
*Dira*
Reese benar-benar bukan manusia. Mengapa dia tidak berubah juga? Setelah merendahkan Wendy, merusak hubunganku dengan Laras, dia kini mencoba membunuh Clarissa. Gadis yang malang itu bukan hanya mengalami patah tulang dan gegar otak ringan, tetapi dia juga buta.
Aku tidak bisa membayangkan seperti apa hidupnya saat menjadi bagian dari keluarga Foster. Dia pasti mengalami banyak perlakuan yang buruk dari Reese. Melihat dari sikap orang tuanya, mereka pasti tidak pernah membela Clarissa dan membiarkan putri kandung mereka berbuat sesukanya.
Kasihan Clarissa. Baru beberapa bulan bertemu dengan keluarga kandungnya, tetapi masalah tidak juga berhenti menghantui hidupnya. Tetapi Reese sudah berada di tahanan. Dia tidak akan bisa menyakiti Clarissa lagi. Sayang sekali, masuk penjara dan karier hancur hanya karena seorang laki-laki yang tidak tertarik kepadanya.
Kasihan juga Kak Hadi. Dia tidak ingat dengan kejadian di hotel. Siapa yang membawa dia ke sana dan apa yang mereka lakukan di kamar? Papa terlihat tenang saja, tetapi dia selalu begitu sekalipun ada masalah besar. Apakah ada yang Papa sembunyikan? Tidak mungkin Papa tidak meminta Om Irwan untuk mencari tahu apa yang terjadi kepada Kakak di hotel itu.
Mereka berdua sangat bahagia. Kakak sepertinya tidak menyangkali perasaannya lagi. Clarissa juga nyaman saja meletakkan kepalanya di bahu Kakak dan memegang tangannya. Tidak malu-malu dengan kehadiran kami di kamar itu bersama mereka. Kebahagiaan tidak pernah menjadi milik mereka untuk waktu yang lama. Apa akan ada kejadian buruk lagi yang akan memisahkan mereka?
“Ada apa, sayang?” tanya Colin saat kami makan malam bersama. Aku hanya menggelengkan kepala. “Kamu tidak banyak bicara hari ini. Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?”
“Tidak. Hanya merasa kasihan kepada Clarissa dan Kakak,” akuku pelan.
Colin melihat ke arah pintu kamar di mana Clarissa, Kak Hadi, dan orang tua kami berada. “Mereka sangat bahagia. Mengapa kamu merasa kasihan?” tanya Colin bingung.
“Bagaimana kalau ada sesuatu yang terjadi yang memisahkan mereka lagi?” tanyaku khawatir.
“Mereka akan menemukan jalan untuk bersama lagi. Kamu jangan khawatir berlebihan begitu. Tidak baik untuk kesehatan dan kecantikanmu,” godanya. Aku tertawa kecil. “Nah, begitu lebih baik.”
“Bagaimana dengan orang tuamu, sayang? Apakah mereka sudah berbaikan?” tanyaku pelan.
“Kita lihat saja pada hari Sabtu nanti. Mereka akan menginap di hotel selama akhir pekan ini. Dad sudah memesan kamar untuk tiga malam dua hari. Jadi, mereka akan pulang ke apartemen dari tempat kerja mereka pada hari Senin.” Colin mengedipkan sebelah matanya. Kebiasaan baru yang dia tiru dari Wyatt. Tetapi aku tidak keberatan selama dia nyaman melakukannya.
“Bulan madu, ya? Ide yang bagus,” pujiku senang. “Sabtu, apa itu artinya mereka akan datang ke peragaan busana di hotel?” tanyaku penuh harap.
“Tentu saja. Uncle sudah memberikan undangan untuk orang tuaku dan Lily. Kamu sudah memberi aku undangan, jadi aku tidak membutuhkannya lagi,” jawabnya dengan antusias.
__ADS_1
Semoga saja hubungan Uncle Will dan Tante Gista membaik. Jadi, aku bisa datang lagi ke apartemen mereka untuk berkunjung. Aku akan menjadi istri Colin dalam waktu dekat, sudah saatnya untuk akrab dengan keluarganya. Aku juga perlu merencanakan waktu berkunjung ke rumah kakek dan neneknya. Mereka orang yang sangat baik, dan neneknya bisa memasak kue yang sangat enak.
Pada hari Jumat itu, ruang kuliah kami masih dipenuhi dengan percakapan para mahasiswa yang tidak percaya dengan tindakan Reese yang nekat. Aku dan teman-teman hanya saling bertukar pandang. Kami tidak pernah membahas kejadian itu di kampus, hanya mendengarkan pendapat orang-orang mengenai kejadian yang mereka lihat langsung tersebut.
Charlotte masih menyalahkan dirinya sendiri, karena terlambat menolong kakaknya. Padahal itu bukan kesalahannya. Reese sengaja mendorong Clarissa tanpa peringatan dan memang itu yang dia rencanakan. Dia mau Clarissa terluka, entah karena alasan apa.
Itulah yang mendorong aku untuk datang ke kantor polisi menemui Reese. Dia tidak lagi tampil sempurna dengan riasan wajah, rambut yang tertata rapi, serta pakaian dan perhiasan di tubuhnya. Dia mengenakan kaus berwarna oranye dan celana longgar berwarna hitam.
“Apa yang kamu lakukan di sini!?” Dia memukul terali besi yang memisahkan kami. Aku mundur satu langkah, karena terkejut. “Pergi! Aku tidak mau melihat wajah lickmu! Pergi dari sini!”
“Heh! Tenang!” Polisi wanita yang mengantar aku memukul jeruji itu dengan tongkat. Reese mundur selangkah. “Aku sudah bilang, kalau kamu mau mendapat keringanan hukuman, bersikap baiklah.”
“Bersikap baik kepada perempuan jahat ini!? Aku tidak sudi!” hardik Reese.
“Kamu sebut aku jahat? Siapa di antara kita yang berada di penjara?” tanyaku menantang. “Aku juga tidak sudi repot-repot datang ke sini. Tetapi aku tidak mengerti. Kamu sudah punya segalanya. Apa yang membuat kamu tega menyakiti Clarissa?”
Aneh. Yang aku lihat justru sebaliknya. Dia yang memonopoli perhatian orang tuanya sampai Clarissa tidak mendapatkan kasih sayang dari mereka. Bahkan dia sudah melakukan kejahatan pun, orang tuanya masih membelanya dengan membujuk Tante Lindsey dan Om Edu untuk membebaskan dia dari penjara. Kak Hadi sudah menolak dia mentah-mentah pun, dia masih berusaha mendekati Kakak. Dia yang berusaha merebut milik Clarissa.
“Mengapa kamu diam? Apa yang aku katakan itu benar, ‘kan? Apa Colin akhirnya mengaku bahwa dia dan Clarissa punya hubungan khusus?” katanya menantang aku. “Dia juga melakukan hal itu dahulu. Mengaku tidak punya orang tua sampai aku kasihan kepadanya dan meminta orang tuaku untuk menjadikan dia kakakku. Tidak aku duga, itu semua hanya kedoknya. Tetapi aku bertindak lebih cepat. Aku menjaga orang tuaku, barang milikku, dan pemuda yang aku sukai dari dia. Kamu juga harus melakukan hal yang sama sebelum terlambat.”
Aku tersenyum. “Aku tidak keberatan berbagi dengannya. Dia dan Kakak akan menikah, jadi Papa dan Mama boleh sayang kepadanya. Dia mau tinggal di rumah kami, aku juga tidak keberatan. Kakak sudah cukup sebagai kekasihnya, dia tidak akan menggoda Colinku. Lagi pula kakakku hanya sayang kepadanya, Clarissa tidak akan kekurangan kasih sayang lagi.”
“Diam! Hadi tidak mencintai Clarissa! Hadi hanya untukku!” teriaknya penuh protes.
“Apa kamu tidak salah bicara?” Aku tertawa terkejut. “Kakakku sudah mengusir kamu dari rumah kami, menolak kamu berulang kali, dan kamu berani mengeklaim Kak Hadi hanya untukmu??”
“Semua orang berkata tidak pada awalnya, nanti juga dia akan cinta mati kepadaku,” katanya.
“Nanti kapan? Apa kamu lupa kamu berada di mana sekarang?” Aku melihat ke arah ruang sempit yang menjadi rumah sementaranya itu. “Kalau kamu tidak percaya dengan perkataanku, aku akan mengirim satu undangan untukmu. Kak Hadi dan Clarissa akan bertunangan dalam waktu dekat.” Aku tersenyum, lalu menoleh ke arah polisi wanita yang menemani aku.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Hadi hanya milikku! Clarissa tidak boleh bersamanya!” teriak Reese. Tetapi suaranya tidak terdengar lagi, begitu pintu ditutup kembali.
Pak Sakti melihat aku dengan wajah khawatir. Aku tersenyum kepadanya. Dia tidak mau mengantar aku ke tempat ini, tetapi aku berhasil membujuknya. Entah mengapa dia merasa khawatir. Tempat ini adalah tempat yang paling aman. Mana mungkin para petugas kepolisian ini membiarkan Reese menyakiti aku. Aku membuktikannya dengan kembali ke mobil dengan selamat.
Colin harus menemani adiknya, jadi aku pergi ke hotel sendirian. Vikal sudah menunggu di lobi, lalu kami pergi ke belakang aula bersama. Seorang panitia segera menarik aku menuju sebuah ruangan dan membantu aku mengepas kebaya untuk terakhir kalinya.
Bagi seorang model seperti aku, berdiri hanya dengan pakaian dalam di depan orang lain adalah hal yang biasa. Aku tidak mungkin mengenakan kebaya yang rumit itu seorang diri. Mereka semua mendesah lega begitu melihat kebaya, kain, dan pernak-pernik lainnya muat di tubuhku.
“Urusan kita sudah selesai, jadi kita sudah bisa pulang.” Vikal segera mendekati aku begitu aku keluar dari ruangan tersebut.
“Sedari tadi aku sangat tenang. Tetapi aku sekarang mulai deg-degan.” Aku meletakkan tangan kananku di dada kiriku.
“Wajar saja. Harinya sudah mendekat. Aku juga berdebar-debar.” Vikal menghela napas panjang. “Kita makan malam di sini saja, yuk. Aku traktir. Panggil sopirmu, kita makan bersama.”
“Wah, wah. Apa Pak Billy memberi kamu bonus, makanya kamu mau membayar makan di tempat semahal ini?” godaku sambil mengeluarkan ponsel.
“Ayo, cepat. Sebelum aku berubah pikiran.” Dia menarik tanganku mendekati restoran hotel. Aku menelepon Pak Sakti dan memintanya datang menemui kami.
Karena restoran itu menyediakan makanan secara prasmanan, aku bisa mengambil makanan sebanyak yang aku mau. Vikal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan tidak melarang aku. Dia tahu bahwa aku berolahraga setiap pagi. Jadi, berapa banyak pun aku makan, berat badanku tidak akan berubah drastis.
Keluargaku ikut berangkat bersamaku ke hotel untuk mengikuti peragaan busana. Papa dan Mama mendapat undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan yang diadakan di kebun hotel tersebut. Jadi, Kakak dan Adi menemani mereka.
Vikal membawa aku ke bagian belakang aula, sedangkan keluargaku menuju lokasi resepsi. Sudah ada beberapa model yang datang lebih dahulu. Seorang panitia mendekati aku dan meminta aku untuk duduk di salah satu kursi kosong di depan cermin besar.
“Oh, tidak!” pekik Vikal yang berlari mendekati aku.
“Ada apa, Vikal?” tanyaku bingung sambil melihat ke sekeliling kami. Ada beberapa panitia juga yang terlihat panik di sekitar ruang ganti.
“Oh, sayang. Mengapa kamu selalu saja ditimpa kemalangan?” ucapnya sedih. “Kebaya yang akan kamu kenakan hancur. Ada yang mengguntingnya sampai jadi perca.”
__ADS_1