
Aku bisa merasakan semua orang mengarahkan pandangan mereka kepadaku. Clarissa yang berdiri di sisiku bahkan menahan napasnya melihat apa yang aku lakukan. Semoga saja tidak akan ada yang bertanya, karena aku pun tidak tahu apa yang menyebabkan aku melakukan semua ini.
Clarissa perlahan pulih dari rasa terkejutnya. Dia melepaskan tangannya dari genggaman pemuda itu, lalu melingkarkan tangannya di pinggangku. Kami saling bertemu pandang dan dia meletakkan tangan kirinya di depan dadaku. Entah mengapa merangkulnya seperti ini terasa normal bagiku.
“Izinkan aku memperkenalkan kalian. Sayang, ini Luca. Luca, ini Hadi, pacarku.” Dia tersenyum begitu bahagia saat memperkenalkan kami berdua. Aku tidak tahu bahwa dia berbakat dalam akting. Lalu sesuatu menyadarkan aku. Clarissa sudah terbiasa melakukan hal ini. Dahulu dia sering berkencan dengan laki-laki dari berbagai rentang usia. Jadi, ini bukan hal yang baru baginya.
“Pacar?” Pemuda itu tertawa terkejut. “Kamu bercanda, ‘kan, Clarissa? Kamu dan Claudia tidak pernah menyebut bahwa kamu sedang berpacaran.”
“Kamu tidak pernah bertanya kepadaku mengenai orang yang aku sukai,” jawab Clarissa dengan santai. “Kamu boleh tanya keluarga kami kalau kamu tidak percaya. Aku dan Hadi kembali bersama setelah berlibur selama akhir pekan ini dengan keluarga kami di Ubud.” Clarissa melihat ke arah keluarga kami yang masih bengong. “Kami pernah bertunangan dan aku yang mengakhiri hubungan kami. Tetapi aku menyesal dan ingin kami kembali bersama.”
“Kamu Luca, ‘kan?” tanya Charlotte yang berdiri di dekatku. Pemuda itu mengangguk pelan. “Hai, namaku Charlotte. Aku adik Clarissa.” Charlotte mengulurkan tangannya, Luca menyambutnya.
“Aku Wyatt, pacar Charlotte.” Wyatt tidak mau kalah dan mengulurkan tangannya juga. Luca menjabat tangannya setelah melepaskan tangan Charlotte.
Setelah mereka berdua memulainya, semua orang pun memperkenalkan diri mereka kepada Luca. Suasana masih canggung, tetapi Aunt Claudia berhasil mencairkan suasana. Kami menuju mobil kami masing-masing, sedangkan aku mengantar Clarissa ke mobil keluarganya.
Aku bisa merasakan semua orang mengarahkan pandangan mereka kepada kami, termasuk Luca. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Masa aku kembali menghabiskan waktu bersama gadis yang tidak aku sukai? Tetapi aku tidak mungkin menghindari dia selama pemuda itu masih ada di kota ini. Rencana konyolku ini bisa ketahuan.
“Aku pikir kamu tidak mau menolongku. Mengapa kamu berubah pikiran?” tanya Clarissa saat kami sudah berada di dekat pintu mobil.
“Kalau kamu tidak suka, aku bisa bicara dengan pemuda itu dan mengatakan yang sejujurnya.” Aku berniat membalikkan badanku, tetapi dia meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Terima kasih. Aku sangat menghargai yang sudah kamu lakukan ini. Hanya sampai dia pulang, lalu kita bisa kembali menjauh seperti sebelumnya,” katanya berjanji. Aku hanya mengangguk. Ketika aku mencoba membalikkan badanku lagi, dia menahanku. “Kamu tidak akan pergi begitu saja tanpa melakukan sesuatu, ‘kan?”
“Apa maksudmu?” tanyaku bingung dengan kalimatnya itu.
“Dia tidak akan percaya bahwa kita berpacaran jika kamu tidak memberi pelukan atau ciuman tanda kamu berat berpisah denganku,” katanya masuk akal.
“Kamu berutang besar kepadaku.” Aku menatapnya dengan serius. Dia tersenyum manis. Aku hanya memeluknya sekilas, lalu melepaskannya.
Kali ini dia tidak menahanku lagi. Jadi, aku bisa mendekati mobilku di mana Sakti menjaga pintu depan tetap terbuka. Kedua adikku menatapku penuh arti dari jok belakang mobil. Menjengkelkan sekali. Aku sudah bisa membayangkan mereka akan mengejekku habis-habisan sepanjang perjalanan kami kembali ke rumah.
“Oh, Kaakk!” Dira memelukku dari belakang. “Aku senang sekali melihat Kakak kembali bersama Clarissa! Sekarang kita bisa kencan bertiga!”
__ADS_1
“Aku tidak tertarik,” kataku acuh tak acuh. “Kamu tahu bahwa kami hanya bersandiwara.”
“Hanya masalah waktu sampai Kakak mengaku bahwa hubungan kalian bukan sandiwara lagi.” Dia mengecup pipiku. “Jangan keras kepala, Kak. Aku tahu Kakak masih sayang kepadanya.”
“Wajar saja Kak Hadi masih sayang. Laki-laki waras mana yang rela melepaskan gadis seperti dia? Luca yang bahkan baru mengenalnya lewat panggilan video saja tergila-gila kepadanya,” timpal Adi.
“Aku tidak percaya dia tergila-gila kepada Clarissa.” Aku mendengus pelan.
“Ketika dia menjabat tanganku, dia menggenggamnya terlalu erat. Dia pasti tahu bahwa aku adalah adik Kakak. Dia pasti cemburu makanya dia begitu.”
“Ciiee …. Kakak tidak membantah masih sayang kepada Clarissa. Berarti kami benar, dong!” sorak Dira dengan senang.
Respons Mama dua kali lipat lebih parah dibandingkan reaksi kedua adikku. Dia memeluk dan mencium kedua pipiku sambil mengucapkan selamat, seolah-olah aku sedang memberi tahunya bahwa aku dan Clarissa akan menikah esok hari. Papa hanya tersenyum penuh arti.
Kami masih libur, jadi aku terpaksa mendatangi Clarissa di rumahnya. Dia segera menjawab iya saat aku mengajaknya makan siang bersama. Aunt Claudia dan Tante Lindsey segera menarik aku ke ruang keluarga ketika aku datang menjemput cucu mereka.
Luca dan keluarganya tidak ada di mana pun, jadi aku berasumsi bahwa mereka berada di ruangan lain. Aku berharap semoga saja Wyatt dan Charlotte tidak bertingkah sok pintar dengan ikut kencan bersama kami. Aku hanya mau pergi berdua saja dengan Clarissa. Kalau aku harus mentraktir makan kedua orang itu juga, lama-lama aku bisa bangkrut.
Pintu terbuka dari luar, Clarissa memasuki ruangan dengan senyum bahagia. Aku tertegun sejenak melihat penampilannya. Dia membiarkan rambut panjangnya tergerai, memakai riasan natural, mengenakan baju dengan motif bunga, dan sandal berhak datar.
Aku pamit kepada kedua neneknya, lalu berjalan mendekatinya. Kedua wanita itu mengikuti kami sampai ke teras depan. Aku menolong Clarissa masuk ke mobil sebelum menutup pintu dan kembali pamit kepada Aunt Claudia dan Tante Lindsey. Mereka terkikik bersama.
Semoga saja aku sedang tidak membuat diriku sendiri berada dalam masalah dengan melakukan ini. Karena melihat rasa bahagia pada wajah mamaku, juga kedua nenek Clarissa, aku mulai merasa tidak enak sudah mengerjai mereka bertiga. Apa yang akan terjadi kalau mereka tahu bahwa aku dan Clarissa hanya berpura-pura?
“Jangan khawatirkan tentang itu. Aku yang sepenuhnya akan bertanggung jawab, karena aku yang mengatakan ide ini kepadamu. Walaupun ini adalah ide Wyatt, aku setuju untuk melakukannya.” Clarissa meletakkan botol sambal dan saus di depanku. Kami memutuskan untuk makan piza.
“Bertanggung jawab seperti apa yang kamu pikirkan?” tanyaku ingin tahu. “Memberi tahu mereka bahwa ini adalah bohongan, kemudian membayar biaya pengobatan mereka karena serangan jantung mendadak?”
“Mengapa kamu jadi takut begitu? Mereka memang sudah tidak muda lagi, tetapi orang tuamu dan kakek nenekku belum setua itu,” katanya heran.
“Kamu tidak melihat wajah bahagia mereka tadi.” Aku menggeleng pelan. Wajah bahagia mereka bertiga tidak lepas dari benakku.
“Mereka juga sebahagia itu saat Luca bicara mesra denganku,” katanya membuat aku terkejut. Dia menggigit pizanya dengan santai.
__ADS_1
Aku tertegun sejenak mendengarnya. “Dia bicara mesra denganmu?” tanyaku tidak suka.
Dia mengangguk pelan. “Sepertinya dia tidak peduli dengan kenyataan bahwa aku sudah punya pacar. Hal yang berada di luar dugaanku.” Clarissa berdecak pelan.
“Beri tahu aku bila dia masih melakukan hal itu.” Aku menggigit piza cukup besar dan mengunyahnya dengan cepat untuk mengalihkan emosiku.
“Memangnya apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya ingin tahu.
“Aku akan datang besok untuk makan malam bersama keluargamu,” jawabku.
“Mengapa kamu tidak makan malam bersama kami malam ini?” katanya mengundangku.
Aku menggelengkan kepalaku. “Satu kencan untuk satu hari. Aku tidak mau terlihat seperti pacar yang posesif. Itu bukan tipeku.”
“Tetapi dari caramu semalam merangkul aku ketika dia masih menjabat tanganku, aku yakin dia dan semua orang yang melihat kita sudah menganggap kamu sebagai pacar yang posesif, Hadi.” Dia menutupi senyumnya dengan mengulum bibirnya.
“Ha ha ha.” Aku pura-pura tertawa. “Tidak lucu. Aku melakukan itu karena aku pikir itu adalah cara yang terbaik untuk membuat dia mengerti.”
“Kamu bilang, kamu akan bicara dengannya dan tidak sudi untuk dekat lagi denganku. Lalu apa yang membuat kamu berubah pikiran dengan menyetujui rencanaku?” tanyanya menantangku.
Aku mendengar gerakan dari arah meja di samping kami. Aku tidak bisa melihat siapa yang berada di sana karena ada dinding yang memisahkan kami dengan mereka. Tetapi aku akan melakukan apa pun supaya aku bisa menghindari pertanyaan itu. “Hei, apa kalian pikir aku tidak tahu apa yang sedang kalian lakukan? Berhenti mencuri dengar percakapan kami.”
*******
Beberapa saat sebelumnya~
“Kamu serius? Kak Hadi mengajak Clarissa makan siang?” tanyaku Dira tidak percaya. Dia menoleh dengan mata membulat lebar ke arah Colin. “Oke, oke. Kita bertemu di sana. Beres!”
“Bertemu di sana di mana?” tanya Colin yang memberikan helm kepada Dira. “Jangan bilang kamu dan Charlotte berniat memata-mata Hadi dan Clarissa.”
“Kamu selalu tahu apa yang aku pikirkan, sayang!” Dira berjinjit agar bisa mengecup pipi kekasihnya. “Karena itu aku semakin mencintai kamu. Ayo, cepat naik. Kita harus ke mal sekarang.”
Colin mengerang pelan. “Dira, biarkan saja mereka berdua. Lebih baik kita melakukan acara kita sendiri. Kamu baru selesai mendaftar ulang, sebaiknya kita makan siang di sekitar sini saja.” Dia menaiki sepeda motornya, lalu membantu Dira.
__ADS_1
“Tidak mau! Charlotte dan Wyatt sudah sengaja mengikuti ke mana mereka pergi, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.” Dira segera memeluk Colin dengan erat. “Ayo, cepat berangkat! Kamu tidak mau ketinggalan hal yang menarik, ‘kan? Kakak dan Clarissa pasti sedang bertengkar.”