Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 86 - Terjadi Lagi


__ADS_3

*Colin*


Acara di sekolah Dira dimulai pada pukul sepuluh pagi. Aku dan Hadi segera datang ke sekolahnya setelah kami selesai berolahraga bersama. Kami tidak bermain bola basket bersama tim kami yang biasanya, karena kami tidak bisa bersama mereka sampai usai makan siang.


Kami mampir membeli sesuatu untuk makan siang di sebuah restoran cepat saji. Lalu menikmatinya sambil mengawasi gerbang sekolah Dira tersebut. Ada banyak mobil pribadi yang diparkir di pinggir jalan di depan sekolah. Sepertinya orang tua atau sopir para siswa memutuskan untuk menunggu sampai acara selesai.


Hadi mendesah lega saat siswa berpakaian resmi mulai keluar dari gerbang sekolah tersebut. Kami tidak melihat ada hal yang mencurigakan terjadi selama acara berlangsung. Jadi, apa yang kami khawatirkan tidak terjadi pada hari ini.


Tetapi beberapa saat menunggu, Dira maupun teman-temannya tidak terlihat keluar bersama para siswa lainnya. Mobil Hadi yang dikendarai oleh Pak Sakti, juga mobil Charlotte masih menunggu dengan setia di depan pagar sekolah tersebut.


“Ada yang aneh.” Hadi melirik jam tangannya. “Dira tidak pernah sengaja menunggu sampai sekolah sepi untuk keluar dari kelas. Jadi, dia tidak mungkin menunggu sampai aula kosong untuk keluar dari tempat itu.” Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang yang aku yakin adalah Dira.


Pak Sakti dan sopir Charlotte keluar dari mobil dan mereka serentak melihat ke arah gerbang sekolah yang ditutup. Mereka saling bertukar pandang dan mulai terlihat khawatir. Aku melihat ke arah Hadi yang mulai gelisah karena panggilannya tidak dijawab.


“Adikku tidak menjawab ponselnya.” Hadi menunjukkan ponselnya kepadaku. “Aku akan mencoba menghubungi Wyatt. Laki-laki tidak berguna. Bagaimana bisa dia lalai menjaga adikku?”


“Mungkin mereka sedang bersenang-senang sampai lupa waktu. Karena bukan hanya Dira dan Wyatt, Charlotte dan Wendy juga tidak terlihat keluar dari sekolah.” Kepalaku mulai berpikir apa yang menyebabkan mereka tidak muncul juga.


“Laki-laki berengsek! Dia juga tidak menjawab panggilanku.” Hadi mencoba menghubungi ponsel Charlotte dan Wendy juga. Semuanya berakhir nihil. Tidak satu pun dari mereka yang meresponsi. “Aku akan memarahi gadis ini habis-habisan dan aku akan meyakinkan Papa untuk menghukum dia seberat mungkin. Sikap ini tidak bisa ditoleransi.”


“Apa ada jalan keluar lain dari sekolah selain gerbang utama?” tanyaku pada Hadi.


“Iya. Pintu belakang. Tetapi pintu itu tidak pernah dibuka. Sekolah membukanya hanya pada saat darurat. Jadi, tidak mungkin mereka keluar lewat pintu belakang.” Hadi berpikir keras.


“Mereka tidak keluar lewat pintu depan. Jika mereka juga tidak keluar lewat pintu belakang, apa menurutmu mereka masih berada di dalam sekolah?”


“Aku tidak tahu. Aku akan meminta Papa untuk meminta bantuan Om Irwan.” Hadi mendekatkan ponselnya ke telinganya sambil berjalan mendekati Pak Sakti.

__ADS_1


Aku menyalakan sepeda motorku dan mengikuti dia. Melihat Hadi yang sedang marah, aku memilih untuk tidak menginterupsi atau memberi saran. Aku tergoda untuk memutar dan melihat kondisi pintu belakang sekolah. Tetapi aku mengurung niatku itu. Bila mereka keluar lewat pintu belakang, saat ini mereka pasti sudah jauh. Dan aku tidak yakin mereka meninggalkan jejak untuk kami ikuti.


“Papa meminta kita untuk menunggu di rumah. Dia dan Om Irwan yang akan mencari tahu di mana Dira dan teman-temannya berada.” Hadi menyimpan ponselnya kembali ke dalam tasnya. “Pak, kita pulang saja. Aku akan bersama temanku, Bapak yang kendarai mobil ke rumah, ya.”


Hadi juga memberi instruksi kepada sopir Charlotte. Pria itu agak berat pulang tanpa majikannya, tetapi saat Hadi menghubungi Uncle Ed dan memberikan ponselnya pada pria itu, dia pun menurut. Dia pasti takut dimarahi oleh tuannya bila pulang tanpa cucu mereka.


“Aku tidak akan tenang bila kita pulang dan menunggu kabar di rumah, Hadi. Pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mencari tahu keberadaan mereka.”


“Caranya? Aku tidak tahu bagaimana menyusup ke CCTV yang ada di jalan raya maupun yang ada di toko sekitar sekolah. Itu keahlian orang-orang Om Irwan. Wyatt, Charlotte, dan Wendy tidak menjawab ponsel mereka. Padahal petunjuk dari mereka adalah harapan kita satu-satunya. Lalu kita harus bagaimana lagi? Keliling kota tanpa tujuan?” tanya Hadi.


Aku tidak bisa menjawab karena apa yang dia katakan benar. Tetapi pulang bukanlah jawaban. Aku baru saja akan mengatakan sesuatu ketika ponsel Hadi bergetar. Dia segera melihat layar ponselnya, lalu meminta aku untuk tenang.


“Wyatt,” sapa Hadi. Aku mendesah lega mendengar nama itu disebut. “Oke. Segera bagikan lokasi kalian, aku akan beri tahu Papa juga. Tidak. Jangan lakukan apa pun. Jangan bertindak ceroboh. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada adikku. Oke.”


Hadi menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu membuka kunci layarnya. Ponselnya kembali bergetar dan dia membuka pesan yang masuk. Sebuah lokasi dari Wyatt. Dia segera meneruskan pesan itu kepada Uncle Hendra. Lagi-lagi ponselnya bergetar.


“Ya, Pa? Tidak. Lokasi itu dekat dari sekolah Dira, Pa, jadi kami yang akan tiba lebih dahulu daripada tim Om Irwan. Tapi, Pa ….” Hadi sepertinya sedang berdebat dengan papanya.


“Aku tidak akan menunggu dan tidak melakukan apa pun. Ini adalah adikku, bukan orang lain.” Hadi mengenakan helmnya kembali, kemudian dia duduk di belakangku. “Ayo, kita tolong Dira.”


Sepanjang perjalanan, Hadi memberi tahu bahwa Wyatt dan kedua gadis itu diam-diam mengikuti Jordan yang membawa Dira yang sedang tidak sadarkan diri. Mereka menunggu sampai mereka tiba di lokasi sebelum menghubungi Hadi. Ponsel mereka memang sengaja tidak berbunyi atau bergetar agar tidak menarik perhatian Jordan dan komplotannya.


Wyatt membawa Charlotte dan Wendy, karena itu dia tidak bisa bertindak untuk menyelamatkan Dira. Bila dia meninggalkan kedua gadis itu, bisa saja sesuatu yang buruk juga terjadi pada mereka. Aku mengerti dilema yang Wyatt hadapi. Lagi pula dia pasti lebih memilih melindungi Charlotte daripada Dira. Bila aku berada pada posisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama.


Tetapi yang tidak bisa aku pahami adalah mengapa dia membawa kedua gadis itu bersamanya? Apa mereka tidak bisa membiarkan Wyatt bertindak sendirian? Dia bukan laki-laki lemah. Dengan postur tubuhnya yang tinggi dan atletis, aku yakin dia bisa melindungi dirinya sendiri. Aku juga percaya dia bisa menjaga Dira.


Lokasi yang dibagi Wyatt mengarahkan kami pada sebuah rumah yang berada tidak jauh dari lokasi sekolah. Hadi benar. Kami lebih cepat tiba daripada orang-orang kepercayaan Pak Irwan. Motorku kami parkirkan di tempat yang aman agar kedatangan kami tidak mengundang kecurigaan Jordan.

__ADS_1


“Hadi, Colin! Di sini.” Terdengar suara Wyatt dari arah belakang kami.


Aku dan Hadi menoleh ke arah datangnya suara. Kami bergegas menyeberang jalan dan mendekati mereka bertiga yang bersembunyi di balik sebuah pohon. “Apa yang kalian lakukan di sini? Apa tidak ada yang melihat apa yang terjadi di rumah itu? Bagaimana kalau mereka menyakiti Dira??”


“Sabar, Hadi. Tunggu sebentar.” Charlotte segera berdiri di antara Hadi dan Wyatt. “Sebelum kamu menuduh yang tidak-tidak pada kami, dengarkan dahulu penjelasan kami.”


“Penjelasan? Kita tidak punya waktu untuk penjelasan apa pun. Kita akan bicarakan ini nanti.” Hadi segera memotong kalimat Charlotte. “Dengar, kita harus dibagi menjadi dua kelompok. Wyatt dan Charlotte, kalian satu tim. Aku, Cole, dan Wendy akan menjadi satu tim.”


“Apa? Tidak. Aku tidak mau satu tim dengannya. Lebih baik Wendy bersamanya dan aku bersama kalian,” tolak Charlotte dengan cepat.


Hadi menarik napas dalam-dalam sebelum memberikan respons. “Yang ada di dalam rumah itu adalah teman sekelas kalian. Jadi, kalau kalian berdua yang terlihat bersama, dia tidak akan curiga. Kalian adalah mantan kekasih, sedangkan Wendy dan Wyatt tidak punya hubungan istimewa. Apa kamu mengerti? Kita tidak punya banyak waktu, Charlotte.”


“Oke, oke,” kata Charlotte mengalah. “Katakan, apa yang harus kami lakukan.”


*******


Sementara itu di dalam sebuah rumah~


Nora melirik jam tangannya untuk kesekian kalinya. Dia menoleh ke arah tangga menuju lantai atas. Orang yang dia harap-harapkan belum juga kembali turun menemuinya. Setelah mendesah keras, dia meletakkan kedua tangannya pada lengan kursi dan berdiri.


Dia berjalan cepat menaiki setiap anak tangga dan segera berbelok ke kanan saat berada di lantai dua. Semakin dia mendekati pintu sebuah kamar, semakin keras suara dua orang laki-laki datang dari ruangan tertutup tersebut. Dia membuka pintunya dan kedua pasang mata yang sedang menyala marah tertuju padanya.


“Apa yang sedang kalian lakukan? Apa semuanya sudah selesai? Kita tidak punya banyak waktu. Hendra akan datang ke tempat ini begitu dia tahu bahwa putrinya hilang!” ucap Nora frustrasi.


“Aku sedang berusaha untuk menyelesaikan urusan kita, tetapi laki-laki bodoh ini mencegah aku untuk melakukannya,” kata Vivaldo.


Nora melihat ke arah Jordan. “Sikap apa ini, Jordan? Aku pikir kita sudah sepakat untuk melakukan semua rencana ini. Setelah kita sudah dekat dengan tujuan, kamu berubah pikiran?”

__ADS_1


“Rencananya adalah aku mendekati Dira dan menjadikan dia milikku. Lalu mengapa laki-laki ini masuk ke kamar dan mengambil foto kami bersama?” protes Jordan.


“Kita tidak punya banyak waktu. Sebaiknya aku yang selesaikan semuanya. Kamu bawa dia keluar dari sini.” Nora mendekati tempat tidur di mana seorang gadis yang tidak sadarkan diri sedang berbaring. Dia tidak memedulikan teriakan protes Jordan yang ditarik keluar oleh Vivaldo. Yang ada dalam benaknya saat ini adalah menghancurkan Hendra lewat putri kesayangannya.


__ADS_2