Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 103 - Ucapan Selamat


__ADS_3

Aku mengendarai sepeda motorku dengan hati-hati sampai ke sebuah rumah besar berpagar tinggi. Seorang sekuriti tersenyum saat membukakan gerbang secara automatis dengan tombol yang ada di pos jaganya. Aku memberikan sekotak roti untuknya, lalu memarkirkan kendaraanku di dekat teras rumah. Pak Abdi sudah berdiri di sana menunggu aku masuk.


“Selamat sore, Pak,” sapaku dan memberikan sekotak roti kepadanya.


“Selamat sore, Tuan. Nyonya ada di ruangannya, saya akan panggilkan sebentar lagi.” Pria itu menutup pintu di belakangku.


“Tidak. Aku datang ke sini untuk bertemu dengan Dira,” ralatku. Dia mengerutkan keningnya, melirik ke arah buket bunga yang aku bawa, lalu mengangguk pelan.


“Silakan tunggu di ruang depan, saya akan memberi tahu Nona.” Dia membalikkan badannya dan berjalan ke arah bagian belakang rumah.


Aku berjalan menuju ruang depan dan menunggu kedatangan Dira dengan sabar. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Aku melakukan itu berkali-kali untuk membantu menenangkan debaran jantungku yang memburu.


Bu Yuyun datang menyajikan makanan ringan dan minuman dingin untukku. Dia mempersilakan aku untuk menikmatinya. Hal yang tidak akan aku tolak. Mengisi perut dan melepaskan dahaga ternyata tidak mampu mengurangi kegugupanku. Aku tidak tahu mengapa aku merasa begini. Yang akan aku temui adalah Dira. Gadis yang sudah aku kenal sejak aku berusia lima tahun.


Pintu terbuka lagi, dan kali ini gadis yang aku tunggu yang datang. Aku berdiri sambil memegang buket bunga tersebut. Dia hanya berdiri di dekat pintu dengan kedua tangannya menyilang di depan dadanya. Setelah kejadian terakhir di bandara, aku pikir hubungan kami sudah lebih baik. Ternyata aku salah. Dia masih marah padaku.


“Kata Pak Abdi, kamu ingin bertemu denganku. Ada apa?” tanyanya dengan nada tidak suka.


“Aku mendengar kabar baik bahwa kamu lulus, jadi aku ingin mengucapkan selamat.” Aku melihat ke arah buket yang aku pegang. “Ini untukmu.”


“Letakkan saja di atas meja itu. Nanti Bu Yuyun yang akan menatanya di vas. Apa masih ada lagi?” tanyanya tidak sabar.


Aku kehabisan kata-kata, karena memang tujuan kedatanganku hanya untuk mengucapkan selamat. “Tidak. Tidak ada lagi.”


“Lain kali, kamu bisa sampaikan pesanmu pada Pak Abdi. Bunganya juga bisa kamu titipkan padanya. Jangan memanggil aku turun dari kamar hanya untuk mendengar satu kata itu saja.” Dia menatapku dengan tajam. “Itu berlaku untuk ucapan selamat lainnya. Apa kamu mengerti?”


“Ada apa denganmu?” tanyaku bingung.


“Apa maksudmu ada apa denganku?” Dia balik bertanya.

__ADS_1


“Kamu bersikap sangat baik padaku terakhir kali kita bertemu. Mengapa kamu kembali bersikap seperti ini? Apa aku telah melakukan kesalahan baru lagi?” tanyaku bingung.


“Kalau kamu pikir aku akan terjebak seperti halnya Wyatt menjebak Charlotte, maka itu tidak akan pernah terjadi. Aku dan kamu punya kasus yang berbeda. Aku tidak akan kembali lagi padamu, Colin. Jadi, jangan temui aku lagi. Jangan bawakan aku bunga. Juga jangan bersikap manis padaku,” kata Dira dengan tajam, membuat aku semakin bingung.


“Apa maksudmu? Apa hubungan antara Wyatt dan Charlotte dengan niat baikku? Aku murni hanya datang untuk mengucapkan selamat. Tidak ada maksud lain?”


“Tidak ada maksud lain? Kamu tidak berniat membujuk aku kembali padamu dengan melakukan ini?” tantangnya dengan ekspresi bosan.


“Kamu sudah lama tahu bahwa aku ingin kita kembali bersama. Tetapi bukan berarti semua hal yang aku lakukan untukmu hanya demi tujuan itu. Aku tulus mengucapkan selamat kepadamu.” Aku mencoba untuk menjaga emosiku agar tidak terpancing bertengkar dengannya.


“Untuk apa kamu ingin kita kembali bersama?” tanyanya tiba-tiba. Begitu mendadak sampai aku terdiam cukup lama sebelum bisa menjawabnya.


“Karena aku ingin kita menikah seperti rencana kita semula,” jawabku dengan jujur.


“Mengapa kamu ingin menikah denganku?” tanyanya sedetik setelah aku selesai menjawab.


“Karena aku ingin hidup bersamamu, melakukan semua rencana kita yang sudah kita susun bersama, menjadi tua bersamamu seperti kedua orang tua kita.”


Aku menatapnya dengan bingung. “Bukankah hanya itu yang selalu kita bahas? Kamu bekerja, aku juga bekerja, dan kita saling mendukung apa pun yang pasangan kita ingin lakukan. Aku tidak melarang kamu berkarier di modeling, begitu juga kamu mengizinkan aku menekuni hobiku. Kapan saja kita siap untuk memiliki anak, maka kita akan punya dua anak saja. Tidak ada anak juga bukan masalah. Kita akan tinggal di kota ini, tidak jauh dari keluarga kita. Apa yang kurang?”


“Kamu masih belum mengerti juga, ya? Ada satu hal yang sangat penting yang belum ada dalam rencanamu, Colin. Aku tahu aku seharusnya tidak berharap banyak padamu.” Dia membalikkan badannya dan keluar dari ruangan.


Aku meletakkan buket itu ke atas meja, lalu mengikutinya. “Apa maksudmu bicara seperti itu?” Aku mengejarnya dia yang berjalan menuju tangga. “Apa satu hal yang sangat penting itu?”


“Itu tugasmu untuk mencari tahu. Aku tidak akan menjawabnya. Sebaiknya kamu tidak mengikuti aku ke kamarku atau aku akan mengadu pada Ayah.” Dia menaiki anak tangga dengan cepat.


“Tugas? Apa kamu masih membahas hal yang kurang dalam hubungan kita?” tanyaku tidak percaya. “Aku beri tahu kamu sekarang. Hubungan kita sempurna, tidak ada yang kurang.”


“Aku yakin hanya kamu yang berpendapat demikian. Apa kamu sudah bertanya pada keluargamu? Aku yakin orang tua dan adikmu setuju denganku. Iya, ‘kan?” tantangnya. Aku mengerang kesal, karena dia lagi-lagi benar. “Sudah aku duga.”

__ADS_1


Dira menuju bagian kanan koridor dan memasuki pintu pertama di sebelah kanan. Aku menggeram kesal saat dia menutup pintunya di depan wajahku. Aku berjalan menuju pintu kedua di sebelah kanan. Setelah menarik napas panjang, aku mengetuknya. Terdengar jawaban dari dalam yang mempersilakan aku masuk.


“Apa yang terjadi antara Wyatt dan Charlotte yang membuat Dira marah besar padaku?” tanyaku pada Hadi begitu aku menutup pintu kamarnya kembali.


“Kamu masih belum berteman juga dengan dia di media sosial?” Dia malah menjawab aku dengan pertanyaan. Lalu dia mengangkat dan melambaikan tabletnya padaku.


Aku terpaksa mendekat dan duduk di sampingnya di atas soda. Aku menerima tablet tersebut dan mengetik nama Wyatt pada kolom pencarian yang tersedia di salah satu laman media sosialnya. Foto profilnya sudah menjawab pertanyaanku. Pipinya dan Charlotte menempel dengan senyum bahagia menghiasi wajah mereka.


“Dasar laki-laki tukang pamer,” umpatku pelan.


“Hei, letakkan tabletku sebelum kamu melemparnya.” Hadi menunjuk benda yang aku pegang itu dengan matanya. “Papa tidak akan mau membelikan gadget baru untukku kalau itu sampai rusak.”


“Apa adikmu sedang datang bulan, makanya dia sensitif begitu?”


“Ukh, Cole. Apa kamu pikir aku adalah perempuan yang membahas hal sepribadi itu adikku? Apa kamu tidak lihat aku ini laki-laki?” Hadi memasang ekspresi jijik. “Memang apa yang kamu lakukan padanya sampai dia marah padamu?”


“Aku hanya mengucapkan selamat atas kelulusannya dan memberikan sebuket mawar merah. Itu masih bunga kesukaannya, ‘kan?” ucapku bingung.


“Mungkin kamu benar. Dia sedang datang bulan.” Hadi mengangkat kedua bahunya.


Aku mendesah pelan, lalu melihat ke arah buku yang sedang dibacanya. “Persiapan untuk seminar besok?” tanyaku ingin tahu.


“Iya. Bagaimana denganmu? Sudah ada kabar baik?” tanyanya tanpa mengangkat kepalanya dari buku yang ada di tangannya.


“Aku akan seminar pada hari Rabu.” Aku tersenyum dengan bangga.


Hadi mengangkat kepalanya agar bisa melihat aku. “Selamat, Teman. Kamu beruntung dapat jadwal secepat itu? Aku sedang sial karena terbentur dengan akhir pekan.”


“Coba tebak siapa lagi yang akan maju seminar pada hari Rabu,” kataku misterius.

__ADS_1


Hadi menatapku sesaat. Aku tersenyum penuh arti. “Jangan bilang Valeria. Aku tidak butuh berita apa pun mengenai dia. Tetapi aku senang karena dia sepertinya lebih tertarik mendekati kamu. Semoga saja terus begitu. Kamu dan Valeria kelihatannya serasi.”


Pintu kamar Hadi tiba-tiba saja dibuka dari luar tanpa diketuk. “Valeria? Siapa Valeria?”


__ADS_2