
“Jadi, Papa ke kantor polisi untuk mengurus pelakunya?” tanyaku ingin tahu. Papa mengangguk. “Siapa orangnya, Pa? Apa kami mengenal dia?”
Papa menatap Dira. “Dira yang lebih mengenalnya,” kata Papa. “Laras.”
“Apa?? Laras yang menabrak para siswa di sekolah Adi??” tanya Dira tidak percaya. “Jangan bilang, dia melakukan semua itu karena aku.”
“Aku tidak tahu apa dia mengetahui bahwa sekolah itu adalah sekolah Adi. Kecelakaan itu sudah dia rencanakan atau spontanitas. Polisi masih melakukan investigasi. Tetapi Zach sudah memastikan bahwa dia akan menerima hukuman yang seberat mungkin atas kejahatan yang dia lakukan. Nyawa yang hilang itu tidak bisa kembali lagi,” kata Papa dengan serius.
“Jadi, itu sebabnya Colin ada di sini? Papa khawatir aku akan lepas kendali?” tanya Dira.
“Aku mengenal kamu, sayang. Tetapi saat ini aku sedang tidak bisa menghibur kamu. Hadi sedang ada masalahnya sendiri, begitu juga dengan Adi. Colin adalah salah satu saksi yang melihat kejadian itu, maka dia adalah teman bicara yang tepat untukmu.” Papa tersenyum sedih. “Kecelakaan itu bukan salahmu. Tidak peduli apa yang Laras katakan nanti, dia satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kematian anak-anak sekolah tersebut.”
“Laras? Bukankah dia teman model satu agensimu?” tanyaku bingung. “Apa yang terjadi? Mengapa dia marah kepadamu?”
“Dia salah paham,” jawab Colin. “Reese mengadu domba mereka. Laras percaya dan berpikir bahwa Dira yang sudah membongkar rahasianya. Puncaknya, Laras merusak kebaya milik Ibu Riani yang seharusnya Dira pakai. Desainer itu punya kebaya cadangannya. Itulah yang Dira kenakan pada saat pagelaran. Rahasianya terdengar Pak Billy dan kontraknya langsung diputus. Mungkin itu yang membuat dia sangat marah kepada Dira.”
“Rahasia? Rahasia apa?” tanyaku bingung.
“Laras menjalin hubungan dengan anak Pak Billy,” jawab Colin pelan.
“Dia hanya punya satu putra yang belum menikah. Apakah dia yang kamu maksud?” tanya Papa. Colin mengangguk. “Pria setua itu mendekati gadis muda?” Papa menoleh ke arah Dira. “Sayang, katakan dengan jujur. Apakah dia pernah menyentuh kamu?”
Dira menggeleng. “Tidak, Pa. Semua orang tahu aku sudah punya pacar, jadi dia mungkin berpikir aku bukanlah sasaran yang mudah untuk ditaklukkan.”
“Atau dia takut berurusan dengan Papa,” kataku mencoba mencairkan suasana.
Adi yang sedari tadi hanya diam saja berdiri dan berpindah duduk di sebelah Dira. “Kak, jangan merasa bersalah. Papa benar. Kecelakaan itu bukan salah Kakak. Aku juga merasakannya. Aku selamat, tetapi jauh di dalam hati, aku seharusnya ikut mati bersama mereka. Apalagi sekarang setelah aku tahu, akulah sasaran utamanya.”
“Tidak, Adi. Tidak.” Dira segera memegang tangan adik kami. “Kamu tidak bersalah.” Dia berhenti sejenak. “Kita berdua tidak bersalah. Aku juga pernah marah dan benci dengan seseorang. Berniat untuk menyakiti juga pernah, tetapi aku tidak pernah benar-benar menyakiti apalagi membunuh dia atau keluarganya. Ini semua salah Laras. Titik.”
“Seandainya saja kalian tahu betapa bencinya aku kepada Vivaldo, Nora, dan pemuda ingusan itu.” Papa menggeram pelan.
“Aku juga sangat membenci Aunt Chelsea,” kata Colin dengan jujur.
“Seandainya mereka ada di depanku, aku akan mencekik Reese dan Valeria,” akuku tidak mau kalah.
__ADS_1
“Sudah, sudah. Mengapa kalian malah berlomba untuk memikirkan hal-hal yang buruk begitu. Papa kalian sudah memberi contoh yang tidak benar,” kata Mama kepada Papa.
“Lo? Mengapa aku yang salah? Aku hanya berkata jujur, sayang,” kata Papa membela diri. Kami tertawa kecil melihatnya.
“Makan malam sudah siap. Ayo, kita ke ruang makan sekarang,” ajak Mama begitu pintu dibuka dan Pak Abdi memasuki ruangan.
Colin pamit pulang setelah kami selesai makan malam. Dira tidak mau menahannya terlalu lama agar dia tidak mengantuk dalam perjalanan pulang. Papa dan Mama memutuskan untuk masuk ke kamar mereka, maka kami juga melakukan hal yang sama. Aku duduk sejenak di sofa untuk menenangkan pikiranku. Masalahku dan Clarissa belum selesai, adik-adikku malah terkena perkara.
Usai mandi dan berganti pakaian, aku memutuskan untuk bicara dengan Dira. Sendirian di dalam kamar menunggu kantuk datang, tidak ada gunanya. Clarissa pasti masih bersama keluarganya, jadi aku tidak mau mengganggu. Tanpa aku duga, Adi sudah lebih dahulu ada di sana.
“Apa aku bilang? Kakak pasti akan datang menyusul ke sini,” ucap Adi dengan bangga.
“Konspirasi jahat apa yang sedang kalian diskusikan?” tanyaku pura-pura curiga. Melihat tidak ada makanan ringan dan minuman hangat di atas meja, aku mengirim pesan kepada Ibu Yuyun.
“Apa lagi yang akan dibahas oleh adik-adik yang punya seorang kakak yang otoriter?” ejek Adi.
“Ooo.” Aku mengangguk mengerti. “Kalian sudah berani mengevaluasi aku, ya?” Sebelum dia menyadari apa yang aku lakukan, aku segera melingkarkan tanganku di lehernya, lalu mengusap-usap rambutnya dengan gemas. Aku baru berhenti ketika dia meminta ampun.
“Ingat umur, Kak. Kalian sudah bukan anak SD dan SMP lagi,” lerai Dira. Aku melepaskan Adi, lalu duduk di sisinya, sedangkan Dira duduk bersandar di kepala tempat tidur.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Adi pelan.
“Apa Kakak tidak merasa bahwa kita terlalu dimanjakan dengan semua yang Papa lakukan untuk kita?” tanya Adi merasa tidak enak.
“Karena itu, kamu harus lekas besar. Jadi, beban orang tua kita bisa sedikit berkurang.” godaku. Adi memasang wajah cemberut. “Kita masih anak-anak bagi mereka, Adi. Itu sebabnya mereka menjaga kita sebaik mungkin. Lagi pula kita adalah keluarga. Sudah seharusnya kita saling melindungi.”
“Aku setuju. Setelah kita menikah pun kita harus tetap saling menjaga. Hanya dengan begitu kita bisa kuat menghadapi orang-orang yang membenci kita. Lihat saja Mama dengan Om Zach. Mereka tidak pernah berhenti saling mendukung,” kata Dira menambahkan.
“Mengapa ada saja orang yang berbuat jahat kepada kita?” tanya Adi lirih.
Aku merangkul bahunya. “Karena mereka berpikir itu adalah satu-satunya cara untuk mengatasi masalah mereka. Kamu berbuat baik saja masih ada yang berniat jahat kepadamu. Apa kamu bisa bayangkan apa yang terjadi jika kamu berbuat jahat?”
“Aku lebih suka jadi orang baik, Kak. Dalam game saja, orang jahat selalu terkena masalah, bahkan mati sia-sia. Pahlawannya selalu menang walaupun harus mati-matian berjuang. Mati pun matinya terhormat,” ucap Adi dengan bangga. “Ngomong-ngomong, aku baru dapat uang banyak.”
“Kamu menjual salah satu karaktermu?” tebakku.
__ADS_1
Dia mengangguk cepat. “Seratus tujuh puluh juta. Kakak percaya itu?” bisiknya kepadaku dan Dira. Aku menatapnya tidak percaya. “Sungguh! Sebentar.” Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka sesuatu, lalu menunjukkannya kepadaku. Dira mendekat dan ikut menghitung jumlah nol pada keterangan uang masuk di rekening banknya.
“Benar-benar seratus tujuh puluh juta, Kak,” gumam Dira nyaris tidak terdengar.
“Uang yang kamu dapatkan dalam satu bulan jauh lebih banyak dari ini. Mengapa kamu sampai terkejut begitu?” ucapku bingung. “Colin juga pernah menjual karakternya lebih dari ini.”
“Beda, dong, Kak. Colin jauh lebih senior daripada Adi. Aku tidak menyangka adikku akan menjual karakternya dan laku dengan angka sebesar ini. Wow!” puji Dira. “Kamu harus mengajak kami berlibur sebagai perayaan atas keberhasilanmu ini!”
“Tidak bisa, Kak. Papa melarang aku menggunakan uang ini. Apa Kakak lupa aku masih di bawah delapan belas tahun? Aku belum punya hak atas uangku sendiri,” kata Adi mengingatkan. “Jadi, uangku aman sampai lulus SMU nanti. Yeay!”
Dira cemberut mendengarnya. “Kamu ini pelit seperti Kak Hadi. Padahal kamu tidak punya pacar atau tunangan. Uang itu sepenuhnya milikmu.”
“Siapa yang bilang aku tidak punya pacar?” ucap Adi misterius.
Aku dan Dira serentak menatapnya dengan mata membulat. “Apa?? Kamu sudah punya pacar??”
*******
Sementara itu di sebuah kamar~
“Sayang, kamu harus melakukan sesuatu. Dira dan Adi terluput dari bahaya, tetapi Hadi masih belum aman. Segera beri tahu dia segalanya dan selesaikan masalah ini.” Zahara mendesak suaminya.
“Tidak semudah itu, Za.” Hendra keluar dari kamar mandi. Dia mendekati istrinya, lalu memeluknya dari belakang. “Zach membutuhkan pengakuan langsung dari gadis itu agar bisa menuntut dia.”
“Kalian sudah memiliki rekaman CCTV dan hasil pemeriksaan darah Hadi sebagai bukti. Apalagi yang kamu tunggu?” ucap Zahara frustrasi.
“Dia bisa saja menyangkal dan usaha kita sia-sia.” Hendra mencium kepala istrinya. “Percayalah kepadaku dan Zach. Kita akan beri gadis itu dan mamanya pelajaran. Dengan begitu, orang lain akan berpikir sepuluh kali sebelum mengganggu kita dan anak-anak.”
Zahara menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. “Berjanjilah. Hadi akan baik-baik saja. Clarissa juga tidak akan terluka, karena ulah mereka.”
“Aku janji. Hadi sudah menceritakan apa yang dia ingat dari kejadian itu. Clarissa tidak memutuskan hubungan mereka. Itu pertanda baik, sayang.”
“Lalu kapan mereka akan membuka kedok mereka sendiri?” tanya Zahara tidak sabar.
“Prediksiku, paling cepat pada hari Rabu minggu depan,” jawab Hendra penuh arti.
__ADS_1
“Hari Rabu minggu depan?” tanya Zahara bingung. “Memangnya ada apa pada hari itu?”
Hendra mendesah keras untuk mendramatisir. “Kamu memang tidak berubah. Masih saja lupa dengan tanggal-tanggal penting.”