Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 200 - Hidup Baru


__ADS_3

*Hadi*


“Rissa, cepat sedikit!” panggilku dari lantai bawah. Dia selalu saja ketinggalan barang pada saat-saat terakhir. Aku sudah berulang kali mengingatkan agar meletakkan semua barang bawaannya di dekat pintu supaya bisa diambil pelayan. Ternyata dia melupakan jam tangannya.


“Aku datang, aku datang!” sahutnya yang kemudian muncul dan menuruni tangga dengan cepat. Aku tidak melihat keningnya berkerut menunjukkan bahwa dia sedang kesakitan. Walaupun kakinya sudah pulih, aku masih sering memerhatikan apakah ada tanda-tanda dia merasakan sakit. “Kamu ini tidak sabar sekali. Penerbangan kita masih lima jam lagi. Ada banyak waktu untuk bersantai.”


Oh, Tuhan. Betapa rindunya aku mendengar bahasa Indoonesia. “Pikirkan apa yang akan terjadi di jalan. Andai ada kecelakaan atau apalah. Kita bisa terlambat kalau berangkat terlalu dekat waktunya. Ini penerbangan internasional.”


Uncle Xavier yang berdiri di dekat pintu tertawa. “Tenang saja, Hadi. Kalian tidak akan terlambat. Aku dan istriku tidak bisa ikut mengantar, jadi jangan bertengkar lagi.” Dia menepuk pundakku.


“Biarkan saja dia marah-marah sekarang, Uncle, supaya di pesawat nanti, dia tidak ribut lagi,” kata Clarissa sambil memeluk Aunt Annora, kemudian Uncle Xavier. “Terima kasih banyak untuk kebaikan Uncle dan Aunt selama aku tinggal di sini. Beri tahu aku bila kalian datang ke Jakarta. Aku akan membawa kalian berkeliling makan di tempat yang enak.”


Mereka tertawa senang. “Hendra sering melakukan itu bila kami berkunjung. Kamu mengingatkan pada makanan Indonesia.” Aunt Annora membasahi bibir dengan lidahnya. “Mungkin kami akan datang pada akhir tahun ini setelah pernikahan Jax.” Dia bertukar pandang dengan suaminya.


Setelah mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal, aku dan Clarissa bergegas masuk ke mobil. Sopir mereka akan mengantar kami langsung ke bandara Heathrow. Padahal aku mau kami naik kereta ekspres saja agar tidak merepotkan mereka. Tetapi Uncle dan Aunt memaksa.


Kami berterima kasih kepada pria yang selama satu tahun ini sudah menolong aku dan Clarissa. Lalu menarik kedua koper menuju konter check-in. Tidak mau membuang-buang waktu, aku mengajak dia untuk duduk di dekat ruang tunggu. Aunt sudah membekali kami dengan roti isi dan minuman, jadi kami tidak perlu membeli apa pun untuk mengisi perut. Kami tidak bisa membawa air ke ruang tunggu penerbangan internasional, maka kami harus menghabiskannya sebelum masuk.


“Aku tidak sabar melihat wajah terkejut mereka semua!” seru Clarissa senang. Kami sengaja tidak memberi tahu siapa pun mengenai kepulangan kami. Yang mereka tahu adalah kami masih pergi ke sana kemari menikmati Eropa. Itu benar. Tetapi kami sudah di rumah saja sejak dua hari yang lalu.


“Charlotte akan sangat marah kepadamu. Bersiap-siaplah.” Aku tertawa kecil.


“Dira dan Tante Zahara akan sangat marah kepadamu,” godanya tidak mau kalah.


Hampir dua puluh jam penerbangan dengan transit selama empat jam di Dubai, kami akhirnya tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Aku tahu aku berada di tanah airku begitu mendengar suara operator menyampaikan pengumuman dengan bahasa Indonesia. Clarissa bahkan meneteskan air matanya saat kami menunggu koper kami di bagian pengambilan bagasi. Kami pulang.


Aku tidak kuasa menahan tangis haruku ketika melihat keluargaku berdiri menunggu kedatangan aku di pintu keluar. Mama segera berlari mendekat dan memeluk aku begitu erat. Dia menangis terharu membuat aku ikut menangis bersamanya.


Selama satu tahun, aku sudah melewatkan banyak momen istimewa keluarga kami. Natal, Tahun Baru, ulang tahun keluargaku, hari jadi pernikahan mereka, bahkan perayaan atas suksesnya film yang diangkat dari buku karya Mama yang diperankan oleh Dira.

__ADS_1


“Syukurlah, kamu tidak sedang hamil,” celetuk Tante Lindsey.


“Nenek!!” pekik Clarissa dengan wajah memerah. Semua orang tertawa begitu menyadari apa yang Tante Lindsey maksudkan.


“Aku sudah bilang, putraku akan memperlakukan Clarissa dengan sopan. Dia tidak akan melewati batas.” Mama menepuk dadaku dengan bangga.


Kami pulang ke keluarga kami masing-masing. Dira dan Colin ikut ke rumah dan makan malam bersama kami. Pak Fahri pasti sengaja memasak makanan kesukaanku untuk menyambut aku. Bukan hanya bahasa dan suasana, aku juga merindukan makanan Indonesia. Aku makan dengan lahap, Mama membantu dengan menambahkan makanan setiap kali piringku hampir kosong.


Satu per satu keluargaku menceritakan apa saja yang aku lewatkan selama berada di negeri orang. Ternyata bukan hanya aku yang mengalami masa-masa sulit, mereka juga. Syukurlah, ada Uncle Xavier dan Aunt Annora yang mendampingi aku dan Clarissa saat kami menemui kesulitan. Tidak jauh beda dengan orang-orang yang ada di sekitar kami, mereka juga punya musuh yang membalas dengan menyakiti orang lain, bukan target utama mereka.


Aku tidak bisa segera tidur pada malam itu. Karena menurut waktu di London, kami masih sibuk belajar di perpustakaan pada jam ini. Jadi, aku dan Clarissa saling bicara lewat panggilan video sampai kami tertidur. Hal itu cukup membantu. Apalagi hanya kami berdua yang baru melakukan perjalanan yang sama. Setelah beberapa hari, tubuh kami akan menyesuaikan diri.


Pada hari Minggu, orang tuaku memberi kejutan tanpa memberi tahu tujuan kami datang ke rumah Clarissa. Ternyata mereka sudah menyiapkan acara syukuran atas kelulusan dan kepulangan kami. Mereka tidak mengundang banyak orang. Hanya saudara dan sahabat terdekat saja.


“Apa ini?” tanyaku kepada Wendy yang memberikan aku sekotak cokelat dengan pita berwarna biru.


“Aku masih menyimpan cokelat Valentine bagian Kakak.” Dia mengedipkan sebelah matanya kepadaku. “Jadi, apa oleh-oleh dari Inggris untukku?”


“Tidak banyak yang berubah, ya?” ucap Clarissa pelan. “Rumah ini masih sama. Orang-orang juga. Entah mengapa aku merasa akulah yang berubah.”


“Kamu tidak berubah, sayang. Kamu hanya perlu membiasakan dirimu lagi dengan kebiasaanmu yang dahulu,” kataku menghiburnya. “Jadi, kamu tidak menyesal menunda pernikahan kita lagi?”


“Kita sudah sepakat, maka aku tidak akan menarik kata-kataku lagi. Kamu benar. Kita perlu fokus bekerja. Keluarga kita sudah mengeluarkan banyak uang agar kita bisa belajar banyak hal sebelum bergabung di perusahaan bersama mereka.” Dia tersenyum, lalu melingkarkan tangannya di lenganku. “Aku masih bisa menunggu asal kamu menepati janjimu untuk kencan sekali seminggu.”


“Aku menepati janjiku selama kita studi di Inggris, maka aku tidak akan ingkar saat berada di sini,” Aku mengecup pipinya. “Aku bahagia aku tidak salah telah menunggu kamu kembali. Kita pasti akan menjadi pasangan yang paling bahagia.”


“Itu pasti. Karena aku akan mengejar kamu, kalau kamu berani meninggalkan aku lagi. Tidak ada perempuan lain di dunia ini yang bisa membuat kamu bahagia, selain aku,” katanya dengan yakin.


“Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi,” kataku dengan tegas. Dia hanya mengulum senyumnya. “Apa kamu sudah siap untuk bekerja di kantor kakekmu besok?”

__ADS_1


“Aku tidak pernah sesiap ini.” Dia tersenyum senang. “Aku tidak sabar untuk mengikuti rapat dan menyela mereka ketika ada ide yang tiba-tiba muncul. Kakek melarang aku melakukannya terlalu sering. Tetapi para direktur itu tidak pernah keberatan.”


“Oh, tolonglah. Hari ini masih hari Minggu dan kalian sudah membahas tentang pekerjaan?” keluh Charlotte yang tiba-tiba saja sudah berdiri depan kami. “Kalian berdua benar-benar membosankan.”


“Apa kamu pikir Hadi akan mau membahas tentang tren pakaian, film, atau gosip artis?” Clarissa memutar bola matanya. “Karena itu kami membicarakan tentang pekerjaan.”


“Lagi pula dalam waktu tiga tahun ke depan, kamu dan Wyatt juga akan membahas topik yang sama. Kita lihat saja nanti.” Aku tersenyum penuh arti.


“Kakek dan Nenek mau bicara. Ayo, ikut dengan kami.” Charlotte menarik tangan Clarissa sampai dia berdiri dan mengikutinya. Aku berjalan di belakang mereka.


Aku dan Clarissa serentak membuang napas dengan cepat begitu mengetahui hal yang ingin mereka bahas. Kami serentak menolak dan menyatakan belum waktunya. Baik aku maupun Clarissa sepakat bahwa kami akan fokus bekerja dan belajar selama satu atau dua tahun, barulah kami menikah.


Tentu saja semua orang tua kami protes dengan rencana kami tersebut. Hanya Papa yang tersenyum, tidak mengatakan apa pun. Aku membiarkan Clarissa yang menjawab semua pertanyaan dan keluh kesah mereka. Dia bisa bicara dengan manis yang akan membuat orang-orang mengerti. Aku tidak bisa melakukan itu.


“Aku sangat kecewa kepadamu, Hadi. Aku pikir kamu dan Clarissa pulang, lalu kalian akan menepati janji dengan menikah secepatnya. Ternyata kalian ingkari kata-kata kalian sendiri. Apa kalian tidak tahu aku ingin sekali menggendong seorang cucu? Kalian semua sudah besar, tidak membutuhkan aku lagi. Aku rindu ada anak kecil lagi di rumah,” protes Mama.


“Ahh, tentang itu. Aku jadi ingat apa yang kamu lakukan sehingga kita harus menunggu lama untuk memiliki anak,” goda Papa. Mama mendelik tajam ke arahnya. Aku dan Adi mengulum senyum. Kami tahu apa yang Papa maksudkan. “Aku hanya berkata jujur.” Papa memasang wajah lugu.


“Kasus kita berbeda dengan anak-anak. Mereka saling mencintai sebelum mereka menikah,” kata Mama mengingatkan. “Sedangkan kita, kamu yang lebih dahulu mencintai aku.” Papa tertawa. Dia memeluk dan mencium Mama. Hanya dengan melakukan itu, Mama kembali tersenyum bahagia.


Kehidupan baruku sebagai orang dewasa pun dimulai. Aku memerhatikan bayanganku di cermin. Clarissa menyarankan agar kami mengenakan pakaian yang senada pada hari ini. Aku tidak tahu apa gunanya, tetapi aku menuruti permintaannya.


Mama memberi aku sebuah pelukan dan ciuman ketika aku dan Papa akan berangkat ke tempat kerja. Pelajaran terbesarku akan dimulai. Aku tahu banyak hal yang sudah aku pelajari mengenai perusahaan milik keluargaku. Tetapi pada hari ini, aku tidak hanya belajar dari Papa. Seorang yang istimewa juga akan menuntun aku belajar menjadi seorang pemimpin.


Papa mengajari aku banyak hal. Yang paling berkesan adalah aku tidak bisa bekerja sendiri. Aku akan membutuhkan banyak orang untuk membantu aku sukses dan bahagia dalam hidup. Orang yang tidak akan pernah mengkhianati aku adalah keluargaku sendiri, karena itu aku memercayakan segalanya kepada mereka.


Tante Gista dan Colin menyambut kedatangan kami. Colin langsung diangkat menjadi asisten Tante Gista setelah dia berhasil melewati tes yang disiapkan oleh Papa. Dia melewati masa sulit pada tahun pertamanya bekerja, karena banyak yang iri dan mencurigai terjadinya nepotisme. Tetapi sahabatku berhasil membuktikan bahwa dia pantas berada di posisi itu.


Aku membuka pintu ruang kerja Papa dan seorang yang akan menjadi guruku selanjutnya sudah duduk di salah satu sofa. Kakek menyambut kami dengan senyum di wajahnya. Dia menepuk permukaan sofa di sisinya. “Ayo, Hadi. Kita mulai pelajaran hari ini.”

__ADS_1


Walaupun aku baru saja menyelesaikan studiku, aku tidak bosan untuk belajar. Karena mempelajari banyak hal adalah hobiku. Semua rasa ingin tahu dan pertanyaanku bisa dijawab lewat belajar. Aku tahu kelangsungan usaha keluarga kami ada di pundakku. Jadi, aku akan berusaha sekeras mungkin agar tidak mengecewakan mereka.


...***S E L E S A I***...


__ADS_2