
Aku tidak membuka pengumuman di situs web mereka, tetapi langsung memeriksa surel baru pada kotak masuk akunku. Di sanalah surat yang tidak aku duga-duga berada. Panitia menyatakan selamat atas terpilihnya aku sebagai salah satu model pada pagelaran utama salah satu desainer kebaya terkenal di negeri ini.
“Colin, aku lulus!” seruku dengan suara tertahan. Aku menunjukkan surel itu dan dia membacanya dengan cepat. “Aku kembali bekerja dengan momen yang sangat tepat!”
“Selamat, sayang!” Colin mengecup pipiku. “Kamu sangat hebat! Walaupun kamu jatuh, kamu tetap menyelesaikan audisimu dengan baik. Mungkin itu yang membuat mereka memilihmu.”
“Iya. Kamu benar. Tidak semua peragaan busana berjalan sesuai rencana. Kadang-kadang ada model jatuh entah karena sepatu yang kurang nyaman atau lantai panggung licin.” Aku menatapnya tidak percaya. “Mengapa aku tidak berpikir begitu sebelumnya? Seharusnya aku tidak perlu khawatir akan gagal dalam audisi hanya karena jatuh.”
“Oh, sayang!” pekik Vikal yang meraih tanganku, lalu mencium kedua pipiku. “Selamat untukmu! Kamu menang audisi!” Dia melepaskan tanganku, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana. “Sekarang aku perlu membuat janji dengan pusat kecantikan untuk memeriksa kondisi kulitmu.”
“Akhirnya, aku tidak perlu mendengar dia mengeluh lagi tentang makan gaji buta.” Aku mendesah pelan. “Aku sudah muak mendengar dia terus meminta pekerjaan, bukan gaji.”
Colin tertawa geli. “Aku belum pernah mendengar orang mengeluh mendapat uang gratis, tanpa harus susah payah bekerja.”
“Karena itu aku tidak mau melepaskan dia sebagai asistenku.” Aku memasukkan ponselku ke tas dan melanjutkan makanku. “Cepat, habiskan makananmu. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan Wendy.”
Colin menambah makanan begitu piringnya hampir kosong. Aku juga melakukan hal yang sama saat melihat semua makanan yang lezat itu. Dia tertawa, tetapi aku mengabaikannya saja. Kami makan dengan santai sambil membicarakan hal-hal yang akan aku lakukan pada peragaan busana nanti.
Pak Billy mengucapkan selamat kepadaku ketika aku pamit. Vikal mengingatkan aku untuk siap sedia bertemu dengan dokter kulit yang akan memeriksa keadaanku. Teman-teman juga tidak ketinggalan mengucapkan selamat dengan menjabat tanganku dan mencium pipiku.
“Seharusnya kamu tidak menang, Dira. Bagaimana mereka bisa meluluskan kamu yang gagal pada saat audisi?” protes Laras yang sudah menunggu aku di pintu luar agensi.
Aku menatapnya dengan bingung. Tidak salah lagi. Ada yang aneh dengan sikapnya hari ini. “Juri memberi keputusan, maka mereka sudah mempertimbangan segala kemungkinan, Laras. Lagi pula aku hanya jatuh di panggung, bukan melakukan kecurangan. Kamu tahu sendiri bahwa aku jatuh karena perbuatan orang lain.”
“Oh, ya? Kamu yakin papamu itu tidak ikut campur dalam keputusan juri?” tanyanya menantangku. Mengapa papaku lagi yang dia tuduh? Kalau Papa campur tangan, maka aku tidak perlu susah payah mengikuti audisi. Cukup jentikkan tangan, maka aku masuk daftar model mereka.
__ADS_1
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tetapi papaku tidak ada hubungannya dengan ini. Aku akan lupakan semua tuduhanmu itu, karena kita berteman. Sampai nanti, Laras.” Aku melewatinya untuk berjalan menuju tempat parkir sepeda motor.
“Kamu bukan temanku. Aku tidak pernah menganggap kamu teman. Kalau bukan karena Pak Billy, aku tidak sudi berada di dekat orang munafik seperti kamu,” serunya membuat aku berhenti.
Aku membalikkan badan dan mengerutkan keningku. “Aku orang munafik?” Aku melihat ke sekitar kami. Apa ada orang yang baru saja memfitnah aku? “Kamu lulus audisi, apa yang membuat kamu marah kepadaku? Jika aku lulus, tetapi kamu tidak, aku mengerti bila kamu marah. Ada apa, Laras?”
Dia hanya merapatkan bibirnya dan menatapku dengan tajam. “Beraninya kamu bersikap pura-pura tidak tahu.” Dia meludah di kakiku.
“Hei! Apa yang kamu lakukan!?” teriak Colin. Aku segera menghalangi dia untuk mendekati Laras.
“Bila kamu menyebarkan isu itu kepada para model peragaan busana nanti, kamu akan tanggung akibatnya. Apa kamu mengerti?” ancamnya dengan wajah marah. Sebelum aku bisa mengatakan apa pun untuk menanggapi, dia sudah pergi menuju mobilnya.
Aku menoleh ke arah Colin. Dia tidak tertarik membahas apa yang baru saja terjadi, tetapi menarik aku kembali ke dalam agensi. Kami menuju kamar mandi, lalu dia membantu membersihkan ludah pada kakiku. Aku terlalu terkejut untuk peduli dengan keadaanku sendiri.
“Jangan pikirkan apa yang dia katakan tadi. Seseorang yang tidak menyukaimu pasti sudah meracuni pikirannya. Laras seharusnya tidak percaya begitu saja. Kalian sudah lama berteman baik.” Colin menggeleng pelan. “Kalian sama-sama lulus, apa yang membuat dia tidak puas? Malah menuduh kamu dengan sembarangan.”
“Bila kamu tidak melakukan apa yang dia tuduhkan, tidak perlu kamu pikirkan. Ayo, kita temui Wendy. Lupakan saja kejadian tadi.” Colin merangkul bahuku dan mengajak aku keluar.
Dia benar. Aku tidak melakukan apa yang dia tuduhkan. Apa yang dia maksud sebagai isu saja aku tidak tahu-menahu. Jika Laras mencari masalah denganku, maka dia sendiri yang rugi. Aku adalah teman yang baik dan setia. Karena dia tidak bisa melihat kualitas itu pada diriku, dia tidak pantas menjadi temanku. Bukan aku yang rugi, tetapi dia.
Vikal dekat dengan asisten Laras. Bila dia tahu sesuatu mengenai gadis itu, maka dia pasti akan segera memberi tahu aku. Sebaiknya aku tunggu kabar darinya saja. Hari ini aku bertemu dengan Colin lagi, jadi aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak kebahagiaanku.
“Hai, Dira!” sapa Wendy yang segera memeluk aku yang sedang mengantri bersama Colin di depan kasir. “Aku senang melihat kalian datang.”
Aku melepaskan pelukanku saat merasakan dia melonggarkan pelukannya. “Apa tidak apa-apa berdiri di sini dan meninggalkan pekerjaanmu?” tanyaku melihat ke arah belakang kasir.
__ADS_1
“Aku sudah minta izin kepada supervisorku. Dia memberikan aku istirahat selama tiga puluh menit. Tenang saja. Aku tinggal lembur selama setengah jam tanpa dibayar dan tidak akan ada yang dipecat. Ayo, kita duduk. Aku sudah memesan makanan dan minuman kesukaan kalian. Temanku akan memanggil bila pesanan kita sudah siap,” ajak Wendy yang menggandeng tanganku.
“Bosmu tidak akan memecat kamu, kita sama-sama tahu itu,” kataku sambil duduk di kursi dan Colin duduk di sisiku, sedangkan Wendy di hadapanku.
“Jadi, apa ada kabar baik? Hari ini pengumuman hasil audisi, ‘kan?” tanya Wendy tidak sabar. Aku tahu dia adalah sahabat baikku, karena tidak pernah lupa apa pun tentangku. Aku tersenyum penuh arti, tidak menjawab pertanyaannya. Dia segera bersorak senang. “Selamat, Dira! Apakah aku bisa dapat undangan untuk mengikuti peragaan itu? Aku mau melihat koleksi kebaya baru desainer itu!”
“Beres. Kamu dan Colin akan selalu menjadi undangan spesial. Aku akan menyediakan dua undangan khusus untuk kalian.” Aku melihat mereka secara bergantian.
“Syukurlah, kamu lulus. Kita sempat pasrah mereka tidak akan memilih kamu.” Wendy menoleh saat namanya dipanggil. Melihat pesanan kami sudah siap, Colin menghalanginya berdiri dan mengambil baki berisi gelas dan piring tersebut.
“Aku penasaran siapa yang akan mendapat bagian pembuka dan penutup peragaan itu nanti,” kata Wendy dengan senyum penuh arti. “Semoga saja kamu mendapat salah satunya.”
“Itu tidak penting, Wendy. Mendapat bagian dari proyek desainer ini saja aku sudah beruntung. Aku tidak peduli aku akan mendapat posisi penting atau hanya menjadi model yang tidak akan pernah diingat pada pagelaran itu nanti.” Aku mendekatkan tubuhku ke meja. “Lagi pula para wartawan yang meliput pasti akan memasukkan fotoku pada salah satu majalah daring atau cetak mereka.”
“Koleksi klipingku akan bertambah lagi.” Wendy tersenyum bahagia. Aku membuka mulut ingin mengatakan sesuatu. “Aku tahu, aku tahu. Aku akan membuatkan satu juga untukmu.”
Colin datang dan meletakkan baki di atas meja. “Ini untuk kamu, sayang.” Dia meletakkan satu mug berisi teh, lalu satu mug lainnya di depan Wendy. Sebuah piring berisi kroisan diletakkan di tengah meja, dan satu mug berisi kopi untuknya. Dia meletakkan semua jenis gula, krim, dan tisu di atas meja, sebelum ke konter untuk mengembalikan baki.
Aku dan Wendy saling melepas rindu dengan membicarakan apa yang kami lakukan selama kami tidak bertemu. Aku sedikit merasa bersalah mendengar dia harus bekerja keras selama liburan demi mengumpulkan uang kuliahnya. Dia bisa mengatur waktunya selama duduk di bangku SMU, tetapi aku tidak tahu bagaimana dia akan bertahan pada saat kuliah nanti.
Biaya kuliah jauh lebih besar daripada sekolah. Waktu yang dibutuhkan untuk kuliah juga lebih banyak daripada sekolah. Apa dia akan bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik dan tepat waktu? Aku dengar dari Kakak dan Colin, kampus memberlakukan sistem drop out. Bila seorang mahasiswa tidak wisuda dalam waktu yang diberikan oleh universitas, maka dia akan dikeluarkan.
“Sedang memikirkan Wendy?” tanya Colin membuyarkan lamunanku. Aku mengangkat kepalaku dan menoleh. Melihat kami sedang berada di sebuah tempat parkir, aku mengerutkan kening.
“Apa yang kita lakukan di sini?” Dia membawa aku ke sebuah taman.
__ADS_1
Dia tersenyum sambil melepaskan helmku. “Kamu pernah bertanya, maka aku akan menjawab semua pertanyaanmu itu sekarang.”