Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 116 - Bukan Urusanku


__ADS_3

Saat aku keluar rumah, Pak Sakti sudah menunggu di dalam mobilku. Peraturan Papa ini seharusnya sudah bisa ditarik. Sampai kapan aku harus didampingi Pak Sakti ke mana pun aku pergi? Finley sudah berada di penjara, jadi dia tidak akan bisa menyakiti aku lagi.


Aku menghubungi Dira saat aku sudah tiba di mal. Dia menyebut nama sebuah restoran, aku segera berjalan ke elevator. Setelah tiba di lantai tujuan, aku keluar dan berjalan cepat menuju rumah makan tersebut. Seorang pelayan menyambutku dengan ramah, tetapi aku menolak tawarannya untuk mengantarku ke meja kosong.


Lambaian tangan dari sudut mata kananku menarik perhatianku. Aku menoleh dan melihat Dira tersenyum ke arahku. Dia satu meja dengan Adi, Lily, Wyatt, Charlotte, bahkan Clarissa. Beraninya dia melakukan ini padaku! Kalau bukan karena dia menangis saat menelepon, aku tidak akan berlari ke sini untuk menjemputnya pulang!


“Hadi, Hadi.” Seseorang melingkarkan tangannya ke bahuku. “Aku tidak percaya kamu masih curiga bahwa aku sanggup menyakiti gadis kesayanganku. Kamu menyakiti perasaanku.”


“Hentikan omong kosong ini! Kalian berdua sangat kekanak-kanakan.” Aku menepis tangannya dari bahuku, lalu membalikkan badan.


“Kak, jangan lakukan ini.” Aku merasakan tangan kedua memegang tanganku. “Aku minta maaf harus menggunakan cara ini, tetapi maksudku baik.”


Aku menoleh ke arahnya dengan marah. “Jangan lakukan ini lagi, Dira. Atau aku tidak akan percaya lagi padamu ketika kamu benar-benar membutuhkan pertolongan.”


“Hadi,” protes Colin.


Aku mengangkat tanganku ke arahnya. “Jangan ikut campur. Ini antara aku dan adikku.” Aku kembali melihat ke arah Dira. “Ini yang terakhir, Dira.”


“Oke, oke. Ini yang terakhir, aku janji,” ucap Dira mengalah. Dia kemudian tersenyum manis. “Apa Kakak mau makan es krim? Kita akan menonton tepat pukul empat, jadi masih ada waktu sekitar satu jam.” Dira melirik arlojinya.


“Aku tidak percaya kamu lebih memilih berada di pihak Clarissa daripada aku, kakak kandungmu sendiri.” Aku membiarkan dia menarik tanganku memasuki restoran. Aku menolak duduk di dekat Clarissa, jadi aku menyuruh Adi untuk pindah agar aku bisa duduk di pinggir.


Karena aku belum sempat makan siang, aku memesan makanan utama lengkap dengan kudapan. Mereka semua berpura-pura tidak melihat aku dengan melanjutkan obrolan mereka yang sepertinya sempat terinterupsi. Siapa pun yang mencetuskan ide bodoh dengan mempermainkan aku tadi akan mendapat ganjarannya. Aku yakin bukan Dira yang punya ide itu. Kecurigaanku adalah Wyatt atau Charlotte yang membujuk Dira untuk melakukannya.


“Ada apa, Hadi? Mengapa kamu melihat aku seperti itu?” tanya Charlotte bingung.


“Aku harap yang Dira lakukan tadi bukan idemu.” Aku menatapnya dengan serius.

__ADS_1


Charlotte tertawa terkejut. Dia menoleh ke arah kekasihnya dengan tatapan penuh arti. “Kamu tahu bahwa kita sudah saling mengenal sejak kita masih pakai popok, ‘kan? Apa kamu pikir aku akan memberi ide konyol begitu pada Dira? Aku lebih cerdas dari itu, Hadi.”


“Maka Wyatt adalah satu-satunya orang yang tingkat kecerdasannya di bawah kamu.” Aku menoleh ke arah tersangka berikutnya.


“Tidak perlu menyalahkan mereka. Bila kamu butuh orang untuk disalahkan, maka salahkan aku saja. Aku yang meminta mereka untuk mencari cara membawa kamu ke sini, bergabung bersama kami,” ucap Clarissa menyelamatkan calon adik iparnya itu. “Kamu cukup ucapkan satu kata saja. Jika aku yang membuat kamu tidak nyaman berada di sini, maka aku akan pergi.”


Semua mata memandang ke arahku. Yang benar saja. Mereka yang bersekutu untuk memaksa aku datang ke sini, lalu sekarang mereka juga yang bersatu untuk membuat aku merasa bersalah. Aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun. Hal ini aku anggap sebagai pelajaran agar tidak jatuh dalam jebakan adikku lagi.


Pantas saja tadi Pak Sakti sudah siap sedia di pekarangan depan rumah. Aku tidak heran saat dia berada di sana. Padahal dia tadi pergi mengantar Adi bertemu dengan Lily. Bodohnya aku. Bukan hanya adik dan teman-teman yang mengerjai aku, ternyata Pak Sakti juga terlibat.


Beberapa menit sebelum film dimulai, kami keluar dari restoran itu menuju bioskop. Para gadis pamit untuk pergi ke toilet, kami juga melakukan hal yang sama. Untung saja toilet pria tidak ramai, jadi kami bisa menggunakan tempat yang tersedia tanpa harus mengantri.


“Clarissa sedang gugup,” ucap Wyatt saat dia berdiri di sisiku dekat wastafel. “Grandma dan Grandpa White akan datang minggu depan dengan seorang pemuda yang menyukai dia. Sangat menyukai Clarissa. Jadi, dia ingin meminta tolong padamu.”


“Berpura-pura menjadi pacarnya supaya laki-laki itu tidak mendekati dia?” tebakku dengan nada bosan. Gadis secerdas Clarissa menggunakan cara ini untuk menolak laki-laki? Ke mana perginya gadis yang tidak pikir panjang untuk memutuskan hubungan dia dengan aku itu?


“Hanya karena kamu dan Colin berbaikan dengan gadis yang kalian cintai, bukan berarti aku juga harus melakukan hal yang sama. Aku sudah katakan berulang kali—” protesku.


“Bahwa putusnya kamu dan Clarissa berbeda dengan kasus kami. Oke, aku mengerti itu.” Wyatt mendekatkan dirinya padaku. “Dengar, aku dan Charlotte sudah merencanakan masa depan kami sejak lama. Dia pasrah saja seandainya Kakek dan Grandpa memutuskan perusahaan mana yang akan diwariskan kepadanya. Tetapi dengan ditemukannya Clarissa, maka kami masih punya harapan untuk kembali ke Amerika suatu hari nanti.


“Aku tidak bisa mengabaikan orang tuaku dan membiarkan perusahaan keluarga kami jatuh ke tangan kerabat kami yang lain. Bila Clarissa sampai menikah dengan pemuda Amerika ini, maka dia akan memboyong kakak iparku ke sana,” bisik Wyatt putus asa.


“Apa maksudmu? Bisa saja dia dan Clarissa akan tinggal di sini. Mengapa kamu begitu yakin dia akan membawanya ke Amerika?” tanyaku tidak mengerti.


“Karena statusnya sama seperti kita, Hadi. Dia adalah ahli waris utama keluarganya. Dia dulunya punya seorang kakak laki-laki. Sayangnya, dia telah meninggal dunia karena sakit keras.”


“Jawabanku tetap tidak. Urusan perusahaan keluargamu dan Charlotte adalah urusan kalian. Bukan aku. Clarissa mau menetap di sini atau pergi ke Amerika juga bukan urusanku,” kataku dengan tegas.

__ADS_1


Mendengar pengumuman film yang kami tonton akan segera dimulai, Colin menginterupsi kami. Dia dan Adi berjalan lebih dahulu keluar dari toilet. Wyatt menatapku dengan wajah memelas, tetapi aku tidak memedulikannya. Clarissa dan pemuda itu belum ada hubungan apa pun, mengapa dia sudah khawatir? Lagi pula gadis itu tidak akan jatuh cinta padanya. Kalau pemuda itu berhasil, maka mereka pantas untuk bersama.


Film yang kami tonton adalah film laga, tetapi para gadis terkejut melihat ada bumbu horornya juga. Aku hanya mengulum senyum mendengar adikku berteriak ketakutan setiap kali muncul adegan penuh kejutan sekaligus menyeramkan. Dia pantas mengalaminya setelah membohongi aku tadi.


Wyatt mengusulkan agar kami makan malam bersama saat berjalan keluar dari bioskop. Dira yang berwajah pucat pasi hanya bisa diam saat berjalan di sisi Colin. Maka aku menjawab untuk kami bertiga. Aku menolak ajakan itu. Colin juga setuju ketika melihat kondisi kekasihnya.


Akhirnya, hanya Charlotte, Wyatt, dan Clarissa yang makan bersama, sedangkan kami memutuskan untuk pulang. Dira tidak bisa merengek pada Colin untuk mengatarnya pulang dengan adanya Lily bersama kami. Dia terpaksa pulang dengan mobilku dan Colin dengan adiknya. Dira menatapku dengan tajam. Bukan salahku acara kencannya terganggu. Dia sendiri yang tidak pikir-pikir dahulu sebelum bercanda seketerlaluan itu.


“Hadi,” panggil Clarissa saat kami akan berpisah. Aku menoleh ke arahnya dengan acuh tak acuh. “Boleh aku bicara sebentar denganmu?”


Aku melihat ke arah Wyatt dan Charlotte yang berdiri di belakangnya. Wyatt menggerakkan bibirnya mengucapkan kata please. “Mau membicarakan apa?”


“Apa kita bisa bicara berdua saja? Tidak malam ini. Kita tidak ada mata kuliah lagi besok, jadi apa kita bisa bicara di kampus? Waktunya terserah kamu. Aku sudah di kampus sejak pukul sembilan pagi.” Dia menatapku penuh harap.


“Bila kamu mengajak aku bicara untuk meminta aku menjadi pacar palsumu, maaf. Aku menolak. Waktuku terlalu berharga untuk bermain-main dengan perasaan orang lain.”


Dia membulatkan matanya, lalu melihat ke arah belakangnya. “Wyatt yang memberi tahu kamu? Dasar laki-laki menyebalkan. Seharusnya dia tidak membongkar rencananya sendiri.”


“Rencananya sendiri?” Aku tertawa tidak percaya.


“Apa kamu pikir aku mau datang padamu dan mengajak kamu menonton tanpa alasan? Aku tidak suka dengan pemuda ini, bukan berarti aku akan kembali padamu. Aku tidak tahu bagaimana menghindar dari kejaran dia. Lalu Wyatt dan Charlotte mengusulkan hal ini. Aku akan lakukan apa saja agar dia menjauh dariku. Hanya itu alasan aku mau dekat lagi denganmu.”


“Bagus. Kalau begitu, kita sepakat lagi. Aku juga tidak sudi dekat lagi denganmu.” Aku melihat ke arah Wyatt yang tampak khawatir. “Aku punya usul yang lebih baik. Kalau kamu takut bicara jujur, biar aku yang bicara dengan laki-laki itu.”


Wajahnya segera berubah ceria. “Benarkah? Kamu akan melakukan itu demi aku?”


“Jangan besar kepala. Aku tidak melakukan ini demi kamu, tetapi demi Wyatt.” Aku membalikkan badan dan tidak menunggu responsnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2