
Para wanita dewasa membawa Clarissa keluar dari ruang keluarga, sedangkan yang lainnya tetap bersama aku di tempat duduk kami masing-masing. Dira meletakkan setelan yang dibawanya ke atas sandaran sofa, mengeluarkan sebuah kemeja dan celana panjang, lalu memberikan pakaian itu kepadaku. Dia menarik tanganku agar aku berdiri.
“Apa ini, Pa? Jadi, Papa tahu mengenai rencana Aunt Claudia dan Tante Lindsey?” tanyaku tidak percaya. Papaku sendiri menyembunyikan rahasia sebesar ini dariku?
“Tidak ada yang bisa membantah Claudia bila dia sudah memutuskan sesuatu. Kamu lihat sendiri bagaimana dia dan Lindsey mengarahkan percakapan sehingga Clarissa setuju dengan rencana mereka.” Papa tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
“Kamu juga sama saja. Bagaimana bisa kamu tidak memperingatkan aku tentang rencana ini? Dan kapan kamu selesai les dan pulang dari sekolah?” protesku pada Dira.
“Kakak, lihat jam berapa sekarang. Aku dijemput Pak Sakti dari sekolah selesai les, lalu ke rumah untuk mengambil setelan ini. Barulah aku datang ke sini.” Dia mendorong tubuhku dari belakang. “Cepat ganti baju. Aku masih perlu membantu Kakak mengenakan jas dan merapikan rambut.”
“Mengapa aku harus berganti pakaian? Ini hanya acara di antara kita, bukan acara formal. Apa yang salah dengan baju yang aku pakai sekarang?”
Karena tidak bisa lagi melawan mereka, aku terpaksa pergi ke kamar mandi yang ada di lantai ini dan berganti pakaian. Aku duduk pasrah saat Dira dan Charlotte membantu merapikan rambut juga memulas entah apa di wajahku. Aku mengenakan jas dan siap untuk mengikuti acara apa pun yang sudah mereka siapkan.
Adi tiba bersamaan dengan para pria dewasa yang baru pulang dari tempat kerja mereka. Uncle Mason dan Om Edu segera keluar begitu mengetahui Clarissa tidak bersama kami. Aku yakin mereka tidak bisa menunggu lagi untuk memeluk cucu mereka tersebut.
Dira dan Charlotte sama sekali tidak membantu selama kami menunggu para wanita kembali ke ruang keluarga. Mereka menggoda aku habis-habisan yang didukung oleh Adi dan Wyatt. Papa, Om Gio, dan Om Helmut terlibat percakapan yang serius. Aku lebih suka bergabung bersama mereka, tetapi saudara dan sahabatku tidak membiarkan aku menjauh dari mereka.
Kami semua menoleh ke arah pintu ketika kepala pelayan membukanya. Ruangan itu mendadak hening karena kami serentak berhenti bicara. Tante Lindsey masuk dengan wajah bahagia, disusul oleh Aunt Claudia yang menatap aku penuh arti. Lalu Clarissa masuk dengan penampilan yang jauh berbeda dengan dia yang datang bersamaku ke rumah ini.
Dia mengenakan dress berwarna biru yang serasi dengan warna matanya. Rambutnya dibiarkan tergerai dan salah satu sisinya diseka ke belakang telinga. Dia tidak mengenakan perhiasan apa pun, namun tidak mengurangi kecantikannya. Kalau bukan karena aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri, aku tidak akan percaya bahwa gadis yang sama baru saja memukul jatuh pria yang bertubuh lebih besar darinya.
“Bagaimana, Hadi? Apa kamu mau melewatkan kesempatan bisa bersama gadis yang selama ini kamu tunggu kepulangannya?” goda Aunt Claudia. Aku memilih untuk tidak menanggapi kalimatnya itu, karena aku tahu dia sudah menyiapkan balasan yang akan membuat aku terdiam.
“Ayo, kita mulai saja acaranya supaya kita bisa makan malam. Aku sudah lapar,” ucap Uncle Mason.
__ADS_1
Acara itu sangat sederhana. Kedua orang tua kami menyatakan rasa bahagia dan setuju mereka atas rencana kami untuk bersama. Yang benar saja. Kami tidak punya maksud untuk bersama di masa depan. Ini semua adalah rencana mereka sendiri. Om Edu dan Tante Lindsey yang menjadi wali Clarissa. Lalu sebagai tanda janji, aku diminta memasangkan gelang yang sudah disiapkan oleh Papa di pergelangan tangan Clarissa.
Papa pura-pura tidak melihat tatapan penuh protesku padanya. Pantas saja dia terus saja menggoda aku mengenai perasaanku terhadap Clarissa. Ternyata Papa bukan hanya tahu mengenai acara ini, tetapi dia juga setuju dan sudah menyiapkan perhiasan sebagai tanda resminya hubungan kami.
“Kamu tidak boleh melepaskan gelang ini. Sama sekali,” ucap Om Edu pada Clarissa yang membuat keningku berkerut. Apa yang begitu istimewa pada gelang itu sehingga tidak boleh dilepas?
“Baik, Kakek,” kata Clarissa menurut.
“Masih ada banyak waktu bagi kalian untuk saling mengenal. Aku dan Mason akan datang lagi pada liburan musim panas agar kita bisa merencanakan pertunangan kalian secara resmi. Sampai saat itu tiba, aku berharap kalian akan memberi kami kabar baik.” Aunt Claudia menatap cucunya. “Jangan merasa terbebani dengan acara hari ini. Bila kalian berdua memutuskan untuk tidak meneruskan hubungan kalian ke jenjang selanjutnya, maka kami akan menghormati keputusan kalian itu.”
“Claudia benar. Kami sepakat bahwa keputusan terakhir tetap ada di tangan kalian. Kami sebagai orang tua hanya merencanakan apa yang kami pikir baik untuk kalian. Claudia dan Mason adalah orang yang baik. Begitu juga Edu dan Lindsey. Karena itu aku yakin bahwa Matias dan Abby, anak-anak mereka, juga akan mendidik cucu mereka dengan baik. Jadi, mengapa aku tidak menyatukan putra sulungku dengan cucu sahabat baikku?” kata Mama dengan wajah bahagia.
“Nah, acara sudah selesai. Apa kita bisa makan sekarang?” tanya Uncle Mason penuh harap.
Semua pasang mata segera tertuju kepada kami. Kalau tatapan mata bisa membunuh, aku sedang membunuh calon adik iparku sendiri dengan cara itu. Dia malah berseru cium, cium, cium, yang segera diikuti oleh semua orang yang ada di dalam ruangan.
Karena aku hanya seorang diri yang punya pendapat berbeda, aku terpaksa menuruti permintaan mereka. Aku mengecup kening Clarissa yang mendapat sorakan penuh ejekan dari Charlotte dan Dira. Para orang dewasa hanya tersenyum geli.
“Itu yang Kakak sebut sebagai ciuman?” ledek Dira. Dia dan Charlotte sudah siap dengan kamera ponsel mereka yang terarah kepadaku dan Clarissa.
“Ayolah, Hadi. Jangan buat kaum kita malu.” Wyatt menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lakukan, Hadi. Semakin cepat kamu melakukannya, maka semua ini akan segera berakhir,” bisik Clarissa yang berusaha agar kalimat itu hanya bisa terdengar olehku.
Aku mengalah dan mencium keningnya. Kali ini aku tidak menjauh darinya secepat yang aku lakukan tadi. Dan aku teringat pada kejadian di kamar, saat dia tinggal bersama kami. Entah apa yang terjadi padaku pada malam itu sehingga aku mencium keningnya.
__ADS_1
Jantungku berdebar begitu keras sampai aku takut duduk lebih dekat pada Clarissa. Telingaku nyaris tuli mendengar detak jantungku sendiri. Mengapa aku begini saat menyentuh tangannya dan usai mencium keningnya? Apa aku terkena serangan jantung?
Ketika para orang tua berjalan keluar ruangan menuju ruang makan, Dira dan Charlotte meminta aku dan Clarissa untuk berpose. Mereka memotret kami dalam keadaan duduk juga berdiri. Agar semua itu bisa berakhir secepat mungkin, aku menuruti permintaan mereka.
“Kalian tidak boleh mengunggah foto kami di media sosial,” kataku dengan serius. Dira dan Charlotte serentak memutar bola mata mereka.
“Kami tahu kesepakatannya. Hubungan kalian baru boleh dipublikasikan setelah kalian bertunangan secara resmi nanti. Jangan khawatir, Hadi. Aku hanya ingin menyimpan foto kalian hari ini sebagai kenang-kenangan di antara kita sekeluarga,” ucap Charlotte.
Ini adalah pertama kalinya bagiku bisa berdiri, duduk, bahkan memeluk seorang perempuan yang bukan Mama, Dira, para tanteku, atau kedua nenekku. Jadi, aku tidak heran mendengar ucapan protes Dira menilai ekspresi wajahku terlalu kaku. Padahal aku sedang berusaha untuk menenangkan detak jantungku. Aku tidak mau Clarissa sampai mendengarnya.
“Kak, kalian itu sudah bukan teman biasa lagi.” Dira menghentikan kami ketika kami akan berjalan menuju pintu. “Gandeng tangan tunangan Kakak.” Dia menyatukan tangan kiriku dengan tangan kanan Clarissa. “Nah, begitu. Ayo, kita makan sekarang!”
Dia mendorong tubuhku dari belakang sehingga aku terpaksa menurutinya. Clarissa hanya tertawa kecil di sisiku. Aku menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku hari ini.
Para orang tua menunggu kami datang. Makanan sudah disajikan di atas meja, tetapi mereka belum mulai makan. Setelah kami semua duduk, maka Om Edu memimpin doa makan sekaligus mensyukuri kepulangan Clarissa dan pertunangan kami. Aku menoleh ke arah Dira. Dia terlihat sangat bahagia. Sepertinya dia tidak terganggu lagi dengan putusnya hubungannya dengan Colin.
Meskipun aku merasa diperlakukan tidak adil pada hari ini, aku ikut bahagia dengan yang dirasakan oleh keluarga ini. Untuk pertama kalinya, Om Edu dan Tante Lindsey terlihat sangat bahagia. Aku tidak melihat awan hitam yang biasanya menghiasi kedua mata mereka. Yang aku saksikan, bukan hanya bibir mereka yang tersenyum, tetapi juga mata mereka. Begitu juga dengan Aunt Claudia dan Uncle Mason. Charlotte bahkan mau pulang ke Indonesia setelah bertahun-tahun tinggal di Amerika.
“Ada apa dengan hari ini, Pa?” tanyaku kepada Papa saat kami sudah sampai di rumah. Aku sengaja menunggu sampai Mama dan kedua adikku berada cukup jauh dari kami. “Ini bukan gaya Papa yang biasanya. Papa tidak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang.”
“Aku, Mason, dan Edu yang memutuskan untuk melakukan ini. Kami hanya ingin memancing reaksi Finley. Kami mendapat laporan dari salah satu karyawan lab yang memeriksa sampel Clarissa dan keluarga Mason bahwa ada orang yang mencoba menyuapnya dengan uang yang sangat banyak untuk membuat laporan palsu.”
“Maksud Papa, memanipulasi tes agar menuliskan bahwa Clarissa tidak ada hubungan darah dengan Aunt Claudia?” tanyaku mengonfirmasi. Papa mengangguk pelan. “Mengapa tidak laporkan dia ke polisi? Dia sangat berbahaya, Pa. Aku atau Rissa bisa mati di tangan mereka tadi kalau saja kami tidak bisa membela diri.”
“Tidak bisa, Nak. Selama tidak ada bukti bahwa dia telah melakukan kejahatan, maka kita tidak bisa melaporkan perbuatannya kepada polisi.”
__ADS_1