
Tentu saja kedua kakek dan nenekku dengan cepat menjawab tidak. Aku sengaja menunggu sampai mereka cukup istirahat dan kenyang usai makan malam untuk membahas kasus Reese. Mereka berempat curiga mengapa aku mendadak membicarakan hal itu lagi.
“Kedua orang tua Reese datang kemarin sore, Nek.” Charlotte yang menjawabnya. Dia menjulurkan lidahnya ketika aku menatapnya penuh protes.
“Kalau begitu, tidak boleh. Apa kamu pikir gadis itu akan berhenti mengganggu kamu setelah kita lepaskan nanti? Jangan-jangan dia malah menyakiti kamu lebih dari ini.” Nenek bergidik. “Tidak. Aku tidak setuju dan tidak ada seorang pun yang boleh terpengaruh bujukan Clarissa.” Nenek melotot ke arah Kakek untuk menunjukkan bahwa kalimat itu ditujukan kepadanya.
“Sebelum kita mengambil keputusan, sebaiknya kita dengarkan dia. Apa yang membuat dia berubah pikiran. Aku yakin Clarissa punya alasan yang kuat.” Grandma tersenyum kepadaku. Aku tahu bahwa akan ada setidaknya satu orang yang bisa aku ajak bicara. “Katakan, sayang. Mengapa kamu ingin kita bicara dengan gadis itu?”
“Aku tahu dia orang yang jahat, Grandma. Apa yang dia lakukan kepadaku cukup untuk menjadi alasan kita memenjarakan dia.” Aku menatap satu per satu keluargaku untuk mengetahui reaksi mereka. “Tetapi dia masih muda. Usianya hanya dua tahun lebih muda dariku. Bayangkan dengan usia semuda itu, dia kehilangan masa depannya. Jadi, bila dia mau berubah, aku mau memberi dia kesempatan terakhir untuk memperbaiki hidupnya.”
“Apa yang Clarissa katakan masuk akal. Tetapi aku tidak setuju untuk memberi gadis itu kesempatan lagi. Dia sudah mendapat banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik sejak Clarissa keluar dari rumah mereka. Yang lebih gilanya lagi, Clarissa membayar semua biaya hidupnya selama bersama mereka atas ide gadis itu. Apakah dia berubah? Tidak. Dia selalu saja bertingkah dia lebih baik dari Clarissa.” Charlotte menyatakan pendapatnya lebih dahulu.
“Aku tahu apa yang aku katakan ini akan berbeda dengan pendapat kalian semua,” kata Grandpa. “Tetapi Clarissa ada benarnya. Gadis itu masih muda dan emosional. Bila bicara dengannya dan mencari kata sepakat bisa memperbaiki hubungan mereka, mengapa kita tidak melakukannya? Clarissa yang menjadi korban gadis itu, jadi dia berhak untuk menentukan nasib gadis itu.”
Aku tersenyum kepadanya. “Terima kasih, Grandpa.”
Nenek mendesah pelan dan melihat ke arah Kakek. Sinyal bahwa Nenek menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadanya. “Baiklah. Aku akan bicara dengan pengacara kita, lalu kita temui dia begitu mendapatkan izin bagi kita untuk menemui Reese.”
“Terima kasih, Kakek, Nenek!” seruku senang. Sayang sekali, aku tidak bisa mendekat dan memeluk mereka karena kondisi kaki dan tanganku.
Kabar baik itu datang pada hari Senin malam. Kami bisa datang ke rumah tahanan untuk menemui Reese. Walaupun ini bukan pertama kalinya aku keluar dari rumah, rasanya tetap tidak nyaman bepergian dengan kondisi tangan dan kaki masih memakai gips. Tetapi aku tidak mengeluh. Apa pun akan aku lakukan asal urusanku dengan keluarga Foster berakhir untuk selamanya.
Pengacara Kakek berhasil meyakinkan mereka untuk memberi kami sebuah ruangan agar bisa duduk bersama dan bicara baik-baik. Orang tua Reese juga ikut datang untuk berdiskusi bersama kami. Aku berada di antara Kakek dan pengacaranya, sedangkan orang tua Reese di seberang kami.
Beberapa saat menunggu, pintu kembali dibuka dan seorang petugas lapas wanita masuk membawa Reese. Gadis itu kelihatan sangat berbeda tanpa riasan dan pakaian bagusnya. Tetapi aku sudah pernah melihat penampilannya yang lebih buruk dari itu, jadi keadaannya itu tidak mengejutkan.
“Untuk apa dia ada di sini, Ma?” tanya Reese kepada wanita yang duduk di sisi kanannya. “Bukankah kita hanya akan bicara dengan orang yang menuntut aku?”
__ADS_1
“Bersikaplah baik, Nak. Pelapor tidak akan menarik tuntutannya, kalau kamu tidak bisa meyakinkan dia bahwa Clarissa juga mau kamu dibebaskan,” ucap Bu Foster menjelaskan peranku. “Jadilah anak yang baik. Kita dengarkan permintaan mereka. Oke?”
Pengacara Kakek memberikan tiga buah map kepada mereka untuk dipelajari. Dokumen itu ditulis dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan Inggris. Jadi, kedua belah pihak bisa memahami isi dari surat perjanjian tersebut.
Reese tertawa terkejut menarik perhatian kami semua. Dia mengangkat kepalanya dan menatap aku dengan kening berkerut. “Kamu yang menulis ini?” tanyanya sambil tertawa. “Kamu serius aku harus meminta maaf kepadamu? Aku tidak bersalah.”
“Nak, apa yang kamu katakan?” tanya ibunya yang memang tidak bisa berbahasa Indonesia.
“Jika dia pikir aku mau meminta maaf kepadanya, dia salah, Ma,” ucap gadis itu menjawab dengan serius. “Mama baca sendiri itu yang menjadi syarat pertamanya.”
“Kamu hanya perlu meminta maaf, mengapa kamu tidak mau melakukannya? Apa kamu tidak lihat apa yang terjadi padanya karena perbuatanmu?” ujar papanya. “Dia bisa saja cacat. Mereka tidak meminta uang pengobatannya sebagai ganti rugi, hanya meminta kamu mengatakan maaf.”
“Aku tidak sudi meminta maaf kepadanya. Dia sudah mengambil segalanya dariku. Dia mengambil perhatian kalian, menggoda laki-laki yang aku sukai dahulu di sekolah, lalu dia sekarang berani bersikap arogan hanya karena lebih kaya dari kita. Tidak. Apa yang dia alami bahkan belum cukup untuk membalas semua rasa sakit yang dia sebabkan sejak aku masih kecil!” protesnya.
Bagus. Ini adalah Reese yang ingin aku tunjukkan kepada orang tuanya. Mereka harus tahu seperti apa gadis yang mereka besarkan sebenarnya. Dia tidak akan mau kalah, mengalah, apalagi meminta maaf. Sekalipun dia yang bersalah, dia akan menutup mata dan melimpahkan segalanya kepada orang lain. Siapa saja. Asal bukan dia.
“Iya! Kalau perlu, dia harus mati! Aku tumbuh besar tanpa kasih sayang kalian. Hanya dia yang kalian sayangi. Foto yang paling banyak adalah fotonya. Video perkembangannya bahkan lebih lengkap dari yang kalian lakukan untukku. Apa lagi namanya kalau bukan merebut perhatian kalian dariku?” seru Reese dengan marah. “Semua tumbuh kembangnya kalian catat dan koleksi. Katakan, Pa. Di bagian mana perhatian kalian hanya untukku??”
“Oh, Tuhan ….” gumam Bu Foster dengan mata berlinang. “Apa yang telah aku lakukan kepadamu?”
“Ka-kamu salah paham, Reese.” Pak Foster melihat ke arahku sebelum menatap putrinya lagi. “Kami tidak melakukan itu karena kami lebih perhatian dan sayang kepadanya.”
“Papa bohong! Aku melihatnya sendiri. Kalian meminta dia tersenyum dan melakukan sesuatu, lalu memotretnya atau merekam kegiatannya. Aku sampai bingung, siapa sebenarnya anak kandung kalian di antara kami berdua.”
Bu Foster menangis terisak. “Kamu salah paham, Nak,” ucapnya lirih.
“Karena pelaku sudah menyatakan keberatannya, maka pertemuan ini tidak ada gunanya untuk kita lanjutkan,” ucap pengacara Kakek. Dia mengambil kembali ketiga map yang ada di atas meja.
__ADS_1
“Tu-tunggu. Beri waktu kepada putriku untuk memikirkannya sebentar. Dia akan memenuhi semua permintaan kalian. Kami hanya perlu menjelaskan sesuatu kepadanya,” kata Pak Foster memohon.
“Tidak. Kalian pergi dari sini! Aku tidak sudi meminta maaf kepadanya! Kalian hanya bisa menahan aku untuk beberapa tahun. Tetapi aku tidak mau seumur hidup mengingat aku pernah merendahkan diriku di depan orang yang tidak tahu diri ini.” Reese menatap aku dengan tajam.
“Reese, jangan begini,” isak Bu Foster.
Aku melihat mereka dengan penuh rasa iba. Kasihan, keputusan diam-diam orang tuanya sudah membuat Reese salah paham selama ini. Dia membenci orang yang salah. Aku adalah korban, sama halnya dengan dia. Aku tidak mengingat semua foto dan video itu, tetapi dia mengetahui segalanya.
Seandainya aku tahu, aku akan mengerti mengapa dia cemburu kepadaku. Tidak. Kami sama-sama cemburu, karena perhatian orang tua yang berat sebelah. Bedanya, aku tidak pernah berniat untuk menyakiti dia. Karena biar bagaimana pun, kami adalah saudara.
Kami keluar dari ruangan itu dan membiarkan mereka bicara. Aku sudah memberi kesempatan kepada Reese untuk menyelamatkan reputasinya sendiri. Jadi, aku tidak punya utang kepada diriku sendiri atau orang tuanya. Aku melakukan yang terbaik yang aku bisa dengan membujuk kedua kakek dan nenekku. Reese sendiri yang sudah membuang kesempatan emasnya.
“Bagaimana?” tanya Nenek yang menjadi orang pertama mendekati kami.
“Dia menolak untuk meminta maaf, jadi proses hukum akan tetap berjalan,” jawab Kakek. Dia menoleh ke arah pengacaranya. “Ayo, kita bicarakan di depan. Kalian pergilah ke mobil. Aku akan menyusul.” Kakek mengajak pria itu untuk mengikutinya.
“Kamu kelihatan tenang sekali. Aku curiga. Jangan-jangan kamu sudah tahu bahwa gadis jahat itu akan menolak untuk meminta maaf kepadamu.” Charlotte memicingkan matanya saat kami sudah berada di bagian depan rutan tersebut.
“Kami sudah menjadi saudara selama belasan tahun, Charlotte. Bukan satu atau dua hari. Tentu saja aku mengenal cara berpikirnya. Tetapi aku juga berharap dia akan berubah, demi orang tuanya.” Aku mengangguk ketika Wyatt menawarkan untuk membantu aku berpindah ke mobil.
“Lebih memilih mendekam di penjara daripada hidup bebas, dia memang tidak berhenti membuat aku terkejut. Mendekati Hadi, menjalin pertemanan dengan rivalnya demi mendapatkan kakaknya, luar biasa.” Charlotte berdecak pelan. “Nenek, boleh kita mampir ke toko membeli keripik kentang?”
“Kamu baru membahas hal yang serius, lalu menyebut keripik kentang?” ucap Nenek terkejut. Kami tertawa mendengarnya.
“Membicarakan Reese membuat aku cepat lapar,” keluhnya.
“Ngomong-ngomong, ke mana Hadi? Katanya dia mau menemani kamu ke sini,” tanya Wyatt.
__ADS_1