Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 17 - Ketahuan


__ADS_3

Berdebat dengan Dad tidak akan memberi hasil apa pun. Jadi, lebih baik aku diam, tidak menjawab pertanyaannya itu. Karena alasan apa pun yang aku sampaikan, aku tetap salah. Dad benar. Dia telah memperingatkan aku, sudah menasihati aku panjang lebar betapa terburu-burunya keputusanku itu. Tetapi aku bersikeras ingin menikah dengan Dira. Aku bahkan membiarkan seluruh dunia tahu hal itu.


Yang pertama masuk ke kamar adalah orang tuaku, disusul oleh adikku. Aku masih duduk di sofa dan melihat pemandangan malam kota lewat jendela apartemen. Tidak ada yang berubah. Semuanya berjalan sebagaimana biasanya, sekalipun hubunganku dan Dira telah berakhir. Bahkan aku juga tidak berubah. Aku tidak merasakan apa pun atas perpisahan kami.


Ketika berada di kamar, aku membuka aplikasi permainan lewat ponsel dan tablet, lalu memasukkan semua karakter utamaku ke arena game. Ketiga karakter itu aku jalankan secara automatis. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, aku kembali ke tempat tidur.


Rencanaku sudah berhasil. Dira sudah mengakhiri hubungan kami. Bagian yang paling berat telah terlewati. Saatnya aku fokus pada perkuliahan dan komunitas game-ku. Semoga saja uang yang aku berikan pada Mila cukup untuk memenuhi apa pun kebutuhan yang membuat dia rela melakukan pekerjaan seperti ini.


Aku tidak sengaja membaca tentang jasa yang bisa menolong orang lepas dari hubungan asmara yang tidak diinginkan di media sosial. Sudah beberapa bulan terakhir, aku merasa ada yang kurang dalam hubungan kami. Tetapi aku tidak tega memutuskan hubungan begitu saja. Mulutku tidak akan bisa mengeluarkan sepatah kata pun bila aku melihat air matanya.


Karena itulah aku menggunakan cara ini. Dengan datang bersama seorang gadis yang aku akui sebagai pacarku, maka bukan hanya Dira, semua temanku pun akan percaya. Langkah berikutnya akan lebih mudah bagiku. Begitu hubungan kami berakhir, orang tidak akan bertanya tentang Mila. Jika ada yang bertanya, aku tinggal bilang bahwa dia sudah kembali ke Amerika.


“Hai, Colin!” sapa Valeria saat aku baru masuk ke ruang kuliah. Dia kembali duduk di samping Hadi sehingga aku tidak bisa duduk di sisinya. Sahabatku suka duduk di dekat jendela, jadi aku hanya bisa duduk di kursi kosong di depan atau belakangnya.


Aku memilih untuk duduk di belakangnya. Dosen akan mengabaikan aku yang duduk di kursi barisan belakang dan fokus pada mereka yang duduk di depan. Jadi, aku akan aman sepanjang perkuliahan dan tidak perlu menjawab pertanyaan acak yang akan diajukannya selama mata kuliah berlangsung.


“Selamat pagi, Valeria,” sapaku sambil mengeluarkan buku dari tas ranselku, lalu meletakkan di atas meja bersama peralatan menulisku.


“Mengapa kalian tidak saling menyapa? Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Valeria setengah menggoda. Dia menatap bergantian antara aku dan Hadi.


Hadi memang sangat beruntung. Ada begitu banyak perempuan yang melemparkan diri mereka dengan rela ke dalam pelukannya. Mulai dari gadis cantik yang berasal dari keluarga biasa hingga mereka yang kaya raya. Tidak jarang mereka menggunakan cara yang ekstrem setiap kali sahabatku menunjukkan rasa tidak tertariknya.


Valeria adalah salah satu gadis yang tidak kenal menyerah. Dia sudah pernah menyatakan cinta dan Hadi menolaknya. Tetapi dia masih ada di sini, meyakinkan Hadi bahwa dia hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Padahal Hadi tidak peduli dengan perasaannya sama sekali. Dia berada di dekatnya karena suka atau cuma berteman, dia tidak mau tahu.


Bila di hadapan orang asing, Hadi selalu tampil dingin, jaga jarak, dan bicara apa adanya, sikapnya berbanding terbalik saat dia bersama keluarga atau orang yang disayanginya. Dia sangat perhatian, pelindung, dan suka mengalah. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan itu, punya dua sifat yang sangat berbeda. Sepertinya dia banyak meniru hal itu dari Uncle Hendra.

__ADS_1


Dosen datang tepat waktu, jadi baik aku maupun Hadi tidak perlu menjawab rasa ingin tahu Valeria. Akhir-akhir ini dia berusaha sangat keras agar bisa berada dalam lingkaran persahabatan aku dan Hadi. Hal yang mustahil terjadi, karena kami hanya mengizinkan saudara kandung kami untuk masuk lingkaran tersebut, bukan orang lain.


“Aku akan ke kantor jurusan untuk menyerahkan judul proposal penelitianku. Apa kamu mau ikut?” tanya Hadi setelah mata kuliah untuk hari ini berakhir.


“Kebetulan sekali! Aku juga akan ke sana. Ayo, kita pergi bareng,” ajak Valeria.


Hadi masih menunggu jawabanku, maka aku mengangguk dan berdiri. Kami berjalan bersama menuju pintu dengan Valeria berjalan di belakang kami. Aku berhenti dan mempersilakan Valeria untuk keluar ruang kuliah terlebih dahulu. Aku dan Hadi saling bertukar pandang tanpa kata.


Ketua jurusan berada di mejanya, jadi kami bisa segera menyerahkan proposal yang sudah kami siapkan. Pria itu memerhatikan judul yang ada bagian depan proposal kami, lalu mengangguk. Dia meminta waktu beberapa hari untuk mempelajari usulan judul tersebut dan mendiskusikannya dengan dosen lain yang akan menjadi pembimbing kami.


“Sudah lewat jam makan siang. Apa kalian lapar? Bagaimana kalau kita makan bersama?” tanya Valeria antusias. “Kantin pasti sudah sepi sekarang.”


“Aku harus menjemput adikku, jadi aku tidak bisa ikut denganmu ke kantin.” Aku menoleh ke arah Hadi. Dia hanya diam dan berjalan menuju tempat parkir. Valeria terlihat kecewa, aku hanya bisa tersenyum tipis. “Sampai besok.”


Perempuan yang aneh. Dia sudah tahu bahwa Hadi tidak tertarik padanya, untuk apa dia berusaha sekeras itu untuk mendapatkan perhatiannya? Ah, iya. Aku lupa. Hadi adalah pewaris utama atas seluruh kekayaan keluarganya. Mana ada gadis yang mau melewatkan kesempatan menikah dengan dia dan hidup bergelimang harta selamanya?


“Bila aku marah akan membuat kamu meminta maaf pada adikku dan mengembalikan senyum di wajahnya, maka aku akan melakukan itu,” katanya tanpa menoleh sedikit pun ke arahku.


“Kamu tahu kami tidak mungkin kembali bersama, Hadi. Aku sudah bahagia dengan yang lain.” Aku menghentikan langkahku saat merasakan tangannya berada di dadaku, menahan tubuhku agar berhenti berjalan. Dia menatap aku dengan tajam. “Kamu percaya atau tidak, aku mencintai Mila.”


“Dosen menyelamatkan kamu dari menjawab pertanyaanku beberapa hari yang lalu. Aku akan ulang lagi pertanyaanku. Bagaimana bisa gadis yang lahir dan besar di Amerika bisa berbahasa Indonesia dengan fasih?” tanyanya dengan nada serius.


Aku menelan ludah dengan berat. Dia menanyakan hal yang senada dengan Dad. Aku mengerti ayahku bisa membedakan mereka yang menggunakan aksen Amerika palsu dengan yang alamiah. Tetapi bagaimana Hadi bisa tahu bahwa Mila bisa berbahasa Indonesia?


“Itu karena aku yang mengajari dia,” jawabku dengan santai.

__ADS_1


“Serius, Colin? Aku memberi kamu beberapa kali kesempatan dan kamu masih juga membohongi aku? Kamu pasti tidak tahu bahwa dia kuliah di fakultas yang sama dengan kita, ‘kan? Dan aku yakin kamu juga tidak tahu bahwa dia kuliah di jurusan akuntansi.”


Tidak mungkin. Dia pasti sedang membohongi aku supaya aku bicara jujur padanya. Bila kami kuliah di fakultas yang sama, bagaimana bisa kami tidak pernah bertemu dengan Mila sebelumnya? Ah, iya. Aku terlalu fokus bermain atau langsung pergi menjemput Lily dari sekolah, jadi tidak pernah bergaul dengan para mahasiswa di kampus. Hadi juga begitu. Bila dia tidak menjemput adiknya, maka dia akan ke kantor ayahnya sampai sore.


“Aku melihat dia bersama pria lain yang usianya jauh lebih tua darinya minggu lalu. Awalnya, aku pikir dia selingkuh darimu, tetapi belakangan aku mengerti. Ini adalah pekerjaannya. Menjadi pacar sewaan untuk laki-laki pengecut yang tidak bisa memutuskan hubungan dengan cara baik-baik,” kata Hadi dengan tajam. “Lalu aku bertemu dengan dia lagi saat menemani Papa memberi kuliah di kampusnya. Jadi, kamu masih punya sanggahan lagi?”


*******


Sementara itu tidak jauh dari sana~


“Hachii!” Untuk kesekian kalinya Mila bersin tanpa sebab. Udara hari itu tidak dingin, dia juga tidak demam atau flu. Tetapi sudah beberapa kali dia harus mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang di sekelilingnya.


“Apa kamu yakin bahwa kamu tidak apa-apa? Mengapa kamu bersin terus?” tanya Manda dengan nada khawatir. Mila menggeleng pelan, lalu membersihkan hidung mancungnya.


“Untung saja aku sudah memberikan usulan judul proposalku. Kalau tidak, aku akan malu bersin begini di depan dosen kita.” Mila berjalan menuju pintu keluar kantor jurusan.


“Kamu beruntung bisa mengajukan proposal pada semester ini. Aku harus menunggu sampai semester depan agar jadwal kuliahku tidak terlalu padat.” Manda cemberut.


“Bukankah kamu yang memutuskan untuk menundanya sampai semester depan? Jumlah kreditmu cukup kalau kamu mau mengambil mata kuliah itu pada semester ini.” Mila mengeluarkan ponselnya yang bergetar di dalam tasnya. Sebuah pesan dari Sigit. Dia segera tahu apa isinya.


“Aku tidak seperti kamu yang berotak encer, Mila. Lagi pula untuk apa kamu terburu-buru untuk tamat? Memangnya sudah ada perusahaan yang akan menerima kamu bekerja setelah diwisuda nanti?” tanya Manda ingin tahu.


“Biaya kuliah itu tidak murah, Manda. Aku tidak mau menggunakan lebih banyak uang untuk kampus ini jika aku bisa lulus lebih cepat. Setiap rupiah itu berharga bagiku. Kalian yang hidup dari sokongan orang tua tidak akan mengerti sulitnya mengumpulkan uang.”


“Mengapa kamu bicara kasar begitu?” ucap Manda tersinggung.

__ADS_1


“Maafkan aku. Tetapi kalau kamu berada di posisiku, kamu juga akan melakukan hal yang sama.” Mila tersenyum tipis, teringat dengan asal usulnya yang tidak jelas. “Kamu tidak akan kuliah dengan santai begini bila bukan karena dukungan orang tuamu.”


__ADS_2