
*Hadi*
Karena aku tidak ada jadwal kuliah, aku mengikuti Papa ke kantor sejak pagi. Ternyata dia mengawali harinya dengan menjadi dosen tamu di kampus lamanya. Dengan kegiatannya yang begitu padat, Aunt Gista selalu berhasil menyelipkan jadwal di luar urusan pekerjaan untuk Papa.
Presentasi yang Papa sampaikan selalu menarik saat dia berdiskusi dengan Aunt Gista sebelum rapat dengan kolega atau dewan direksi. Tentu saja presentasi itu akan disampaikan oleh sekretaris Papa, bukan Papa sendiri. Dan Aunt Gista selalu berhasil menyampaikan pesan Papa dengan baik selama memimpin jalannya rapat. Aku tidak pernah menyangka bahwa Papa bisa melakukan hal yang sama saat bicara di depan mahasiswa.
Aku tidak pernah percaya pada jodoh. Bagiku, setiap pertemuan yang tidak disengaja itu memang terjadi tanpa ada rencana khusus di baliknya. Tetapi sejak aku bertemu gadis ini untuk pertama kalinya, kami sudah dua kali bertemu di tempat yang tidak terduga.
Melihat dia berusaha untuk menyembunyikan wajahnya pada saat aku baru memasuki ruang kuliah umum itu, aku tergoda untuk mendekati dia. Aku ingin membuat dia semakin tidak nyaman dengan duduk di sisinya. Tetapi aku berhasil menahan diri.
Ada banyak hal yang aneh mengenai dia yang membuat aku semakin penasaran padanya. Siapa dia yang sebenarnya? Bagaimana Colin bisa mengenal dia hingga memintanya menjadi pacar? Mengapa dia harus membohongi aku, Dira, dan Liliy? Lalu tanpa aku ketahui ternyata kami satu universitas. Bagaimana bisa selama ini aku tidak pernah berpapasan dengannya?
“Kamu mau ikut makan siang bersamaku atau kita bertemu di kantor?” tanya Papa saat kuliah sudah selesai. Kami berjalan bersama menuju tempat parkir.
“Aku masih ada urusan di sini. Jadi, aku akan langsung ke kantor Papa saja,” jawabku.
Kami berhenti di sisi mobil Papa. Pak Kafin sudah siap membukakan pintu untuknya. Papa menoleh ke arahku, lalu tersenyum penuh arti. “Aku senang kamu akhirnya memikirkan hal lain selain kuliah dan kerja.” Papa menepuk bahuku.
“Apa maksud Papa?”
“Dari caramu melihat gadis itu, aku yakin dia yang kamu maksud dengan ‘urusan’. Benar?” Aku hanya diam tidak menjawab atau memberi respons. Papa tersenyum senang. “Aku yakin mamamu akan bahagia bila dia tahu ini. Dia terus saja khawatir karena kamu sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis.”
“Aku suka pada lawan jenis. Hanya belum bertemu dengan gadis yang tepat saja.” Aku memutar bola mataku, meniru gaya adikku saat lawan bicaranya mengucapkan hal yang konyol.
“Clarissa sudah pergi jauh, Nak. Aku mengerti bahwa dia teman dekat pertamamu sebelum Colin. Tetapi delapan belas tahun menghilang, bila dia belum meninggal, dia tidak akan mengingat kamu atau keluarganya. Dia pasti sudah punya kehidupannya sendiri.” Aku menelan ludah dengan berat mendengar kenyataan itu.
Sama seperti Om Edu dan Tante Lindsey, aku tidak percaya Clarissa sudah tiada sebelum melihat jasadnya. Walaupun sangat kecil, aku percaya bahwa harapan itu masih ada. Harapan bahwa anak perempuan yang dijanjikan akan menjadi istriku kelak masih hidup di luar sana.
Dia adalah alasan aku tidak tertarik dengan perempuan lain dan fokus pada belajar. Setelah semua urusan pendidikan ini selesai, aku akan mulai mencari dia. Aku tidak peduli dia ada di mana, dia menjadi siapa, atau bagaimana kehidupannya sekarang, aku akan menemukan dia. Bila ternyata dia sudah bersama yang lain atau tidak tertarik kepadaku, maka aku bisa melanjutkan hidup. Tetapi jika dia masih sendiri dan mau hidup bersamaku, aku akan menikahi dia usai pendidikan masterku.
__ADS_1
“Seharusnya Papa, Om Edu, dan Uncle Mason tidak menyerah,” kataku dengan nada menuduh. Aku butuh orang untuk aku salahkan atas keadaan ini.
“Kami tidak menyerah. Kami hanya tidak tahu harus mencari ke mana lagi.” Papa menatapku penuh empati. “Saatnya bagimu untuk melanjutkan hidup. Berhenti membuat kami khawatir. Kejar gadis itu. Lebih baik kamu fokus pada apa yang ada di depan matamu daripada yang sudah lama pergi.”
Begitu mobil Papa sudah jauh, aku menuju mobilku dan berdiri di sisinya sambil memeriksa ponselku. Aku tidak berhati-hati hari ini sehingga Papa tahu bahwa aku tidak fokus mendengar presentasinya melainkan memerhatikan salah satu mahasiswa yang ada di ruang kuliah itu.
Mereka berdua tidak pernah menyimpan rahasia, jadi aku tidak mau meminta Papa untuk tutup mulut dan merahasiakan tentang sikapku tadi. Lagi pula aku bahagia jika Mama merasa bahagia saat mengetahui bahwa putra sulungnya ini laki-laki normal.
Ketika gadis yang aku tunggu itu datang, aku sedikit terkejut melihat dia berhenti di dekatku dan tidak mencoba untuk kabur. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya, tetapi aku penasaran. Jadi, aku mengajaknya untuk bicara denganku. Tentu saja kami tidak bisa bicara di kampus. Orang-orang akan berpikir bahwa kami ada hubungan khusus dan aku tidak suka berurusan dengan gosip.
Bicara sambil makan siang dengannya, akhirnya aku mengerti satu hal. Dengan kondisinya itu, dia mau mengaku sebagai pacar Colin hanya untuk satu alasan. Uang. Dia sudah tidak tinggal dengan orang tua angkatnya. Maka dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, juga untuk membayar biaya kuliahnya.
“Apa kamu menyukai aku, Hadi? Itukah sebabnya kamu ingin tahu segalanya tentang aku?” tanyanya yang dengan sengaja menjauhkan percakapan kami dari topik utamanya.
“Kita adalah orang asing, Mila. Bagaimana bisa aku menyukai orang yang tidak aku kenal?” balasku. Aku berdiri dan mengambil kantong berisi sampah makanan kami. “Ayo, aku antar.”
Aku tidak peduli dia mengikuti aku atau tidak. Setelah membuang kantong ke tempat sampah terdekat, aku berjalan menuju tempat parkir. Mendengar langkah kaki di belakangku, aku tahu bahwa itu adalah dia. Aku membukakan pintu mobil untuknya.
“Aku antar.”
“Aku sudah bilang tidak. Aku—”
“Aku akan mengantar kamu sampai ke halte,” kataku menjelaskan maksudku. Dia menatap aku sesaat sebelum masuk ke mobil.
Kami hanya bicara halte mana yang perlu aku tuju agar memudahkan dia menaiki bus menuju kamar sewanya. Selebihnya, kami hanya diam sepanjang perjalanan. Lalu aku teringat sesuatu yang penting. Perempuan seharusnya tahu apa yang perempuan inginkan, ‘kan?
“Apa kamu bisa sediakan waktu satu atau dua jam untuk membantu aku memilih sesuatu?” tanyaku padanya. Aku bisa melihat dia menoleh ke arahku.
“Aku sudah bilang, aku punya tugas dari dosen yang harus dikumpulkan besok.”
__ADS_1
“Nanti aku bantu. Aku tidak mau masuk sendirian ke butik khusus wanita.” Aku melewati tempat pemutaran dan mengendarai mobil menuju mal terdekat. Mila mendesah keras, tetapi dia tidak protes kami tidak jadi ke halte tujuannya.
Sampai di sebuah mal, aku memarkirkan mobil dan mengajaknya menuju salah satu toko serba ada. Aku sudah tahu apa yang Dira inginkan dari Mama. Tetapi aku tidak mengerti ke mana mencarinya dan di mana letak merek tas kesukaannya itu.
“Wow!” seru Mila. Aku menoleh dan melihat ke arah yang sedang ditatapnya. Sebuah poster raksasa menunjukkan foto Dira yang sedang berpose mengenakan kaus dan celana jins dengan logo merek jins yang ada di sekitar kami. “Adikmu seorang model?”
“Kamu baru tahu?”
“Jangankan model, siapa bintang film terkenal di negeri ini juga aku tidak tahu.” Dia menggeleng pelan. “Temanmu yang bernama Colin itu sangat bodoh.”
“Bukan hanya bodoh, dia juga sudah bosan hidup.”
*******
Sementara itu di suatu tempat yang tidak jauh~
“Dira sudah punya banyak sepatu, untuk apa kamu menghadiahi dia benda ini lagi?” gerutu Colin. Lily memutar bola matanya.
“Kalian laki-laki tahu apa yang disukai oleh perempuan. Jangan mengeluh terus. Aku sudah siap. Apa kamu ingin membeli sesuatu di tempat ini?” Lily melihat ke sekelilingnya.
“Aku bisa membeli kado untuknya nanti. Aku tidak mau mendengar ceramahmu mengenai hadiah pilihanku itu.” Colin membalikkan badannya. Tetapi Lily segera menarik tangannya, menghalangi dia berjalan ke arah sebaliknya.
“Kalau begitu, kita pergi dari tempat ini. Aku mau makan es krim.” Lily melihat ke arah dua orang yang sedang berdiri sambil berbicara di bagian khusus celana jins.
“Kamu hanya mau beli hadiah, mengapa aku juga harus menemani kamu makan es krim? Aku masih banyak pekerjaan, Ly,” protes Colin.
“Temani aku atau aku akan adukan ancamanmu tadi. Mama tidak akan senang mendengarnya.” Lily terlihat panik saat kakaknya berusaha melepaskan diri dari genggaman tangannya dan berniat berjalan menuju ke arah dua orang yang berjalan ke arah mereka. “Baik. Aku akan telepon Mama.”
Colin menggeram kesal. “Hanya makan es krim, lalu kita pulang.” Dia menarik tangan Lily dan mereka berjalan ke arah yang diharapkan.
__ADS_1
Lily mendesah lega, lalu melirik ke arah belakangnya. Dia bingung melihat gadis yang disebut Colin sebagai pacarnya malah jalan berdua dengan Hadi. Apa yang sebenarnya terjadi? Jika ini adalah drama cinta segitiga, dia tidak mau kakak dan sahabatnya baku hantam di depan umum.