Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 128 - Hari Sial


__ADS_3

Baki, mangkuk, mi, kuah, dan entah apa lagi mengotori lantai di depanku. Seseorang yang aku senggol itu ternyata seorang perempuan. Dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan kesal. Tetapi matanya berubah terkejut melihat aku.


“Manda?” tanyaku terkejut. Mengapa dia juga ada di tempat ini?


“Hanya itu yang ingin kamu katakan? Kamu sudah menabrak aku dengan sengaja sampai tanganku terkena tumpahan kuah panas. Apa kamu tidak bisa lihat-lihat dahulu saat berjalan?” ucapnya kesal.


“Maafkan aku. Tetapi aku tadi berhati-hati. Aku tidak tahu kamu akan datang ke arahku.” Aku melihat ke sekeliling kami dengan bingung.


“Aku datang ke arahmu? Lihat dengan benar. Kamu yang tidak lihat-lihat saat membalikkan badan,” katanya bersikeras.


Tidak mau memperpanjang masalah sepele, aku pun mengalah. “Aku akan mengganti makanan dan minumanmu yang jatuh. Sebaiknya kamu cuci tanganmu supaya luka bakarnya tidak semakin parah.”


“Jadi, begini yang diajarkan kakekmu yang kaya raya itu? Gunakan uang, maka semua masalah akan selesai?” tanyanya tersinggung. Aku menatapnya dengan bingung. “Bersihkan tanganku. Kalau lukanya ternyata parah, bawa aku ke rumah sakit.”


“Kamu sengaja menabraknya. Aku melihatnya tadi.” Hadi datang dengan berdiri di sisiku. “Jangan pedulikan dia. Ayo, kembali ke tempat duduk sekarang.”


“Heh! Kalau mau menuduh orang, tunjukkan buktinya. Dia yang menabrak aku, bukan sebaliknya,” protes Manda. “Tanya saja orang-orang di sini, siapa yang salah.”


“Kamu lihat di atas sana?” Hadi menunjuk ke arah sudut dinding di dekat kami, tepat di atas wastafel. “Kamu berani bertaruh bahwa pernyataanmu itu benar dan aku yang salah? Ayo, kita buktikan lewat rekaman CCTV itu.”


Manda merapatkan bibirnya. Dia pergi tanpa mengatakan apa pun. Aku mendesah lega. Untung saja aku tidak sendirian di tempat ini. Kalau tidak, semuanya pasti berantakan. Hadi memberikan tasku kepadaku. Aku menatapnya dengan bingung.


“Kita tidak boleh meninggalkan barang tanpa pengawasan orang lain,” katanya menjelaskan. Aku mengangguk pelan. “Sebaiknya kamu mencuci tanganmu juga. Siku kamu memerah. Itu pasti karena terkena cipratan kuah baksonya.”


Begitu menyadari bahwa sikuku benar terluka terkena kuah panas, aku merasakan perihnya. Aku segera menuju wastafel dan membasahi bagian tanganku yang memerah. Setelah rasa sakitnya berkurang, aku kembali bergabung dengan Hadi di meja kami. Aku terkejut melihat makanan kami tidak ada di meja tersebut.


“Aku memesan menu yang sama. Kita meninggalkan makanan itu cukup lama, bisa saja seseorang memasukkan sesuatu ke makanan atau minuman kita,” katanya menjelaskan. Aku menatapnya tidak percaya. Apa yang baru saja aku dengar itu kenyataan? “Aku hanya berjaga-jaga.”


“Apa sesuatu yang buruk pernah terjadi padamu, karena meninggalkan makananmu sebentar?” tanyaku ingin tahu. Sikap berhati-hatinya ini pasti ada alasannya.


“Belum. Semoga saja tidak pernah terjadi.” Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja. “Siapa gadis tadi? Kalian sepertinya saling mengenal.”

__ADS_1


“Iya. Dia teman satu angkatanku. Dia pernah dekat denganku, lalu karena satu hal, kami tidak akrab lagi,” jawabku seadanya.


“Sebaiknya kamu jangan berteman dengannya lagi. Aku baru kali ini melihat orang bertindak seaneh itu. Dia yang sengaja menunggu kamu berbalik, lalu mendekat hingga kalian bertabrakan. Andai saja kamu datang sendirian ke tempat ini, kamu pasti kalah berdebat. Karena semua orang sibuk sendiri dengan urusan mereka dan tidak ada yang memerhatikan perbuatannya tadi.”


“Aku tidak berteman dengannya. Apa kamu lupa bahwa aku tidak dekat dengan siapa pun? Dia yang mendekati aku dan menganggap aku sebagai temannya.” Aku mengangkat kedua bahuku. “Tetapi mengapa dia melakukan hal tadi? Apa yang dia inginkan dariku?”


“Kamu perempuan saja tidak bisa memahaminya, apalagi aku,” ucap Hadi enteng.


Manda merusak segalanya yang sudah aku rencanakan hari ini. Aku sangat berharap Hadi akan melanjutkan kencan kami dengan nonton bersama di bioskop. Tetapi sepatuku kotor dan ujung rok bajuku basah karena ulah Manda. Jadi, kami terpaksa pulang setelah makan siang.


Padahal hari ini kami beruntung. Kami tidak berpapasan dengan Adi dan Lily. Dua pasangan yang selalu bersama itu juga tidak terlihat sedang memata-matai kami seperti pada hari sebelumnya. Kami bisa saja melewati hari ini bersama.


Luca sudah tidak ada di rumah, jadi Hadi tidak akan punya alasan untuk mengajakku keluar bersama lagi besok. Benar-benar hari yang sial. Bagaimana bisa kami berada di mal, bahkan restoran yang sama di mana Manda berada? Ditambah lagi, aku masih bertanya-tanya apa yang menyebabkan dia melakukan hal tadi. Apa hanya untuk menghina aku di depan semua orang? Luka bakarnya tidak parah, mengapa harus aku yang mencuci tangannya? Aneh sekali.


Merasakan ponselku bergetar, aku memeriksanya dan melihat ada satu pesan baru. Aku membuka kotak masuk dan membaca pesan dari Nenek. Luca tidak jadi ke Bali dan dia menginap di rumah kita. Kami tidak bisa menolak atau mengusirnya. Maafkan kami.


Apa lagi ini?? Luca tidak jadi ke Bali? Lalu mengapa dia malah tinggal di rumah kami? Oh, Tuhan. Ini benar-benar bencana dan aku yakin, dia sengaja melakukan itu. Grandma harus bertanggung jawab atas perbuatannya ini. Aku baru saja lepas dari Finley, aku tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki yang tidak mengerti kata tidak.


Aku mendesah keras. “Luca tidak jadi ke Bali. Nenek memberi tahu bahwa dia kembali menginap di rumah kami. Nenek tidak tega menolaknya.”


“Apa perlu aku yang bicara dengan laki-laki tidak tahu diri itu?” tanya Hadi menawarkan bantuannya. Kedengarannya sangat menggoda, tetapi aku tidak mau mereka bertengkar, lalu Hadi tidak sengaja keceplosan mengenai hubungan kami ini.


“Tidak perlu. Dia sudah di rumah, memangnya kamu mau mengusir dia? Dia tidak akan peduli, karena Kakek dan Nenek sudah memberinya izin.” Aku menghela napas panjang. Sisa minggu ini akan sangat berat untuk dilalui.


“Kamu mau ikut ke rumahku? Mungkin sudah saatnya kamu membantu proyek menulis mamaku,” kata Hadi memberi usul yang cemerlang.


“Ayo!” seruku senang.


“Kamu bisa meminjam baju Dira. Aku tidak tahu apakah baju Mama muat di badanmu. Kamu lebih tinggi darinya. Pelayan akan membantu membersihkan sepatumu agar bisa dipakai dengan nyaman.” Dia melirik ujung baju dan sepatuku.


Tante Zahara menyambut kami dengan senang. Dia keluar dari ruangan khususnya dan mengajak aku ke kamarnya. Aku merasa sedikit tidak nyaman berada di ruang tidurnya itu. Masuk ke ruang yang sangat privasi milik orang lain seperti ini adalah hal yang asing bagiku.

__ADS_1


Walaupun aku tidak bisa memakai sebagian pakaian yang dia miliki, ada beberapa kaus dan celana santai yang muat di tubuhku. Dia juga meminjamkan sandal yang ternyata pas di kakiku. Karena aku tidak nyaman menggerai rambutku sepanjang waktu, Tante meminjamkan ikat rambutnya.


“Aku senang kamu memutuskan untuk datang hari ini. Kebetulan aku sedang berpikir sendiri seperti apa sifat tokoh pemeran utama wanitaku. Aku juga perlu tahu beberapa detail mengenai pekerjaan unik yang pernah kamu lakukan itu.” Tante menggandeng tanganku menuruni tangga.


Aku tidak melihat Hadi di mana pun. Mungkin dia sudah berada di kamarnya. Sayang sekali, kami tidak bisa bersama lebih lama. Aku pikir dia akan ikut mengobrol bersama kami. Tetapi sepertinya dia sudah terbiasa tidak mengganggu mamanya saat sedang bekerja.


Ruangan yang sering disebut-sebut ruangan khusus itu ternyata sangat nyaman. Aku melihat ada lemari yang penuh buku, bufet dengan sebuah vas kristal berisi bunga segar dan beberapa bingkai foto di atasnya, satu set sofa dengan meja, dan jendela besar yang tertutup tirai berenda.


Aku bisa menilai Tante Zahara adalah wanita cerdas dan berwawasan luas. Dia mengajukan banyak pertanyaan yang sangat mendetail mengenai pekerjaanku sebagai pacar bohongan. Sebelumnya aku menganggap pekerjaan itu sebagai hal biasa. Tetapi semakin membahasnya, aku semakin merasa malu telah berkencan dengan banyak laki-laki.


“Maafkan aku. Apakah aku terlalu dalam mencari informasi?” tanya Tante Zahara khawatir.


Aku segera menggelengkan kepalaku. “Tidak apa-apa, Tante. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman. Mungkin karena sekarang aku sudah punya orang yang aku pedulikan.”


Tante Zahara tersenyum penuh arti. “Aku mengerti. Saat kita menyukai seseorang, membahas masa lalu dengan pria lain memang membuat kita merasa ada yang janggal.”


Sayup-sayup terdengar suara percakapan yang membuat Tante Zahara melihat ke arah pintu. “Itu pasti Dira. Aku mau tahu bagaimana hasil pemeriksaan kesehatannya tadi. Silakan kamu lanjutkan mengetik semua detail yang aku tanyakan tadi. Aku segera kembali.”


Ketika Tante Zahara telah keluar dari ruangan, aku baru sadar bahwa hari sudah malam. Aku segera mengetik detail yang Tante minta agar bisa pulang ke rumah. Tetapi setelah aku selesai mengetik, Tante Zahara masuk dan mengajakku untuk makan malam bersama mereka.


Hal yang tidak aku tolak. Semakin malam aku pulang, maka semakin kecil kemungkinan bertemu dengan Luca di rumah. Aku hanya bisa berharap semoga dia sudah berada di kamarnya dan tidak menunjukkan mukanya di depanku ketika aku pulang nanti.


Melihat Colin juga ikut makan bersama kami, aku tidak merasa asing sendiri di tengah-tengah keluarga Hadi. Suasana ruang makan itu agak tegang dengan ekspresi seram Om Hendra. Tetapi Tante berusaha untuk mencairkan suasana dengan ceritanya yang lucu.


Semakin Hadi mengendarai mobilnya mendekati rumah kami, aku semakin merasa tidak nyaman. Aku benci semuanya jadi begini. Aku tidak tahu mengapa aku merasa tidak tenang berada di dekat Luca. Apa ini karena aku memikirkan perasaan Hadi? Entahlah. Aku tidak pernah begini sebelumnya.


Memasuki pekarangan rumah, aku melihat Wyatt dan Charlotte juga baru tiba. Kepala pelayan rumah kami menyambut mereka dan Luca juga keluar dari rumah. Aku mendesah pelan. Ketika mobil Hadi berhenti di belakang mobil Charlotte, pemuda itu menoleh ke arahku.


“Tunggu, biar aku yang bukakan pintu,” ucap Hadi dengan nada serius. Dia pasti tidak suka melihat laki-laki itu sedang menatapku.


Hadi menolongku keluar dari mobil. Aku tidak tahu apa yang mendorongku melakukan itu. Tetapi saat dia mengucapkan selamat malam setelah mengantarku sampai ke teras, aku menatapnya sejenak. Lalu aku berjinjit dan mengecup bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2