Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 166 - Kamu Tidak Cacat


__ADS_3

Aku menggunakan waktu istirahat siang untuk menjenguk Clarissa di rumah sakit. Hanya ada Tante Lindsey yang menemaninya di kamar. Mungkin Om Edu berada di tempat kerjanya. Charlotte dan Wyatt sudah pasti ada di kampus. Clarissa menyambut aku dengan senyum manisnya. Dia masih terlihat pucat, tetapi matanya tampak ceria.


“Nenek, tolong, tinggalkan aku sebentar dengan Hadi,” pinta Clarissa kepada Tante Lindsey.


“Oke, sayang. Kebetulan aku harus menambah air minum lagi.” Tante berdiri, lalu mengambil botol minuman yang sudah kosong di atas nakas. “Jaga cucuku sebentar.” Aku mengangguk.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyaku begitu Tante Lindsey sudah keluar dari kamar. Aku duduk di kursi kosong yang ada di sisi kiri tempat tidurnya, dekat dengan tiang infusnya. Ketika aku menyentuh tangannya, dia segera menariknya dariku.


“Hadi,” katanya dengan senyum di wajahnya. “Aku berjanji tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi. Aku juga tidak akan pernah mengejar kamu lagi.”


“Apa maksudmu? Rissa, jika kamu bermaksud untuk—” kataku curiga.


Dia memotong kalimatku. “Iya. Apa yang kamu pikirkan itu benar. Aku mau kita putus. Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan datang kepadamu lagi dan meminta untuk kembali.”


“Tidak. Aku tidak mau kita putus lagi,” kataku menolak.


“Kamu tidak bisa memaksa aku untuk tetap tinggal ketika aku ingin pergi, Hadi.” Dia terlihat marah. Aku memerhatikan wajahnya baik-baik. Ada yang terlihat berbeda. “Mengapa kamu diam saja?”


“Karena tidak ada lagi yang perlu aku katakan,” jawabku. “Aku tidak peduli kamu mau pergi ke mana pun, aku akan mengikuti kamu. Aku tidak akan membiarkan kamu memutuskan hubungan kita lagi.”


“Tetapi kamu berjanji bahwa hubungan kita berakhir untuk selamanya ketika aku meminta putus sebelum tiga bulan,” protesnya dengan keras.


“Itu bukan janji, Rissa. Itu kesepakatan. Sebuah kesepakatan bisa saja berubah. Apalagi kita tidak menandatangani surat perjanjian apa pun. Aku tidak mau kita putus. Titik,” kataku dengan tegas.


Dia merapatkan bibirnya. “Apa kamu tidak bisa melihat keadaanku? Aku cacat, Hadi. Aku tidak mau menjadi beban Kakek dan Nenek, apalagi kamu!” Air mata begitu cepat menggenang di matanya.


“Rissa.” Aku memegang tangannya lagi. Kali ini, dia tidak menarik tangannya lagi. “Kamu tidak cacat. Setelah tulang kamu pulih, gips akan dilepas dan kamu bisa menggunakan kaki serta tangan kamu lagi. Ini tidak untuk selamanya. Hanya sementara.”


“Bukan tangan dan kakiku yang menjadi masalah, Hadi.” Air mata jatuh membasahi pipinya. “Aku tidak bisa melihat! A-aku buta. Aku bahkan tidak bisa melihat kamu!”


Oh, Tuhan. Aku hanya bisa diam ketika dia menangis tersedu-sedu. Bagaimana ini bisa terjadi? Clarissa tidak bisa melihat? Apakah posisi jatuhnya telah melukai penglihatannya? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kondisi kaki dan tangannya akan pulih. Tetapi bagaimana dengan matanya?

__ADS_1


Beban ini terlalu berat untukku. Aku tidak pernah menghadapi anggota keluarga yang cacat. Hanya Nenek Naava yang pernah sakit keras. Tetapi dia sudah lama hidup sehat dan selalu mengontrol kesehatannya. Kanker yang pernah dideritanya tidak pernah kembali lagi. Aku masih muda. Aku tidak mau menghabiskan hidupku hanya untuk mengurus pacar yang buta.


Tidak! Apa yang aku pikirkan? Bagaimana bisa aku mengatakan aku mencintai Clarissa jika aku hanya mau menerima dia yang sempurna? Bisa melihat atau tidak, Clarissa tetaplah Clarissa. Ada banyak dokter spesialis mata yang bisa menyembuhkannya. Masa masalah sekecil ini saja, aku menyerah? Tidak. Aku bukan laki-laki pengecut.


Aku berpindah duduk di sisi tempat tidur. Clarissa langsung menangis dalam pelukanku, jadi aku menunggu sampai dia tenang. Kepalaku tidak berhenti berpikir kalimat apa yang sebaiknya aku ucapkan. Ini adalah pengalaman pertamaku membujuk seorang gadis, terutama yang aku sayangi.


“Rissa,” kataku pelan.


“Tidak. Aku hanya mau mendengar kata iya darimu. Iya, kita putus. Aku tidak mau mendengar yang lainnya,” katanya sambil menjauhkan dirinya dariku, tetapi aku tidak melepaskannya. “Lepaskan aku, Hadi. Tolong, lepaskan aku.”


“Aku melepaskan kamu satu kali dan aku menyesalinya. Aku tidak akan melepaskan kamu lagi. Aku tidak peduli dengan keadaanmu. Kita bisa menemui dokter dan mencari obatnya. Kamu pasti bisa melihat lagi, Rissa,” kataku pelan. “Rissa yang aku kenal adalah seorang pejuang. Ular saja tidak bisa membuat kamu takut. Masa gelap sebentar, kamu sudah ketakutan?” Dia hanya diam.


“Apa dokter sudah memeriksa keadaanmu?” tanyaku pelan. Dia segera menggelengkan kepalanya. “Mengapa tidak? Apa kamu takut jarum?” godaku, mencoba mencairkan suasana. Dia memukul dadaku dengan tinju kecilnya.


“A-aku takut aku benar-benar akan buta. Jadi, aku tidak mau diperiksa.” Dia kembali menangis. “Hadi, aku takut. Kegelapan ini sangat mengerikan. Aku tidak pernah tidak berdaya begini.”


“Biarkan dokter memeriksa keadaanmu, lalu kita pikirkan langkah selanjutnya, ya?” bujukku.


“Sampai hasilnya keluar,” jawabku cepat. Apa pun akan aku lakukan asal dia mau diperiksa.


Dia mengangkat wajahnya dan matanya bergerak-gerak mencari aku. “Sungguh? Tetapi bagaimana dengan pekerjaanmu di kantor?” Aku kini mengerti apa yang terlihat berbeda pada wajahnya. Matanya tidak menatap mata orang yang berbicara kepadanya.


“Aku sedang melakukan pekerjaanku. Mengurus salah satu karyawan magang perusahaan kami,” kataku mengingatkan. Dia tertawa kecil. “Ayo, duduk yang benar. Aku akan memanggil dokter.”


Pintu kamar terbuka, Tante Lindsey masuk membawa botol minuman dan sebuah kantong. “Aku sudah memanggil dokter.” Dia memberikan kantong itu kepadaku. “Kamu pasti belum makan siang. Makanlah. Supaya kamu kuat menghadapi gadis yang mendadak manja ini.”


“Nenek!” protes Clarissa dengan wajah memerah.


“Rissa, apakah kamu benar-benar hanya melihat sekelilingmu gelap?” tanyaku berhati-hati.


Dia menoleh ke arahku. “Tidak. Aku bisa melihat cahaya. Yang paling terang datangnya dari sana.” Dia menunjuk ke arah jendela yang tirainya terbuka. “Lalu aku bisa melihat bayangan tidak jelas. Kamu, misalnya. Aku bisa melihat bayangan kamu, juga Nenek. Ada juga bayangan lain, tetapi aku tidak tahu benda apa itu.” Matanya berair lagi, karena frustrasi tidak bisa melihat.

__ADS_1


Aku membelai pipinya. “Sayang, kamu masih bisa melihat cahaya adalah pertanda baik. Aku akan makan secepatnya supaya bisa menemani kamu.” Dia mengangguk sedih.


Dokter datang bersama seorang suster. Clarissa akhirnya berkata jujur bahwa dia tidak bisa melihat dengan jelas. Dokter itu memberi instruksi kepada suster pemeriksaan apa yang perlu Clarissa jalani. Tante Lindsey menyetujui semua yang dokter katakan.


Beberapa menit setelah mereka keluar, suster tadi kembali lagi sambil membawa sebuah dokumen yang perlu Tante tanda tangani. Barulah mereka membawa Clarissa keluar menggunakan kursi roda. Aku dan Tante mengikuti mereka, lalu diminta untuk menunggu di luar.


Setelah melewati pemeriksaan demi pemeriksaan, kami diminta untuk menunggu sampai hasilnya keluar. Tante Lindsey menonton televisi, sedangkan aku tetap berkomunikasi dengan Tegar lewat ponselku. Karena terburu-buru, aku lupa membawa tabletku dari rumah. Clarissa langsung tertidur begitu berbaring di ranjangnya. Mungkin dia kelelahan menjalani pemeriksaan tadi.


“Terima kasih, Hadi. Aku sangat menghargai apa yang kamu lakukan.” Tante Lindsey melihat ke arah Clarissa yang sedang tidur dengan damai. “Aku dan suamiku pagi tadi tidak bisa membujuk dia untuk memeriksa kondisi matanya. Dia begitu ketakutan sampai berpikir bahwa keadaannya ini permanen.”


“Aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku jadi dia, Tante. Jangan khawatir. Aku yakin kondisi matanya ini hanya sementara.” Aku tersenyum kepadanya.


Semua teman dan adikku datang dari tempat tinggal mereka masing-masing. Dira dan Adi pasti pulang ke rumah dahulu sebelum datang, karena mereka sudah berganti pakaian. Aku tidak melihat Mama juga ikut bersama mereka. Kamar menjadi penuh, tetapi Clarissa tidak mengizinkan aku keluar. Dia menahan tanganku saat aku berniat mengikuti Tante Lindsey ke ruang tunggu.


Mereka sudah mengetahui keadaan mata Clarissa, jadi mereka berusaha bersikap normal dan mengabaikan kekurangannya tersebut. Charlotte terlihat berjuang untuk tersenyum mengetahui bahwa mata kakaknya tidak berfungsi dengan benar.


Ketika dokter datang untuk memberi tahu hasil pemeriksaan mereka, teman-teman keluar. Tante Lindsey dan Om Edu memasuki kamar. Menurut hasil pemeriksaan, ada pendarahan yang terjadi di sekitar saraf mata Clarissa. Karena itu pandangannya mengabur. Dia tidak buta. Pendarahan itu bisa pulih sendiri, tanpa operasi. Dokter akan memberikan obat untuk mempercepat pemulihannya. Kami semua lega mendengarnya, terutama Clarissa.


“Bersabarlah dengan luka yang ada di tubuhmu. Cobalah untuk berpikir positif agar badanmu lebih cepat pulih. Kamu sudah bisa pulang besok. Jaga agar gipsmu tidak terkena air. Pastikan juga kamu tidak terlalu banyak berkeringat di daerah kedua gips berada,” kata dokter itu dengan ramah.


“Baik, Dokter,” kata Clarissa menurut. Om Edu mengantar dokter dan perawat itu ke pintu. Aku dan Tante Lindsey tetap di sisi pasien.


“Apa kalian sudah lapar? Aku meminta Darla dan Qiana untuk datang membawa makan malam untuk kita semua. Mungkin sebentar lagi mereka sampai.” Tante Lindsey melirik jam tangannya.


“Apa aku boleh makan selain yang disediakan rumah sakit?” tanya Clarissa penuh harap.


“Boleh. Darla memastikan bahwa makanan yang dibuat oleh kokinya aman untukmu,” jawab Tante. Clarissa tersenyum senang.


Ponsel di atas nakas bergetar, aku segera menoleh dan melihat layar ponselku yang menyala. Nomor yang tertera adalah nomor yang tidak aku kenal. “Halo?”


“Halo, Hadi. Apa yang kamu lakukan di sana bersama perempuan itu? Seharusnya kamu bersama gadis yang sudah menghabiskan malamnya denganmu di kamar hotel, bukan dia.” ucap seseorang yang tidak aku kenal. Ponsel itu nyaris meluncur turun dari tanganku.

__ADS_1


__ADS_2