
“Aku sudah cukup mendengar kata maaf dari kalian,” ucap Tante Lindsey dengan marah. Akhirnya, aku bisa melihat siapa yang datang. Bapak dan Ibu Foster. “Pergi dari sini! Anak kalian tidak akan kami lepaskan begitu saja. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi terhadap Clarissa.”
“Aku mengerti kamu marah, Lindsey. Tetapi kamu juga seorang ibu, kamu pasti mengerti perasaanku pada saat ini. Aku berjanji Reese tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dia akan pergi jauh dari Clarissa. Bila dia tetap dipenjara, hidupnya akan hancur. Perbuatannya akan selalu tercatat dan dia akan diberi label penjahat. Tolonglah, Lindsey. Aku mohon.” Ibu Foster nyaris berlutut, tetapi Tante Lindsey segera menahannya dengan memegang kedua tangannya.
“Kamu mencium kakiku sekalipun, Reese tidak akan keluar dari penjara sebelum menjalani sidang. Berhenti menyelamatkan putrimu setiap kali dia berbuat jahat. Apa kamu tidak bisa melihat bahwa dia tidak berubah karena ulah kalian sendiri?” kata Tante Lindsey dengan tegas.
“Dia putriku satu-satunya. Apa pun akan aku lakukan untuk melindungi dia. Apa itu salah? Dia hanya sedikit terbawa emosi. Clarissa akan baik-baik saja, tetapi bagaimana dengan reputasi putriku??” protes Ibu Foster. “Dia akan kehilangan pekerjaan dan masa depannya.”
“Karena kesalahan dia sendiri,” ucap Papa melerai. Dia menoleh ke arah dua orang pria yang tidak aku lihat sudah datang mendekat. “Tolong, bawa kedua orang ini keluar. Mereka sudah mengganggu kenyamanan pasien dan keluarga.” Kedua petugas keamanan itu menurut dan meminta pasangan itu mengikuti mereka. Syukurlah, sang suami bisa menenangkan istrinya dan membawanya pergi.
“Hadi sudah selesai menjenguk Clarissa, sebaiknya kita semua pulang.” Papa menoleh ke arah wanita muda yang tidak aku kenal yang berdiri di dekatnya. “Ini adalah orang kepercayaan Irwan. Dia yang akan menjaga Clarissa sepanjang malam ini sampai kalian datang besok pagi. Berjaga di rumah sakit tidak baik untuk kesehatan kalian.”
“Saya akan segera melaporkan kepada Bapak dan Ibu jika terjadi sesuatu kepada Clarissa,” kata wanita itu berjanji. Om Edu dan Tante Lindsey saling bertukar pandang.
“Om Hendra benar, Kakek, Nenek. Lebih baik kita pulang dan beristirahat di rumah. Lagi pula Clarissa tidak akan bangun sampai besok pagi. Dia akan tenang bila kita datang dalam keadaan segar,” ucap Charlotte membujuk pasangan itu.
“Baiklah.” Tante Lindsey tersenyum sambil membelai pipi cucunya itu.
Kami pulang dengan kendaraan kami masing-masing. Papa meminta Pak Kafin untuk mengendarai mobilku sekaligus mengantar Wendy pulang. Dia yang mengemudikan mobilnya sendiri. Aku tidak diizinkan untuk menyetir. Walaupun keadaan Clarissa tidak memengaruhi konsentrasiku, aku tidak membantah perintah Papa.
“Aku masih tidak percaya Reese sanggup melakukan itu,” ucap Dira pelan. “Aku tidak melihat apa yang terjadi. Tetapi dari sikap Charlotte yang hanya bisa diam, aku sudah bisa membayangkannya. Dia terus merasa bersalah, karena tidak bisa menolong kakaknya.”
“Karena itu aku menempatkan dua orang pengawal khusus untukmu. Aku tahu gadis itu hanya akan membawa masalah. Cepat atau lambat, dia pasti akan menyakiti kamu atau siapa saja yang tidak dia suka di kampus,” kata Papa. “Bagaimana bisa orang tuanya malah datang dan meminta anak mereka dibebaskan? Kalau kalian menyakiti orang, aku sendiri yang akan menjebloskan kalian ke penjara.”
Dira memutar bola matanya. “Kami tidak akan menyakiti orang, Pa. Aku mau bekerja sampai aku tidak dibutuhkan lagi. Kalau aku sampai merusak reputasiku sendiri, aku bisa pensiun dini.”
__ADS_1
“Itu yang akan terjadi kepada Reese. Dia sudah bertindak tanpa berpikir panjang sebelumnya, jadi aku tidak heran dia melakukannya lagi.” Papa tersenyum. “Rival jahatmu berkurang satu, sayang. Kamu lihat, ‘kan? Kamu tidak perlu membalas perbuatannya, dia sendiri yang merusak kariernya?”
“Tetapi korbannya Clarissa, Pa. Tetap saja ini bukan kabar baik.”
“Aku tidak membicarakan Clarissa. Apa yang terjadi kepadanya itu adalah musibah. Yang aku bahas tadi adalah Reese,” kata Papa tidak mau disalahpahami.
“Bila Reese dipenjara, berapa lama dia akan ditahan?” tanyaku seraya melerai mereka.
“Kata Zach, paling lama delapan tahun. Tergantung dari hasil investigasi polisi. Perbuatannya masuk dalam penganiayaan berat,” kata Papa. Dia dan Om Zach memang selalu bertindak lebih cepat.
“Wah. Dia benar-benar akan kehilangan banyak kesempatan emas di dunia model. Pantas saja ayah dan ibunya sampai datang menemui Tante Lindsey dan memohon agar putri mereka dibebaskan,” kata Dira terkejut. “Bila hakim mengabulkan permohonan jaksa, maka Reese keluar dari penjara pada usia dua puluh tujuh tahun. Kasihan sekali.”
“Mengapa kamu kasihan kepadanya? Dia pantas untuk dihukum,” kataku cepat. Dira hanya memutar bola matanya. “Walaupun Reese tidak akan mengganggu kamu untuk beberapa tahun ke depan, kamu harus selalu berhati-hati.”
“Bukan hanya Dira, kita semua harus berhati-hati.” Papa menatapku dari spion depan. “Sampai hari ini, kamu belum juga mengingat mengapa kamu terbangun di kamar hotel itu seorang diri.”
“Jangan tanya aku. Bagaimana aku bisa ada di sana dan siapa yang membawa aku ke kamar itu sama sekali tidak bisa aku ingat.” Aku mendesah pelan. “Aku hanya ingat saat masuk ke dalam mobil, aku sangat mengantuk. Entah apa yang membuat aku begitu.”
“Kalau ada yang memberikan obat tidur kepada Kakak, mengapa Colin tidak mengalami hal yang sama?” Dira terlihat sedang berpikir. “Apa ada orang yang Kakak kenal di kafe itu?”
Aku menggeleng pelan. “Tidak. Colin juga tidak mengatakan apa pun mengenai orang yang dia kenal. Jadi, tidak mungkin ada orang di kafe yang melakukannya. Lagi pula aku dan Colin tidak pernah meninggalkan meja kami.” Aku melihat Papa. “Apa Papa belum memeriksa kafe itu?” Dia hanya mengangkat kedua bahunya tanpa kata.
Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi Dira lebih cepat. “Apa Kakak merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuh Kakak?” tanyanya membuat aku bingung. “Maksudku, ng ….”
“Apa kamu tidur dengan seseorang di kamar itu?” ucap Papa melanjutkan kalimat Dira. Adikku mengangguk, membenarkan ucapan Papa.
__ADS_1
“Mengapa kamu berpikiran begitu?” tanyaku tidak mengerti.
“Kak, memangnya apa lagi yang dilakukan seseorang kepada Kakak dengan meninggalkan Kakak di sebuah kamar hotel? Kalau dia orang baik-baik, dia pasti membawa Kakak ke dokter atau menelepon kami dan memberi tahu keadaan Kakak,” ucap Dira menjelaskan. “Obat tidur dan kamar hotel adalah perpaduan yang sangat buruk.”
Kepalaku mendadak pusing dan jantungku berdebar lebih kencang. Tidak. Oh, Tuhan. Tidak. Aku tidak mungkin tidur dengan seseorang di kamar itu. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri hanya akan melakukannya dengan istriku, bukan orang lain yang tidak aku kenal.
“A-apa tandanya bila aku sudah melakukannya, Pa?” tanyaku gugup.
“Kamu pasti tahu. Yang paling terlihat adalah apakah kancing kemejamu terpasang seperti caramu memasangnya? Bagaimana dengan celana dan pakaian dalam? Apakah kamu menemukan adanya cairan? Bila ada hal yang tidak biasa, kamu pasti menjadi orang pertama yang tahu, Nak,” ucap Papa sama sekali tidak membantu.
“Cairan apa maksudnya, Pa?” tanya Dira ingin tahu.
Aku segera menutup mulutnya. “Kamu tidak perlu tahu.” Dia berusaha untuk menjauhkan tanganku dari mulutnya, tetapi aku bergeming. “Berjanjilah kamu tidak akan membahas hal tadi, maka aku akan melepaskanmu.” Dia menganggukkan kepalanya dengan cepat, jadi aku melepasnya.
“Kak Hadi sudah tidak perjaka lagi!!” serunya sambil duduk menjauh dariku. Aku menggeram kesal, lalu mendekatinya lagi. Tetapi dia segera menutup mulutnya dari jangkauanku. Bukannya membela aku, Papa malah tertawa senang.
Sampai di rumah, dia menyerukan kalimat yang sama sampai Pak Abdi tertawa geli. Sialnya, dua pekerja wanita kebetulan sedang berjalan menuruni tangga. Wajahku memanas melihat mereka juga ikut tertawa sambil menutup mulut mereka. Menjengkelkan sekali.
“Dira, sudah cukup,” kata Papa dengan tegas. Sudah terlambat. Semua orang sudah mendengar apa yang dia sampaikan. Cukup tiga pelayan yang mendengar, maka aku akan menjadi bahan gosip mereka sepanjang minggu.
“Ada apa ini ribut-ribut?” tanya Mama yang berjalan keluar dari ruang kerjanya. Dia tertawa bahagia menerima buket mawar merah dari Papa. Mereka berciuman dan mengajak kami makan malam. “Apa yang terjadi sampai membahas soal Hadi?”
“Sudah cukup, Ma. Tidak perlu dibahas lagi.” Aku berterima kasih kepada Pak Abdi yang membuka pintu ruang makan untuk kami.
“Aku tidak mendengar pembahasan kalian, jadi aku boleh bertanya, dong,” ucap Mama tidak mau kalah. Dia menoleh ke arah Dira penuh harap. Tentu saja adikku itu dengan senang hati menjawab pertanyaan Mama. Aku berpura-pura tidak mendengar ketika mereka membicarakannya.
__ADS_1
Seharusnya Papa tidak menyinggung masalah itu lagi, tetapi aku mengerti dia sedang khawatir. Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi sekuat apa pun aku berusaha. Hal terakhir yang aku ingat adalah aku berada di dalam mobi, bersiap untuk kembali ke kantor. Tetapi aku sangat mengantuk, lalu terbangun di sebuah kamar hotel. Seorang diri.
Kalau Clarissa sampai mengetahui hal ini dari orang lain, dia akan salah paham. Sebaiknya aku memberi tahu dia begitu ada kesempatan. Aku tidak mau ada lagi orang yang berusaha merusak hubungan kami. Walaupun di mulut aku menyebut ini hanya hubungan uji coba. Bagiku, hubungan kami sangat serius. Aku tidak mau putus lagi dengannya.