Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 24 - Misteri


__ADS_3

*Mila*


Beberapa hari tidak bekerja memberi aku banyak waktu untuk menyempurnakan usulan judul proposal penelitianku. Setelah belajar dengan keras dan selalu mengambil kredit maksimal yang diberikan sesuai dengan Indeks Prestasi yang aku dapatkan pada semester sebelumnya, aku bisa menggunakan dua semester terakhirku untuk mengerjakan proposal dan skripsi.


Dan aku mendapatkan berita baik siang ini dari ketua jurusan. Usulan judulku diterima dan dia memberi nama dosen yang akan membimbing aku dari pengerjaan proposal hingga skripsi nanti. Aku membaca nama dosen tersebut pada kertas yang aku gunakan untuk mengajukan judulku.


“Wow, Mila. Kalau aku jadi kamu, aku akan mengubah judulku dan mengajukan judul lain yang tidak ada hubungannya dengan bidang yang dikuasai Pak Agung. Dengar-dengar, dia selalu mempersulit mahasiswa bimbingannya,” bisik Manda setengah bergidik.


“Manda benar. Kamu sebaiknya ganti judul supaya dapat dosen pembimbing yang lain, Mila,” timpal temanku yang lain memberi saran. Dia menatap aku penuh simpati setelah mengintip nama yang tertulis pada kertas yang ada di tanganku.


Aku tahu hal itu dan sudah sering mendengarnya dari senior kami. Bahkan masih ada senior yang belum tamat juga karena dosen ini. Yang paling menjengkelkan, tidak ada usaha yang dilakukan oleh kampus untuk menolong mahasiswa mereka sendiri.


Tetapi pria ini salah bila dia pikir dia bisa melakukan hal yang sama terhadap aku. Dua semester, itu adalah waktu yang aku berikan pada diriku sendiri untuk menyelesaikan studiku di kampus ini. Siapa pun tidak akan aku izinkan merusak rencanaku. Aku ingin segera tamat agar bisa segera ke Amerika dan mencari orang tua kandungku.


Setelah menemui ketua jurusan, aku menuju perpustakaan dan menghabiskan waktuku di tempat itu untuk menyusun proposalku. Manda mengikuti aku dan duduk di sisiku tanpa mengajak aku bicara. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, tetapi selama dia tidak mengganggu, maka aku tidak mengusirnya pergi.


Malam tiba, perutku mulai protes, mengganggu konsentrasiku. Manda mendesah lega ketika aku mengajaknya untuk pulang. Dia pergi dengan kendaraan pribadinya, sedangkan aku menunggu bus di halte. Aku sengaja tidak tinggal di sekitar kampus agar tidak ada yang tahu aku tinggal di mana. Manda sekalipun tidak tahu di mana kamar sewaku berada.

__ADS_1


Kami memang berteman, tetapi dia tidak tahu segalanya tentang aku. Dia hanya tahu setiap hal yang orang lain ketahui juga. Namaku, tempat dan tanggal lahir, alamat orang tua angkatku, dan hal yang tertera pada tanda pengenal. Tetapi dia tidak tahu mengenai latar belakangku, pekerjaanku, dan rencana hidupku ke depan. Bahkan setiap kali ada masalah, aku tidak mengadu kepadanya.


Sebaliknya, Manda menceritakan semua tentang dirinya kepadaku. Dia juga tidak pernah segan mencurahkan semua masalah, kebahagiaan, dan kesedihannya kepadaku layaknya seorang sahabat. Awalnya, dia benci dengan sikapku yang tertutup. Namun setelah pertengkaran pertama kami, yang juga menjadi pertengkaran terakhir, dia tidak pernah menuntut aku melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan kepadaku.


Setiap kali dia mencurahkan masalahnya, dia berhenti berharap aku akan menceritakan masalahku juga. Dan aku tidak pernah merasa bersalah melakukan hal itu. Aku tidak pernah meminta dia bercerita, juga tidak pernah meminta dia menjadi sahabatku. Dia sendiri yang berinisiatif datang menjadi teman dan tetap bertahan bersahabat denganku.


Keluarga yang mengadopsi aku telah mengajari aku banyak hal dalam menjaga diri dan perasaanku. Bila orang yang awalnya begitu baik dan menganggap kita sebagai bagian dari keluarga mereka bisa berubah jahat, apalagi mereka yang tidak punya hubungan apa pun. Karena itu aku tidak berteman dengan siapa pun di kampus atau di kamar sewa.


Pada malam harinya, saat berbaring di tempat tidur, aku kembali teringat dengan ekspresi semua oang dewasa yang ada di rumah Hadi. Mereka sepertinya punya hubungan baik dengan banyak orang. Dira yang berulang tahun, tetapi lebih banyak orang dewasa yang menghadirinya.


Mengapa wanita bernama Lindsey dan pria bernama Edu itu menangis saat melihat aku? Sampai sekarang aku tidak bisa memahami arti dari ekspresi wajah mereka. Itu adalah hari pertama kami bertemu, mengapa mereka bersikap seolah-olah mereka mengenal aku?


Bangun pada pagi harinya, wajahku terlihat lesu karena kurang istirahat. Aku menepuk-nepuk pipiku untuk memberi sedikit rona merah pada mukaku. Kulitku pucat seperti mayat. Mata biruku tidak secerah biasanya, bahkan rambutku terlihat kusut. Tetapi saat aku memerhatikan wajahku, sesuatu membuat aku tersadar.


Oh, Tuhan. Aku mengerti sekarang. Yang membuat mereka menangis adalah wajah ini. Mengapa aku begitu bodoh? Apa yang aku pikirkan selama ini sehingga baru menyadari hal itu sekarang? Bodoh. Tentu saja itu alasannya. Apakah itu artinya mereka mengenal seseorang yang mirip seperti aku? Apakah aku mirip papa atau mamaku? Atau mungkin aku mirip dengan kakak atau adikku?


Jantungku berdebar dengan cepat dan aku tidak bisa mencegah sebuah harapan besar tumbuh di dadaku. Aku punya keluarga dan mereka tidak berada jauh dariku. Mungkin aku tidak perlu pergi jauh sampai ke Amerika untuk mencari mereka. Tubuhku bergetar dengan hebat karena rasa bahagia yang meluap-luap. Mungkinkah Tante Lindsey dan Om Edu adalah orang tuaku? Tetapi aku tidak mirip dengan mereka. Lalu siapa orang tuaku?

__ADS_1


Hanya ada satu orang yang bisa aku tanyai hal ini. Hadi juga menatap aku sama seperti mereka saat dia melihat aku pertama kali. Aku mengerti sekarang mengapa dia mengamati aku pada saat Colin membawa aku pertama kali menemui mereka. Dira, Colin, dan tamu undangan lain pada malam itu tidak memberi reaksi yang sama. Iya, lebih baik aku bicara dengan Hadi daripada tante dan om itu.


“Mila, kamu mau ke mana? Arah perpustakaan lewat sini,” ucap Manda yang mengikuti aku, padahal aku sudah mengucapkan selamat tinggal padanya usai mata kuliah terakhir.


“Aku ada urusan lain, jadi aku tidak ke perpustakaan siang ini.” Aku melambaikan tanganku dan bergegas menuju gedung di mana jurusan Hadi berada.


Karena tidak tahu harus mulai mencari dia dari mana, aku segera menuju tempat parkir. Mudah saja bagiku untuk menemukan mobilnya. Aku duduk di salah satu bangku yang tersedia tidak jauh dari lokasi parkir. Jadi, aku bisa melihat dia saat dia datang nanti.


Aku lupa. Dia berteman dengan Colin. Saat mereka berdua berjalan dari arah lain menuju mobil milik Hadi, aku berdebat dengan diriku sendiri. Apakah sebaiknya aku tunda saja niatku hari ini atau tetap pada rencanaku? Tetapi aku tidak mungkin menunggu sampai hari Senin. Aku tidak akan bisa tidur bila pikiran ini masih mengganggu aku.


Hadi terlihat terkejut saat aku menyapanya, tetapi Colin lebih terkejut lagi. Dia pasti mengatakan pada semua orang yang dekat dengannya bahwa aku sudah kembali ke Amerika. Saat Colin berusaha menjauhkan aku dari temannya, aku menolak ikut dengannya. Urusan kami sudah selesai, jadi dia tidak bisa memaksa aku melakukan kemauannya lagi.


Meskipun Colin masih mencoba untuk menghalangi aku bicara dengan sahabatnya, Hadi membantu aku untuk lepas darinya. Aku tahu makan siang bersamanya dan adiknya adalah hal yang ceroboh, rencana Colin hancur total bila Dira melihat aku masih berkeliaran di sini. Tetapi sikap tenang Hadi memberi aku keberanian untuk tetap maju.


Dan aku tidak menyesal melakukannya. Dira adalah gadis yang jauh di luar dugaanku. Dia tidak marah atau menganggap aku sebagai musuhnya. Bahkan kelihatannya dia tahu bahwa aku dan Colin hanya bersandiwara. Aku semakin ingin tahu apa yang keluarga mereka ketahui tentang aku.


Ketika aku dan Hadi akhirnya berdua saja di sebuah kafe, jantungku malah berdebar sangat kencang membuat aku kesulitan untuk konsentrasi. Ini pertama kalinya aku begitu dekat dengan keluarga dan identitas asliku. Jadi, aku berharap dugaanku ini benar.

__ADS_1


Saat Hadi mempersilakan aku untuk bicara, aku menghela napas panjang menenangkan kegugupan yang aku rasakan. “Pada perayaan ulang tahun Dira, beberapa orang dewasa menatap aku dengan aneh. Mereka juga mengajukan pertanyaan yang sangat pribadi yang tidak bisa aku jawab karena aku punya kesepakatan dengan Colin.


“Dan aku ingat saat kita pertama kali bertemu, kamu juga melakukan hal yang sama. Kamu menatap aku seolah-olah kita pernah bertemu sebelumnya. Kamu juga mengajak aku bicara dan menanyakan hal yang sifatnya pribadi.” Aku berhenti sejenak untuk menyusun kata yang tepat. “Apa kamu tahu siapa aku? Apa mungkin kamu tahu siapa orang tuaku?”


__ADS_2