Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 190 - Menuju Hidup Mandiri


__ADS_3

Apa yang Dira katakan sangat masuk akal. Aku lupa bahwa dunia di mana kami hidup bukanlah dunia yang dipenuhi dengan orang yang suka menolong sesamanya. Aku bukan lagi berada di lingkungan pendidikan dan rumah di mana orang-orang bersikap baik kepada kami. Aku tadi berada di sebuah audisi yang diadakan oleh sebuah perusahaan besar yang mempertaruhkan nama baiknya lewat model yang mereka pilih sebagai duta. Orang yang akan menjadi perwakilan mereka.


Kalimat Dira sekaligus menyadarkan aku mengenai alasan Hadi memilih aku menjadi asistennya, orang kepercayaannya, tangan kanannya. Dia pasti sudah tahu seperti apa perusahaan yang mereka miliki dan bagaimana orang-orang yang ada di dalamnya. Persaingan di antara mereka tidak selalu sehat, aku tahu itu dari Mama. Hadi pasti memilih aku, karena hanya aku yang bisa dia percayai.


“Wow. Hadi sudah berpikir sampai sejauh itu?” ucap Mama saat aku menemani dia menyiapkan makan malam dengan duduk di kursi dekat konter dapur. “Umurnya masih muda. Yang aku tahu, dia akan melanjutkan studinya sebelum bekerja penuh waktu di perusahaan. Tetapi Hadi memang anak yang selalu penuh perhitungan. Dia benar. Kamu perlu menyiapkan diri sedini mungkin.”


“Jadi, kapan aku bisa mulai belajar, Ma?” tanyaku tidak sabar.


Mama tertawa kecil. “Colin, yang pertama harus kamu lakukan adalah menyelesaikan studimu. Kamu lulus seleksi masuk karyawan baru di perusahaan Pak Mahendra, maka aku akan mengajari kamu segala hal yang aku tahu. Tidak sebelum kamu menjadi pegawai kami,” ucap Mama sambil tersenyum penuh arti.


“Lo? Mengapa begitu, Ma? Hadi sendiri yang menunjuk aku. Mengapa aku harus masuk ke sana lewat jalur seleksi?” tanyaku bingung sekaligus keberatan. Bukannya aku tidak percaya diri akan bisa melewati semua proses tersebut. Tetapi aku pikir Hadi yang akan membantu aku masuk.


“Hadi saja masuk lewat seleksi, masa kamu diberi perlakuan khusus? Lagi pula kamu belum pernah magang di perusahaan Pak Mahendra. Dia menyalahi peraturan yang dia buat sendiri bila menerima kamu tanpa seleksi.” Mama menggelengkan kepalanya. “Yang akan aku ajarkan kepadamu hanya boleh didengar oleh karyawan perusahaan. Apa kamu pikir aku akan begitu saja memberikan info seputar perusahaan kepada orang asing?”


“Aku anak Mama, bukan orang asing yang akan mengkhianati Mama atau teman baikku sendiri,” kataku membela diri.


“Hal itu tidak berlaku dalam dunia kerja, Nak. Kamu meminta aku mengajari kamu untuk menjadi asisten di perusahaan Pak Mahendra. Nah, semua yang aku miliki di sini dibayar dan dilatih oleh bosku sendiri,” kata Mama menunjuk kepalanya.


Mama benar. Meskipun aku adalah putranya, dia tidak bisa membuka rahasia perusahaan kepadaku. “Baiklah. Aku akan buktikan aku bisa masuk perusahaan Uncle lewat jalur seleksi,” ujarku menerima tantangan tersebut.


“Selesaikan dahulu kuliahmu,” kata Mama mengingatkan. Aku mengiyakannya sambil mencium pelipisnya. Dia tertawa bahagia.


Setelah sarapan bersama, kami bersiap untuk pergi ke rumah Kakek dan Nenek. Mereka sudah protes karena kami lama sekali tidak datang menemui mereka. Kami menjemput Dira, lalu menuju rumah mereka. Nenek merengek meminta bertemu dengan pacarku, maka aku mengabulkannya.


Nenek menyambut kami dengan senang, terutama Dira. Dia segera menggandeng tangannya ke dapur. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di sana. Tetapi tidak lama kemudian, Nenek datang bersama Dira dengan keranjang kecil berisi kroisan. Aku cemberut melihat keranjang yang Dira bawa adalah kroisan miliknya, sedangkan yang Nenek pegang untuk kami bagi-bagi.


“Ini tidak adil,” protesku setelah kroisan bagianku habis. “Kami adalah cucu kandung Nenek, tetapi kroisan terbanyak justru diberikan kepada Dira.”

__ADS_1


“Dia adalah calon cucu menantuku. Jadi, aku harus memperlakukan dia dengan baik.” Nenek melihat ke arah Dira. “Apakah Colin bersikap baik kepadamu? Jika dia menyusahkan, jangan segan-segan laporkan kepadaku atau kakeknya.”


“Colin sangat baik, Nenek,” jawab Dira yang melirik aku sebelum tersenyum kepada Nenek.


“Baguslah, kalau begitu. Kami sudah melihat tempat yang dipesan oleh mamamu. Dekorasinya sangat bagus, kami sampai bingung memilih yang mana dari semua pilihan yang ada.” Nenek terus saja membahas mengenai persiapan pernikahanku dan Dira.


Kami makan siang bersama pun, Nenek dan Mama terus berdiskusi mengenai detail lain untuk pernikahan kami. Aku melihat ke arah Dira. Wajahnya tidak berhenti tersenyum. Sepertinya apa yang mereka kerjakan dan pilih membuat dia bahagia. Syukurlah, aku mau dia puas dengan semua detail pernikahan kami.


Dengan kesibukanku mengerjakan penelitian dan Dira yang bekerja sambil kuliah, maka melibatkan keluarga kami dalam persiapan pernikahan kami adalah keputusan yang bijak. Aku tidak seperti perempuan yang punya impian sendiri mengenai hari pernikahan. Yang penting, kami sah menjadi suami istri. Itu sudah cukup. Karena itu, Dira yang menjadi fokus dari detail pernikahan kami.


Setelah mengantar Dira pulang, kami melanjutkan perjalanan menuju apartemen kami. Mama mulai sedih karena akan berpisah denganku. Ada-ada saja. Aku dan Dira akan tinggal di gedung apartemen yang sama dengan mereka, jadi kami tidak benar-benar berpisah.


Kami memilih lokasi di gedung apartemen itu karena lokasinya berada di antara kampus Dira dan kantor pusat perusahaan Uncle Hendra. Jadi, dia tidak terlalu jauh pergi ke kampusnya dan aku tidak perlu berangkat terlalu pagi ke tempat kerja. Jika aku beruntung diterima menjadi karyawan mereka.


“Waktu cepat sekali berlalu, ya, sayang,” ucap Mama kepada Dad. “Dalam beberapa bulan, Colin akan menyelesaikan studinya, lalu lanjut bekerja, dan menikah. Aku yakin dalam waktu dekat, Lily juga akan keluar dari rumah ini setelah menikah dengan kekasihnya.”


“Ya!” seru Mama sambil menoleh ke arah Dad. “Untuk hal itu ….” Mama melirik ke arah Lily. “Aku tidak yakin aku akan merestui putriku menikah dengan laki-laki berumur yang sudah punya anak. Padahal aku juga begitu.”


Aku menatap mamaku tidak percaya. Dia menikah dengan Dad pada usia yang masih muda. Saat itu Dad sudah pernah menikah dan memiliki aku. Selama ini aku pikir Mama tidak akan keberatan bila salah satu dari kami mengikuti jejaknya. Menikah dengan seorang janda atau duda. Ternyata aku salah. Pernyataannya itu sangat aneh bagiku. Mungkin aku akan bisa memahami pikirannya itu saat punya anak nanti.


“Aku tidak berniat menikah muda, Ma. Bisa jadi aku akan mengikuti jejak Mama jika aku belum menikah juga pada usia tiga puluh tahun.” Lily mengangkat kedua bahunya dengan santai.


“Itu tidak akan terjadi. Begitu kamu tamat kuliah nanti, aku akan mengajak kamu ke berbagai acara yang kami hadiri. Jadi, kamu bisa bertemu banyak laki-laki seusiamu. Siapa tahu dia ada di antara mereka. Sama seperti Colin, kamu juga akan menikah muda. Percayalah,” kata Mama.


“Mengapa begitu?” tanya Lily bingung.


“Karena aku tidak akan membiarkan kamu sendiri terlalu lama,” goda Mama. Dad ikut tertawa bersamanya. “Lagi pula ada banyak ibu yang memperebutkan kamu menjadi menantu mereka.”

__ADS_1


“Iya. Karena aku keturunan bule, bukan karena mereka mengenal aku.” Lily memutar bola matanya.


“Charlotte juga dahulu begitu. Tidak mau menikah muda dan segudang alasan lainnya,” kataku menengahi. “Lihatlah dia sekarang. Sudah bertunangan pada usia delapan belas tahun dan akan menikah begitu dia dan Wyatt tamat nanti.”


“Itu karena Wyatt mengejar dia tanpa henti. Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung. Tetapi kita bukan keluarga yang kaya raya, laki-laki mana yang akan mengejar aku seperti itu?” kata Lily lagi.


Lily adalah perpaduan yang terbaik dari Dad dan Mama. Dia memiliki rambut berwarna cokelat yang indah, bermata hijau, dan berhidung mancung yang diwarisinya dari Dad. Wajahnya berbentuk oval membuat dia terlihat lebih muda dari usianya dengan bibir tipis yang didapatnya dari Mama. Laki-laki mana yang tidak akan tertarik kepadanya?


“Jangan merendah. Itu bukan sifatmu.” Aku mengacak-acak rambutnya. “Remaja umumnya suka dengan perempuan manis seperti kamu. Yang perlu kamu ubah adalah sikap acuh tak acuhmu. Itu membuat laki-laki takut mendekati kamu.”


“Wow! Apa aku tidak salah dengar? Kakakku mengatakan aku manis? Lebih dari Dira?” godanya. Nah, ini adalah sifat aslinya. Bukan gadis rendah diri tadi.


Kami kembali ke kamar masing-masing menjelang jam tidur. Aku segera melakukan panggilan video dan berbincang dengan Dira sampai dia tertidur. Aku mengakhiri panggilan tersebut dan menyusul dia memasuki dunia mimpi. Tetapi aku tidak ingat apakah aku bermimpi pada malam itu.


Dad dan Mama sudah duduk mengelilingi meja makan ketika aku keluar untuk sarapan. Mereka membahas kegiatan mereka pada hari ini, lalu sepakat untuk makan malam berdua saja. Aku mengeluh pelan mendengarnya. Mereka sering sekali makan malam berdua dan membiarkan aku dan adikku makan tanpa mereka. Bukannya prihatin, mereka malah tertawa.


Bel pintu berbunyi, kami terdiam sejenak. Aku berdiri dan menghalangi Dad yang berniat untuk memeriksa siapa yang datang berkunjung. Senin pagi begini, siapa yang datang tanpa melalui proses pemeriksaan di bagian keamanan? Aku mengerutkan kening melihat wajah orang yang tidak aku kenal lewat lubang pengintip di pintu.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku setelah membukakan pintu. Melihat seragam mereka, akhirnya aku mengerti mengapa petugas sekuriti tidak memberi peringatan sebelumnya.


“Apa benar Colin Andrew Lewis tinggal di sini?” tanya pria yang berdiri di depanku.


“Benar. Saya sendiri,” jawabku dengan bingung. Untuk apa mereka datang mencari aku?


“Ada apa, Colin?” tanya Dad yang berjalan mendekati aku.


Sebelum aku bisa menjawab, pria itu mengacungkan sebuah amplop kepadaku. “Kami membawa surat penangkapan atas nama Bapak Colin. Tolong, ikut dengan kami ke kantor tanpa perlawanan.”

__ADS_1


__ADS_2