Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 51 - Kencan


__ADS_3

Hadi mendesah lega. “Aku pikir kamu terluka,” ucapnya pelan. Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka layar sebelum menempelkan benda itu ke telinganya.


“Kalian di mana?” tanyanya. Aku yakin dia menelepon salah satu dari adik kami. Dia melihat ke arah depan kami, lalu mengajak aku untuk kembali berjalan. “Kami datang.”


“Hadi, apa kamu tidak mendengarkan aku?” tanyaku sedikit panik saat dia memasukkan ponselnya kembali ke saku celananya. “Gelangnya hilang. Pasti pemuda tadi yang mengambilnya.”


“Tidak apa-apa. Aku akan membelikan yang baru untukmu. Kita hanya akan membuang-buang waktu mengejarnya. Dia pasti punya sindikat di sini. Walaupun kita berhasil menangkapnya, gelang itu pasti sudah dia oper ke rekannya.” Hadi berhenti di depan sebuah restoran.


Apa yang dia ucapkan masuk akal. Tetapi aku menyukai gelang itu karena dia memberikannya pada hari pertunangan kami. Gelang lain tidak akan sama artinya dibandingkan dengan gelang itu. Aku seharusnya berhati-hati tadi. Bagaimana bisa aku tidak menyadari ada orang yang sengaja datang mendekat dan menabrak aku? Dia pasti sudah sering melakukan itu sampai aku tidak menyadari dia mengambil gelang itu dari tanganku.


Pelayan yang menyambut kami di depan pintu mengantar kami ke meja di mana Charlotte dan adik-adik kami berada. Sepertinya dia atau Wyatt sudah memesan tempat karena mustahil kami bisa mendapatkan meja melihat semua tempat sudah terisi oleh pengunjung yang lain.


Restoran ini pasti sangat terkenal. Semoga saja karena makanannya yang enak. Hadi membantu aku duduk sebelum dia duduk di sisiku. Mereka berempat menatap kami penuh arti. Charlotte malah blak-blakan melihat wajahku dengan saksama.


“Kalian dari mana? Kalau kalian ingin berdua saja, kami tidak keberatan makan berempat di sini. Kalian bisa pergi ke tempat lain untuk saling mengenal.” Charlotte berdehem.


“Berhenti memikirkan hal yang bukan urusanmu, Charlotte. Aku tidak mencium kakakmu bila itu maksud dari tatapanmu pada wajahnya.” Hadi membuka buku menu yang ada di hadapannya. Kedua adik perempuan kami hanya tertawa geli.


“Clarissa, di mana gelangmu?” tanya Dira yang melihat ke arah pergelangan tangan kiriku. Yang lain juga melihat ke arah yang sama.


“Ada laki-laki yang sengaja menabrak aku dan aku tidak sadar dia mengambil gelang itu.” Aku menyentuh tanganku yang terasa kosong tanpa perhiasan itu lagi.


“Oh. Maafkan aku. Seharusnya mal ini tempat yang aman. Aku tidak tahu akan ada pengunjung yang berbuat sejahat itu,” ucap Charlotte merasa tidak enak.


“Tidak perlu dipermasalahkan. Aku akan menggantinya dengan yang baru. Kalau perlu, kita bisa pergi ke salah satu toko perhiasan di sini dan membeli gelang yang sama.” Hadi mengangkat tangan untuk menarik perhatian salah satu pelayan. “Aku lapar. Sebaiknya kita pesan makanan sekarang.”


Begitu pelayan berdiri di dekat meja kami, kami menyebut pesanan kami masing-masing. Persoalan gelang itu terlupakan dan kami membicarakan topik yang ringan. Wyatt memberitahukan rencana pertunangannya dengan Charlotte yang membuat Dira bersorak bahagia. Kami kemudian membahas film apa yang akan kami tonton usai makan siang nanti.


Kami sedang menikmati makanan ketika ponsel Hadi bergetar dan dia berbicara dengan serius dengan ayahnya. Dia beberapa kali melirik ke arahku dengan kening berkerut. Dari apa yang dia ucapkan, sepertinya Om Hendra menanyakan tentang aku.

__ADS_1


“Papa bilang apa?” tanya Dira tidak sabar begitu Hadi meletakkan ponselnya di atas meja.


“Papa bertanya mengapa Clarissa berada tidak jauh dari tempat ini, padahal kalian tadi pamit untuk makan siang bersama. Aku agak bingung dengan pertanyaan itu karena Rissa di sini bersama kita. Lalu saat Papa menjelaskan, aku pun mengerti. Ada pelacak pada gelang tersebut dan Papa pikir ada yang menculik Rissa.”


Pelacak pada gelang? Aku menyentuh pergelangan tanganku. Oh, itu sebabnya Kakek mengatakan agar aku tidak melepaskan gelang ini. Ternyata mereka memasang pelacak di dalamnya. Dadaku terasa hangat menyadari perhatian semua orang. Mereka pasti melakukan ini supaya aku tidak pergi jauh lagi dari keluargaku.


“Wow. Aku tidak tahu bahwa masalah yang ada hubungannya dengan Clarissa sangat serius. Pantas saja Kakek bilang gelangnya tidak boleh dilepaskan. Aku pikir Kakek hanya menggoda Clarissa, ternyata dia serius dengan kalimatnya itu.” Charlotte memegang tanganku. “Apa Kakek dan semua orang tua kita khawatir pria jahat itu akan menculik Clarissa lagi?”


“Selama Finley belum ditangkap, kita tidak akan bisa tenang. Bahkan sekalipun dia masuk penjara, dia masih bisa membayar orang untuk melakukan apa saja yang dia perintahkan. Jadi, ini yang bisa orang tua kita pikirkan untuk mencegah Rissa diculik lagi,” jawab Hadi.


“Apa yang dia lihat padaku yang membuat dia tidak suka aku dekat dengan keluargaku?” tanyaku bingung. Hadi menyentuh tanganku yang bebas.


“Kami akan menjaga kamu, jadi jangan khawatirkan apa pun. Jangan biarkan Finley menang dengan membuat kamu ketakutan setiap kali kamu melakukan sesuatu. Keluarga kita selalu saling menjaga, Rissa. Bila sesuatu yang buruk terjadi padamu, percayalah. Kami pasti mencari kamu sekuat tenaga kami,” ucap Hadi berjanji. “Lupakan Finley dan habiskan makanan kalian. Hari ini kita berniat untuk bersenang-senang.”


“Aku sudah memesan tiket nonton kita dan terima kasih kembali, aku mendapatkan tempat yang terpisah agar kalian bisa berduaan dengan pasangan kalian masing-masing.” Adi menunjukkan layar ponselnya kepada kami di mana ada tiga pasang titik yang jaraknya tidak berjauhan. Posisi duduk kami di bioskop.


Charlotte dan Wyatt membayar tagihan makan kami yang jumlahnya tidak main-main. Seorang pria mendatangi Hadi saat kami akan berdiri. Dia menyerahkan sesuatu ke tangannya dan mengatakan itu adalah titipan dari papanya. Hadi berterima kasih, lalu meminta aku untuk mendekatkan tangan kiriku. Mataku membulat senang melihat gelang itu kembali menghiasi pergelangan tanganku.


Karena adikku dan pacarnya yang membayar makan siang kami, Hadi yang mentraktir minuman dan camilan yang kami beli untuk dinikmati saat menonton. Kami duduk berpasang-pasangan pasti karena Adi tidak bisa mendapatkan tempat duduk di mana kami bisa bersama pada satu baris. Studio yang kami masuki penuh dengan penonton dan tidak ada satu kursi pun yang kosong.


“Apa film ini sangat terkenal makanya banyak yang menonton?” bisikku pada Hadi. Dia tertawa kecil. “Ada apa? Apa yang lucu?”


“Ini film superhero, Rissa. Tentu saja banyak peminatnya. Adi tidak mungkin mentraktir kita kalau bukan karena ini adalah genre kesukaannya.” Dia menawarkan jagungnya kepadaku. Aku bengong melihatnya. “Ada apa?”


“Kita baru saja makan siang dan kamu sudah lapar lagi?” tanyaku tidak percaya.


“Itu satu jam yang lalu. Apa kamu lupa kalian tadi menggunakan waktu cukup lama di toilet entah melakukan apa?” ucapnya sarkas. Aku tertawa geli.


“Pria yang mengantar gelang ini, siapa dia? Pria yang mengikuti aku ke mana pun aku pergi?” tanyaku teringat dengan pria yang mendekatinya saat di restoran tadi.

__ADS_1


“Bukan. Dia orang suruhan teman Papa. Mereka pasti mengambil gelang ini dari pencurinya.”


“Kalau begitu, mereka tidak membawa pencurinya ke kantor polisi. Karena buktinya ada di sini.” Aku menatapnya dengan bingung.


“Ada banyak cara membuat penjahat jera melanggar hukum, Rissa. Penjara bukan satu-satunya tempat untuk menghukum penjahat,” katanya dengan santai. Aku tidak peduli bagaimana mereka menghukum laki-laki itu. Gelang ini sudah kembali, hanya itu yang paling penting.


“Apa kamu suka menghabiskan waktu bersama adik-adikmu pada akhir pekan?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.


“Hanya jika kami tidak punya kegiatan lain. Biasanya kami tidak punya waktu bersama seperti ini. Dira sibuk dengan pekerjaannya sebagai model pada akhir pekan, sedangkan Adi suka menemani Papa dan Mama ke acara yang mereka hadiri. Dia suka makan makanan enak.”


“Aah, itu sebabnya Dira memakai topi dan kacamata untuk menyamarkan wajahnya.” Aku lupa bahwa dia seorang model remaja terkenal.


Kami mengobrol santai di mana aku yang lebih banyak bertanya dan dia menjawab pertanyaanku dengan jujur. Aku suka sekali dengan caranya memanggil namaku. Hanya dia satu-satunya orang yang memanggil aku dengan nama Rissa. Semua orang bahkan keluargaku sendiri memanggil aku dengan nama depanku dan tidak membuat nama panggilan khusus.


“Aku suka kamu memanggil aku dengan nama Rissa,” ucapku pelan.


Dia menoleh ke arahku dengan senyum di wajahnya. “Rissa, Rissa, apakah kamu mulai jatuh cinta kepadaku?” Aku terbatuk, tersedak mendengar kalimat itu. “Kamu bilang suka.”


“Aku suka dengan panggilan itu, aku tidak bilang aku cinta kepadamu,” kataku dengan cepat. Dia tertawa kecil. “Aku tidak keberatan membayar liburan bersama kita, tetapi aku tidak akan kalah darimu dalam taruhan ini, Hadi.”


Karena lampu perlahan dipadamkan yang menunjukkan bahwa film akan segera dimulai, dia hanya tersenyum dan tidak meresponsi ucapanku lagi. Jatuh cinta. Aku tahu apa itu cinta kepada lawan jenis, tetapi aku belum pernah merasakannya. Selama ini aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain selain mencari keluarga kandungku.


Film yang kami tonton sangat bagus dengan jalan cerita yang penuh konflik, banyak adegan yang menggunakan teknologi tinggi, juga musik yang bagus. Aku tidak heran ada banyak orang yang menonton film ini. Dari wajah mereka yang ada di sekitarku dan dari apa yang mereka bahas dengan teman di sebelahnya, mereka juga terlihat puas.


Kami berjalan menuju pintu keluar bersama penonton yang lain. Wyatt dan Adi berjalan di depan kami dan tidak berhenti bertukar pendapat mengenai film tadi. Aku tertawa ketika mereka terlibat perdebatan yang sengit. Apa mereka tidak bisa menunggu sampai kami jauh dari keramaian untuk mendiskusikan tentang film tadi?


“Hai, Hadi.” Seorang gadis berdiri di depan kami sehingga aku dan Hadi harus berhenti. “Apa kamu baru menonton film ini?” Dia menunjuk ke arah poster film yang baru kami tonton dengan jarinya, tetapi matanya menatap aku dengan tajam.


Ada apa dengan dia? Aku tidak mengenalnya, tetapi mengapa dia melihat aku seolah-olah aku baru saja melakukan sebuah kesalahan besar?

__ADS_1


__ADS_2