman biasa, tetapi di tempat khusus.” Dia menepuk-nepuk bibirnya dengan jari telunjuknya. Aku merasakan wajahku memanas, teringat dengan ciuman kami tadi.


“Oh, Tuhan.” Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. “Aku tidak tahu apa yang mendorong aku melakukan hal itu tadi. Kakek dan Nenek pun sampai melihatnya.”


“Kamu sayang kepada Hadi, itu hal yang wajar. Aku dan Wyatt tidak melakukannya, karena kami ingin menunggu. Hadi membalas ciumanmu, itu artinya dia tidak keberatan!” Charlotte memekik senang. “Dira senang sekali saat aku memberi tahunya.”

__ADS_1


“Charlotte! Mengapa kamu memberi tahu dia? Semua keluarganya pasti akan tahu juga kejadian tadi. Kamu ini bagaimana??” ucapku panik.


“Cepat atau lambat, semua orang akan mengetahuinya juga. Kalau bukan dari aku, pasti dari Wyatt, Kakek , atau Nenek,” ujarnya membela diri. Aku mengerang pelan.“Kamu tenang saja. Rencanamu pasti akan berhasil. Hadi tidak akan mengakhiri hubungan pura-pura kalian, melainkan mengajakmu untuk menjalani hubungan yang lebih serius.”


“Kita belum tahu tentang itu. Bisa saja pada hari Sabtu nanti, Luca kembali ke Amerika dan Hadi tidak mau melanjutkan hubungan kami.” Aku mendesah sedih.


“Seandainya kamu gadis yang wajahnya rata-rata, aku memahami sikap rendah dirimu ini. Tetapi kamu berwajah cantik dan menarik, malah tidak percaya diri begini. Clarissa, kamu yang mengakhiri hubungan kalian, bukan Hadi. Mengapa malah kamu yang bersikap seperti orang yang cintanya ditolak?” tanya Charlotte bingung.


Ponselku bergetar di atas nakas. Jantungku segera berdebar dengan kencang. Aku menoleh ke arah Charlotte yang terkikik. Aku melirik pintu, memberinya sinyal agar pergi. Tetapi dia menggelengkan kepalanya dengan keras kepala. Aku terpaksa membiarkan dia mendengar percakapan kami.


“Apa maksud ucapan kamu tadi? Kita hanya berpura-pura, makanya aku mau menjadi pacarmu. Apa kamu sedang membohongi aku?” ucapnya dengan marah, begitu aku menyapanya.


Aku melirik ke arah Charlotte. Seandainya saja dia tidak ada di sini. Seolah-olah dia memahami apa yang aku khawatirkan, dia mengambil headphone-ku yang ada di atas nakas sisi lain tempat tidur dan mengenakannya. Dia menghubungkan kabelnya ke ponselnya.


“Aku tidak membohongi kamu, Hadi. Iya, aku meminta kamu menjadi pacar bohongan, tetapi aku—” serius denganmu. Kalimat itu tidak bisa aku selesaikan, karena dia memotong ucapanku.


“Aku tidak tahu permainan apa yang sedang kamu mainkan, tetapi aku tidak mau terlibat. Sesuai kesepakatan, begitu laki-laki itu pulang, drama kita berakhir. Apa kamu mengerti?” ucapnya dengan dingin, sama sekali tanpa perasaan.


Meskipun percakapan kami lewat telepon tidak berakhir dengan baik, aku tidak marah kepadanya. Apa yang dia lakukan kepadaku layak untuk aku terima. Aku sudah menyakiti hatinya dan harapan besarnya atas hubungan kami. Jadi, giliran aku untuk memperbaiki hubungan yang aku rusak sendiri.


Mulutnya bisa berkata lain dan mengucapkan setiap kalimat yang menyakitkan kepadaku, tetapi dia tidak bisa berbohong lewat ciumannya. Dia masih sayang kepadaku. Karena kalau dia membenci aku seperti yang sering dia katakan, maka dia tidak akan mencium aku seperti semalam.


Sudah mandi dan bersiap untuk menjalani hari pun, aku masih bisa merasakan bibirnya di bibirku. Masih merasakan sensasinya yang membuat seluruh tubuhku gemetar. Aku baru tahu sebuah ciuman bisa membuat tubuhku bereaksi seperti itu. Bagaimana lagi ketika kami menikah dan tidur bersama nanti? Apakah rasanya akan lebih dari ini?


Ya, ampun. Aku belum berhasil memenangkan hatinya kembali malah memikirkan pernikahan. Aku menepuk-nepuk pipiku agar berhenti berkhayal. Hadi bukanlah pria yang mudah untuk dibujuk. Dia lebih keras dari batu mana pun. Tetapi aku juga begitu, jadi dia sedang berhadapan dengan orang yang sifatnya mirip dengannya.


“Selamat pagi, Clarissa! Tidak biasanya kamu terlambat datang ke ruang makan,” goda Charlotte. Aku ingin sekali melempar salah satu roti bantal ke arahnya. Tetapi melihat lirikan matanya, aku segera menoleh dan hampir melompat mundur.


“Selamat pagi, sayang,” sapa Hadi dengan senyum ramahnya yang dahulu hanya dia berikan untukku.


“Se-selamat pagi,” balasku gugup. Apa yang sedang dia lakukan di sini sepagi ini? Aku pikir dia masih marah kepadaku dan tidak akan menemui aku hari ini.


“Apa yang kamu lakukan dengan berdiri saja di situ?” tegur Nenek, membuyarkan lamunanku. “Ayo, duduklah. Kamu pasti sudah lapar.” Aku menurut dan duduk di sisi Hadi.

__ADS_1


“Coba tebak mengapa Hadi datang sepagi ini?” kata Charlotte memintaku menjawab teka-tekinya. Tetapi tidak ada satu jawaban pun yang aku punya. “Sesuatu yang buruk terjadi pada saat Dira mengikuti audisi. Jadi, untuk menghibur dia yang harus membatalkan ikut beberapa audisi lain, Tante Zahara mempersilakan kita untuk menemani dia memulihkan diri di vila mereka.”


“Hadi datang untuk menjemput kita untuk pergi ke sana bersamanya. Colin, Dira, Adi, dan Lily akan datang bersama Pak Sakti,” ujar Wyatt menambahkan.


“Tiba-tiba sekali. Aku belum menyiapkan pakaianku,” kataku khawatir.


“Tenang saja. Salah satu pelayan pasti sedang mengemasi pakaianmu sekarang,” kata Charlotte. “Aku sudah memberi daftar pakaian apa saja yang perlu disiapkan.” Aku tersenyum mendengarnya. Ini adalah hal yang bagus. Aku akan punya banyak kesempatan untuk bicara dengan Hadi.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Luca ingin tahu. Kami berempat saling bertukar pandang.


“Aku mengajak mereka untuk menginap di vila milik keluargaku. Hanya untuk dua malam, karena pada hari Jumat kita harus kembali. Wyatt dan Charlotte akan mengadakan acara pertunangan mereka pada hari Sabtu nanti,” jawab Hadi. “Kamu mau ikut?”


Luca melirik ke arahku, lalu kembali menatap Hadi. “Apa kamu mengundang aku?”


“Iya. Kalau tidak mau, tidak apa-apa,” kata Hadi dengan santai.


“Tentu saja aku mau. Aku tidak punya teman untuk berjalan-jalan di daerah ini,” jawab Luca dengan cepat. “Terima kasih sudah mengajakku juga.”


Apa yang Hadi pikirkan? Mengapa dia mengajak Luca untuk menginap di vila keluarganya juga? Jadi benar dia masih marah kepadaku karena kalimat yang aku ucapkan semalam?


*******


Sementara itu di sebuah rumah~


“Aku lebih suka mengikuti audisi daripada berlibur. Papa memang tidak adil!” protes Dira dengan kesal. Dia berjalan menuju mobil dengan bantuan Colin.


“Sayang, dokter juga melarang kamu untuk menggunakan kakimu terlalu sering supaya cepat pulih. Bagaimana kamu bisa berjalan di catwalk dengan lutut memar begini? Kamu juga tidak bisa berjalan tanpa merasa kesakitan.” Adi membukakan pintu sehingga Colin bisa menolong Dira untuk duduk.


“Lalu apa melakukan perjalanan begini juga baik untuk kakiku? Papa sengaja menyuruh kita pergi supaya aku tidak kabur mengikuti audisi.” Dira menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


Colin mendesah pelan. “Bukan hanya Uncle, aku juga curiga kamu akan nekat mengikuti audisi.”


Dira menarik napas terkejut. Matanya berkaca-kaca. “Aku tidak menyangka kamu akan menuduh aku seperti itu. Kamu bilang, kamu akan selalu mendukung apa pun yang akan aku kerjakan untuk masa depanku. Ternyata kamu bohong. Kamu lebih memilih mendukung Papa.”

__ADS_1


__ADS_2