Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 53 - Nama Lahir


__ADS_3

Pada hari Minggu itu, kami hanya bersantai di rumah. Kakek dan Grandpa pergi usai makan siang bersama kami. Nenek menunjukkan foto-foto yang mereka simpan di dalam album. Wyatt tertawa melihat perubahan wajah Charlotte dari bayi hingga tumbuh besar. Melihat mereka bertengkar sangat menghibur karena mereka tetap terlihat saling mencintai.


Ketika Nenek dan Grandma merasa bersalah aku tidak tumbuh besar bersama mereka, aku meminta mereka untuk melupakan masa lalu. Kami sudah berkumpul lagi, membicarakan masa lalu hanya akan membuat kami membuka luka yang hampir pulih.


Saat Kakek dan Grandpa kembali, mereka memberi aku dan Charlotte sebuah kotak perhiasan. Aku terkejut melihat sebuah kalung yang sangat indah di dalamnya. Mereka memberikan kalung yang mirip untuk kami berdua. Nenek dan Grandma membantu kami memakainya.


“Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kalian, tetapi kalung itu bukan perhiasan biasa,” kata Grandpa yang tertawa bersama Kakek. “Ada pelacak pada kalung itu seperti yang ada pada gelang Clarissa. Karena insiden kemarin, kami berdiskusi dengan Hendra untuk menggunakan alternatif lain yang bisa kami gunakan untuk mencari kalian andai sesuatu terjadi.”


“Mengapa aku membutuhkan kalung ini juga, Grandpa?” tanya Charlotte heran.


“Kami tidak mau kamu merengek dan menuduh kami pilih kasih karena tidak memberikan kalung yang sama untukmu,” goda Grandpa. Charlotte cemberut mendengarnya. Aku memeluk adikku agar dia tertawa lagi.


Pada hari Senin pagi, Grandpa mengantar aku ke kampus dalam perjalanannya menuju tempat janji temu dengan rekan bisnisnya yang kebetulan sedang berada di Jakarta juga. Saat tiba di gedung di mana jurusanku berada, aku merasa seperti orang lain. Biasanya para mahasiswa mengabaikan aku, tetapi kali ini mereka mengarahkan pandangan mereka padaku.


Rasanya tidak ada yang berubah padaku, mengapa mereka mendadak tertarik denganku? Aku memasuki ruang kuliah dan pemandangan yang sama pun terjadi. Teman-teman melihat ke arahku dan menatap aku dari kepala hingga kakiku.


Beberapa menit sebelum kuliah dimulai, Manda datang dan langsung duduk di sisiku. Aku suka duduk di barisan depan. Posisi yang tidak terlalu disukai oleh teman-temanku, jadi kursi di sisi kanan atau kiriku sering kosong. Hanya Manda yang mau duduk satu barisan denganku.


“Wow, Mila! Kamu terlihat sangat cantik pagi ini!” Dia menatap aku dengan saksama. “Apa kamu baru dapat undian besar? Pakaian dan tas kamu ini sangat mahal.”


Ooo. Jadi, itu yang membuat beberapa mahasiswa tadi mendadak tertarik padaku. Aku hanya memakai kemeja dan celana panjang yang ada di ruang pakaian, juga mengambil salah satu tas yang tersedia. Aku tidak tahu bahwa apa yang aku kenakan adalah barang mahal.


Grandma memberikan semua barang-barang lamaku kepada pelayan untuk didonasikan sehingga aku tidak punya pilihan lain selain mengenakan apa yang tersedia. Bagaimana mereka bisa tahu bahwa apa yang aku kenakan ini adalah barang mahal?


“Anggap saja aku baru dapat undian,” ucapku tanpa memberinya petunjuk apa pun mengenai hal baik yang baru saja terjadi padaku. Aku telah menemukan keluargaku.

__ADS_1


“Kamu selalu saja menganggap aku orang asing. Kita sudah lama berteman, sejak hari pertama kita kuliah di sini. Tetapi sepertinya hanya aku yang menganggap kita adalah teman baik,” katanya dengan nada sedih.


“Apa maksud kamu? Kita teman satu angkatan, lalu di mana letaknya aku menganggap kamu orang asing?” tanyaku tidak mau terpancing.


“Aku selalu terbuka menceritakan segalanya kepadamu. Tentang diriku, mimpiku, keluargaku, tetapi kamu tidak pernah menceritakan apa pun. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan kamu lakukan begitu kamu selesai kuliah nanti,” katanya. Kami sudah pernah memperdebatkan hal ini, aku tidak mau membahasnya lagi. Siapa dia sehingga berani menuntut aku untuk bersikap terbuka padanya?


“Diam? Hanya ini yang bisa kamu lakukan? Diam dan tidak meresponsi ucapanku tadi?” tuntutnya.


“Aku tidak pernah meminta kamu menceritakan segalanya mengenai hal pribadi padaku. Jika kamu ingin berbagi, aku tidak akan melarang. Lalu apa yang membuat kamu merasa berhak meminta aku terbuka padamu mengenai hidupku?” Aku balik bertanya. “Kita sudah pernah membahas ini, apa kamu ingat apa ucapan terakhirmu pada hari itu?”


“Selamat pagi, semuanya!” seru dosen yang masuk ke ruang kuliah. Teman-teman yang mengobrol berhenti bicara, dan mereka yang berdiri segera duduk di tempatnya masing-masing. “Sebelum kita mulai kuliah pada hari ini, ada satu pengumuman penting. Teman kalian, Mila Foster, menemukan keluarga kandungnya setelah pencarian yang panjang. Jadi, mulai hari ini dia resmi menggunakan nama lahirnya. Clarissa Raina.”


Suasana kelas berubah riuh dengan mahasiswa yang sibuk bicara terhadap satu sama lain. Aku bisa merasakan pandangan mata Manda tertuju kepadaku, tetapi aku mengabaikannya saja. Keadaan ruangan kembali tenang begitu dosen meminta semua orang untuk diam.


“Terima kasih, Bu,” kataku. Aku tidak tahu kapan Om Hendra sempat melakukan semua ini, tetapi aku sangat berterima kasih kepadanya. Setelah beberapa hari mendengar orang-orang memanggil aku dengan nama Clarissa, aku tidak yakin aku akan menoleh bila dipanggil dengan nama Mila.


Dosen tersebut kembali menenangkan ruangan yang riuh dan meminta kami semua untuk fokus mendengarkan bahan perkuliahan yang akan dia bawakan pada hari ini. Aku sangat bersyukur aku tidak pernah dekat dengan teman-teman satu kelasku. Karena aku yakin aku tidak akan diberondong dengan pertanyaan oleh mereka usai kuliah nanti.


Setelah mengikuti dua mata kuliah, aku mencari tempat untuk makan siang. Grandma memberi aku kotak bekal berisi makanan. Aku sengaja menghindari Manda karena aku tidak mau membahas hal yang tidak perlu dengannya. Langkahku terhenti saat menginjak anak tangga terakhir melihat Hadi dan Colin berdiri tidak jauh dari depanku.


“Makan siang bersama kami?” tanya Hadi. Aku mengangguk. “Mama memaksa aku membawa bekal hari ini. Jadi, kita bisa memakannya bersama. Kotak makanannya ada di mobil.”


Aku tidak menolak saat Hadi menggandeng tanganku. Colin tersenyum penuh arti, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Hanya berdehem pelan. “Grandma juga memberi aku bekal.”


“Itu adalah kabar baik. Aku bisa makan bagian kamu,” kata Colin senang. “Ngomong-ngomong, selamat untuk pertunangan kalian, Clarissa. Aku jamin, walaupun dia laki-laki yang kaku, Hadi adalah laki-laki yang baik. Kamu tidak akan menyesal menjadi pasangannya.”

__ADS_1


“Sebaiknya kamu urus saja urusanmu sendiri, Cole. Kamu tidak perlu bicara dengannya atas namaku. Aku bisa meyakinkan dia untuk memilih aku, ‘kalau’ aku mau menikah dengannya,” kata Hadi. Dia sengaja memberi tekanan pada kata kalau. Aku mendengus pelan.


“Apa yang ada pada Clarissa yang membuat kamu tidak mau menikah dengannya?” tantang Colin. “Dia cantik, menarik, baik hati, cerdas, apa lagi yang kurang?”


“Adikku juga punya semua kualitas itu, tetapi lihat apa yang kamu lakukan padanya.” Hadi menatap sahabatnya itu dengan tajam. “Sekali lagi, urus saja urusanmu sendiri.”


Berjalan dari jurusanku menuju tempat parkir di mana mobil Hadi berada, kami harus melewati gedung jurusannya. Beberapa mahasiswa melihat ke arah kami dengan tatapan ingin tahu, para mahasiswa putri malah menatap tidak suka ke arahku. Dia pasti punya banyak penggemar.


Kami memilih salah satu bangku untuk duduk bersama dan menyantap makan siang kami. Colin bercerita mengenai judul proposal yang sedang dikerjakannya dan meminta pendapat Hadi. Aku hanya mendengarkan mereka berdiskusi. Ketika mereka bertanya mengenai studiku, maka aku juga berbagi tentang proposal yang sedang aku kerjakan.


“Wah. Bisa-bisa kita akan wisuda bersamaan. Menarik. Kita buat acara bersama saja supaya kita bisa saling menghadiri acara satu sama lain,” seru Colin memberi pendapatnya.


Hadi menatapnya dengan serius. “Apa kamu lupa bahwa Dira adalah adikku? Aku tidak sudi dia harus berada dalam satu ruangan denganmu. Dan camkan ini baik-baik, aku tidak akan mengundang kamu dalam acara wisudaku.” Colin mengerang seperti anak kecil.


“Bila kamu tidak suka dengan apa yang Colin lakukan pada Dira, mengapa kamu masih berteman dengannya?” tanyaku yang sudah lama menahan diri menanyakan hal itu kepadanya.


“Karena aku tidak bisa memungkiri bahwa dia adalah teman yang baik. Dia melakukan kesalahan besar, itu benar. Tetapi dia tetaplah teman yang baik. Dan aku sudah tahu mengapa dia mengambil keputusan bodoh itu. Jadi … lagi pula berteman dengan orang lain juga akan sama saja hasilnya,” aku Hadi. “Aku juga pernah melakukan kesalahan yang membuat Cole marah padaku, jadi apa yang membuat aku lebih baik darinya?”


“Dira juga tidak keberatan dengan persahabatanmu dengannya,” kataku menambahkan.


“Tentu saja tidak. Dia tidak akan mau kakaknya kesepian tanpa seorang teman.” Colin melingkarkan tangannya di pundak Hadi yang segera dia tepis.


Itu adalah hal yang aku lihat mirip di antara kami berdua. Hadi hanya punya seorang sahabat. Jauh berbeda dengan Colin yang punya banyak teman. Aku malah tidak punya seorang pun yang dekat denganku. Manda menganggap aku temannya, tetapi aku tidak.


Apa Hadi pernah punya pengalaman dikhianati pada masa lalunya? Om Hendra pasti menjaga anak-anaknya dengan baik agar tidak ada yang menyakiti mereka. Lalu bagaimana mungkin dia terlihat pernah mengalami yang aku alami?

__ADS_1


__ADS_2