
Hanya ada satu hal yang tebersit di kepalaku. Menghalangi Dira selangkah lebih dekat ke Valeria. Aku segera memeluk tubuhnya dan membawanya menjauh dari gadis itu. Valeria tidak membuat segalanya menjadi mudah bagiku. Dia malah menantang Dira dan mengikuti kami menuju bagian luar kantor jurusan.
“Lancang sekali mulutmu! Kamu siapa berani bicara begitu?! Buka kacamatamu! Jangan sembunyi! Aku mau tahu apa kamu masih berani bicara kasar dengan orang yang lebih tua!” Valeria berdiri di belakangku dan mengulurkan tangannya untuk mengambil kacamata Dira.
“Lebih tua tetapi kerjamu hanya meracuni pikiran orang lain! Apa itu yang diajari dosen di kampus ini pada mahasiswanya?!” seru Dira tidak mau kalah.
“Cukup! Apa kamu tidak bisa menahan emosimu??” bisikku pada Dira. Aku tidak bisa menyebut namanya karena identitasnya harus aku sembunyikan. Tetapi jika dia terus menantang Valeria dan menarik perhatian lebih banyak orang, aku tidak bisa menolong penyamarannya lebih lama lagi.
“Menahan emosi? Kamu yang bodoh membiarkan perempuan gila itu bicara tidak benar! Dia sudah menghina kamu, Colin!” protesnya berusaha untuk lepas dariku.
“Aku akan panggil keamanan supaya kamu diusir dari tempat ini! Kamu sudah membuat kegaduhan!” jerit Valeria marah. Dia tidak bisa mendekat karena Charlotte berdiri di antara dia dan aku.
“Cukup, Valeria! Apa perlu dosen datang dan melerai kalian!?” teriakku tertahan dengan kesal. “Aku berusaha menenangkan gadis ini, mengapa kamu malah meneruskan pertengkaran? Kembali ke dalam. Dan jaga jarakmu dari kami.”
“Colin … apa yang …?” Dia menatapku tidak percaya. “Kamu lihat sendiri aku tidak melakukan apa pun. Gadis itu yang tiba-tiba marah dan mau menjambak rambutku.”
“Tidak melakukan apa pun, katamu?? Kamu sudah menghina Colin!” seru Dira mengingatkannya.
“Valeria.” Aku bicara lebih cepat sebelum dia mengucapkan kalimat provokatif selanjutnya. “Kamu tahu apa kesalahanmu. Jadi, segera jaga jarak dari kami.”
“Ayo, Val. Colin benar. Kalau dosen sampai melihat ini, kamu yang akan ada dalam masalah. Gadis itu tidak akan mendapat konsekuensi apa pun.” Seorang teman menariknya menjauh dari kami.
Valeria tidak mengatakan apa pun lagi dan pergi ke kantor jurusan. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya sehingga mengatakan semua kalimat itu tadi. Tidak mengherankan, Dira menjadi semarah ini. Dia sengaja memprovokasi aku dengan Hadi.
“Seharusnya kamu biarkan aku menggunduli kepalanya,” desis Dira yang masih kesal. “Dia sudah lancang menghina kamu serendah itu. Mengapa kamu malah menghalangi aku melakukannya??”
“Dira, lihat kita sedang berada di mana. Kekerasan bukanlah jawaban. Biarkan saja dia bicara, aku tidak peduli. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Bicara.” Aku menatap gadis di depanku itu dengan saksama. “Ada apa denganmu? Kamu tidak pernah seemosional ini. Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku yang seharusnya bertanya, apa kamu baik-baik saja?” balasnya. Aku tidak menjawab. Dia menarik napas panjang, berusaha untuk mengatur napasnya yang memburu. Lalu matanya kembali melihat ke arah kantor jurusan. “Jadi, dia yang bernama Valeria?”
“Oke. Apa yang terjadi? Mengapa Dira sampai marah begini?” tanya Charlotte bingung. Dia melihat ke arah aku dan Dira. “Hinaan apa yang dikatakan perempuan itu sampai kamu marah, Dira?”
“Dia mencoba memprovokasi Colin untuk membenci Kak Hadi. Aku tidak bisa mengulang semua kalimatnya tadi sekarang. Aku bisa meledak lagi.” Dira menggelengkan kepalanya. “Tetapi aku akan menceritakan semuanya padamu nanti.”
__ADS_1
“Sayang sekali,” ucap Wyatt dengan senyum penuh arti. “Seharusnya kamu biarkan saja Dira beraksi, Colin. Lumayan kalau video mereka sedang jambak-jambakan menjadi viral.” Kami bertiga menatap tajam ke arahnya. “Hei, aku hanya mencoba mendinginkan suasana.”
“Rencanamu itu tidak lucu, Honey,” kata Charlotte dengan serius.
“Oke, oke. Aku minta maaf. Apa kita bisa kembali sekarang?” Wyatt melingkarkan tangannya di bahu Charlotte. “Hadi bisa saja keluar dan mencari kita.”
“Hadi tidak akan mencari kita. Sudah ada banyak perempuan yang siap untuk menemaninya sampai hasil ujian siap untuk diumumkan.” Charlotte memutar bola matanya. Tetapi dia menurut saat Wyatt membawanya kembali ke sana.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” kata Dira. Aku menoleh ke arahnya dan melihat dia sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Mengapa sekarang dia marah padaku.
“Pertanyaan yang mana? Kamu mengajukan begitu banyak pertanyaan tadi,” ujarku bingung.
“Dia Valeria yang sedang mendekati kamu? Kata Kakak kalian serasi, aku tidak berpendapat begitu. Tubuhnya terlalu pendek bersanding denganmu. Lidahnya juga terlalu tajam. Walaupun kamu terlihat tidak keberatan dengan itu,” ejeknya. Lalu aku memahami apa yang sedang terjadi.
“Apa kamu sedang cemburu, Dira?” tanyaku tanpa basa-basi.
Dia tertawa mengejek. “Cemburu? Aku tidak cemburu,” jawabnya menghindari tatapanku.
Iya. Dia cemburu. Tetapi aku tidak berniat mengambil keuntungan dengan perasaannya itu. Kami bisa bicarakan ini lain kali. Saat ini fokus kami adalah Hadi. Jadi, aku mengajak dia kembali ke kantor jurusan untuk menunggu Hadi selesai ujian.
Valeria berada cukup jauh dari kami, namun aku bisa merasakan dia berkali-kali melihat ke arah aku dan Dira. Apa dia mengubah taktiknya untuk menarik perhatian Hadi dengan mendekati aku? Atau dia kini membenci sahabatku dan berusaha agar kami berdua bertengkar? Persahabatan antara aku dan Hadi tidak bisa dirusak semudah itu.
Lagi pula dari dahulu Hadi memang lebih menarik perhatian para gadis. Bukan karena dia lebih tampan dariku, tetapi karena statusnya. Bukan hanya aku, Hadi pun menyadari hal itu. Karenanya dia tidak mudah jatuh dalam pesona mereka. Dan aku pun tidak iri dengan semua itu. Aku sudah punya Dira, jadi aku tidak membutuhkan gadis yang lain.
“Pukul berapa biasanya jam kuliah selesai?” tanya Charlotte padaku tanpa menoleh ke arahku. Matanya fokus pada layar ponselnya.
Aku melirik jam tanganku. “Sekitar lima belas menit lagi. Ada apa?”
“Aku sedang berusaha meruntuhkan tembok hati seseorang.” Dia tersenyum tipis.
Suasana hening itu seketika berubah riuh, saat pintu ruang ujian terbuka. Beberapa mahasiswa keluar dari ruangan itu, termasuk Hadi. Dia melihat ke sekelilingnya mencari seseorang, tetapi kerumunan mahasiswi yang ingin memberi dia bunga dan hadiah menghalanginya. Ketika matanya menemukan kami, dia bergegas menjauh dari para gadis itu.
“Anak-anak, mohon tenang!” ucap seorang dosen yang keluar dari ruang kerjanya. “Bila kalian tidak ada urusan di tempat ini, saya mohon sekali lagi, kembali ke ruang kuliah kalian.”
__ADS_1
Beberapa orang akhirnya memilih untuk keluar, sedangkan yang lain berusaha untuk tidak berisik. Hadi menolak semua barang pemberian para gadis yang sudah menunggu dia dari pagi. Aku hanya tersenyum membayangkan rasa dongkol mereka. Tetapi tetap saja mereka tidak jera melakukannya. Apa mereka pikir Hadi akan berubah dalam satu hari setelah empat tahun ini menolak mereka?
“Wow, Hadi. Kekuatan seorang ahli waris.” Wyatt mengedipkan sebelah matanya pada Hadi.
“Kamu juga tahu rasanya.” Hadi menerima sebotol minuman dari Dira. Dia melihat kami secara bergantian sebelum meneguk minumannya.
“Mencari seseorang?” goda Charlotte. Kami tertawa kecil mendengarnya.
“Terima kasih kalian sudah datang. Aku lapar. Setelah mereka mengumumkan hasilnya, aku akan mentraktir kalian makan siang,” ucap Hadi pura-pura tidak mendengar pertanyaan Charlotte.
“Brutal?” Aku menanyakan situasi selama seminar. Hanya stres yang membuat dia cepat lapar.
“Sangat brutal,” ralatnya.
Hadi menceritakan apa yang dia alami selama menjalani seminar. Dosen pembimbing bertanya cukup detail mengenai proposalnya. Bahkan hal yang sepele pun mereka tanyakan. Menurut pengakuannya, dia bisa menjawab semuanya dengan mulus. Tetapi kami tidak bisa percaya begitu saja sebelum mendengar hasil seminarnya nanti.
Tidak lama kemudian, para peserta dipanggil untuk kembali memasuki ruangan. Hadi berjalan dengan penuh rasa percaya diri dan masih mengabaikan perhatian yang diberikan oleh para gadis yang setia menunggunya.
“Clarissa benar-benar keras kepala. Dia sama sekali tidak membaca atau membalas pesanku. Apa dia tidak khawatir Hadi akan berpaling hati melihat para gadis cantik ini mencoba menggodanya?” keluh Charlotte yang dari tadi memeriksa ponselnya.
“Kakakmu tidak sama sepertimu. Kamu dan Wyatt sudah menjalin hubungan cukup lama dan kalian saling mencintai. Berbeda dengan Clarissa. Dia dan Kak Hadi baru beberapa minggu bersama. Aku tidak tahu apa dia pernah menyatakan cinta kepada Kakak,” ucap Dira pelan.
“Semoga saja dia tidak terlambat ketika dia menyadari bahwa dia sayang pada Hadi. Aku tahu Hadi adalah pemuda yang baik. Tetapi kalau Clarissa tidak bertindak dengan cepat, dia bisa kehilangan kesempatannya untuk mendapatkan Hadi lagi.” Charlotte memasukkan ponselnya ke tasnya.
“Jadi, ini yang kamu lakukan setiap kali aku tidak ada di dekatmu? Membicarakan aku di belakangku?” Terdengar suara Clarissa dari arah belakang kami.
“Nah! Ini baru kakakku.” Charlotte melompat senang.
Clarissa meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. “Kita berada di dekat ruang ujian.”
“Berubah pikiran, Clarissa? Kamu dengan tegasnya kemarin bilang tidak akan datang ke sini,” godaku sengaja menyinggung perbincangan kami pada hari sebelumnya.
“Sebelum kalian semua salah paham, aku datang untuk makan siang gratis. Bukan untuk memberi dukungan pada Hadi. Dia terlalu mandiri untuk membutuhkan dukungan dari orang lain,” kata Clarissa dengan santai.
__ADS_1
“Begitu. Apa itu juga alasan kamu memutuskan hubungan kita?” tanya Hadi yang tidak kami dengar kedatangannya, ternyata sudah berada di dekat kami. Nada suaranya terdengar sangat dingin. “Karena aku terlalu mandiri sehingga tidak membutuhkan kamu?”