Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 96 - Dia Cemburu


__ADS_3

Kedua gadis yang tadi menyapa kami di ruang makan ternyata berkunjung ke tempat ini juga. Tidak ada orang lain yang datang bersama mereka, maka aku berasumsi bahwa mereka hanya berdua berlibur ke tempat ini.


“Hai, cantik. Kalian ke sini juga?”


“Iya. Tempat ini sangat terkenal, jadi kami tidak mau melewatkannya.” Aku tidak ingat siapa nama gadis ini, tetapi aku tahu dia yang menyapa kami. “Sudah memasuki musim panen, tetapi tidak mengurangi keindahan tempat ini.”


“Kalian akan ke mana untuk makan malam? Ada kafe yang bagus dengan harga terjangkau di atas. Kalian bisa melihat pemandangan ini lebih baik lagi,” ucap gadis kedua.


“Tidak. Kami akan makan malam di hotel.” Hadi segera menolak. Dia menoleh ke arah di belakang kami. “Adikku sepertinya sudah selesai menjelajahi tempat ini. Kita sebaiknya kembali sekarang.”


Aku menoleh ke arah yang dilihatnya. Dira dan teman-temannya berjalan kembali ke arah kami datang tadi. Mengapa cepat sekali? Matahari saja baru mulai terbenam. Oh, mungkin mereka tidak mau bergelap-gelapan di tempat ini.


Kedua gadis tadi mengikuti kami kembali ke tempat parkir. Aku dan Hadi memilih diam, sedangkan Wyatt dan Adi bicara dengan akrab dengan mereka. Dira menyilangkan kedua tangan di depan dadanya saat kami tiba di dekat sepeda kami. Segalanya berjalan dengan baik tadi. Mengapa dia terlihat kesal dengan sesuatu?


“Mereka cemburu,” kata Wyatt saat kami mengembalikan sepeda ke tempat penyewaan.


“Mereka siapa?” tanyaku tidak mengerti.


Wyatt memutar bola matanya. “Charlotte dan Dira. Itu sebabnya mereka berhenti berfoto dan berjalan mengelilingi sawah. Mereka cemburu kita bicara akrab dengan kedua gadis tadi.”


“Apa aku bilang, kita harus menjaga sikap. Kalau Dira cemburu dan marah besar, aku tidak akan pernah mendapatkan maaf darinya.”


“Colin, apa ada yang salah dengan otakmu?” Wyatt mengerutkan keningnya. “Cemburu itu pertanda baik. Itu artinya Dira masih sayang kamu. Mengapa kita harus menjaga sikap? Sekali lagi, kita adalah pemuda yang masih lajang. Tidak ada salahnya dekat dengan banyak perempuan.”


Dira masih sayang padaku? Benarkah? Kalau iya, mengapa dia selalu terlihat marah dan tidak mau dekat denganku lagi? Sudah dua bulan berlalu sejak kami mengakhiri hubungan dan aku meminta maaf atas kesalahan yang aku lakukan. Dia belum mau memaafkan aku.


Dua meja disatukan agar rombongan kami bisa makan malam bersama. Kursi yang masih kosong adalah yang ada di sisi Hadi dan Adi. Aku dan Wyatt mengambil makanan kami terlebih dahulu sebelum bergabung bersama mereka.


“Rombongan kamu ramai juga, ya,” ucap seorang gadis yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sisiku.


“Kami berteman, jadi aku membawa teman-temanku dan dia membawa sahabatnya,” jawab Wyatt yang berdiri di depanku dengan meja saji berada di antara kami.


Gadis itu mengangguk pelan. “Teman? Kalian bukan empat pasangan yang sedang pacaran?” tanya gadis itu lagi sambil melihat ke arahku.

__ADS_1


“Ajeng, dia sepertinya pemalu. Sebaiknya kamu jangan terlalu agresif,” ucap teman gadis ini yang berdiri di sisi Wyatt. “Kalian akan pergi ke mana besok? Kami punya banyak informasi tempat yang bagus untuk dikunjungi.”


“Kami sudah punya daftar tempat yang akan kami datangi. Tetapi terima kasih untuk tawaran kamu,” ucap Wyatt dengan ramah. “Sampai nanti.”


Untung saja Wyatt mengucapkan kalimat itu atau aku akan pergi meninggalkan dia yang terus saja menanggapi ucapan mereka. Aku senang mengetahui bahwa Dira mungkin masih sayang padaku, tetapi aku tidak akan sengaja membuat dia cemburu dengan mendekati gadis lain. Para gadis itu juga punya perasaan, jadi aku tidak akan memberi mereka harapan palsu.


“Wah, wah. Mereka aktif juga mendekati kalian berdua,” goda Adi saat aku duduk di sisinya dan Wyatt duduk di sisi Hadi. Dengan begini, aku bisa melihat Dira yang duduk di samping kakaknya. “Saat makan camilan, di sawah, lalu tadi.”


“Kalau kamu sedetik saja mengalihkan perhatianmu dari ponselmu, para gadis juga akan mengajak kamu mengobrol, Adi.” Wyatt mengedipkan sebelah matanya.


“Bila gadis itu terganggu dengan hobiku bermain game, maka dia tidak pantas menjadi temanku,” kata Adi acuh tak acuh.


“Sudah, tidak usah membicarakan hal yang membosankan,” lerai Dira. “Bagaimana dengan rencana kita besok? Kami sudah menentukan tempat pada hari ini dan hari Minggu nanti. Apa kalian sudah putuskan akan pergi ke mana besok?”


Hadi dan Wyatt saling bertukar pandang. “Tentu saja sudah. Besok kita akan melakukan arung jeram.”


Aku dan Adi serentak bersorak senang, sedangkan keempat gadis itu membulatkan mata mereka. Wajah mereka memucat membayangkan olahraga ekstrem tersebut. Padahal aktivitasnya tidak seburuk itu. Akan ada seorang yang berpengalaman yang mendampingi kami selama menjelajahi sungai. Aku senang mereka memilih olahraga itu untuk kami lakukan berikutnya.


“Colin.” Aku mendengar seseorang memanggil namaku, tetapi yang aku lihat di sekelilingku adalah pemandangan yang mengerikan. “Colin!” Suara itu semakin keras dan tubuhku mulai diguncang.


“Apa kamu tidak apa-apa?” tanyanya pelan.


Aku melihat ke sekelilingku. Oh, kami masih ada di kamar hotel di Bali. Aku berpindah ke posisi duduk, lalu menyandarkan tubuhku ke kepala ranjang. “Terima kasih,” ucapku saat menerima segelas air minum dari Wyatt. “Apa yang terjadi?”


“Kamu mengigau memanggil nama Dira. Kamu memimpikan apa sampai badan kamu berkeringat begini?” tanya Wyatt masih dengan nada khawatir.


“Hanya mimpi buruk,” jawabku santai. Aku meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas nakas di antara tempat tidur kami.


“Apa sesuatu yang buruk terjadi pada Dira di dalam mimpimu?” tanya Wyatt. “Dengar, aku tidak bermaksud ikut campur. Tetapi jika membicarakannya bisa membuat kamu merasa sedikit lebih tenang, aku di sini untukmu.”


“Aku tidak melihat video itu, tetapi aku melihat dia dalam mimpiku. Adegannya selalu sama. Jordan meniduri dia saat dia sedang tidak sadar, lalu mereka membuat siaran langsungnya. Mimpi yang aneh, karena kejadian yang sebenarnya tidak begitu. Mereka hanya membuat siara langsung Dira yang berbaring seorang diri.” Aku menarik napas panjang menenangkan debaran jantungku.


“Itu adalah mimpi buruk bagi siapa pun. Mereka yang melakukan adegan ranjang secara sadar saja membutuhkan terapi untuk pulih, apalagi Dira. Charlotte masih sering menangis setiap malam akibat kejadian yang menimpa sahabatnya itu. Aku tidak bisa bayangkan sakit yang kamu rasakan sebagai mantannya yang pasti bisa merasakan yang Dira rasakan,” kata Wyatt prihatin.

__ADS_1


“Dira selalu menolak model pakaian tertentu yang disarankan setiap kali dia menjadi model iklan atau peragaan busana. Dia sangat menjaga bagian pribadi tubuhnya. Lalu seseorang tanpa tahu malu menayangkan dia tanpa pakaian secara daring. Bagaimana dia tidak hancur?”


“Setiap kali melihat dia tertawa, aku tidak merasa bahagia. Aku justru lebih tenang bila melihat dia menangis atau bersedih. Karena menyembunyikan luka hanya akan membuat dia pulih lebih lama.” Aku menoleh ke arah Wyatt. “Itu sebabnya, aku tidak mau membuat dia cemburu. Aku tidak mau menambah masalahnya. Bila kamu mau menggunakan kedua gadis itu untuk mendapat perhatian Charlotte, silakan. Aku tidak ikutan.”


Wyatt benar. Bebanku terasa lebih ringan setelah bicara dengannya. Kami kembali tidur karena hari masih gelap. Aku bangun beberapa jam kemudian dan Wyatt masih terlelap. Jam tanganku masih menunjukkan pukul enam pagi, tetapi aku memilih untuk bangun, mandi, dan berpakaian.


Karena perutku sudah lapar, aku tidak menunggu sampai teman sekamarku bangun. Lagi pula Hadi dan teman-teman kami yang lain pasti sudah bangun juga. Anehnya, suasana restoran sangat ramai. Aku melirik jam tanganku lagi. Baru pukul enam lewat tiga puluh menit, mengapa sudah ada banyak orang yang sarapan? Apa semua orang yang menginap di tempat ini hobi bangun pagi pada akhir pekan? Tetapi begini lebih baik. Aku tidak perlu sendirian berada di tempat ini.


Aku baru saja akan mengisi piringku dengan nasi goreng ketika terdengar bunyi langkah berhenti di dekatku. Aku menoleh dan bertemu pandang dengan Dira. Dia terlihat sedang berpikir keras untuk tetap maju mengambil makanan atau keluar. Lalu dia mendesah pelan dan memilih untuk mendekati meja saji.


“Selamat pagi,” sapaku memecahkan keheningan di antara kami.


“Selamat pagi,” jawabnya acuh tak acuh.


“Mengapa kamu bangun cepat sekali? Bukankah kita akan pergi jam delapan?” Aku melirik ke arah pintu masuk ruang makan. Semakin banyak orang yang datang.


“Bangun cepat? Ini sudah jam setengah delapan lewat,” kata Dira bingung. Dia kemudian tertawa kecil. “Kamu belum menyesuaikan jammu dengan waktu di sini?”


Aku menepuk keningku. Pantas saja. Kalau begitu, aku telah melakukan kesalahan besar. Seharusnya aku membangunkan Wyatt agar kami tidak terlambat pergi. Dia pasti masih lelap di kamar kami.


*******


Sementara itu di sebuah ruang kerja~


“Pengadilan untuk kejahatan yang dilakukan oleh Finley Taylor akan dilakukan pada pertengahan bulan depan, Pak. Bukti kejahatannya sudah memenuhi syarat, termasuk kesaksian dari Hadi dan Clarissa.” Oscar, penasihat hukum Hendra, memberikan sebuah map kepada kliennya tersebut.


“Lalu bagaimana dengan ketiga penjahat itu?” tanya Hendra yang tidak sudi menyebut nama orang yang sudah menghancurkan kehidupan keluarganya.


“Pihak kepolisian membutuhkan kesaksian dari Dira,” kata Oscar pelan.


Zach mendesah pelan ketika Hendra melihat ke arahnya. “Itu hal yang tidak bisa dihindari, Kak. Dira adalah satu-satunya korban, maka kesaksiannya adalah kunci dari kasus ini.”


“Sebaiknya kita menyelesaikan masalah ini dengan jalan damai, di luar pengadilan. Aku tidak mau putriku harus mengingat semua itu lagi saat dia memberikan kesaksian. Lagi pula dia dalam keadaan tidak sadar ketika semua itu terjadi. Bagaimana kesaksiannya bisa dianggap kredibel?”

__ADS_1


“Kredibel atau tidak, dia adalah satu-satunya korban pada kasus ini, Kak,” kata Zach dengan serius. “Aku akan membujuk Dira, tetapi jalan damai bukanlah pilihan. Uang tidak akan membuat mereka jera. Mereka bertiga harus dipenjara selama mungkin.”


__ADS_2