Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 196 - Jangan Anggap Remeh


__ADS_3

*Clarissa*


Aku masih membutuhkan bantuan tongkat kecil agar tidak terlalu membebani kakiku yang baru pulih, tetapi ini lebih baik daripada duduk di  kursi roda. Dokter bahkan menganjurkan aku untuk banyak melakukan aktivitas dengan kakiku agar lebih cepat pulih.


Tidak mau menyia-nyiakan waktu mereka berada di Indonesia, Grandma mendesak agar aku dan Hadi melangsungkan acara pertunangan kami. Dira dan Colin tidak mengadakan acara khusus, tetapi mereka memaksa kami untuk menuruti perintah mereka.


Untung saja, hanya keluarga dekat dan sahabat yang diundang. Aku tidak mau berhadapan dengan banyak orang hanya untuk sebuah acara sesederhana bertunangan. Sayangnya, wartawan tahu adanya acara tersebut dan memaksa kami untuk mengizinkan mereka melalukan liputan.


Om Hendra menolak mereka yang mengganggu jalannya acara. Tetapi dia dan Kakek mempersilakan mereka untuk melakukan wawancara. Hal yang awalnya membuat aku bahagia, berakhir luka. Aku sangat naif berpikir bahwa mereka akan melupakan foto-foto dan berita mengenai aku bersama laki-laki lain. Jadi, aku membiarkan Hadi yang menjawabnya.


Semua pertanyaan yang mereka ajukan itu tidak seberapa dibandingkan pertanyaan terakhir yang disampaikan tanpa hati itu. Beraninya dia menyebut aku pernah hamil dan melakukan aborsi. Apa mereka tidak punya berita lain untuk dikejar sehingga memfitnah aku serendah itu?


“Apakah pertanyaan tadi direkam?” Aku bertanya kepada Wyatt dan Charlotte yang memegang ponsel mereka sejak wawancara dimulai. Mereka serentak mengangguk. “Hadi sudah memberi peringatan, sepertinya Anda tidak takut. Tunjukkan buktinya kepadaku.”


Pria itu hanya tersenyum. “Anda yakin mau saya tunjukkan buktinya?” Dia melihat ke sekeliling kami. “Ada banyak orang di sini yang bisa melihat Anda dalam kondisi yang tidak, ah, sopan, di foto ini.”


Wartawan lain mulai berbicara terhadap satu sama lain. Beberapa dari mereka berusaha untuk mendekati pria itu agar bisa melihat foto yang dia sembunyikan. Omong kosong. Aku tidak tidur dengan siapa pun, bagaimana aku bisa hamil, apalagi sampai aborsi?


“Untuk apa aku takut? Tunjukkan buktinya,” kataku sekali lagi.


Dia tersenyum sinis, lalu menunjukkan layar ponselnya kepada kami semua. Aku tidak bisa melihat dengan jelas dari jarak sejauh itu. Jadi, aku dan Hadi menunggu sampai dia berdiri cukup dekat dengan kami. Bukti yang sangat meyakinkan. Karena wajah perempuan pada foto itu adalah aku, tetapi dengan badan orang lain yang terlihat sedang berbaring di sebuah dipan.


“Kamu yakin itu adalah aku?” tanyaku dengan tenang.


“Tentu saja. Semua ciri fisiknya menunjukkan dia adalah kamu. Bagaimana? Kamu masih mau menyangkal?” katanya sambil tertawa penuh kemenangan.


“Kuasa hukum kami akan mendatangi Anda, supervisor, juga atasan Anda. Ini adalah fitnah paling kejam yang pernah orang sampaikan mengenai aku. Kalian boleh menuduh aku punya banyak pacar, tidur dengan berbagai laki-laki, terserah kalian. Tetapi mengatakan aku telah membunuh anakku sendiri adalah fitnah yang tidak berhati. Sampai jumpa di pengadilan,” kataku dengan serius.


Kami mengikuti Tante Gista keluar dari ruangan itu. Mereka mengajukan begitu banyak pertanyaan, tetapi kami mengabaikannya. Acara pertunangan kami jauh lebih penting daripada mengurus orang yang suka bergosip dan menyebarkannya.

__ADS_1


Tante Gista yang memimpin acara. Aku dan Hadi menuruti semua yang dia instruksikan. Ketika kami akhirnya mengenakan cincin masing-masing, jantungku berdebar bahagia. Akhirnya, di depan semua orang, aku dan Hadi resmi bersama. Walaupun hari pernikahan kami masih lama lagi, pengumuman ini sudah cukup. Saksi yang menghadiri acara bersama kami juga sudah cukup.


“Oh, Clarissa!” Charlotte memeluk aku dengan erat. “Kamu sangat keren di sana tadi. Seandainya saja aku seorang laki-laki, aku pasti sudah menikahimu sekarang juga!”


“Eeww …!” seru Wyatt dan Hadi bersamaan. Aku tertawa mendengarnya.


“Tetapi adikmu benar, sayang.” Hadi melingkarkan tangannya di bahuku. “Kamu keren sekali tadi. ‘Sampai jumpa di pengadilan.’ Bulu kudukku berdiri setiap kali mengingatnya.”


“Kalian semua berlebihan. Aku hanya bereaksi sewajarnya. Wanita mana yang rela dituduh telah membunuh anaknya sendiri? Dia pasti wartawan amatir. Masa dia tidak bisa melihat apakah yang dia pegang itu foto palsu atau asli?” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.


“Kamu harus selalu siap, Clarissa. Dira tidak pernah bisa melupakan hal buruk yang terjadi padanya, karena ulah orang-orang. Mereka juga tidak akan berhenti mengingatkan kamu pada masa lalumu,” kata Charlotte mengingatkan. Iya. Mereka jahat sekali. Dira terus saja diingatkan mengenai videonya tanpa pakaian. Padahal dia tidak merencanakan hal itu. Tetapi banyak orang yang berpikir sebaliknya.


Para wartawan itu akhirnya pulang saat kami masih menikmati hidangan yang disediakan. Charlotte dan Dira melihat berbagai foto kami pada saat wawancara memenuhi media berita daring. Tetapi tidak ada satu pun foto atau video dari acara pertunangan kami. Bagus. Mereka tidak melanggar ketetapan yang Om Hendra dan Kakek sampaikan kepada mereka.


Aku melihat ke sekelilingku. Semua orang menyantap makanan mereka sambil berbincang dengan orang yang ada di dekat mereka. Melihat tawa di wajah mereka, aku tidak menyesal mendengarkan permintaan Grandma dan mengadakan acara pertunangan pada hari ini. Karena beberapa kali berkumpul, kami semua sedang bersedih atau berduka.


“Melihat cara wartawan tadi memperlakukan kita, aku mengerti mengapa kamu mencari istri yang punya kriteria khusus,” jawabku pelan. “Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka atas kesalahan yang Tante Zahara lakukan dahulu.”


“Itu salah satu alasan Papa tidak mau berurusan dengan wartawan lagi. Dia hanya mau menghadiri undangan satu stasiun televisi untuk melakukan wawancara. Itu menjadi wawancara terakhirnya. Setiap kali membutuhkan media, maka Papa mengutus orang dari bagian humas untuk menemui mereka.” Hadi melihat ke arah papa dan mamanya.


“Aku tidak mau menjadi seperti mereka. Apa pun yang terjadi pada masa lalumu, semuanya sudah di belakang. Tidak perlu diungkit lagi.” Dia menundukkan kepalanya.


“Hadi, mengetahui bahwa orang yang kamu nikahi tidur dengan orang lain itu hal yang mengerikan. Kamu suka atau tidak, hal itu akan terus menghantui kamu. Bedanya, setelah hal itu berlalu selama bertahun-tahun, kamu akan tertawa setiap mengingatnya. Apalagi kalau kamu sudah memaafkan dia. Om tetap berada di samping Tante pasti karena berpisah lebih menyakitkan daripada memaafkan kesalahannya.” Aku meletakkan kepalaku di bahu Hadi. “Aku tahu rasanya.”


“Kamu berani selingkuh dariku, entah dengan bertemu berdua saja dengan laki-laki lain atau tidur dengannya, riwayatmu tamat, Rissa. Aku tidak pemaaf seperti papaku. Apa kamu dengar itu?” kata Hadi mengancam. Aku tertawa. “Mengapa kamu tertawa? Aku serius.”


Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. “Kamu tidak pemaaf seperti papamu? Lalu yang kamu lakukan kepada Valeria itu apa?” Dia cemberut. “Kamu memang dingin di luar, tetapi aku tahu dalam hatimu, kamu orang yang sangat lembut. Sama seperti Om Hendra.”


Dia memicingkan matanya ke arahku. Aku ingin melanjutkan mengejek dia, tetapi dia membungkam mulutku dengan ciumannya. Terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba itu, aku tidak tahu harus bagaimana meresponsinya. Tetapi merasakan dia tidak segera mengakhiri ciumannya, maka aku membalasnya. Dia tersenyum, lalu mengakhiri ciuman kami.

__ADS_1


“Kamu berani selingkuh satu kali saja, jangankan mencium kamu, menatap wajahmu saja aku tidak sudi. Jadi, jangan coba-coba.” Dia menatap aku dengan tajam.


Aku memeluknya dan meletakkan daguku di pundaknya. “Aku tidak akan mengkhianati kamu, sayang. Aku janji. Hal yang sama berlaku juga untukmu.”


“Aku setia kepadamu saat kamu masih menghilang, maka aku akan lebih setia begitu kamu di sini bersamaku.” Dia mencium ujung hidungku. “Aku mencintaimu, sayang.”


Aku tersenyum lebar. “Aku juga mencintai kamu!”


Urusan dengan skripsi adalah hal yang paling menjengkelkan. Pada pertengahan bulan November, Hadi sudah menyerahkan karya ilmiahnya yang siap untuk diuji. Aku masih bergelut dengan revisi dan hampir saja melewati batas akhir penyerahan skripsi tersebut. Dia sudah duduk santai tinggal menunggu hari wisuda, aku dan Colin harus bersiap-siap menghadapi sidang.


Setelah mengunggah skripsiku ke laman universitas pun, aku belum bisa bersantai. Hadi mengajak aku untuk mengikuti les privat IELTS. Om Hendra sudah menyediakan mentor untuk membantu kami mempersiapkan diri. Aku tidak berani mengeluh karena papanya yang merencanakan hal itu.


“Belum terlambat bagimu untuk mundur, sayang. Kuliah di Inggris itu tidak mudah. Jadi, aku mengerti kalau kamu menyerah sekarang,” ucap Hadi dengan wajah pura-pura peduli.


“Kalau kamu bisa, mengapa aku tidak?” kataku tidak mau kalah.


“Setelah beberapa kali uji coba dan skor kamu bahkan tidak bisa mencapai nilai minimal universitas dalam negeri, apa kamu yakin mau tetap maju?” Dia sengaja menyiram asam ke lukaku yang masih segar. “Ada apa, sayang? Jangan marah. Skor tidak bisa berbohong.”


“Oke!” Aku berdiri dari tempat dudukku. “Bulan depan, skorku pasti lebih tinggi darimu. Lihat saja!” Aku segera keluar dari ruangan itu. Sopirku yang sudah menunggu di depan, segera membukakan pintu mobil untukku. Hadi sudah berdiri di teras, tetapi aku mengabaikan lambaian tangannya.


Aku lembur berhari-hari demi menambah kosakata dan menguasai tata bahasa Inggris yang sering diujikan dalam tes kemampuan berbahasa tersebut. Untuk mengetahui perkembanganku, aku mengikuti tes online dan belum mengalami peningkatan skor.


Nenek dan Charlotte sampai khawatir dengan keadaanku, tetapi aku tidak bisa menyerah. Aku harus bisa memperoleh nilai yang lebih tinggi dari Hadi. Hanya satu hari menjelang tes berikutnya, aku tidak belajar dan memilih untuk beristirahat. Sayangnya, nilaiku masih jauh di bawahnya.


“Ada strategi khusus untuk bisa menguasai tes ini, sayang,” ucap Hadi saat mentor kami sudah pulang. Aku hanya cemberut mendengarnya. “Aku akan mengajari kamu. Tetapi ada syaratnya.”


“Serius??” tanyaku tertarik. Dia mengangguk cepat. “Oke. Apa syaratnya?”


Dia tersenyum penuh arti membuat perasaanku tidak enak. “Beri aku ide yang keren untuk hari kasih sayang.” Aha! Ini pasti ada hubungannya dengan event di kantornya. Gampang.

__ADS_1


__ADS_2