
Hubungan telepon diakhiri sebelum aku sempat bertanya apa yang dia maksudkan dengan kalimat terakhirnya itu. Apa maksudnya Dad sudah berada di mana dia seharusnya berada? Aku menoleh ke arah Mama yang hanya bisa tertegun.
Ini bukan pertanda yang baik. Aku segera menelepon ponsel Dad lagi, tetapi tidak dijawab. Aku coba dua kali sebelum menyerah. Oke, apa yang haus aku lakukan sekarang? Bagaimana kami bisa tahu di mana Dad berada? Lalu satu orang muncul di benakku. Aku segera menghubungi Hadi.
“Ya, Cole?” jawabnya pada dering yang kedua. Dia terdengar khawatir.
“Hadi, aku membutuhkan bantuanmu,” kataku tidak bertanya mengenai keadaannya. Ini adalah kondisi darurat, bukan saatnya berbasa-basi. “Lebih tepatnya, aku butuh bantuan Uncle Hendra. Aku tidak tahu di mana papaku berada, please, bisakah kamu meminta Uncle untuk meminta temannya mencari di mana Dad sekarang. Kami khawatir dia dalam bahaya.”
“Uncle Will dalam bahaya?” tanya Hadi terkejut. “Tentu saja. Papaku akan menolong menemukan dia. Tetapi aku tidak bisa menjanjikan prosesnya akan cepat.”
“Apa maksudmu? Apakah terjadi sesuatu di sana?”
“Clarissa diculik dan kami tidak bisa menemukan jejaknya, karena semua alat pelacak yang ada di perhiasan yang dia kenakan dilepas dan ada di kamarnya.” Hadi terdengar frustrasi. “Tenang saja. Aku akan segera memberi tahu kamu begitu kami mendapat kabar tentang Uncle Will.”
“Terima kasih banyak, Hadi. Semoga Clarissa juga segera ditemukan.” Kami mengakhiri hubungan telepon dan aku menatap Mama.
“Clarissa hilang lagi?” tanya Mama khawatir. Aku mengangguk pelan. “Gadis yang malang. Sampai kapan dia terus saja menjadi incaran orang jahat?”
“Hadi akan meminta bantuan Om Irwan untuk mencari di mana Dad sekarang. Dia akan memberi tahu aku begitu mengetahui lokasinya,” laporku kepada Mama.
“Baiklah. Ayo, mandi dan bersiaplah. Aku juga akan bersiap-siap, lalu membuatkan sarapan.”
“Oke, Ma. Biar aku yang bangunkan Lily.”
Setelah membangunkan adikku yang bingung dengan permintaanku, aku kembali ke kamarku dan bersiap-siap. Mama masih di kamarnya ketika aku berada di dapur. Karena aku sudah lapar, maka aku memasukkan roti tawar ke pemanggang. Ada sayuran segar yang sudah dipotong di lemari es, jadi aku mengeluarkan selada dan tomat.
“Terima kasih, Nak. Biar aku yang lanjutkan,” kata Mama yang datang ke dapur. Aku menurut dengan duduk di salah satu kursi di dekat konter.
Mama dengan cekatan memasak telur, ham, lalu membuat dua cangkir teh, satu mug cokelat hangat, dan meletakkannya di atas konter bersama satu kotak susu. Aku mengambil satu cangkir teh dan menghirup isinya. Cokelat hangat itu untuk Lily yang suka mencampurnya dengan susu.
Begitu Lily datang, Mama sudah menyiapkan sarapan lengkap kami. Aku mengambil dua potong roti panggang, lalu membuat roti isiku sendiri. Mama menjelaskan apa yang terjadi kepada Lily saat kami menyantap makanan. Adikku sangat menyayangi Dad, jadi aku mengerti melihat wajah sedihnya.
“Ini yang membuat aku tidak suka dengan Aunt Chelsea. Dia bukan wanita yang baik. Bagaimana bisa dia masih menyukai Dad ketika Mama sudah menikah dengannya? Apa yang dia lakukan kepada Dad? Apakah dia menyekapnya?” tanya Lily khawatir.
__ADS_1
“Kami tidak tahu. Aunt tidak mengatakan keberadaan Dad di telepon. Kita tunggu saja kabar dari Hadi. Begitu kita tahu Dad ada di mana, kita akan menjemputnya,” kataku menghabiskan rotiku.
“Aku masih tidak mengerti. Bagaimana Dad bisa menemui Aunt tanpa memberi tahu kita?” tanyanya sambil menggeleng pelan. “Bahkan Mama tidak tahu kalau Dad akan menginap di luar.”
“Sebaiknya kita tidak berasumsi sebelum bertemu dengan papamu. Kita tunggu saja, ya,” kata Mama menenangkan Lily. Aku yakin, Mama juga khawatir. Tetapi dia menutupinya dengan senyuman dan sikap tenang yang sudah menjadi ciri khasnya.
Begitu ponselku berbunyi, aku segera memeriksanya. Sebuah pesan dari Hadi. Nama sebuah hotel dan nomor kamarnya. Jantungku berdebar dengan cepat. Oh, Tuhan. Semoga saja ini tidak seperti yang aku pikirkan. Aku menunjukkan pesan itu kepada Mama.
Tanpa pikir panjang, kami meletakkan semua alat makan yang kotor di wastafel dan mengambil dompet dan tas masing-masing di kamar. Karena Dad memakai mobil, maka kami pergi ke pintu utama lobi untuk mencari taksi kosong. Biasanya mereka suka berada di dekat apartemen siap untuk mengantar penghuni yang membutuhkan jasa mereka.
Lalu lintas pagi sangat padat sehingga kami butuh waktu lama untuk tiba di tujuan. Mama masih terlihat tenang, sedangkan aku dan Lily tidak sabar menunggu untuk sampai ke hotel. Petugas keamanan menyambut kami saat taksi berhenti di depan pintu masuk hotel.
Mama berjalan ke lobi dan mendekati meja resepsionis. Sebelum memberi penjelasan apa pun, wanita muda itu memanggil temannya dan meminta agar mengantar kami ke kamar yang Mama sebutkan. Kami saling bertukar pandang. Biasanya mereka tidak akan mengizinkan yang bukan tamu untuk naik menuju kamar yang tidak kami bayar. Pasti Uncle Hendra yang melakukan ini.
Kami bergegas mengikuti pria yang ditunjuk untuk mengantar kami ke elevator. Tiba di lantai tujuan, dia ikut bersama kami sampai di depan pintu kamar. Kami bisa mendengar suara pertengkaran dari dalam kamar tersebut. Mama menekan bel, lalu terdengar bunyi langkah kaki mendekati pintu. Suasana hening sejenak. Pasti yang berada di dekat pintu tertegun melihat wajah Mama lewat lubang pengintip pada pintu.
“Sayang, ini tidak seperti yang kamu duga,” kata Dad yang membukakan pintu. Kami terkejut melihat dia hanya memakai mantel, tidak tahu ke mana pakaiannya.
“Terima kasih, Pak,” kataku kepada pria yang mengantar kami tersebut. Dia mengangguk, lalu pergi meninggalkan kami. Aku dan Lily saling bertukar pandang.
“Aku tidak tahu di mana pakaianku. Sebaiknya aku tidak berganti pakaian. Aku harus ke kantor polisi sekarang,” kata Dad mengejutkan kami. Bagaimana mungkin dia keluar dengan pakaian begitu?
“Oh. Hai, Colin, Lily. Kalian datang untuk menemuiku?” sapa Aunt Chelsea dengan wajah tanpa dosa.
Aku mengabaikannya dan memasuki kamar. Dad benar. Aku tidak menemukan pakaian atau sepatu miliknya di dalam kamar. Perempuan ini pasti sengaja melakukannya. Aku memeriksa setiap bufet dan lemari, nihil. Bahkan di kamar mandi juga tidak ada.
“Apa yang kamu cari, Colin?” tanya Aunt Chelsea yang mengikuti ke mana aku melangkah. Dia pasti mau melihat sendiri apakah aku menemukan benda yang dia sembunyikan.
“Dad benar, Ma. Tidak ada pakaian Dad di mana pun. Perempuan ini pasti melakukannya supaya Dad tidak bisa pergi dari sini,” laporku kepada Mama. Dia mengangguk. Aunt pasti membuangnya. Tidak mungkin baju dan sepatu bisa hilang begitu saja.
“Kita pulang.” Mama membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu.
“Tunggu. Kalian mau ke mana? Kalian tidak bisa membawa Will-ku,” kata Aunt Chelsea yang berjalan cepat untuk menyusul Mama.
__ADS_1
Aku segera menghentikannya. “Cukup, Aunt. Jangan ganggu papa atau mamaku lagi. Sudah cukup,” kataku dengan serius.
Dia malah tersenyum. “Baiklah. Pergilah. Tunggu kabar baik dariku.” Dia mengusap-usap perutnya. “Kamu sebentar lagi akan memanggil aku mama.”
Aku melihat ke arah pintu. Baik Lily maupun kedua orang tuaku tidak ada lagi di dekat kami. Jadi, hanya aku yang mendengar omong kosongnya itu. “Jika pernikahan Dad dan Mama sampai hancur karena perbuatanmu, aku akan membalasmu dua kali lipat. Apa kamu dengar itu? Aku tidak peduli kamu adalah kakak mamaku. Yang kamu lakukan ini sudah keterlaluan.”
“Colin, apa kamu pikir aku akan diam saja dan membiarkan perempuan lain merebut Will dariku? Pertama mamamu, lalu sekarang perempuan rendahan itu. Tidak, Colin. Sudah saatnya aku dan Will hidup bahagia bersama. Aku sudah cukup lama menunggu waktu ini.” Dia tersenyum senang.
“Aunt sudah gila,” umpatku. Aku menarik tanganku dari genggamannya dan menyusul keluargaku.
“Iya! Itu benar! Aku sudah gila. Aku gila karena cinta!” serunya bahagia.
Oh, Tuhan. Apa yang akan terjadi kepada orang tuaku? Mereka sangat bahagia dalam pernikahan mereka. Tidak pernah ada sosok ketiga yang berhasil masuk. Bagaimana mungkin keluarga kami sendiri tega melakukan ini? Aku tahu bahwa Aunt Chelsea tertarik kepada Dad. Tetapi aku tidak menduga bahwa dia akan tega melakukan hal jahat sampai sejauh ini.
Keluargaku menunggu sampai aku datang dengan menahan pintu elevator. Hanya ada kami di dalam ruang kecil itu, jadi aku tidak khawatir melihat penampilan Dad. Tetapi begitu ada pasangan yang masuk pada lantai bawah, kami berpura-pura tidak melihat tatapan aneh mereka.
“Biar aku yang menyetir, Dad,” kataku melihat Dad berjalan menuju jok pengemudi. Mama memberi kunci cadangan mobil kepadaku dan kami segera masuk bersama.
“Ke rumah sakit terdekat, Colin,” kata Dad memberi perintah. Aku menurut.
“Apakah Aunt melukai Dad?” tanya Lily khawatir.
“Aku tidak tahu. Aku merasa pusing dan perutku tidak enak. Mungkin karena aku lapar. Tetapi aku tidak bisa melakukan apa pun sebelum memeriksakan diriku,” kata Dad dengan tegas.
“Mengapa tidak bisa? Dad tidak selera makan?” tanya Lily.
“Sebaiknya kita pulang saja. Aku bisa memanggil dokter ke apartemen untuk memeriksa keadaanmu,” kata Mama memberi usul.
“Tidak. Apa pun yang Chelsea lakukan kepadaku, dokter harus memeriksanya. Aku membutuhkan semua bukti untuk aku tunjukkan kepadamu,” kata Dad kepada Mama dengan wajah sedih.
“Apa maksud Dad?” tanya Lily bingung. Dad menoleh ke arahku. “Mengapa diam saja, Dad?”
“Kamu masih kecil. Seharusnya kamu tidak mendengarkan ini.” Dad mendesah pelan. “Kamu bahkan belum genap lima belas tahun.”
__ADS_1
“Lily masih kecil, tetapi dia mengerti apa yang akan Dad lakukan,” kataku melerai.
Dad melirik Lily, lalu mendesah pelan. “Aunt-mu memaksakan kehendaknya kepadaku.”