
Video itu tidak berhenti sampai di situ. Dari gerakan kamera, sepertinya pemiliknya berlari ke arah Clarissa. Apa yang Papa maksudkan pun tampak pada layar. Kamera itu menampilkan Clarissa yang terbaring telentang dengan posisi kaki kanannya tampak tidak wajar. Sialan! Bukannya berusaha untuk menolong, pemilik video ini malah terus merekam keadaan Clarissa.
Mahasiswa lain juga ikut melakukan hal yang sama. Aku tidak perlu memeriksa media sosial untuk tahu berapa jenis video yang lalu-lalang di berandaku. Colin dan Wyatt berusaha untuk menjauhkan mereka dan membubarkan kerumunan pun tidak berhasil, karena jumlah mereka lebih banyak.
“Dira, apa kamu menyimpan nomor Om Irwan?” tanyaku kepada adikku yang berada dalam pelukan Colin. Dia hanya menggeleng pelan.
“Suamiku menyimpannya. Aku bisa mencarikannya untukmu,” kata Tante Lindsey dengan suara terisak. Dia mengeluarkan sebuah ponsel dari tasnya, lalu mencari sesuatu sampai menemukannya.
“Untuk apa nomor itu, Hadi?” tanya Wyatt ingin tahu.
“Semua video ini harus dihapus. Clarissa bisa sedih melihat mereka fokus merekam keadaannya dan menyebarkannya di internet. Mereka semua sudah gila.” Aku menekan angka yang ada pada layar ponsel Om Edu. Nomor telepon Om Irwan.
“Tidak perlu repot-repot, Hadi. Irwan sedang melakukannya. Semua video itu tidak bisa dihapus begitu saja. Ada prosesnya. Kamu tidak mau ommu itu sampai ditangkap polisi, ‘kan?” kata Papa yang lagi-lagi sudah bertindak lebih cepat dariku.
“Clarissa akan masuk ruang operasi. Sebaiknya kita ke ruang tunggu dan tidak mengganggu pasien lain di sini,” ucap Om Edu. Dia mendekati Tante Lindsey dan merangkulnya.
Adik dan teman-temanku mengikuti Om Edu, sedangkan aku mendekati Papa. Aku menanyakan apa Mama juga sudah mengetahui berita itu, Papa menjawab sudah. Tetapi dia melarang Mama datang ke rumah sakit. Mama pasti akan emosional dan hanya bisa menangis.
Kami duduk bersama di ruang tunggu. Ada televisi, jadi ada yang bisa ditonton. Tetapi Papa sibuk sendiri dengan ponselnya. Pasti urusan pekerjaan. Aku sudah mengganggunya dengan meminta dia datang ke rumah sakit. Om Edu hanya menatap layar televisi dalam diam. Tante Lindsey, Charlotte, dan Wendy hanya diam. Dira duduk di sisi Papa, sedangkan Colin dan Wyatt di dekatku.
“Maafkan aku,” ucap Wyatt pelan. Wajahnya terlihat sedih. “Aku tidak menduga bahwa Reese akan melakukan itu di depan banyak orang. Aku, Dira, dan Wendy masih di lantai dua saat peristiwa itu terjadi. Clarissa berjalan lebih dahulu dengan Charlotte.”
“Apa yang terjadi? Apa kalian membuat Reese marah?” tanyaku tidak mengerti.
“Semuanya hanya berjalan seperti biasa. Clarissa datang menjelang jam makan siang. Dia menunggu cukup lama untuk bisa bertemu dengan dosennya. Pria itu mengajar di kampus lain dan baru datang. Jadi, sebelum ke kantor, dia mengajak kami untuk makan bersama.” Wyatt menggeleng pelan. “Aku hanya mendengar teriakan Charlotte memanggil nama Clarissa dan dia sudah berbaring di lantai.”
__ADS_1
“A-aku,” bisik Colin gugup. Dia berdehem pelan, lalu menarik napas panjang. “Aku melihat dia jatuh. Kejadian itu terus berulang-ulang di kepalaku. Mengerikan. Aku tahu Clarissa bisa melindungi dirinya sendiri. Seandainya Clarissa tidak terkejut, dia bisa jatuh tanpa terluka parah.”
“Memang itu tujuan Reese. Aku yakin dia bermaksud menyingkirkan Clarissa untuk selamanya,” tebak Wyatt. “Kami membahas kamu dan Clarissa di ruang kuliah, karena bahagia dengan kabar itu. Mungkin mahasiswa yang mendengar percakapan kami memberi tahu dia dan dia cemburu.”
“Kita bertemu dengannya dua malam yang lalu di depan toko roti. Aku yakin dia sudah mencurigai hubungan kami sejak malam itu,” kataku mengingatkan Wyatt.
Dia menjentikkan jarinya. “Kamu benar juga.”
“Aku tidak pernah memberi dia harapan. Untuk apa dia berusaha untuk menarik perhatianku dengan cara ini? Kalau ini demi uang, bukankah pekerjaannya memberinya uang lebih banyak dari yang aku dapatkan selama satu bulan? Tabungan Dira jauh lebih banyak dariku. Jadi, aku yakin dia juga begitu,” ucapku tidak mengerti.
“Harta keluargamu sudah cukup untuk menjadi harapan besar mereka menjadi istrimu, Hadi. Berapa kali aku harus mengatakan ini kepadamu? Semua ini tidak ada hubungannya dengan ada atau tidaknya harapan yang kamu berikan kepada mereka.” Wyatt mendesah keras.
“Semoga Reese mendapat hukuman yang seberat mungkin. Perempuan itu sudah lama membuat Dira susah. Sudah saatnya dia tahu bahwa dia tidak bisa berbuat sesuka hatinya tanpa dihukum.”
Aku mengerutkan kening mendengar ucapan Colin itu. “Apa maksudmu? Apa dia baru berulah lagi? Bukankah dia bersikap sangat baik kepada adikku?”
Kepalaku mendadak pusing. Aku menolak untuk membicarakan gadis jahat itu lagi. Pak Kafin datang menarik perhatian kami semua dengan membawa tigaa kantong plastik besar di tangannya. Aku segera berdiri dan mengambil alih ketiga kantong tersebut.
“Kalian semua pasti sudah lapar, jadi aku meminta Kafin membelikan makan siang untuk kita semua.” Papa membantu membagikan kotak makanan yang ada pada satu plastik. Aku dan Colin membagi isi dari dua plastik sisanya. Kami semua memang lupa bahwa jam makan sudah lama berlalu.
Hampir empat jam kemudian, seorang dokter bersama dua orang suster keluar dari ruang operasi. Om Edu, Papa, dan Tante Lindsey segera mendekati mereka. Papa melarang kami untuk ikut dan diminta tetap duduk menunggu. Meskipun aku tidak menyukai perintahnya itu, aku tidak melawan dan menunggu mereka selesai bicara dengan dokter.
Dilihat dari wajah lega Tante Lindsey, sepertinya operasi tu berjalan dengan lancar. Begitu dokter pergi, aku segera berdiri menyambut kedatangan mereka. Om Edu yang menyampaikan apa yang dokter katakan. Patah tulang pada kaki kanannya sudah ditangani dan Clarissa tidak boleh memakai kaki tersebut selama beberapa bulan sampai tulangnya pulih kembali. Patah tulang pada tangannya juga sudah dipasang gips. Aku sampai menggeleng pelan dia terluka separah itu.
Colin benar. Clarissa bisa membela diri, jadi bukan hal yang sulit baginya untuk jatuh dengan cara yang tepat tanpa melukai dirinya. Tetapi dia terkejut, karena didorong dari belakang sehingga tidak siap dengan kejadian itu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang Colin saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Melihat dari video saja sudah membuat darahku mendidih.
__ADS_1
Kondisi Clarissa stabil, jadi dia dipindahkan ke kamar rawat. Om Edu memilih kamar yang terbaik untuk cucunya tersebut. Kami bergantian menjenguk dia di kamarnya. Aku sengaja menjadi orang terakhir agar bisa berada di dekatnya cukup lama.
Aku nyaris tidak sanggup melihat keadaannya. Kaki kanan dan tangan kirinya dipasang gips. Tetapi yang membuat aku terkejut adalah memar pada tangan, lengan, dan benjolan di tengah keningnya. Dokter tidak mengatakan apa-apa mengenai luka di kepalanya. Semoga saja itu artinya benjolan itu tidak berbahaya. Bila Reese ada di hadapanku saat ini, aku pasti akan memukulnya, tidak peduli bahwa dia adalah seorang perempuan.
“Hei, apa yang kamu lakukan? Ke mana Clarissa yang selalu siap sedia dalam setiap keadaan bahaya itu?” tanyaku pelan. Aku tahu dia tidak akan bisa mendengarkan aku. Kata dokter, dia masih dalam pengaruh obat bius untuk mengurangi rasa sakit pada tulangnya yang baru diperbaiki. “Keadaanmu buruk sekali. Tetapi dokter bilang, kamu akan pulih dengan cepat.”
Wajahnya begitu pucat sehingga benjolan itu terlihat menonjol di keningnya. Memar pada kedua lengannya juga kelihatan jelas karena warna kulitnya yang pucat. Dia yang biasanya tegar dan kuat, kini tampak rapuh dan lemah. Dadaku terasa sakit sekali melihat kondisinya tersebut.
Aku mendekat dan berbisik di telinganya. “Cepat sembuh, Rissa. Aku mencintai kamu. Cinta pertama sejak kita masih kecil. Jika kamu mau mendengar aku mengatakan kalimat ini lagi, segera bangun.” Aku merasakan mataku memanas. Sebelum air itu jatuh, aku cepat-cepat menyeka mataku. “Aku tidak bisa lama-lama. Aku akan datang lagi besok. Istirahatlah.”
Aku membuka pintu kamar Clarissa dan segera menutupnya lagi begitu mendengar suara teriakan dari luar. Tante Lindsey sedang memarahi seseorang menggunakan bahasa Inggris. Aku tidak bisa melihatnya, karena tubuh Wyatt dan Colin menutupi pandanganku. Nenek Clarissa bukan orang yang mudah marah. Siapa yang datang?
*******
Sementara itu di ruang kunjung sebuah penjara~
Finley tersenyum melihat gadis yang datang menjenguknya. Dia duduk di kursi yang tersedia, lalu mengambil gagang telepon yang ada di dekatnya. Gadis yang duduk di depannya itu melakukan hal yang sama. Hanya kaca yang menjadi penghalang. Mereka bisa melihat satu sama lain, tetapi tidak bisa mendengar suara tanpa bantuan alat yang ada di tangan mereka.
“Semoga kamu membawa kabar baik. Aku sudah bosan mendengar kabar buruk,” kata Finley yang berusaha sebaik mungkin untuk tidak menunjukkan rasa frustrasi lewat suaranya.
“Apa begini cara bicara seseorang yang membutuhkan bantuan, Ayah? Aku adalah harapanmu satu-satunya yang bisa melakukan apa saja untuk menjaga gadis kesukaanmu tetap suci ketika kamu bebas nanti. Tolong, beri aku sedikit penghargaan.”
Pria itu menyeringai licik. “Kita saling membutuhkan. Tanpa aku, kamu tidak akan bisa apa-apa. Aku bisa membayar orang lain yang bersedia melakukan apa saja demi uang. Jangan lupakan itu.”
Wajah gadis itu segera berubah takut. “Oke. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengancam kamu.” Gadis itu menelan ludah dengan berat. “Aku hanya mau memberi tahu, rencana awal sudah berhasil. Gadis itu sudah tidur dengannya, jadi kita tunggu hasilnya beberapa hari lagi.”
__ADS_1
“Memangnya, kapan kalian akan mengumumkan kejutan itu?” tanya Finley tertarik.
Gadis itu tersenyum penuh arti. “Akan ada acara besar pada pertengahan bulan. Kamu bisa menontonnya lewat televisi yang tersedia di sini.” Finley mengangguk sambil tersenyum puas.