Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 139 - Kegigihannya


__ADS_3

Tante Lindsey memaksa kami semua untuk tinggal makan siang bersama mereka. Aku tidak tahu apa yang Charlotte dan Dira lakukan bersama Clarissa di kamarnya. Semoga saja mereka menghibur dia dan bukan memikirkan ide iseng untuk mengusikku lagi.


“Luca sudah disingkirkan. Apa sekarang kamu merasa tenang dan tidak khawatir lagi akan ada yang mengambil dia darimu?” goda Wyatt yang duduk di tempat kosong di sisiku.


“Aku tidak peduli kalau ada yang mendekati dia. Kami tidak ada hubungan apa pun,” jawabku serius. Mengapa tidak ada yang menganggap aku serius dengan ucapanku itu?


Wyatt tertawa kecil. “Mulutmu memang selalu tidak sejalan dengan tingkahmu. Kamu bilang tidak akan ada harapan untuk hubungan kalian, eh, kamu mencium dia dengan mesra. Kamu mengatakan tidak peduli bila ada yang mendekati dia, lalu siapa yang segera mengaku-ngaku sebagai pacarnya di bandara? Yang baru saja terjadi, kamu tidak mau tahu tentang dia, tetapi kamu orang pertama yang berlari keluar rumah dan memeluk Clarissa,” ejeknya.


“Terserah kamu mau bilang apa,” kataku tidak acuh. Bukan salahku kalau gadis itu begitu menggoda. Pemuda mana yang bisa menahan dirinya ketika gadis yang pernah dia cintai menciumnya mesra?


“Tidak ada gunanya menggoda kakakku, Wyatt. Kamu tidak akan bisa membuat dia buka mulut atau berubah pikiran. Hanya Clarissa yang bisa.” Adi tertawa bersama Wyatt. Sial.


Seorang pelayan datang dan memberitahukan bahwa makan siang sudah siap. Maka kami semua berdiri dan satu per satu berjalan keluar dari ruangan tersebut. Saat aku keluar dari ruang keluarga, Clarissa bersama Charlotte dan Dira berjalan menuruni tangga. Dia kelihatan lebih segar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian.


Wyatt menunggu sampai pacarnya berada di dekatnya, sedangkan aku dan Adi berjalan menuju ruang makan. Lagi-lagi semua orang sengaja membuat formasi agar aku dan Clarissa duduk bersisian. Aku menoleh ke arah Tante Lindsey dan Om Edu yang berpura-pura tidak menyadarinya.


“Kata Dira, kamu mengkhawatirkan keadaanku,” ucap Clarissa setelah berterima kasih kepada pelayan yang menuangkan air minum pada gelasnya.


“Semua orang mengkhawatirkanmu, karena itu kami berada di sini,” balasku sekenanya.


Dia tersenyum. “Kamu seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kamu tahu sendiri bahwa aku bisa menjaga diri dengan baik. Seandainya kamu di sana, kamu akan melihat kehebatanku melawan dua laki-laki bertubuh besar seorang diri,” katanya begitu bangga.


“Maksudmu, orang suruhan Luca?” tanyaku ingin tahu.


Dia menganggukkan kepalanya. “Aku sudah berhasil membekuk mereka ketika orang-orang yang menolongku itu datang. Untung saja mereka tidak bersenjata seperti orang suruhan Finley.”


“Apa Luca menyakiti kamu?” tanyaku lagi.


“Dia menyentuh pipiku, memeluk tubuhku, mencium wajahku, dan ….” Dia melihat ke arah tubuhnya. “Dia mengganti pakaianku, maka aku anggap dia sudah menyakiti aku. Jadi, aku memukulnya di bagian yang paling sakit. Ulu hati dan alat vitalnya.”

__ADS_1


Aku memejamkan mata membayangkan rasa sakit itu. Tanganku otomatis mengepal mendengar dia menyebut tentang pelukan dan ciuman, apalagi pemuda itu berani mengganti pakaiannya. Tetapi mendengar bahwa dia mendapat hukuman yang setimpal, aku diam-diam merasa bangga kepada Clarissa. Iya, aku tahu dia bisa menjaga dirinya. Ular berbisa saja dia tangani dengan santai. Namun kami tidak bisa meremehkan musuh. Dia pernah hilang selama belasan tahun.


“Seharusnya dia berbaring saja di tempat tidur setelah aku meninju ulu hatinya. Dia malah bangun dan mencoba membawaku kembali ke tempat tidur. Aku terpaksa memukul alat vitalnya dengan lututku,” katanya dengan santai. “Dia menculik gadis yang salah dan menyewa orang yang lemah.”


“Jangan menganggap remeh musuhmu. Kamu harus berhati-hati, Clarissa,” kataku mengingatkan.


Dia berhenti memotong daging di piringnya, lalu menoleh ke arahku. “Apa kamu mengkhawatirkan aku, Hadi? Kamu takut bila aku terluka atau disakiti orang?”


“Aku hanya tidak mau kamu menyusahkan Papa dengan mencari keberadaan kamu lagi, andai ada yang berbuat jahat terhadapmu,” kataku acuh tak acuh. Dia hanya tersenyum.


Keluarga kami larut dengan percakapan mereka masing-masing dengan orang yang duduk di dekat mereka. Aku hanya mendengarkan obrolan yang terdengar oleh telingaku dan tidak mengajak Clarissa bicara lagi. Dia juga hanya diam sampai kami selesai makan.


Om Edu menyampaikan kepada Clarissa apa yang menjadi kesepakatan antara mereka dengan orang tua Luca. Tepat seperti yang sudah disampaikan Papa kepadaku. Mereka sepakat untuk mengakhiri permasalahan dengan damai, tanpa melibatkan pihak yang berwajib.


“Aku tidak keberatan, Kakek. Aku hanya mau dia pergi dari hidup kita selamanya,” kata Clarissa.


“Jangan khawatirkan itu, sayang. Kami tidak akan berhubungan dengan keluarga mereka lagi,” kata Aunt Claudia berjanji. “Aku juga tidak akan memperkenalkan kamu dengan laki-laki mana pun. Aku sadar bahwa kamu berhak untuk memilih sendiri siapa yang akan menjadi suamimu.”


Hanya tinggal beberapa jam lagi, lalu aku akan bebas dari keisengan mereka semua. Tidak akan ada yang bisa memaksa aku satu ruangan dengan Clarissa atau duduk di dekatnya. Aunt Claudia akan tinggal selama satu minggu lagi sampai Uncle Mason menyelesaikan urusan bisnisnya. Selama itu, aku tidak perlu datang ke rumah ini.


Aku mendesah lega bisa berada di kamarku lagi. Black dan Gold juga ikut masuk dan segera naik ke atas tempat tidurku. Aneh. Tidak biasanya mereka mau ke kamarku. Dira adalah orang yang paling mereka sayangi di rumah ini, jadi kamarnya yang menjadi favorit mereka.


Karena aku tidak memahami bahasa anjing, aku membiarkan mereka melakukan apa yang mereka suka. Aku tidak keberatan sesekali tidur bersama mereka. Apalagi mereka tidak berisik dan tidak bergerak sampai aku bangun pagi nanti.


Pintu kamarku diketuk ketika aku sedang bersiap untuk tidur. Aku mempersilakan masuk, dan Dira muncul dari balik pintu. “Ah, iya. Mereka ada di sini!” serunya melihat kedua anjing kami berbaring di atas tempat tidurku. “Mereka benar-benar anjing yang pengertian.” Dira duduk di tempat tidurku dan bergantian memeluk kedua anjing tersebut. “Giliran Kakak yang dapat penghiburan.”


“Penghiburan? Penghiburan apa?” tanyaku tanpa mengangkat kepalaku dari layar tabletku.


“Selama aku sedang patah hati, mereka menemani aku kapan saja aku merasa sedih. Karena aku sudah berbaikan dengan Colin, aku tidak sedih lagi,” jawabnya memberi petunjuk.

__ADS_1


Aku melihat ke arah Black dan Gold. “Mereka hanya merindukan aku. Tidak mungkin mereka duduk di sini karena mereka bisa memahami perasaanku. Kamu terlalu banyak menonton video tentang anjing dan kehebatannya. Mereka semua membohongi kamu.”


“Ya, sudah, kalau Kakak tidak percaya. Kita lihat saja siapa yang akan mereka ikuti besok sepanjang hari.” Dira tersenyum, lalu turun dari tempat tidur. “Selamat malam, kakakku sayang.”


“Ya, ya. Selamat menikmati panggilan video dengan calon suamimu,” ejekku tidak mau kalah. Dia menjulurkan lidahnya kepadaku. Aku hanya tertawa.


Kebebasan yang aku harap-harapkan itu ternyata musnah begitu saja. Aku memang tidak perlu datang ke rumahnya, tetapi dia yang datang ke rumahku. Setiap hari. Alasannya untuk membantu proyek buku baru Mama. Dira sudah mengalaminya, kali ini giliranku. Aku penasaran. Apa Adi juga akan mengalami hal yang serupa ketika dia punya masalah dengan mantan pacarnya?


Bukan hanya satu hari saja, selama satu minggu terakhir liburan kami, Clarissa datang ke rumah dan tinggal sampai jam makan siang usai. Jadi, kami makan siang bersama hampir setiap hari. Hampir, karena aku tetap melakukan kebiasaanku bermain bola basket bersama Colin pada hari Sabtu pagi.


Dia masih diam dan tidak mau bicara banyak mengenai apa yang terjadi pada keluarganya. Aku tidak memaksa dia untuk terbuka kepadaku. Jika saatnya sudah tiba, dia sendiri yang akan menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Senin pagi itu aku bangun dengan malas-malasan, karena Papa memaksa aku untuk ikut melatih karyawan magang yang akan mulai bekerja pada hari ini. Padahal dia belum menjadi atasanku tetapi tingkahnya sudah seperti bos. Aku tidak bisa melawan lagi begitu Papa mengancam akan menolak aku bekerja di perusahaan pada awal tahun depan.


Gold dan Black berlari di sisiku saat kami joging pagi bersama. Dira tertawa kecil melihatnya dan berlari mendahului aku. Menjengkelkan sekali. Adikku benar. Kedua anjing kami menemani aku tidur setiap malam, bahkan mengekori aku ke mana pun aku pergi selama berada di rumah.


Padahal aku tidak merasa sedih atau emosi negatif lainnya. Hubunganku dan Clarissa sudah berakhir. Aku sama sekali tidak berharap akan kembali bersamanya atau berpikir untuk memperbaiki keadaan. Lalu apa yang dipikirkan kedua anjing ini yang tidak aku ketahui?


“Walaupun mereka bukan karyawan tetap dan hanya bekerja untuk tiga bulan, aku harap kamu bersikap baik kepada mereka. Jangan sampai aku mendengar laporan yang tidak enak mengenai putraku sendiri,” kata Papa saat kami dalam perjalanan menuju tempat kerjanya.


“Aku sudah bilang, aku tidak mau melakukan ini, tetapi Papa terus memaksa,” keluhku.


“Kamu tidak punya mata kuliah yang kamu ikuti selain mengerjakan skripsi. Daripada kamu hanya di rumah, apa salahnya membantu aku mengurus pegawai magang?” kata Papa dengan santai.


Aku mendesah keras saat keluar dari mobil. Ada begitu banyak wajah baru mengenakan pakaian khusus berjalan memasuki gedung, kemeja putih dan celana atau rok hitam. Untuk membedakan pegawai magang dengan karyawan di kantor ini.


“Kamu akan bertanggung jawab di bagian pemasaran, jadi langsung saja menunggu di ruangan mereka,” kata Papa menunjuk ke arah angka di elevator.


Aku menurut dengan menekan nomor lantai di mana ruang divisi pemasaran berada. “Mengapa aku ditempatkan di bagian yang paling sibuk? Aku sedang menyusun skripsi, Pa.”

__ADS_1


Seperti kebiasaan buruknya, Papa hanya diam, mengabaikan protesku. Baru hari pertama, aku sudah tidak menyukai rencana membantu para pegawai magang ini. Tiga bulan itu waktu yang lama. Kapan aku bisa fokus mengerjakan skripsiku?


Para karyawan di divisi itu sudah aku kenal dengan baik, terutama manajernya. Aku ditempatkan di bagian ini saat magang di perusahaan Papa. Entah mengapa aku harus berada di sini lagi. Bukankah lebih baik bila aku belajar di divisi lain? Tetapi saat para pegawai sementara itu memasuki ruangan, aku mengerti. Alasannya berdiri di antara para pegawai magang tersebut. Aku cemberut, sedangkan dia tersenyum manis kepadaku.


__ADS_2