
“Waaahh …! Tempat ini indah sekali!!” sorak Charlotte. Dia menoleh ke belakangnya, lalu meraih tangan Dira. “Ayo, kita masuk sekarang. Aku tidak sabar lagi!”
Kami turun dari sebuah mobil pikap begitu tiba di lokasi terdekat dari sungai. Kami harus memasuki hutan dan mengikuti jalan setapak sebelum kami tiba di tepi sungai. Charlotte bersorak senang saat bunyi air sungai sudah terdengar, pertanda kami hampir sampai.
Kami sudah memakai pelampung, helm, dan membawa dayung masing-masing, jadi kami siap untuk mengarungi sungai. Hadi menyewa dua perahu karet untuk kami semua. Aku, Wyatt, Clarissa, dan Wendy berada pada satu perahu, sedangkan Hadi dan yang lain di perahu kedua.
Ada rombongan lain yang akan menyusuri sungai bersama kami sehingga perjalanan itu tidak terasa sepi. Arus sungai cukup deras dan aku tidak perlu banyak mengayuh untuk membantu perahu itu bergerak terus. Lagi pula pria yang memandu kami sangat banyak membantu menakhodai perahu.
Clarissa tidak berhenti bicara melihat keindahan di sekitarnya. Dia menanyakan banyak hal kepada pemandu kami. Aku dan teman-teman hanya saling bertukar pandang melihat tingkahnya. Dia ikut berteriak senang bersama kami saat perahu melaju kencang menuruni arus deras, tetapi sedetik kemudian dia kembali bertanya dengan santai pada pemandu kami.
Hadi berusaha melombai perahu kami pada bagian sungai yang cukup lebar dan tidak terdapat banyak batu. Tetapi aku dan Wyatt tidak mengizinkannya. Suasana di sekitar kami cukup tegang karena tidak satu pun dari kami yang mau mengalah. Pemandu mengingatkan kami bahwa ada arus deras di depan, maka kami berusaha memasukinya lebih dahulu. Saat kami berhasil melaju kencang meninggalkan perahu Hadi, kami bersorak senang.
“Kalian tadi curang,” tuduh Hadi ketika kami berhenti sesaat di dekat air terjun.
Aku dan Wyatt menatapnya tidak percaya. “Curang!?” seruku sambil menggeleng pelan. “Kami menang dengan adil! Kalian saja yang lemah tidak bisa mengayuh dengan kuat seperti kami.”
“Apa kamu bilang? Kami lemah?” Dira datang mendekat dan berdiri di depanku dengan tatapan menantang. “Kalian bergerak lebih dahulu, wajar saja kalian yang menang. Kalau kami yang ada di depan, aku yakin kami bisa bergerak jauh di depan kalian. Tidak selambat gerakan kalian tadi.”
Teman-teman satu perahunya memberi semangat padanya. Aku dan tim satu perahuku merasa tertantang. Kami mempersilakan mereka untuk bergerak lebih dahulu usai kami beristirahat. Dira tersenyum puas. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja membangunkan singa tidur.
“Pastikan helm kalian terpasang dengan baik dan pelampung kalian masih melekat erat di tubuh. Ini adalah perang!” kata Wyatt membakar semangat kami. Aku, Clarissa, dan Wendy bersorak keras sambil mengangkat dayung yang kami pegang.
Perahu Hadi bergerak lebih dahulu, lalu kami menyusul di belakangnya. Kami membiarkan mereka menjaga jarak, apalagi menurut pemandu kami, di depan akan ada arus yang deras dan banyak bebatuan yang besar dan cadas. Kami membiarkan mereka terlena dengan jarak yang jauh di antara kami. Dira sesekali menoleh dan menjulurkan lidahnya.
“Kalian sudah siap?” kata Wyatt saat kami akan memasuki bagian sungai yang lebar tanpa bebatuan. Kami menjawab iya, dan dia segera menggerakkan dayungnya dengan cepat. “Kebuuttt …!” Kami semua tertawa mendengar pilihan katanya tersebut.
“Kaak, kita dalam bahaya!” pekik Dira saat perahu kami sudah sejajar dengan mereka.
“Kayuh terus! Jangan menyerah!” Hadi memberi semangat pada timnya. Adi, Dira, dan Charlotte berusaha sekeras mungkin untuk bisa mengikuti gerakan cepat Hadi. Kedua pemandu kami tertawa melihat tingkah kami, tetapi kami tidak peduli. Harus ada satu tim yang menang dalam persaingan ini, dan tim itu adalah tim kami.
“Kalian curang!” seru Dira saat kami berhasil mendahului mereka.
__ADS_1
“Semua pecundang selalu menuduh pemenang begitu!” balasku. Kami bersorak senang dan terus mengayuh menjauhi mereka.
Badan kami basah kuyup seusai menyusuri sungai. Kami beristirahat sejenak hingga pakaian kami cukup kering sebelum kembali ke tempat penyewaan perahu. Begitu tiba di tempat penyewaan, kami membersihkan diri dan berganti pakaian. Makanan sudah disediakan, jadi kami bisa makan siang sebelum kembali ke hotel.
Rombongan lain juga tiba beberapa saat setelah kami. Mereka menyapa para gadis dan mengajak mereka mengobrol. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa cemburuku ketika Dira membalas mereka dengan keramahan yang sama. Tetapi aku berhasil menahan diri untuk tidak menarik tangan Dira agar menjauh dari mereka.
“Hai, kalian sudah kembali!” sambut Aunt Dafhina saat kami tiba dengan wajah lesu. “Apakah arung jeramnya menyenangkan?”
“Mereka tidak akan bisa menjawab pertanyaanmu, sayang. Lihat saja wajah mereka. Yang mereka butuhkan saat ini adalah kasur.” Uncle Brady tertawa. Kami tersenyum tipis menyetujui ucapannya.
“Baiklah. Kalian masuk ke kamar. Aku akan meminta pelayan membawakan segelas teh jahe untuk menghangatkan tubuh kalian,” kata Aunt Dafhina.
“Terima kasih, Tante,” ucap Hadi.
Aku tidur sangat pulas di kamar. Hari sudah sore dan perutku sangat tidak nyaman sehingga aku terpaksa bangun. Melihat ranjang Wyatt sudah kosong, sepertinya dia sudah bangun lebih dahulu. Jadi, aku menyusulnya ke ruang makan.
Teman-teman sudah berada di ruangan itu menikmati kudapan, tetapi aku tidak melihat Dira. Aku mengambil makanan kecil dan secangkir kopi, lalu bergabung bersama mereka. Mendengar tidak ada yang menyinggung mengenai ketidakhadiran Dira, sepertinya dia masih beristirahat di kamar.
Kami memutuskan untuk melakukan aktivitas kesukaan masing-masing dan bertemu lagi pada jam makan malam. Aku dan Wyatt berjalan bersama menuju kolam renang. Aku meneruskan permainan daringku dengan duduk santai di salah satu gazebo. Wyatt menyibukkan dirinya dengan memeriksa media sosialnya. Hadi dan Adi bergabung dengan kami kemudian.
“Hadi, Dira tidak ada di kamar atau di mana pun di sekitar hotel.” Charlotte tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat gazebo. Kami serentak duduk dengan tegak.
“Apa maksudmu?” tanya Hadi khawatir. Dia segera berdiri dan mengenakan alas kakinya kembali. “Kamu tidak menemukan dia di kamar, lalu kamu mencari sendiri? Mengapa tidak bilang dari tadi?”
“Aku mencarinya bersama Clarissa dan Wendy. Kami hanya tidak mau kita membuat kehebohan. Aku yakin Dira baik-baik saja. Mungkin dia hanya ingin sendiri. Ke mana sebaiknya kita mencarinya?” ucap Charlotte tanpa ada nada khawatir sama sekali.
“Adikku tidak ada di mana pun di sekitar hotel dan kamu bilang dia baik-baik saja?” seru Hadi marah. Aku berusaha untuk tidak ikut campur pembicaraan mereka, sekalipun aku juga khawatir dengan keadaan Dira.
“Aku tahu Dira di mana,” kata Clarissa yang datang bersama Wendy. “Penyewa sepeda mengatakan dia tadi memakai salah satu sepeda mereka dan pergi ke arah sawah.”
“Untuk apa dia pergi ke sana lagi?” tanya Hadi heran. Clarissa hanya mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
“Mungkin dia ingin sendiri, karena itu dia tidak memberi tahu kita tentang ini. Aku akan menyusul dia dan memberi tahu kalian bila aku membutuhkan bantuan,” kata Charlotte.
“Aku ikut,” kata Hadi.
Charlotte segera membalikkan badannya. “Tidak, Hadi. Sebaiknya satu orang saja yang mengawasi dia dari jauh. Aku tidak akan mengganggu dia. Kalau kamu ikut, kamu akan merusak rencanaku. Kamu tidak akan tahan melihat adikmu sedang susah.”
Hadi merapatkan bibirnya, menahan dirinya untuk merespons. Lalu dia mendesah pelan. “Baiklah. Tolong, segera hubungi kami jika kalian membutuhkan apa pun.”
Charlotte berjanji sebelum dia melesat pergi ke arah tempat penyewaan sepeda. Kami hanya saling bertukar pandang tanpa mengatakan apa pun, lalu kembali melakukan aktivitas kami. Clarissa dan Wendy kembali ke kamar mereka, sedangkan kami tetap menunggu di gazebo.
Hadi memarahi Dira saat dia kembali bersama Charlotte. Aku juga akan melakukan hal yang sama pada Lily bila dia pergi begitu saja. Apalagi ketika dia sedang berada di bawah tanggung jawabku. Uncle Hendra akan sangat marah pada Hadi jika terjadi sesuatu yang buruk pada Dira. Dan gadis itu melakukan hal yang benar dengan memeluk kakaknya agar dia berhenti khawatir.
Sepanjang malam itu, aku tidak bermimpi buruk. Mungkin karena tubuhku kelelahan. Akibatnya, aku bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur lagi. Melihat Wyatt masih tidur pulas, aku memutuskan untuk bermain game sambil duduk di balkon.
Namun saat aku menyibak tirai untuk melihat keadaan di balkon, aku melihat Dira sedang duduk sendiri di balkon kamarnya. Dia memeluk kedua kakinya dan dagunya diletakkan di atas lututnya. Tatapannya lurus ke depan, tidak menyadari aku sedang melihat ke arahnya.
Ketika salah satu tangannya menyeka kedua pipinya, maka aku tahu bahwa dia sedang menangis. Aku kembali merasa bersalah. Dia tidak akan mengalami hal ini seandainya saja aku tidak merusak hubungan kami. Bagaimana caranya aku memperbaiki keadaan ini?
*******
Sementara itu di suatu tempat~
“Apa yang kita lakukan di sini, Reese?” tanya Cilla yang bingung karena mobil berhenti di dekat gerbang rumah keluarga Hadi.
“Kamu diam dan ikuti aku saja. Kalau kamu bicara terus, lebih baik kamu tunggu di mobil.” Reese mendekati salah satu pohon yang ada di pinggir jalan dan mengarahkan pandangannya ke gerbang.
“Kamu menunggu Hadi pulang? Yang benar saja, Reese,” protes Cilla.
“Pelayan tua itu menolak aku mentah-mentah karena Hadi tidak ada di rumah. Lihat saja nanti. Aku yakin Hadi tidak akan mengusir aku jika dia ada di rumah.” Reese merapatkan bibirnya dengan kesal.
“Kamu benar-benar sudah gila. Kamu mendadak tertarik dengan pemuda ini hanya karena dia anak laki-laki pria kaya? Apa kamu pikir dia akan jatuh cinta pada perempuan yang sering menyusahkan adiknya? Coba pikir, Reese. Mengapa pelayan mereka tidak mau menerima paket darimu atau tidak mau menerimamu menjadi tamu mereka?”
__ADS_1