
*Clarissa*
Entah apa yang ada di kepala Luca sampai dia ada di mana pun aku berada. Hanya pada saat aku ada di kamarku sendiri, dia tidak mengikuti aku. Tetapi bisa jadi ketika tidak ada orang di rumah ini, maka dia akan nekat masuk menemui aku di kamarku.
Bapak dan Ibu Hudson adalah orang yang ramah dan baik. Aku tidak mempunyai masalah dengan mereka. Walaupun Luca terlihat tidak menyerah dengan kenyataan bahwa aku sudah punya pacar, kedua orang tuanya bersikap lebih sopan. Mereka sama sekali tidak membahas atau membujuk aku untuk dekat dengan putra tunggal mereka.
Grandma juga berhenti mendekatkan aku dengan Luca begitu dia melihat sendiri kedekatan aku dengan Hadi. Tentu saja pemuda itu masih menjadi kandidat terbaik yang dia inginkan untuk menjadi cucu menantunya. Lalu mengapa Grandma masih membawa Luca dan keluarganya untuk menginap satu malam di rumah kami?
Pada pagi hari keberangkatan Grandma dan Grandpa ke Bali bersama tamu mereka, aku merasa sangat lega. Aku mengabaikan Luca yang duduk di sisiku dan tidak berhenti berusaha untuk menarik perhatianku. Tidak mau bersikap kasar, aku menuruti Nenek yang menatapku dengan memohon agar aku memperlakukan pemuda itu dengan sopan.
“Jadi, kamu mau kembali dengan mantanmu itu karena dia adalah ahli waris ayahnya yang kaya raya itu?” ucap Luca setengah berbisik supaya hanya aku yang mendengar kalimatnya itu. “Aku harus jujur mengatakan bahwa dia adalah rival yang berat. Keluarganya sama kayanya denganku.”
“Kakek dan Grandpa adalah orang kaya dan terpandang juga di negeri mereka masing-masing. Aku tidak membutuhkan Hadi untuk hidup nyaman.” Aku tersenyum sambil memotong sosis di atas piringku. “Aku mencintai dia, karena itu aku berjuang agar kami bisa kembali bersama.”
“Kamu bohong mengenai pertunangan kalian. Aku tidak membaca beritanya di media mana pun. Dua pasangan dari keluarga terpandang di negeri ini tidak mungkin melakukan acara pertunangan diam-diam. Pertunangan Wyatt dan Charlotte saja akan diadakan pada hari Sabtu ini.” Dia tertawa kecil. “Apa kamu setakut itu untuk dekat denganku sampai berbohong mengenai hubungan kalian?”
“Aku tidak perlu menjelaskan kepadamu mengenai hubungan kami. Bahkan kedua kakek dan nenekku tidak pernah ikut campur. Terserah kamu mau percaya atau tidak,” kataku santai.
Dia kembali tertawa. “Jangan marah. Aku hanya menyampaikan fakta.”
Aku tidak menanggapi ucapannya lagi. Tidak ada gunanya bicara dengan orang yang berpikir bahwa segalanya yang aku lakukan ada hubungannya dengannya. Iya, Hadi memang berpura-pura menjadi pacarku supaya pemuda ini menjauhi aku. Tetapi perasaanku untuk Hadi serius. Hubungan kami ini justru akan aku manfaatkan untuk memenangkan hatinya lagi. Aku tidak berakting menjadi pacarnya. Aku menganggap Hadi sebagai kekasihku yang sebenarnya.
Cepat atau lambat, dia juga akan mengakui hal yang sama. Aku hanya perlu waktu beberapa hari untuk meyakinkannya bahwa kami bisa menjalani hubungan yang lebih baik pada kesempatan kedua ini. Sebelumnya, aku tidak menyadari perasaanku dan aku mengaku salah telah menyakiti dia dan memutuskan hubungan kami. Tetapi aku yang sekarang berbeda. Aku mau berjuang untuk kami.
Grandpa dan Grandma berangkat dengan dua mobil bersama tamu mereka menuju bandara. Aku, Kakek, dan Nenek mengantar mereka hanya sampai teras depan. Charlotte dan Wyatt tidak ada di rumah, karena hari ini mereka menjalani pemeriksaan kesehatan di kampus.
“Hm. Ada yang terlihat bahagia tidak perlu menghindar dari penggemarnya lagi,” goda Kakek setelah kedua mobil itu keluar dari gerbang rumah.
__ADS_1
“Kakek tahu sendiri bahwa yang dia lakukan itu sangat berlebihan. Kami tidak berteman sebelumnya. Grandma yang dekat dengan dia dan keluarganya, bukan aku. Tetapi dia bersikap seolah-olah kami teman lama yang bertemu kembali. Aku merasa tidak nyaman, Kakek,” akuku.
Wajah Kakek dan Nenek segera berubah serius. “Sayang,” kata Nenek lembut. Dia memegang tanganku. “Apa dia menyakiti kamu tanpa sepengetahuan kami?”
Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak. Tetapi aku merasa bahwa dia terobsesi kepadaku. Kami tidak dekat dan aku tidak pernah memberi dia harapan. Jadi, sikapnya itu membuat aku tidak nyaman. Dia bahkan mencari tahu berita mengenai hubunganku dengan Hadi di masa lalu.”
Kakek dan Nenek saling bertukar pandang. “Aku bisa melihat bahwa Luca menyukai kamu. Tetapi aku pikir dia hanya butuh waktu untuk mengerti bahwa kamu sudah tidak sendiri lagi. Atau bisa jadi Claudia yang berlebihan menceritakan tentang kamu kepadanya dan dia pikir nenek kamu merestui hubungan kalian,” kata Kakek.
“Tetapi kamu bisa tenang sekarang. Dia sudah pergi bersama orang tuanya ke Bali. Menurut Claudia, mereka akan kembali ke Amerika dari sana.” Nenek mengusap-usap punggungku. Semoga.
Aku bersorak senang saat Hadi mengirim pesan mengajakku makan siang lagi. Dia membatalkan rencananya untuk makan malam bersama kami, karena Luca dan orang tuanya berangkat pagi ini ke Bali. Aku pikir dia tidak akan mengajak aku kencan lagi. Luca tidak ada di sini, jadi kami tidak perlu berpura-pura. Syukurlah, dia masih mau bertemu denganku.
Satu jam kemudian, aku mendengar ada yang datang ke rumah kami. Itu pasti Hadi. Aku segera memeriksa penampilanku untuk terakhir kalinya di cermin. Satu sisi rambutku dijepit agar rapi, wajahku dirias senatural mungkin, lalu aku memakai baju terusan dengan sandal berhak datar.
“Hati-hati di jalan, Hadi. Kembalilah kapan saja kalian sudah bosan bersama satu sama lain.” Kakek mengedipkan sebelah matanya. Aku tertawa mendengarnya.
“Ada film bagus di bioskop. Aku yakin Clarissa akan menyukai. Bagaimana kalau kamu ajak dia menonton juga? Charlotte dan Wyatt pasti pergi jalan-jalan usai pemeriksaan kesehatan. Kasihan Clarissa tidak punya teman sebaya di rumah,” kata Nenek memberi usul.
Hadi menatap kakek dan nenekku secara bergantian. “Baiklah, Tante. Saya akan antar Clarissa paling lama jam sembilan malam.”
“Begitu lebih baik.” Nenek tersenyum senang. Ketika Hadi tidak melihat, dia mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aku menggerakkan bibirku membentuk kata terima kasih kepadanya.
Hadi membukakan pintu mobilnya untukku, lalu menutupnya setelah aku duduk dengan nyaman di dalam. Dia memutar mobil dari arah depan dan masuk ke mobil. Kami melambaikan tangan kepada Kakek dan Nenek saat dia memundurkan mobil menuju gerbang.
Dia tidak banyak bicara selama kami dalam perjalanan. Hal yang sudah biasa, jadi aku tidak mengajak dia bicara dan menikmati pemandangan di sekitarku. Entah mengapa segalanya terasa lebih indah. Apa karena aku sedang bersamanya? Ah, iya. Pasti itu alasannya.
Kami menuju restoran yang aku pilih. Sudah lama tidak makan makanan berkuah, aku memesan bakso dengan porsi paling besar. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pesananku. Sambil menunggu, dia mengeluarkan ponselnya dan memeriksa entah apa yang ada di dalamnya.
__ADS_1
“Luca dan orang tuanya pergi ke Bali pagi ini. Mengapa kamu berubah pikiran dan mengajak aku makan siang bersama?” tanyaku yang sedari tadi ingin menanyakan hal itu.
“Hanya Mama yang ada di rumah. Kamu tahu sendiri bahwa Mama hanya akan berada di ruang khususnya untuk menyelesaikan buku barunya.” Hadi mengangkat bahunya dengan santai.
“Ah, iya. Tante Zahara meminta aku untuk datang kapan saja aku ada waktu. Dia ingin membuat novel baru yang ada hubungannya denganku.” Ada begitu banyak hal yang terjadi belakangan ini, jadi aku tidak sempat datang berkunjung ke rumah mereka.
“Kalau Mama tidak mengingatkan kamu, abaikan saja. Kamu akan kelelahan menghadapi Mama, seperti yang terjadi pada Colin. Jadi, pura-pura tidak ingat saja,” katanya memberi saran yang menurutku sangat buruk.
“Apa kamu tidak sadar bahwa kamu baru saja menyarankan hal yang tidak baik?” tanyaku heran.
“Aku hanya berusaha menyelamatkan kamu dari aktivitas yang sangat membosankan.”
“Menyelamatkan aku atau menyelamatkan dirimu sendiri?” tantangku.
“Bila kamu pikir aku akan berubah sikap kepadamu setelah kita bertemu setiap hari, kamu hanya membuang-buang waktumu, Clarissa. Hubungan kita sudah berakhir dan tidak ada kesempatan lagi untuk kita bisa bersama,” katanya dengan tegas.
“Aku tidak berpikir begitu. Itu hanya pikiran kamu saja,” kataku mengelak.
“Aku kenal kamu bukan satu atau dua hari belakangan ini. Jadi, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Silakan saja kalau kamu mau membantu mamaku, tetapi aku tidak akan kembali kepadamu.”
“Apa itu tantangan, Hadi?” tanyaku tertarik dengan kalimatnya itu. Dia mengerutkan keningnya. “Apa kamu baru saja menantang aku bahwa kita tidak bisa bersama lagi?”
Dia segera memasang wajah serius. “Dengar. Aku tidak menantang kamu. Aku serius. Aku tidak tertarik memperbaiki hubungan kita atau apa pun yang ada di kepalamu. Aku hanya menolong kamu dengan berpura-pura menjadi pacarmu, tidak lebih.”
“Oke. Kamu tidak perlu tegang begitu. Aku tidak akan melakukan apa pun yang bisa membuat kamu tidak nyaman bersamaku.”
Dia kembali rileks dan duduk dengan santai. Kesempatan itu digunakan pelayan untuk memberi tahu bahwa pesanan kami sudah siap. Hadi berdiri dan mengambil baki berisi bakso dan minuman kami. Aku membantu dengan mengambil peralatan makan dan tisu.
__ADS_1
Saat aku membalikkan badan, aku tidak sengaja menabrak seseorang. Aku bersyukur memegang sendok dan garpu dengan baik sehingga tidak terlepas dari tanganku. Tetapi terdengar bunyi benda pecah di lantai dan orang itu mengerang kesakitan.