
Sebagai adik yang baik, Dira dan Adi tidak mengatakan apa pun saat melihat Mila duduk di jok depan di samping pengemudi. Mereka malah menyapa dia dengan ramah. Biar Colin tahu rasa. Hanya dia satu-satunya yang tidak disukai oleh adikku.
Melihat Dira tidak lagi membawa kotak berisi surat cinta palsu itu, ternyata pelakunya tidak senekat yang aku duga. Anak sekolah zaman sekarang masih malu-malu menyatakan cinta, sangat tidak masuk akal. Apalagi menggunakan surat cinta. Sudah ada yang lebih maju, untuk apa menggunakan cara yang kuno begitu?
“Itu karena mereka mau menyindir pemuda yang memberi surat cinta pertama kali kepadaku.” Dira memutar bola matanya. “Kasihan. Sampai hari ini pemuda itu tidak berani menunjukkan mukanya lagi di depanku.”
“Bagaimana kamu bisa tahu?” Aku melirik ke arahnya lewat kaca spion depan.
“Aku akhirnya tahu dia dari kelas mana dan bicara baik-baik dengannya. Kami akan berpisah setelah ujian akhir nanti, jadi aku tidak mau meninggalkan kesan yang buruk.”
“Tidak akan ada yang berani berpikiran buruk mengenai kamu, Dira. Tenang saja. Aku dan Papa akan selalu melindungi kamu.”
“Aku juga,” protes Adi karena namanya tidak disebut. “Aku juga akan selalu melindungi Kak Dira.”
“Tunggu kamu pakai celana panjang baru bicara melindungi. Kamu masih anak-anak, justru Dira yang lebih banyak melindungi kamu,” ejekku. Wendy dan Dira tertawa cekikikan.
“Hanya tinggal beberapa bulan lagi aku akan menjadi siswa SMU. Lagi pula besok aku genap berusia lima belas tahun, sudah pantas menjadi penjaga Kak Dira,” kata Adi lagi tidak mau kalah.
“Apa punya saudara laki-laki selalu semenyenangkan ini?” tanya Mila kepada Dira.
“Jangan percaya akting mereka. Sikap baik ini hanya mereka lakukan di depanmu. Saat kami hanya bertiga saja, sikap mereka kepadaku sangat buruk,” kata Dira mendramatisir.
Setelah mengantar Wendy dan kedua adikku, kami memilih kafe terdekat untuk bicara. Karena perutku sudah lapar, aku memilih untuk memesan makanan yang ada dalam menu utama. Mila juga melakukan hal yang sama. Colin menyusul kemudian. Aku terpaksa duduk di sisi Mila, karena kursi itu tidak cukup untuk menampung tubuh kami berdua.
Karena masalah Colin lebih mendesak, maka dia yang bicara lebih dahulu. Dia meletakkan beberapa foto di atas meja yang segera aku kenali. Wanita pada foto itu adalah Mama, sedangkan pria yang bersamanya adalah Vivaldo. Setahuku semua foto ini sudah musnah, lalu mengapa bisa sampai di tangannya? Pria itu bisa mati bila Papa tahu hal ini.
“Jadi, Vivaldo dan Nora menemui kamu dan menunjukkan foto ini, lalu kamu dengan bodohnya berlagak menjadi pahlawan kesiangan dengan menuruti semua ucapan mereka? Kamu memutuskan hubungan dengan adikku dengan cara konyol ini untuk meyakinkan mereka bahwa Dira tidak akan pernah menerima kamu kembali?” kataku menyimpulkan setelah mendengar ceritanya.
“Mengapa kamu mengatakan aku bodoh dan konyol?” tanya Colin tersinggung. “Aku berusaha untuk menyelamatkan reputasi keluargamu. Karena jika Aunt Zahara sampai dipermalukan di depan publik, Dira juga akan sangat sedih.”
__ADS_1
“Kamu bodoh, karena kasus ini sudah lama berlalu. Mereka hanya memanfaatkan keluguanmu. Aku juga kedua adikku sudah tahu mengenai masa lalu Mama bersama pria pada foto ini. Kamu konyol, karena percaya begitu saja pada orang jahat. Apa yang membuat kamu yakin bahwa mereka akan berhenti sampai di sini? Bila mereka mengincar Dira, maka mereka sudah punya rencana lain begitu urusan mereka denganmu selesai.” Aku menahan suaraku meskipun amarahku sudah sampai ke ubun-ubun. Mengapa dia baru memberi tahu aku mengenai hal ini sekarang?
“Rencana lain?” Colin terlihat sedang berpikir dengan keras. “Sepertinya kamu benar. Aku ingat wanita itu menyebut-nyebut tentang langkah selanjutnya. Mereka bicara dengan pemuda lain setelah aku pergi dari tempat pertemuan kami. Tetapi aku tidak mengenal siapa pemuda itu.”
Aku segera mengeluarkan ponselku dan menunjukkan wajah pria yang kami duga ada hubungannya dengan kecelakaan yang Dira alami. “Apakah ini orangnya?”
Colin menatap layar ponselku dengan hati-hati, lalu menggeleng pelan. “Bukan. Dia lebih muda dari ini. Mungkin seumuran dengan Dira, tidak dengan kita.”
“Aku akan bicara dengan Papa mengenai hal ini. Sepertinya aku dan Adi juga harus berhati-hati. Kita tidak tahu apakah mereka hanya mengincar Dira saja, atau mereka juga sudah punya rencana untuk aku dan Adi.” Dugaan Papa benar. Apa yang terjadi pada Dira ada hubungannya dengannya.
“Tetapi, Hadi,” kata Colin pelan, “bagaimana kamu bisa tahu mengenai semua ini?”
“Aku sudah sering mengingatkan kamu agar jangan ada rahasia di antara kamu dan Dira. Itu adalah celah yang paling sering digunakan oleh musuh untuk memecah belah. Kami mempelajari semua itu dari Papa dan Mama. Karena itu dalam keluarga kami tidak ada yang namanya rahasia,” jawabku.
“Kamu benar. Aku memang bodoh,” ucapnya pelan.
“Aku peringatkan kamu. Jangan pernah berpikir untuk mencoba kembali pada adikku. Karena orang pertama yang harus kamu hadapi adalah aku. Setelah apa yang kamu lakukan kepadanya, aku tidak sudi adikku menghabiskan sisa hidupnya bersama laki-laki yang tidak bisa dipercaya.”
“Aku tidak peduli. Kamu bisa simpan semua ucapan cintamu itu untuk pacar barumu. Jangan dekati adikku. Aku memercayakan dia padamu, tetapi kamu malah menyia-nyiakan dia. Aku berusaha untuk membantu dan memahami mengapa kamu menggunakan perselingkuhan sebagai jalan untuk mengakhiri hubungan kalian, apa jawabanmu? Kamu mencintai Mila.
“Kamu terus saja memilih untuk berbohong daripada jujur padaku. Seandainya dari awal kamu memberi tahu hal ini, semuanya tidak akan jadi begini. Berdoalah semoga mereka tidak punya niat buruk yang bisa merusak masa depan Dira. Karena kalau itu sampai terjadi, kamu adalah orang yang akan aku salahkan.” Aku berhenti bicara saat merasakan sentuhan pada lenganku.
“Hadi,” ucap Mila menenangkan. “Yang Colin pikirkan hanyalah melindungi Dira. Caranya memang salah, tetapi kamu sudah cukup memarahi dia. Kalian adalah sahabat. Semuanya bisa dibicarakan.”
“Dia sudah bukan sahabatku lagi pada detik dia berbohong padaku.”
Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Kami bertiga sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan untuk membantu menenangkan diriku. Colin bodoh. Hal sebesar ini malah dia coba untuk mengatasinya seorang diri.
“Lalu apa yang harus kita lakukan berikutnya?” tanya Colin memecahkan keheningan.
__ADS_1
“Aku sudah bilang, biar Papa yang menanganinya. Ini urusan orang dewasa, sebaiknya kita tidak ikut campur.” Pembicaraan kami terhenti sejenak karena pelayan datang mengantarkan minuman pesanan kami. Aku menoleh ke arah Mila. “Jadi, apa yang mau kamu bicarakan denganku?”
“Apa kamu yakin sudah siap untuk mendengarkan ceritaku? Aku tidak mau kamu mendadak marah seperti yang kamu lakukan pada Colin,” katanya bergurau. Aku tersenyum.
“Kamu belum menyakiti siapa pun dalam keluargaku, jadi posisimu untuk saat ini aman.” Aku ikut bercanda. Colin mendengus keras.
“Aku berjalan-jalan ke mal pada malam minggu lalu. Seorang pria bernama Colton Jones mengaku bahwa aku adalah putrinya yang hilang. Aku merasa tidak nyaman saat berada di dekatnya, jadi aku segera pergi usai mendengar ceritanya. Hadi, aku sampai pindah ke apartemen untuk memastikan bahwa dia tidak akan bisa mendatangi aku,” katanya dengan wajah yang tampak ketakutan.
“Sebentar. Aku tidak mengerti. Bisa kamu ulangi lagi?” tanyaku bingung.
*******
Sementara itu di sebuah agensi~
Reese berjalan dengan cepat menuju sebuah ruangan dengan Cilla berjalan di sisinya. Asistennya terus mengingatkan dia agar menjaga kata-katanya saat bicara dengan pemilik agensi tersebut. Tanpa menunggu sekretaris Sam mengumumkan kedatangannya, gadis itu mengetuk pintu dan segera masuk ke ruang kerja direktur.
“Sam ini sudah terlalu lama. Apa yang terjadi? Mengapa kamu belum bisa juga meredakan video yang beredar?” tanya Reese dengan nada panik.
“Aku sudah melakukan semampuku. Semua IT terbaik sudah aku mintai tolong untuk menghapus semua video itu dan bicara baik-baik dengan media,” ucap Sam frustrasi. “Aku sedang menunggu laporan siapa yang berada di balik semua ini.”
“Namaku tidak akan bisa dibersihkan lagi kalau ini terus berlanjut, Sam. Salah satu rekan menelepon aku untuk membicarakan mengenai perubahan kontrak. Aku yakin mereka ingin mengakhiri kontrak mereka denganku. Lakukan sesuatu,” pinta Reese mendesak.
Sam mengangkat tangannya, meminta gadis itu untuk diam sejenak. Lalu dia mendekatkan sebuah ponselnya ke telinganya. “Ya?” Dia mendengarkan apa yang dikatakan orang di seberang telepon dengan kening berkerut. “Apa kamu yakin? Bagaimana bisa kita terlibat dengan dia? Apa? Baik. Sekarang aku mengerti. Iya. Terima kasih.”
Reese segera menatapnya penuh harap. “Bagaimana? Apa mereka berhasil menghapus semua video itu dari internet?”
Pria itu mengusap wajah dengan tangannya. “Mengapa kamu tidak memberi tahu aku? Mengapa kamu mencari masalah dengan Dira? Apa kamu tidak tahu siapa ayahnya?” Reese mengerutkan keningnya, lalu menggelengkan kepala. “Mahendra Perkasa. Dia adalah pengusaha yang disegani di kota bahkan negeri ini. Orangnya yang mencegah video itu dihapus seluruhnya dari internet.”
“Kamu juga orang yang disegani di negeri ini. Apa yang kamu takutkan?” tanya Reese heran. Dia menoleh ke arah Cilla yang hanya bisa mendesah pelan.
__ADS_1
“Dia jauh lebih berpengaruh dari aku. Hanya dengan menjentikkan jarinya saja, dia bisa membuat agensiku tutup. Dan aku tidak bisa menuntut dia kalah hal itu sampai terjadi.” Sam terduduk lemas di kursinya.