Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 138 - Kesepakatan Damai


__ADS_3

*Hadi*


Sudah dua jam berlalu dan masih belum ada kabar mengenai keberadaan Clarissa. Om Irwan sudah melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk mencari jejak Luca. Yang membuat sulit adalah, pemuda itu sengaja melewati jalan yang sepi di mana tidak ada CCTV yang merekam mobil sewaan yang dipakainya. Yang kami tahu pasti, ada orang-orang yang menolongnya membawa Clarissa.


Mereka justru lebih cepat menemukan di mana Uncle Will berada, karena dia pergi ke tempat yang ramai. Restoran sebuah hotel. Mudah saja bagi Om Irwan dan timnya untuk masuk ke sistem mereka dan menemukan di kamar mana seseorang membawa Uncle Will bersamanya.


Aneh. Apa yang seseorang inginkan darinya? Selama ini dia hidup damai bersama keluarganya. Colin juga tidak pernah mengeluh mengenai kondisi orang tua atau secara khusus, ayahnya. Lalu siapa yang punya niat jahat kepada mereka?


Dira ikut khawatir ketika aku menceritakan apa yang Colin sampaikan lewat telepon. Tetapi dia bersikap bijak dengan tidak menghubungi pacarnya itu ketika dia sedang sibuk mengurus masalah keluarganya. Kami semua duduk menunggu di ruang keluarga, jadi siapa yang menelepon, kami semua pasti saling tahu.


“Tuan, ayah dan ibu Anda datang berkunjung,” ucap Pak Abdi yang memasuki ruangan. Kami segera berdiri mendengar pengumuman itu.


“Wah! Tidak biasanya kalian semua ada di rumah!” seru Nenek Naava dengan wajah bahagia. Dia mendekati Papa untuk menciumnya, kemudian kami semua secara bergantian. “Ada apa ini? Apakah hal buruk sedang terjadi? Kalian semua terlihat khawatir.”


“Clarissa diculik, Ma,” jawab Papa pelan. Kakek dan Nenek membulatkan mata mereka.


“Lagi??” ucap Nenek terkejut. “Lalu apa yang kalian lakukan di sini? Mengapa tidak mencari dia di luar sana? Duduk diam begini tidak akan membuat kita menemukannya.”


“Kami mau cari ke mana, Ma? Yang menculiknya saja bukan orang sini. Kami sedang menunggu kabar dari Irwan dan timnya.”


“Benar juga. Ada banyak tempat di kota ini, ke mana kalian bisa memulai mencarinya.” Nenek menoleh ke arah Kakek dengan wajah khawatir. “Apa dia akan dibawa jauh lagi?”


“Tidak, sayang. Irwan adalah orang hebat. Dia akan menemukan Clarissa. Ingat dengan kondisi kesehatanmu. Jangan terlalu khawatir.” Kakek mengusap-usap bahu Nenek.


“Iya, Ma. Clarissa pasti akan kita temukan,” ucap Mama yang berpindah duduk dari sisi Papa ke sisi Nenek. “Bila cara ini tidak berhasil, maka kita akan menghubungi polisi.”


“Sayang, bukan hanya Mama yang butuh ditenangkan. Aku juga,” protes Papa yang tidak terima hanya duduk sendirian. Kami tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Bu Yuyun datang sambil membawa baki, kami bersorak senang melihat makanan kecil yang kami yakin dibawakan oleh Nenek dari rumahnya. Perasaan kami sedikit lebih baik saat menyantapnya sambil mengobrol santai. Tetapi pikiranku tidak pernah lepas dari Clarissa.


Ponsel Papa yang ada di atas meja bergetar. Kami semua pun terdiam. Papa segera mengambil dan menjawab panggilan masuk tersebut. Aku sampai menahan napas berharap bahwa itu kabar baik dari Om Irwan. Clarissa sudah pergi dari malam hari, pasti sudah banyak yang terjadi padanya hingga pagi ini. Aku tidak mau membayangkan apa yang sudah Luca lakukan terhadapnya.


“Mereka sudah menemukan di mana Clarissa berada. Mereka akan berusaha untuk menolongnya tanpa membuat keributan, lalu membawanya ke rumah. Aku akan ke rumah Edu. Apa ada dari kalian yang mau ikut?” tanya Papa yang berdiri dari sofa. Tentu saja kami semua menjawab iya.


Papa dan Mama satu mobil dengan Kakek dan Nenek, sedangkan aku dan adik-adik di dalam mobilku. Tidak mau membuat Mama khawatir, aku tidak menyetir dengan cepat dan berada tepat di belakang mobil Kakek. Lagi pula lalu lintas pada hari Minggu menjelang makan siang cukup padat, jadi kami tidak bisa mengendarai mobil dengan mulus.


Mobil Om Irwan atau salah satu anak buahnya tidak terlihat di pekarangan rumah Clarissa. Mereka belum tiba sehingga aku belum bisa merasa tenang. Keluarga Tante Darla dan Qiana juga sudah berada di ruang tamu. Orang tua Luca terlihat pucat di tempat duduk mereka. Bagaimana bisa mereka masih ada di rumah ini ketika putra mereka menculik anak pemilik rumah? Aku tidak duduk bersama para orang tua dan memilih duduk di dekat Wyatt dan Charlotte.


“Kalau sampai terjadi sesuatu terhadap kakakku, aku sendiri yang akan membunuh Luca,” isak Charlotte. Wyatt berusaha untuk menenangkannya. “Clarissa tidak akan pernah jatuh cinta kepada orang yang berbuat jahat kepadanya.”


“Ngomong-ngomong, aku jadi ingat. Kamu pernah mengatakan bahwa niat Luca mendekati Clarissa sama denganmu. Tetapi kamu tidak mengatakannya. Apa itu, Wyatt?” tanya Dira. Aku memandang mereka berdua secara bergantian. Niat apa yang mereka bicarakan?


Wyatt melirik ke arah orang tua Luca. “Perusahaan mereka di ambang kebangkrutan. Luca sebagai penerus tentu khawatir akan batal memimpin perusahaan mereka berikutnya. Jadi, saat Grandma mendekati dia, kesempatan untuk memperbaiki kondisi tersebut ada di depan mata. Karena itu dia berusaha mendapatkan Clarissa bagaimana pun caranya.”


“Rencana dadakan. Karena dia benar-benar terkejut, Clarissa punya pacar. Orang tuanya juga mengaku begitu. Ini di luar rencana mereka.”


“Jadi, untuk apa dia menculik Clarissa lalu orang tuanya tetap berada di sini?” tanya Dira lagi.


“Rencana mereka berikutnya adalah menghamili Clarissa. Luca bisa melakukannya sendiri.” Wyatt mengangkat kedua bahunya. Aku menatapnya dengan tajam. “Hei, jangan salahkan aku. Bukan aku yang punya rencana gila itu.” Wyatt mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


Sial. Mengapa Om Irwan lama sekali? Clarissa sudah diculik lewat dari dua belas jam. Luca pasti sudah menyakitinya. Kalau dia dibiarkan berada di dekatnya lebih lama lagi, Clarissa bisa trauma. Aku tidak mungkin pergi menyelamatkan dia ketika Papa sudah jelas berkata bahwa Om Irwan bisa mengatasi segalanya bersama timnya.


Mendengar deru mobil di pekarangan, aku segera berdiri. Tidak peduli siapa yang datang, aku segera berlari menuju pintu depan. Kepala pelayan membukakan pintu dan aku berdiri di teras. Aku tidak mengenal pemilik mobil yang masuk, maka itu artinya mereka adalah orang-orang Om Irwan.


Ada tiga mobil sehingga aku bingung di mana Clarissa berada. Masing-masing pintu terbuka, lalu dia keluar dari mobil yang ada di tengah. Tanpa menunggu lagi, aku segera mendekat dan memeluknya. Syukurlah. Dia baik-baik saja dan kembali kepadaku. Aku pikir aku akan kehilangan dia lagi untuk waktu yang lama.

__ADS_1


“Clarissa! Syukurlah!” seru Aunt Claudia. Aku terpaksa melepasnya agar neneknya bisa bergantian memeluknya. “Maafkan aku, sayang. Maafkan aku. Aku tidak akan melakukan hal ini lagi.”


Aku membiarkan mereka semua bergantian menyambut Clarissa dan mencari orang yang sudah berani membuat kami khawatir. Melihat dia keluar dari mobil di belakang, aku mengurungkan niatku. Wajahnya babak belur, jadi aku tidak perlu memberinya pelajaran lagi.


Aku menunggu mobil lain menyusul masuk, tetapi nihil. Aku menoleh ke arah Papa penuh tanya. Mengapa mereka tidak menghubungi polisi? Laki-laki ini tidak akan kapok berbuat jahat jika tidak diberi hukuman yang setimpal. Penjara adalah tempat yang layak untuknya.


Beberapa pelayan keluar membawa koper milik Luca dan orang tuanya. Aku semakin heran melihat semua itu. Ayah Luca bicara kepadanya dan mereka terlibat perdebatan sesaat. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Dengan wajah memerah, Luca berjalan mendekati Clarissa. Dia berlutut dan meminta maaf, juga kepada keluarga Clarissa.


“Aku menyesal sudah percaya kepadamu, Luca. Aku pikir kamu adalah anak yang baik,” ucap Aunt Claudia dengan wajah kecewa.


Pemuda itu berani mengangkat wajahnya dan menantang wanita itu. “Kamu berbohong kepadaku. Kamu bilang, Clarissa tidak punya pacar. Kalau begini jadinya, aku tidak akan pernah datang ke sini.”


“Iya, aku mengatakan Clarissa masih sendiri, tetapi aku tidak pernah menjanjikan dia akan menerima kamu menjadi pacarnya. Jangan salahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri memahami orang lain,” ucap Aunt Claudia keberatan. “Lagi pula kalian yang ingin ikut kami berlibur ke Indonesia. Aku atau Mason tidak pernah mengajak kalian.”


“Sudah cukup, sayang. Sebaiknya mereka pergi sekarang.” Uncle Mason merangkul Aunt Claudia dan mengajaknya untuk mundur. Orang Om Irwan memegang kedua lengan Luca dan memasukkannya kembali ke mobil belakang. Orang tua Luca masuk ke mobil di tengah.


“Apa yang terjadi, Pa? Mengapa dia tidak dikirim ke penjara?” protesku setelah ketiga mobil itu pergi dan semua orang berjalan kembali ke rumah.


“Edu dan Mason sudah bicara dengan pasangan Hudson. Mereka tidak akan melibatkan polisi, jadi mereka hanya mengganti kerugian atas apa yang terjadi pada Clarissa. Mereka juga menandatangani perjanjian bahwa kejadian ini akan dilaporkan bila Luca mengulang kejahatan yang sama kepada gadis yang lain.” Papa menepuk pundakku. “Itu lebih baik daripada menghabiskan puluhan juta untuk membayar pengacara dan mengikuti persidangan. Ini demi Clarissa juga.”


Walaupun aku tidak terima dengan penyelesaian yang mereka pilih ini, apa yang Papa katakan benar. Clarissa akan sulit melupakan kejadian ini seperti halnya yang terjadi dengan kasus Finley, bila dia harus berhadapan dengan polisi, pengacara, dan persidangan yang melelahkan.


“Apa itu artinya dia tidak menyakiti Clarissa?” tanyaku penuh harap.


Papa mengangguk pelan. “Lagi pula liburan kalian akan segera berakhir. Clarissa sama denganmu sedang menyusun skripsi. Lebih baik kalian fokus pada studi dan melupakan yang terjadi pada hari ini.” Papa merangkul bahuku. “Apa kamu sudah siap untuk membantu orang-orang yang akan magang di kantor kita?”


Aku mengerang pelan. “Pa, aku bukan pegawai tetap. Seharusnya aku juga magang, bukan malah membantu mereka,” protesku.

__ADS_1


“Kamu sudah magang tahun lalu, untuk apa magang lagi? Kamu akan bergabung di perusahaan pada awal tahun depan, jadi mengapa tidak memulainya dengan melatih para karyawan magang?” Papa tersenyum penuh arti. Mencurigakan. Apa yang membuat Papa bersikeras begini?


__ADS_2