Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 107 - Lepas Kendali


__ADS_3

Kami semua melihat ke arah yang sama. Clarissa yang tadi memukul meja membulatkan matanya dan melihat ke arah kami satu per satu. Dia membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia hanya bisa menelan ludah dengan berat.


Aku mengulum senyum membayangkan apa yang ada dalam kepalanya sekarang. Dia pasti sedang mencari-cari alasan yang tepat untuk menjelaskan mengapa dia mendadak marah mendengar apa yang Kakak katakan. Hari ini sepertinya bukan hari yang baik untukku, juga dia.


“A-aku mau pamit ke toilet, jadi … a-aku …,” ucapnya kebingungan sendiri.


“Aku juga perlu ke toilet,” kata Charlotte menyelamatkan kakaknya. Dia melirik ke arahku. Mengerti apa yang dia maksudkan lewat tatapan matanya, aku juga pamit.


Kak Hadi berdiri agar aku bisa keluar dari kursiku. Charlotte dan Clarissa berjalan lebih dahulu di depanku. Kami hanya diam saja saat berada di toilet. Aku dan Charlotte menunggu sampai Clarissa keluar dari bilik yang dimasukinya.


“Jangan tatap aku seperti itu,” kata Clarissa kepada kami berdua saat dia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.


“Memangnya bagaimana cara kami menatapmu?” tanya Charlotte pura-pura tidak tahu.


“Aku tidak cemburu dengan cerita Hadi tadi.” Dia menatap kami dengan serius.


“Ooo … kamu cemburu dengan cerita Hadi tadi.” Charlotte mengejek kakaknya, dan kami tertawa geli. Apa Clarissa pikir kami bisa dibohongi? Jangankan kami, aku yakin semua orang tahu bahwa dia cemburu dengan para wanita yang Kakak ceritakan tadi.


“Kalian benar-benar menjengkelkan.” Clarissa melempar tisu yang dia pakai untuk mengeringkan tangannya ke arah Charlotte. “Sekarang aku tidak tahu bagaimana kembali ke sana tanpa membuat diriku sendiri malu.” Dia mendesah keras.


“Kamu tidak perlu malu, Clarissa. Kami semua tahu kamu punya perasaan khusus pada Hadi,” kata Charlotte. Clarissa membuka mulutnya berniat menyangkal. “Tidak perlu berbohong. Aku dan Dira bukan orang yang bisa kamu bohongi. Kalian berdua, dengarkan aku. Jangan buang waktu kalian dengan menyangkali perasaan kalian sendiri.”


“Mengapa kamu malah berceramah padaku? Aku tidak mau dengar.” Aku membalikkan badan, berniat keluar dari toilet wanita tersebut.


“Kamu sudah membuka pintu bagi Colin untuk masuk. Bila kamu bersikap seperti ini lagi, kamu berbuat lebih jahat dari yang Colin lakukan padamu, Dira.” Kalimat Charlotte itu menghentikan langkahku. Aku menoleh ke arahnya penuh tanya. “Kamu memeluk dia di bandara. Mengapa?”


Oh, itu yang dia maksud dengan membuka pintu. “Tidak ada alasan khusus. Kami bicara tentang tragedi itu dan aku tidak mau dia menyalahkan dirinya terus.”


“Kamu yakin hanya itu alasannya? Lalu mengapa kamu sampai kehilangan kendali dengan sikap perempuan di kampus tadi pada Colin?” tanya Charlotte lagi.


“Perempuan di kampus?” tanya Clarissa yang tertarik dengan arah pembicaraan kami.


“Iya. Namanya Valeria dan terlihat akrab dengan Colin. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba saja Dira marah dan Colin terpaksa membawanya keluar dari kantor jurusan agar tidak mengganggu jalannya seminar.” Charlotte mengangkat kedua bahunya. “Aku ikut membantu Colin melerai saat gadis itu berusaha menyakiti Dira.”


“Hadi pernah cerita. Katanya, gadis itu menyukainya dan tidak berhenti berusaha mendekatinya, walaupun Hadi sudah menolaknya.” Clarissa menatapku dengan bingung. “Bila dia ingin dekat dengan Hadi, mengapa dia malah bertengkar dengan adiknya?”

__ADS_1


“Dia tidak tahu aku adalah Dira. Hanya kalian yang bisa mengenali aku dengan kacamata dan topi ini.” Aku menunjuk alat yang biasa aku pakai untuk menutupi identitasku.


“Aku tidak mengerti. Apakah dia mengatakan sesuatu yang buruk mengenai Hadi sehingga kamu marah?” tanya Clarissa yang masih bingung.


Aku membuang napas dengan cepat. “Dia menghina Colin. Itu sebabnya aku marah. Bisakah kita kembali ke meja sekarang? Aku sangat lapar.”


Aku tidak mau membahas perasaanku pada Colin dengan mereka. Tadi aku lepas kendali, dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa hal yang serupa tidak akan terjadi lagi. Untung saja, Charlotte dan Clarissa juga sama laparnya denganku. Mereka setuju dan kami kembali ke meja.


Kami sangat beruntung karena makanan sudah diantar dan teman-teman sudah menikmati makanan mereka lebih dahulu. Aku mendesah lega ketika makanan itu akhirnya mengisi perutku. Kakak yang duduk di sisiku tertawa kecil melihat betapa cepatnya aku makan.


Aku dan Kakak hanya diam saja, asyik sendiri dengan makanan kami. Adi dan Lily terdengar sedang membahas game yang Adi mainkan. Lily pasti sudah terbiasa dengan cerita itu karena kakaknya juga seorang pecandu game daring. Charlotte dan Wyatt tidak membuang-buang waktu mereka untuk membuat aku cemburu dengan kemesraan mereka.


Aku sengaja tidak melihat ke arah Colin agar tidak timbul salah paham. Tetapi mendengar suara tawa Clarissa, aku tidak bisa menahan diriku untuk menoleh ke arah mereka. Colin sedang bercerita dan Clarissa mendengarkannya dengan saksama. Wajah mereka berada begitu dekat, membuat aku mulai merasa tidak nyaman.


“Kak, mengapa daging panggangnya diremas begitu?” tanya Adi heran.


Aku menoleh ke arahnya, lalu ke arah tanganku yang dia maksud. Tanpa aku sadari, aku tidak lagi memegang pisau untuk memotong daging. Tanganku malah menggenggam erat daging di atas piring itu. “Ah, dagingnya enak, ya. Lembut lagi. Aku hanya ingin merasakan langsung teksturnya.”


Adi tertawa kecil. “Baiklah, kalau Kakak bilang begitu.”


Kakak membayar tagihan makanan kami, lalu kami kembali ke kendaraan kami masing-masing. Agar tidak bertindak bodoh lagi, aku sengajar menghindar melihat ke arah di mana Colin berada. Dia dan Clarissa masih bicara dengan akrab dan aku tidak bisa lagi menyangkal bahwa aku cemburu.


“Kak Dira perlu bicara dengan Colin. Dan Kak Hadi perlu bicara dengan Clarissa. Yang kalian lakukan di restoran tadi sangat menyedihkan,” kata Adi setelah mobil kami keluar dari kawasan restoran.


“Apa maksudmu?” tanya Kak Hadi tersinggung.


“Kakak makan dengan wajah kesal pada hari bahagia Kakak. Apa namanya kalau bukan menyedihkan? Dan aku tahu mengapa Kakak marah. Colin bicara sangat akrab dengan Clarissa. Iya, ‘kan?” tantang Adi. Kak Hadi hanya merapatkan bibirnya.


“Kakak cemburu dengan Clarissa dan Colin?” tanyaku tidak percaya. “Ini berita yang menarik.”


“Sama saja dengan Kak Dira. Bukankah Kakak juga cemburu tadi?” Kali ini Adi mengejekku. Kak Hadi tertawa keras mendengarnya.


“Heh, anak kecil tahu apa urusan orang dewasa? Kamu main game saja, tidak usah mengomentari apa yang terjadi di restoran tadi.”


“Kakak berdua adalah anak dari Mahendra Perkasa, seharusnya Kakak meniru Papa dalam urusan asmara. Pantang menyerah walaupun orang yang dia cintai menyayangi orang lain dan berusaha untuk pergi darinya. Itu baru namanya berjuang demi cinta.” Dia menatap kami dengan remeh. “Aku bahkan bisa bertindak lebih baik daripada kalian berdua.”

__ADS_1


“Tutup mulutmu. Kamu tahu apa tentang cinta?” kata Kak Hadi membela diri. “Clarissa yang memutuskan hubungan kami. Untuk apa aku memaksa dia tetap bersamaku?”


“Berjuang demi cinta? Aku kurang apa dalam memperjuangkan Colin?” kataku bersamaan dengan Kakak. “Dia selingkuh, Adi. Selingkuh. Silakan tanya Papa bagaimana rasanya dikhianati orang yang sangat kita cintai.”


“Iya, Cole selingkuh. Tetapi setidaknya dia berjuang agar kalian bisa bersama lagi. Clarissa tidak. Dia tidak pernah datang lagi untuk memperbaiki hubungan kami. Aku ada di depan matanya, dia malah asyik mengobrol dengan sahabat baikku. Cole juga sama saja.” Kakak berbalik bicara padaku.


“Apa salah Colin? Dia hanya berteman biasa dengan Clarissa. Kalau memang Kakak ingin bicara dengan Clarissa, mengapa tadi tidak duduk di sisinya? Mengapa Kakak malah duduk di sampingku?” ucapku tidak mau kalah.


“Untuk apa aku duduk di samping gadis yang menganggap aku tidak ada?” Kakak mendengus kesal.


“Kak, dia memukul meja dengan keras karena cemburu. Di mananya dia menganggap Kakak tidak ada??” ucapku mencoba membuka matanya.


Kakak membuka mulut ingin membalas ucapanku, tetapi dia mengurung niatnya itu. Dia menatapku dengan saksama. “Apa katamu? Dia cemburu?”


“Jadi, Kakak percaya dengan alasannya pamit ke toilet?” Aku dan Adi tertawa tidak percaya.


“Berhenti. Kalian berdua berani sekali menertawai aku,” kata Kakak dengan kesal.


“Kakak berdua sudah mengerti sekarang?” tanya Adi dengan wajah penuh kemenangan. “Bicaralah dengan orang yang kalian sukai sebelum kalian bertindak semakin menyedihkan.”


*******


Sementara itu di sebuah mobil~


Wyatt tertawa terbahak-bahak membuat Clarissa semakin kesal. Dia berusaha memukul pemuda itu, tetapi Charlotte menghalanginya. “Dia tidak salah, Clarissa.” Charlotte menggigit bibirnya agar dia tidak ikut tertawa dengan kekasihnya.


“Lihat! Kamu juga menertawai aku!” seru Clarissa kesal melihat ekspresi adiknya.


“Kamu cemburu karena ada banyak wanita yang mendekati Hadi dan alasan kamu memukul meja karena kamu mau pamit ke toilet??” Tawa Wyatt kembali meledak.


“Honey, cukup! Kamu bisa tertawa sepuasmu di kamarmu nanti. Jangan di sini!” Charlotte berusaha untuk menutup mulut pemuda itu dengan tangannya. Tetapi Wyatt memegang tangan itu dan mencium punggung tangannya. Wajah Charlotte memerah.


“Ukh. Hentikan ini! Kalian membuatku mual.” Clarissa pura-pura tidak suka melihat kemesraan adiknya dengan kekasihnya.


“Mual atau cemburu?” goda Charlotte. Wyatt kembali tertawa. “Segera berbaikan dengan Hadi, maka kamu akan mengerti mengapa kami tidak bisa jauh dari satu sama lain.”

__ADS_1


“Tidak, Charlotte. Hadi membutuhkan perempuan yang lebih baik dariku. Aku bukan perempuan yang kuat seperti yang dia katakan. Aku pernah menyerah, maka aku bisa saja menyerah lagi bila sesuatu yang buruk menimpa kami.”


“Jadi, kamu sudah siap melepaskan dia selamanya?” tantang Charlotte. “Apa kamu yakin kamu sudah siap melihat dia bersama gadis yang lain?”


__ADS_2