Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 91 - Hal yang Terlupa


__ADS_3

Membayangkan aku duduk di kursi saksi sehingga semua orang bisa mengarahkan pandangan mereka kepadaku, badanku bergetar dengan hebat. Untuk bisa memahami kasus yang sedang mereka tangani, para hakim, penuntut, pembela, bahkan mereka yang duduk sebagai peserta, pasti pernah menonton siaran itu. Bagaimana aku sanggup duduk di sana dengan tatapan mereka?


Rendah sekali cara yang mereka pakai untuk menghancurkan aku. Seumur hidup, aku tidak akan bisa menatap mata orang lain lagi. Untuk keluar dari kamarku sendiri saja aku tidak sanggup. Bertemu dengan pekerja di rumah yang seumur hidup sudah kukenal pun aku tidak bisa. Entah bagaimana aku bisa melanjutkan studiku nanti. Apalagi duduk di kursi saksi dan ditatap oleh orang yang tidak kukenal. Tidak. Papa tidak boleh melakukan ini padaku.


“Dira. Hei.” Aku merasakan sentuhan pada kedua pipiku. Kepalaku diputar perlahan sehingga aku bertemu pandang dengan Kak Hadi. “Tidak akan ada yang bisa memaksa kamu memberi kesaksian. Apa kamu dengar? Tidak ada. Jadi, jangan pikirkan apa pun tentang itu. Oke?”


“Janji? Kakak janji, ‘kan? Kakak tidak akan membiarkan Papa memaksa aku memberi kesaksian?” pintaku penuh harap.


“Dira, Papa tidak akan memaksa kamu memberi kesaksian. Apa Papa pernah kita melakukan apa pun yang kita tidak mau?” tanya Kak Hadi pelan. Tentu saja tidak pernah. Papa juga Mama tidak pernah meminta atau memaksa kami melakukan hal yang kami tidak inginkan.


“Sekarang, habiskan makananmu. Berhenti membicarakan hal yang belum tentu terjadi.” Kakak menjauhkan tangannya dari pipiku, lalu memberikan piring berisi lasagna kepadaku. Dia menoleh ke arah Wyatt. “Hati-hati saat kalian bicara, atau kalian aku usir dari rumah ini.”


“Mengapa kamu marah padaku?” protes Wyatt yang keberatan dituduh sebagai penyebab aku tadi histeris. “Bagaimana aku tahu topik mana yang akan membuat Dira sedih?”


“Bukan salah mereka, Kak. Seandainya pun kami membahas hal yang lucu, aku bisa saja menangis,” kataku melerai. “Maaf, aku berpikir terlalu jauh dengan membayangkan duduk di kursi saksi dan—”


“Dan tidak ada yang perlu kamu jelaskan, Dira,” potong Clarissa. “Kita lupakan saja tentang Jordan, pengadilan, atau penjara. Kita bahas hal lain saja.”


“Misalnya?” tanya Charlotte ingin tahu. Dia sengaja mengarahkan pandangannya hanya pada Clarissa dan Kak Hadi.


“Apa kamu masih ingat dengan taruhan yang aku menangkan?” Clarissa memberi aku sebuah petunjuk. Dia menggerakkan bola matanya ke arah Kak Hadi. “Bukankah ini adalah saat yang tepat bagi seseorang untuk memenuhi janjinya?” Kak Hadi tertawa kecil.


Aku mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang ingin Clarissa sampaikan. Kak Hadi sepertinya tahu apa yang dia maksudkan, tetapi dia sengaja menutup mulutnya rapat-rapat, tidak memberi satu petunjuk pun kepadaku. Taruhan apa yang dilakukan antara Clarissa dan kakakku?


Begitu ingat dengan taruhan penting itu, aku berteriak senang.


“Dira!” seru Wyatt yang meletakkan tangan di dada kirinya. “Kamu hampir membuat aku mati karena serangan jantung!”


Aku tertawa mendengarnya. “Itu usul yang bagus, Clarissa! Aku hampir lupa dengan taruhan itu. Ayo, kita semua pergi ke Bali!”

__ADS_1


“Ke Bali??” ucap Charlotte dan Wendy dengan wajah berbinar-binar.


“Hei, jangan sembarangan mengajak orang, Dira! Aku tidak akan menghabiskan semua tabunganku untuk membayar kalian berlibur bersama! Ini hanya antara kita bertiga dengan Adi.” Kak Hadi segera meralat ucapanku. “Kalau mereka ikut, mereka harus bayar tiket dan akomodasi mereka sendiri.”


Aku dan Clarissa mengabaikan protes Kak Hadi dan kami mulai membahas tanggal kepergian kami, juga tempat penginapan dan obyek wisata yang ingin kami kunjungi. Charlotte, Wyatt, dan Wendy juga ikut menyampaikan pendapat mereka. Kak Hadi tidak berhenti mengerang mendengar usul demi usul yang kami sampaikan. Dia pasti stres memikirkan biaya yang harus dia keluarkan.


Teman-teman pamit pulang ketika hari menjelang sore. Aku masih takut keluar dari kamar dan bertemu dengan orang lain, jadi aku hanya mengantar mereka sampai pintu kamarku. Kak Hadi yang mewakili aku menemani mereka sampai pintu depan.


Adi menggunakan kesempatan itu untuk masuk ke kamarku. Dia membawa sebuah buket bunga dengan senyum penuh arti menghiasi wajahnya. “Untuk Kakak. Karena pemberinya adalah orang yang sangat istimewa, maka aku mengantarnya khusus ke sini.”


Aku memutar bola mataku mendengar kalimat konyolnya. Hanya ada satu orang di dunia ini yang dianggap istimewa oleh adikku. Jadi, aku tidak bertanya siapa yang dia maksudkan. Berbeda dengan Wyatt yang penuh pertimbangan, Colin tidak demikian. Dia memberi aku mawar merah. Mengapa aku jatuh cinta pada pemuda yang tidak mau repot-repot membeli jenis bunga yang lain, entahlah.


Pada malam harinya, Mama menemani aku makan di kamar. Aku tidak bertanya mengapa bukan Kak Hadi yang datang mengantar makanan. Kami makan sambil sesekali membicarakan hal yang ringan. Mama memberi tahu aku mengenai novel yang sedang dia tulis. Editor dan penerbit menyukai sinopsis yang dia kirimkan. Walaupun genrenya berbeda dengan yang biasanya Mama tulis, mereka percaya buku ini akan laris seperti buku Mama sebelumnya.


Walaupun Mama bukan penulis terkenal yang tidak bisa pergi ke mana pun tanpa menyamar, aku bangga padanya. Dia dikagumi oleh pembaca setia bukunya. Kerja samanya dengan Papa membuat novelnya bisa dinikmati dalam bentuk film di layar lebar. Mereka memang sering berdebat setiap kali memutuskan produser mana yang bisa dipercaya untuk menggarap filmnya, tetapi perjuangan mereka selalu membuahkan hasil.


“Ah, aku akan membawa semua piring kotor ini ke dapur. Selamat malam, sayang. Usahakan jangan tidur terlalu larut.” Mama merapikan piring kami dan menyusunnya di atas baki.


“Mama tidak perlu keluar. Kita bisa mengobrol bertiga.” Aku menyentuh tangannya. Mama berhenti sesaat, lalu dia tersenyum kepadaku.


“Lain kali, ya.” Mama membelai pipiku sebelum berdiri sambil membawa nampan.


Papa menjaga pintu tetap terbuka dan memberi ruang agar Mama bisa melewatinya. Mama tidak menatapnya sama sekali, sedangkan Papa tidak mengalihkan pandangannya dari Mama. Dia mendesah pelan saat menutup pintu kamarku.


Aku menggelengkan kepalaku ketika mata kami bertemu. “Papa sudah bersama Mama selama dua puluh tahun lebih dan ini adalah pertengkaran kalian yang paling lama.”


Papa duduk di tepi tempat tidurku, sedangkan aku berjalan menuju kamar mandi. “Aku sudah melakukan apa yang aku bisa untuk mendapatkan maafnya. Mamamu terlalu keras kepala. Dia tidak mau berada satu ruangan denganku, tidak mau bicara denganku, lalu bagaimana kami bisa baikan?”


Aku memutar bola mataku mendengarnya. Setelah berkumur, aku menoleh ke arah Papa. “Yang aku saksikan tadi bukanlah usaha untuk berbaikan, Pa.” Papa hanya diam. Aku membersihkan wajah sebelum keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


“Mengapa Papa tidak peluk dan cium Mama saja? Biasanya itu trik terbaik Papa. Apa yang membuat Papa hanya diam menatap Mama seperti tadi?” tanyaku tidak mengerti.


“Aku telah mengatakan hal yang jahat, jadi aku tidak yakin apa aku masih layak mendapatkan maafnya. Aku emosi sehingga tidak berpikir dahulu sebelum bicara.”


“Tentu saja Papa layak mendapatkan maaf dari Mama. Bila kesalahan Papa tidak bisa dimaafkan, Mama pasti sudah menggugat cerai.”


“Hus, tidak baik membicarakan perceraian. Kamu ini masih kecil sudah berani bicara cerai,” protes Papa. “Aku tidak akan mengizinkan mamamu pergi dariku. Dan dia tahu itu.”


“Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Tahun depan aku sudah memasuki usia pernikahan.” Aku mendengus pelan. “Kalau Papa begini terus, lama-lama Mama akan pergi dari Papa. Apa Papa mau mantannya itu berhasil menang dan mendekati Mama lagi?”


“Apa kamu bisa berhenti membicarakan hal yang buruk?” Papa menarik kedua kakiku sehingga aku berada dalam posisi berbaring. Aku tertawa geli melihatnya marah. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhku. “Tidurlah, jadi aku bisa bicara dengan mamamu segera.”


Aku tertawa kecil. “Pa, aku sudah besar. Aku bisa tidur sendiri. Papa bicaralah dengan Mama.”


“Tidak. Urusan kami bisa menunggu. Aku akan menemani kamu sampai kamu tertidur.”


Terdengar bunyi cakaran pada pintu, Papa mendesah pelan. Dia melihat ke arahku. Tentu saja aku mengangguk tanda setuju. Papa mendekati pintu dan membukanya. Sesuatu berwarna cokelat keemasan dan berwarna hitam melesat ke arah tempat tidur. Black dan Gold naik ke ranjang dan menghujani aku dengan ciuman.


“Ingat, kalian hanya boleh mengucapkan selamat malam, lalu kembali ke tempat tidur kalian,” kata Papa mengingatkan. Kedua anjing itu hanya menyalak tidak peduli sambil duduk di sisiku.


“Biarkan mereka tidur di sini satu malam lagi, Pa. Mereka bersikap baik dengan memakan habis semua mimpi burukku.” Aku mencoba membujuknya. Papa mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. “Serius, Pa. Aku tidak berbohong.”


“Mamamu bisa marah kalau dia tahu aku menambah hari Gold dan Black tidur bersamamu.”


“Mama tidak akan keberatan. Aku akan bicarakan hal yang baik saja mengenai Papa kepada Mama. Oke?” Aku sekali lagi mencoba untuk mengubah pendiriannya. Papa akhirnya mengangguk setuju.


Pada pagi itu, untuk pertama kalinya, aku keluar dari kamar. Aku tahu bahwa pada waktu ini semua orang masih berada di kamar mereka. Kemungkinan besar Pak Abdi sudah bangun, tetapi aku tidak melihat dia berkeliaran di sekitar rumah.


Aku mencium aroma yang sangat harum saat aku tiba di lantai dasar. Mengikuti aroma itu, aku mendekati pintu ruang depan. Aku memutar kenop pintunya sepelan mungkin. Ketika pintu dibuka, aroma itu tercium semakin jelas dan mataku membulat melihat pemandangan di hadapanku.

__ADS_1


__ADS_2