Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 32 - Resah


__ADS_3

*Mila*


Aku menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan. Sudah berhari-hari aku tidak tenang menunggu kabar dari Hadi. Untung saja ponselku terbuat dari bahan yang kuat atau alat komunikasi ini sudah lama patah karena aku genggam dengan erat.


Berulang kali aku ingin mengirim pesan kepadanya, berulang kali juga aku membatalkan niatku itu. Meskipun dia menyebut aku sebagai temannya, aku tetap saja merasa segan mengganggunya terus dengan pesan dariku.


Ponselku bergetar, aku melihat ke arah layar dengan malas-malasan. Pesan dari Sigit lagi. Aku tidak mau menerima klien untuk sementara waktu. Bila pasangan itu adalah keluargaku, maka aku tidak memerlukan uang lagi untuk pergi ke Amerika. Tabunganku sudah cukup untuk membiayai hidupku sampai aku mendapatkan pekerjaan.


Tawaran yang diajukan klien yang baru semakin lama semakin tidak masuk akal. Aku mengerutkan kening membaca jumlah yang disebutkan hanya untuk menemani seorang pria berusia tiga puluh tahun untuk makan malam bersama keluarganya.


Ini seperti bukan pesan dari Sigit. Tetapi ini adalah nomornya dan hanya dia yang tahu nomor ponsel ini. Nomor yang hanya aku gunakan untuk berkomunikasi dengannya. Dia sedang terdesak dengan keadaan atau kliennya yang tidak kenal menyerah, aku tidak tahu.


Aku selalu melatih diriku sejak hidup mandiri dengan baik. Ketamakan adalah sumber dari masalah, jadi aku tahu bahwa uang yang berjumlah besar itu tidak selalu berarti baik. Durasi makan malam paling lama sekitar dua jam, atau tiga jam. Mengapa pria ini sampai menawarkan lima puluh juta hanya untuk tiga jam saja? Dia tidak akan memaksa aku tidur dengannya, ‘kan?


Kerja sama antara aku dan Sigit sifatnya tidak terikat. Kami tidak menandatangani kontrak apa pun, jadi dia tidak bisa memaksa aku menerima semua klien yang datang. Kerja sama kami didasari oleh rasa percaya. Sigit berjanji hanya akan memperkenalkan aku kepada pria yang mau memenuhi semua syarat yang aku ajukan. Karena itu, aku akan berhenti detik itu juga jika ada klien yang tidak menghormati aku. Dan Sigit tidak bisa menuntut aku dan harus tetap membayar jasaku.


Pekerjaan ini sangat berisiko, aku tahu itu. Tetapi aku bisa membela diriku sendiri selama klienku tidak membawa belasan pria bersamanya. Dan di sinilah rasa percaya antara aku dan Sigit diuji. Dia memastikan klienku adalah orang baik-baik. Di sisi lain, aku berusaha untuk mengerjakan tugasku sesuai kesepakatannya dengan klien.


Ponselku bergetar, aku melihat layarnya yang menyala. Sigit. Aku mendesah pelan sebelum menjawab panggilan masuk darinya. “Ya,” sapaku singkat.


“Ada apa? Apa kamu sedang sakit?” tanyanya dengan nada khawatir, aku cukup terkejut mendengar itu. Dia tidak pernah khawatir kepadaku. “Sudah dua minggu dan kamu menolak semua klien yang datang. Kamu hanya cuti atau jangan-jangan kamu memutuskan untuk berhenti?”


“Aku sedang mempersiapkan proposal penelitianku, Sigit. Mungkin kamu lupa. Mulai dari semester depan, aku adalah mahasiswa tingkat akhir. Aku harus menyelesaikan seminar proposal pada akhir semester ini agar pada semester depan aku bisa mengerjakan skripsiku,” jawabku.

__ADS_1


“Jadi, apa yang harus aku lakukan? Apa aku hentikan sementara promosi jasamu di medis sosialku? Berapa lama yang kamu butuhkan untuk cuti sejenak?” tanya Sigit.


“Untuk tiga bulan ke depan, tangguhkan semua iklan mengenai aku. Setelah itu, aku akan memberi tahu kamu lagi. Aku benar-benar perlu tamat segera, Sigit. Dengan begitu, aku bisa lebih konsentrasi dalam bekerja.”


“Apa maksud kamu, ini akan jadi pekerjaan kamu untuk seterusnya?” Ada nada penuh harap pada suaranya. Aneh. Apa dia begitu naif sampai berpikir bahwa ada orang yang mau bekerja seperti ini seumur hidupnya? Untuk apa aku kuliah bila aku ingin mencari uang dengan cara ini?


“Akan kita bicarakan nanti,” kataku tanpa menjanjikan apa pun.


“Walaupun aku tidak senang dengan keputusanmu ini, baiklah. Terserah kamu saja. Tetapi jangan marah bila aku mengirim pesan andai ada klien yang bersedia membayar jasamu dengan mahal. Siapa tahu kamu akan menjawab iya,” katanya setengah menggoda.


Agar pembicaraan tidak semakin panjang, aku hanya mengiyakan kalimatnya tersebut. Hubungan telepon berakhir setelah kami mengucapkan kata salam. Aku mendesah keras dan melihat jam digital pada bagian atas layar ponsel. Hari masih panjang, tetapi aku tidak punya kegiatan apa pun untuk aku lakukan pada hari ini.


Biasanya aku menemani klien untuk berpura-pura menjadi kekasih sehari mereka. Jadi, aku punya aktivitas dari pagi sampai malam hari. Awalnya, aku berencana mengerjakan konsep proposalku. Tetapi pikiranku tidak bisa jauh dari Om Edu dan Tante Lindsey. Aku sudah tidak sabar ingin ikut memberikan sampelku untuk tahu hubungan kekerabatan kami.


Seandainya aku tidak sengaja bertemu dengan Hadi di tempat ini, aku bisa bertanya banyak hal padanya. Tetapi pemuda seperti dia pasti tidak suka berada di tempat keramaian ini kalau bukan karena terpaksa. Dia tipe yang lebih suka menghabiskan waktunya bersama keluarganya.


“Mila?” Seseorang memanggil namaku dari belakang. Sayangnya, suara itu milik seorang perempuan, bukan laki-laki. “Iya, benar. Kamu Mila.”


“Pak Foster, Ibu Foster,” sapaku dengan sopan. Aku sudah tidak punya rasa sayang atau simpati lagi untuk mereka. Hanya rasa hormat seorang anak yang pernah mereka besarkan. Yang seharusnya tidak perlu, karena aku sudah membayar semua yang mereka keluarkan dan lakukan untukku.


“Jangan bersikap begini. Kita bukan orang asing.” Ibu Foster tersenyum sedih. Dia melihat ke sekitar kami. “Kamu sendirian atau datang bersama teman?”


“Sendiri. Aku hanya ingin mencari tempat makan yang tidak terlalu ramai,” jawabku dengan jujur. Mereka saling bertukar pandang. Kesempatan itu aku gunakan untuk melihat penampilan mereka. Sepertinya ada acara khusus sehingga mereka tampil dengan pakaian resmi.

__ADS_1


“Kebetulan, kami juga akan makan camilan sambil menunggu jam makan malam.” Ibu Foster melirik ke arah suaminya yang mengangguk setuju. “Daripada makan sendiri, bagaimana kalau kamu makan bersama kami? Jangan khawatir mengenai tagihan. Kita akan membayar makanan masing-masing sesuai kesepakatan kita.”


Terjadi insiden pada hari aku membayar sejumlah uang yang mereka sebut sebagai uang yang mereka gunakan untuk membesarkan dan merawat aku dari kecil. Reese ribut dengan pelayan yang membawa tagihan ke meja kami dan meminta agar pesananku dipisahkan. Wanita itu meminta kami yang memisahkan tagihannya sendiri, karena mereka tidak bisa membuat dua bon. Reese yang memang tidak suka bila permintaannya ditolak protes keras, maka aku yang membayar semuanya.


Sejak hari itu, dia menetapkan bahwa bila ada acara tertentu di mana aku harus ikut makan bersama mereka, maka aku harus membayar makananku sendiri. Hal yang tentu saja segera aku setujui. Aku juga tidak sudi disebut pengemis karena aku bisa membayar makananku sendiri.


“Aku terpaksa menolak, Bu. Terima kasih.” Mendengar kalimat membayar makanan sendiri, aku tahu bahwa Reese akan ikut makan bersama mereka. Aku tidak mau merusak suasana hatiku sendiri berurusan dengan dia. “Oh. Hari ini ulang tahun Bu Foster!”


Wanita itu tersenyum bahagia. “Aku pikir kamu tidak akan mengingatnya. Karena itu, tolong, jangan menolak. Aku ingin kita bisa berkumpul lagi. Hanya makan bersama. Reese tidak akan datang sampai sekitar dua jam lagi. Kita masih punya waktu untuk sekadar mengobrol. Aku mohon.”


Aku pun mengalah dan mempersilakan mereka yang memilih tempat. Dengan begitu, mereka tidak akan memilih tempat yang bisa saja didatangi Reese. Kami memilih sebuah kafe yang menyediakan menu utama dan kudapan. Karena belum jam makan malam, masih ada meja kosong untuk kami.


Mereka bercerita mengenai keadaan rumah setelah aku tidak ada. Aku tidak terlalu peduli saat mereka menyebut bahwa mereka merasa kehilangan aku. Kalimat itu terdengar tidak tulus karena mereka diam saja saat aku diusir oleh putri mereka sendiri dari rumah.


Ketika mereka bercerita mengenai Reese, aku bisa mendengar ada nada bangga pada suara mereka setiap kali menyebut namanya. Dia kini sedang mempertimbangkan untuk merambah modeling secara internasional. Aku tidak melihat kemungkinan itu akan terbuka untuknya bila dia masih punya watak seperti yang dia tunjukkan di depanku dan Hadi.


Saat mereka bertanya mengenai kehidupanku, maka aku hanya menjawab seadanya saja. Aku tidak memberi tahu mereka bahwa saat ini aku sedang bersiap untuk mengerjakan tugas akhir. Aku juga tidak buka mulut tentang rencanaku mencari orang tuaku atau kemungkinan bahwa mereka selama ini berada di dekat kami.


Usai makan, kami membayar tagihan kami masing-masing. Kami sengaja tidak duduk berlama-lama karena sudah ada antrian orang yang juga ingin makan. Mereka sudah memesan tempat di restoran di mana mereka akan merayakan ulang tahun Ibu Foster bertiga saja. Jadi, mereka tidak khawatir tidak akan mendapatkan meja.


Aku pamit kepada mereka begitu kami berada di luar kafe. Ibu Foster mengulurkan tangannya, tetapi aku menolak dengan sopan. Reese tidak suka melihat aku akrab dengan orang tuanya. Dia ada atau tidak di sekitar kami, aku tetap menjaga jarak dengan mereka.


“Dasar pencuri! Beraninya kamu mendekati orang tuaku saat aku tidak bersama mereka!” Aku merasakan dorongan yang begitu kuat dari arah belakangku saat aku baru saja melangkahkan kaki. Aku kehilangan keseimbangan dan di depanku ada seorang pelayan sedang membawa baki.

__ADS_1


__ADS_2