
Wyatt duduk di sofa di depanku. Dia melihat ke sekeliling kami, tetapi menghindari tatapan mataku. Aku menunggu dia menenangkan rasa terkejutnya. Ada banyak hal yang perlu kami bicarakan berdua saja sebelum aku membahas semua ini dengan para orang dewasa. Ini adalah masalah besar yang tidak bisa aku putuskan sendiri.
“Orang tuaku dan kakek serta nenek Charlotte sudah lama berteman baik. Tetapi aku tidak dekat dengan mereka. Jadi, ketika aku bertemu dengan Finn pada satu acara bersama orang tuaku, aku percaya saja dengan semua yang dia katakan mengenai Grandpa Mason dan Grandma Claudia,” kata Wyatt memulai ceritanya.
“Dia membenci mereka karena Aunt Abby, mantannya, meninggalkan dia setelah dia memberikan segalanya untuk kebahagiaannya. Rumah, apartemen, mobil, perhiasan, bahkan banyak hadiah lainnya. Perusahaannya sempat berada di ambang kebangkrutan. Dan berita itu bisa dengan mudah ditemukan di internet. Jadi, aku percaya kepadanya.
“Aku tidak ingat bagaimana dia melakukannya, tetapi aku merasakan kebencian yang sama kepada Grandpa Mason dan Grandma Claudia. Aku semakin membenci mereka karena mereka sangat dekat dengan orang tuaku. Mereka adalah rekan bisnis. Aku mulai khawatir perusahaan kami juga akan bangkrut karena ulah mereka. Karena itu aku memutuskan untuk menghancurkan keluarga itu lebih dahulu.
“Charlotte sudah tinggal di Amerika sejak dia berusia dua belas tahun, tetapi aku tidak pernah bertemu dengannya. Finn memberi ide bagaimana membalas perbuatan keluarga White. Merusak reputasi mereka lewat cucu mereka. Sayangnya, Charlotte adalah gadis baik. Meskipun dia punya masalah hidup, dia tidak mau menyentuh minuman keras, obat terlarang, atau menjalani hidup bebas. Aku tidak bisa membuat dia menjadi pemabuk, pecandu, atau hamil di luar nikah.
“Itu adalah rencana kami semula. Aku jatuh cinta pada Charlotte dan serius dengan hubungan kami. Aku tidak akan menyakiti dia seperti yang aku rencanakan dan Finn sudah tahu itu. Dia tidak bisa menerima keputusanku dan mengancam akan memberi tahu semua orang mengenai kerja sama di antara kami.” Dia terdiam sesaat. “Aku mencintai Charlotte, Hadi. Sangat mencintainya.”
Aku percaya dia mencintai sahabatku karena dia menunjukkannya dengan memberi penjelasan dalam bahasa Indonesia. Dia pasti belajar sangat keras sehingga bisa bicara selancar ini dan tidak menggunakan bahasa ibunya sama sekali.
“Bukan aku yang harus kamu yakinkan, Wyatt. Urusanmu dengan Charlotte bukanlah urusanku. Tetapi begitu kamu menyakiti dia, maka itu menjadi urusan di antara kita.” Aku menatapnya dengan serius. “Apa yang pria itu inginkan dari Clarissa?”
“Aku tidak tahu. Yang aku tahu, dia membenci keluarga ini dan tidak mau melihat mereka bahagia. Dia tidak menceritakan secara mendetail mengenai Clarissa. Bagaimana dia menculiknya, siapa yang selama ini merawatnya, nihil.” Dia menggeleng pelan.
“Lalu apa rencanamu selanjutnya? Tetap berakting lugu dan bertunangan dengan Charlotte tanpa memberi tahu dia alasan kamu mendekatinya dan hubunganmu dengan Finley?” tanyaku ingin tahu.
“Dia akan menolak aku, Hadi. Dia tidak akan bisa memaafkan aku bila dia mengetahui semua ini.” Dia menatap aku dengan pandangan memohon.
“Kamu harus memberi tahu segalanya kepada dia dan keluarga ini. Jika kamu tidak melakukannya sebelum pertunangan kalian besok, aku yang akan membuka kedokmu. Dan jangan lari. Aku benci laki-laki yang tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya.” Aku sayup-sayup mendengar suara percakapan para wanita di luar pintu.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Charlotte yang lebih dahulu masuk. Wajahnya begitu ceria saat melihat Wyatt. Dia segera duduk di sisinya dan melingkarkan tangannya di lengan pemuda itu. Aku sudah bisa membayangkan kacaunya keadaan saat dia mengakui segalanya nanti.
__ADS_1
Charlotte bertanya, tetapi Wyatt segera mengalihkan topik pembicaraan. Dia masih punya waktu sampai besok sore, jadi aku tidak memotong kalimatnya tersebut. Mereka mendiskusikan mengenai persiapan terakhir untuk acara esok hari, maka aku hanya mendengarkan. Merasakan seseorang menyentuh tanganku, aku menoleh. Clarissa sedang menatap aku penuh tanya. Tetapi aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalaku.
Aku pamit beberapa menit kemudian untuk menjemput adikku dari sekolah mereka. Aunt Claudia memberi kudapan untuk bisa disantap kedua adikku dalam perjalanan pulang. Clarissa mengantar aku sampai ke pekarangan depan rumahnya.
“Kamu tidak apa-apa? Sikap kamu dengan Wyatt sedikit berubah.” Kami berdiri di sisi mobilku. “Apakah terjadi sesuatu saat kalian sedang berdua saja.”
“Sebaiknya kamu tanya dia. Aku tidak punya hak untuk menceritakan rahasia orang lain. Terima kasih sudah mengantar aku.” Aku mendekat dan mencium pipinya. Dia menarik napas terkejut. “Sampai besok.”
“Sa-sampai besok.” Aku tersenyum melihat wajah pucatnya berubah semerah tomat.
Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok saat Wyatt mengakui segalanya. Aku sangat berharap dia akan melakukannya hari ini. Semakin sedikit orang yang terlibat akan semakin sedikit drama yang akan ditampilkan. Yang pasti aku tidak akan membiarkan dia bertunangan dengan Charlotte tanpa memberi tahu kebenarannya.
Adi sudah menunggu di bangku favoritnya saat aku datang. Dia asyik bermain dengan ponselnya sampai tidak memerhatikan gadis yang duduk di sisinya. Aku yakin perempuan itu menyukainya karena aku sering melihat dia bicara dengan adikku.
Kami berjalan beriringan menuju sekolah Dira. Aku melihat dia sedang mengobrol dengan seorang pemuda. Orang yang katanya memberi dia surat cinta pertama kali yang menyebabkan guyonan tidak lucu. Entah siapa yang punya ide bodoh berusaha untuk mempermalukan adikku dengan membuat kotak khusus yang bisa diisi dengan surat cinta yang ditujukan kepadanya.
“Maksud Kakak, Jordan?” tanya Dira sambil memasang sabuk pengaman. Aku mengangguk setuju. “Aku berteman dengan semua orang, bukan hanya dengannya.”
“Tetapi dari gerak-gerik tubuhnya, dia menganggap kalian lebih dari teman,” kata Adi menimpali. Dia mengatakan apa yang aku pikirkan.
“Aku sudah bilang begitu juga pada Dira. Tetapi dia tidak percaya padaku. Bahkan akhir-akhir ini Jordan terlihat berubah. Dia tidak lagi menggunakan kacamata dan dia mengubah gaya rambutnya. Sebelumnya, dia terlihat seperti pemuda lugu, sekarang dia mirip model,” ujar Wendy.
“Kalian sepertinya takut sesuatu terjadi padaku. Jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku. Kalau kalian pikir aku akan jatuh cinta kepadanya, lupakan hal itu. Aku ingin fokus dengan sekolahku dan laki-laki tidak masuk dalam rencanaku ke depan. Setelah semua ujian ini selesai, aku hanya ingin fokus dengan pekerjaanku sebagai model,” kata Dira dengan tegas.
“Perempuan seperti kita lemah dengan perhatian. Apa kamu yakin kamu tidak akan jatuh dalam pelukannya bila dia terus bersikap seramah itu kepadamu?” goda Wendy.
__ADS_1
“Jordan bukan laki-laki tipeku.” Dira mengibaskan tangannya seperti mengusir serangga menjauh dari wajahnya. “Apa ini, Kak?” Dia mengambil kotak bekal yang ada di antara kami.
“Makanan ringan dari Aunt Claudia.” Aku hanya tersenyum menyadari dia sengaja mengalihkan topik pembicaraan kami.
Seperti biasanya, kami mengantar Wendy ke kafe tempat kerjanya sebelum pulang ke rumah. Aku menyerahkan kunci mobil pada Pak Sakti, lalu menyusul adik-adikku memasuki rumah. Pak Abdi memberi tahu kami agar tidak membuat keributan karena suasana hati Mama sedang buruk.
Mendengar itu, kami bertiga saling bertukar pandang. Hanya ada satu hal yang bisa membuat Mama begitu, atau lebih tepatnya satu orang. Kami berjalan menuju tangga dalam diam dengan harapan Mama tidak akan tahu kepulangan kami, tetapi pintu ruang khususnya terbuka.
“Aku tidak percaya ini!” seru Mama dengan kesal. Dengan matanya yang lembap dan wajahnya yang memerah, aku tahu bahwa dia baru saja menangis. “Papa kalian sudah membuat aku sangat kecewa. Aku kecewa dia sudah membuat aku kehilangan tawaran menjadi penulis naskah film!”
Aku dan adik-adik saling bertukar pandang. Hilang sudah kesempatan untuk kabur dan beristirahat sejenak di kamar. Kami berjalan mendekati Mama dan memeluknya. Kami membawanya kembali masuk ke ruang kerjanya, lalu duduk bersama. Ibu Yuyun datang membawakan minuman hangat dan makanan ringan untuk kami.
Papa selalu mendukung apa pun yang Mama ingin lakukan dalam hidupnya. Selalu. Jika Papa sampai melarang Mama melakukan sesuatu, maka itu artinya ada yang mencurigakan dari orang yang ingin bekerja sama dengannya. Papa selalu memeriksa latar belakang dan sejarah kerja sama suatu agen, penerbit, atau apa pun yang mendekati kami. Karena itu karier modeling Dira dan Mama sebagai penulis menanjak dengan pesat.
Drama berlanjut saat Papa pulang kerja. Mama menolak untuk bicara berdua saja dengannya di kamar mereka, tetapi Papa berhasil membujuknya. Saat kami bertemu di ruang makan untuk makan malam, mereka sudah mesra lagi. Aku dan adik-adik saling bertukar pandang penuh arti. Aku sangat mencintai keluargaku.
“Wow, Hadi. Itu berita yang sangat buruk.” Aku dan Colin berada di lapangan bola basket, bersiap untuk bertanding lagi dengan teman-teman kami. “Aku tidak bisa membayangkan reaksi Charlotte nanti. Dia gadis yang baik, tidak seharusnya semua ini terjadi padanya.”
Aku mengangkat satu alisku ke arah Colin. “Kalian berdua sama berengseknya, jangan lupakan itu.”
“Aku sudah meminta maaf dan menyesali perbuatanku. Apa lagi yang kamu mau supaya kamu berhenti menganggap aku sebagai penjahat?” Colin mendesah keras. “Aku terlalu mencintai Dira, hanya itu alasan aku melakukan semua kebodohan itu.”
“Menjauh dari adikku, Cole. Aku sudah bilang, kesempatanmu sudah berakhir.”
“Aku sedang menjauh darinya. Tetapi hanya untuk sementara. Begitu amarahnya sudah mereda, aku akan lakukan apa saja untuk mendapatkan hatinya kembali.”
__ADS_1
Aku menatapnya tidak percaya. Kadang-kadang aku bertanya sendiri, apa yang membuat aku mau menjadi sahabat pemuda bodoh yang sedikit gila ini? “Ngomong-ngomong, Dira sedang dekat dengan siswa putra satu sekolahnya.”