
Kalau bukan karena aku menyaksikannya sendiri, aku tidak akan percaya bahwa Hadi mengatakan semua itu. Dia yang selalu meraih nilai tertinggi di sekolah hingga kuliah, menjadi juara umum setiap kali semester berakhir, bahkan tidak pernah terlihat gugup mengikuti ujian apa pun. Tetapi pada saat ini dia mengaku tidak yakin akan bisa menggantikan papanya?
Ke mana perginya rasa percaya dirinya yang tinggi itu? Dia memiliki segalanya yang dia butuhkan untuk menjadi seorang pemimpin yang hebat. Memang dia tidak pernah mengikuti kegiatan lain di sekolah yang membantu dia bersosialisasi, tetapi dia terjun langsung ke perusahaan ayahnya dan mengamati bagaimana dia bekerja. Itu bekal yang cukup untuknya.
“Kamu sudah menyiapkan diri sejak kamu masih kecil, kamu juga sudah sering ikut bekerja dengan Uncle. Aku yakin kamu bisa menggantikannya dengan gayamu sendiri. Lagi pula kamu tidak akan menggantikan dia sebelum dia pensiun, ‘kan? Masih ada waktu, Hadi.” Aku menepuk bahunya.
Hadi mendesah pelan. “Kamu tidak percaya padaku karena aku tidak pernah membahas ini, ‘kan?” Dia menatapku dengan serius. “Kamu pikir apa yang aku katakan ini hanya dalam anganku saja. Kamu tidak percaya bahwa aku benar-benar merasa takut.”
“Iya, kamu benar.” Aku tidak akan bisa berbohong, jadi lebih aku berkata jujur saja.
“Aku juga sama seperti kamu, Cole. Belum tahu akan melakukan apa dengan masa depanku. Aku memang calon tunggal pengganti Papa, tetapi aku belum punya rencana apa pun untuk perusahaan itu. Aku tidak mungkin hanya meneruskan apa yang sudah papaku kerjakan tanpa membuat inovasi baru.” Dia menatap ke langit. “Masa depan itu mengerikan, ya.”
“Hadi, kamu tidak perlu memikirkan inovasi apa pun seorang diri. Apa gunanya kamu menjadi seorang pemimpin bila kamu tidak bisa menyuruh karyawanmu untuk memikirkan itu?” tanyaku. “Dalam bermain game, aku tidak pernah memikirkan strategi seorang diri. Kamu sudah lihat setiap kali kami akan berperang, aku menanyakan pendapat mereka. Kami mendiskusikan setiap ide, lalu mengambil keputusan bersama.”
“Tetapi papaku tidak melakukan itu. Dia bisa memikirkan segalanya sendiri,” ralatnya.
“Tidak. Kamu pasti salah menilainya. Apa kamu selalu berada di dekat Uncle Hendra? Apa kamu tahu siapa saja yang diajaknya bicara? Aku yakin sebuah ide muncul bukan karena dia memikirkannya sendiri. Dia pasti mencari informasi ke sana kemari dan menarik kesimpulan dari semua itu.”
Hadi terdiam. Dia menatapku dengan saksama, lalu tertawa kecil. “Kamu tahu siapa lagi yang sering mengatakan itu ketika aku sedang meragukan diriku sendiri?”
“Siapa?” tanyaku ingin tahu. Aku merasa sedikit lega melihat suasana hatinya berubah lebih baik.
“Dira. Dia selalu beranggapan bahwa dia lebih bodoh dariku, tetapi dalam hal pemikiran, dia jauh lebih bijak. Walaupun dia sering bersikap kekanak-kanakan, dia selalu bisa aku andalkan.” Hadi tersenyum bahagia. “Karena itu aku tidak mau hidupnya sia-sia dengan kembali lagi padamu.”
“Aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama, Hadi.” Aku segera defensif mendengar pernyataan itu. “Aku sudah mendapat pelajaran yang berat dari kesalahan itu, jadi aku tidak tertarik untuk melakukannya lagi. Kami akan bertengkar atau berdebat mengenai banyak hal, tetapi aku tidak akan menyakiti dia dengan sengaja lagi.”
“Bicara dengan akrab dengan Clarissa kamu sebut sebagai bukti bahwa kamu tidak akan menyakiti dia dengan sengaja lagi?” tanyanya.
“Apa maksudmu? Aku dan Clarissa hanya berteman. Kamu tahu bahwa aku tidak akan menjalin hubungan dengan gadis mana pun yang pernah menyukai kamu,” kataku menjelaskan. “Aku bahkan tidak tertarik dengan gadis mana pun selain Dira.”
“Kamu bisa bertanya pada Lily. Aku yakin dia akan mengatakan hal yang sama.” Hadi berdiri melihat teman-teman kami sudah datang.
__ADS_1
“Aku dan Clarissa hanya berteman, Hadi. Tunggu.” Aku menatap wajahnya dengan saksama. Dia menghindari mataku. “Apa kamu juga berpikiran begitu? Kamu pikir aku dan Clarissa sedang dekat? Kamu selalu dengan bangga mengatakan bahwa kamu tidak mau kembali padanya. Lalu mengapa kamu cemburu dengan kedekatan kami?”
“Mengapa kamu tidak melepaskan Dira dan mencari gadis lain?” Dia balik bertanya.
“Karena aku ingin kami mewujudkan semua yang sudah kami rencanakan.”
“Kamu bisa mewujudkannya dengan gadis lain yang punya impian serupa. Mengapa harus Dira?” tanyanya lagi. “Kamu masih belum bisa menjawabnya?”
“Apa maksudmu? Aku sudah menjawabnya—” kataku menjelaskan.
“Aku mencintai Rissa, Cole,” kata Hadi dengan suara bergetar. “Dia adalah gadis pertama yang membuat aku merasakan apa itu cinta. Hal yang selalu aku lihat di mata kedua orang tuaku. Hal yang aku pikir hanya mitos dan tidak akan pernah aku alami sendiri. Dan perasaanku padanya semakin kuat saat kami terpisah. Apa kamu pikir mudah bagiku menjalani masa depan tanpa dia? Karena itu penolakannya terasa menyakitkan. Aku bukan orang suci yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Apalagi kesalahan orang yang aku pikir tidak akan pernah menyakiti aku.”
“Lalu apa yang kamu lakukan di sini? Mengapa kamu tidak datangi dia dan bicara? Aku yakin bahwa dia juga mencintai kamu. Mengapa kalian tidak akhiri saja penderitaan kalian ini?” tanyaku bingung.
“Penderitaan kami? Hanya aku yang menderita. Dia bahagia dengan hidupnya dan tidak peduli lagi denganku.” Dia membalikkan badannya. “Sebaiknya kita tidak membahas ini lagi.”
Aku tidak mengerti dengan apa yang baru terjadi. Mengapa dia membahas kedekatanku dengan Clarissa, lalu menyebut-nyebut tentang aku menyakiti Dira dengan sengaja? Dan apa hubungan itu dengan alasanku tidak mau melepaskan Dira? Kalimat terakhir tadi yang paling tidak bisa aku pahami. Dia tidak puas dengan jawabanku, kemudian mengungkapkan perasaan cintanya pada Clarissa.
Kami bertanding seperti biasa dan aku beruntung berada pada tim yang sama dengan Hadi. Kami bisa menang dengan mudah, karena sudah terbiasa dengan ritme permainan masing-masing. Saat aku memegang bola, maka Hadi akan mencari celah untuk berada di dekat basket. Dengan begitu, saat aku mengoper bola padanya, dia bisa memasukkannya dengan mudah.
“Kami bermain bola basket hanya untuk olahraga, tidak untuk dijadikan profesi,” kata Hadi.
“Apa kamu lupa siapa dia? Tentu saja dia lebih memilih untuk menjadi direktur utama di perusahaan keluarganya daripada menjadi olahragawan,” kata teman kami yang lain.
“Jangan lupa. Gaji olahragawan bisa jauh lebih tinggi dari direktur utama. Itu belum termasuk bonus dan biaya setiap kali kontrak iklan,” goda teman kami yang pertama.
Aku membiarkan mereka berdebat dan membersihkan diri di kamar mandi yang tersedia. Setelah mengenakan pakaian bersih, aku keluar dari ruangan loker. Aku tidak melihat Hadi berarti dia masih mandi. Jadi, aku membuka ponsel dan masuk ke akun game-ku.
Itu dia! Aku mengerti sekarang! Hadi bertanya padaku mengenai alasan aku tidak mau melepaskan Dira dan dia menyebut tentang perasaannya pada Clarissa karena itu adalah jawabannya! Aku tidak percaya ini. Dira mengatakan ada yang kurang dalam hubungan kami hanya karena satu kata itu?
“Hei, Cole!? Kamu mau ke mana?” seru Hadi saat aku mempercepat langkahku menuju tempat parkir di mana sepeda motorku berada. Dia bisa pulang bersama teman-teman kami yang lain atau ikut makan siang dengan mereka. Aku punya urusan yang tidak bisa lagi ditunda.
__ADS_1
*******
Sementara itu di sebuah rumah~
“Apa kamu yakin tidak mau ikut bersama kami?” tanya Charlotte dari ambang pintu kamar Clarissa. Dia mengenakan kemeja dan celana jins, lengkap dengan sepatu kets, siap untuk pergi.
“Dan menjadi orang ketiga yang tidak tahu harus bersikap apa? Tidak, terima kasih. Aku di rumah saja.” Clarissa tidak mengangkat matanya dari buku yang sedang dia baca.
“Kakek dan Nenek sedang pergi, kamu yakin tidak apa-apa sendirian di rumah?” tanya Charlotte lagi.
“Ada banyak pelayan di rumah ini, aku tidak sendirian, Charlotte.” Clarissa mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah adiknya. “Pergilah. Jangan biarkan Wyatt menunggu terlalu lama. Film yang akan kalian tonton akan segera dimulai.”
“Baiklah, kalau kamu tidak mau bersenang-senang bersama kami,” kata Charlotte. “Sampai nanti.”
Clarissa memutar bola matanya. Ini bukan pertama kalinya dia menolak ajakan adiknya setiap kali dia pergi kencan dengan kekasihnya. Clarissa cukup tahu bahwa menjadi orang ketiga itu tidak menyenangkan. Mereka baru beberapa minggu bersama, jadi mereka masih tidak bisa lepas dari satu sama lain. Walaupun dia ikut bersama mereka, dia tidak akan mereka ajak bicara.
Dia baru saja akan membaca bukunya kembali, ketika ponselnya yang ada di atas nakas bergetar. Clarissa mendesah pelan, karena dia sudah diinterupsi berulang kali. Tetapi membaca nama neneknya di layar, dia segera menegakkan duduknya.
“Hai, Grandma!” sapa Clarissa dengan riang. “Sudah tengah malam di sana, mengapa Grandma belum tidur?”
“Karena aku punya kejutan untukmu!” Claudia menjauhkan ponselnya dan wajah lain muncul di sisinya. Seorang pemuda yang sangat tampan dengan rambut cokelat tua yang ditata rapi. “Ada yang ingin berkenalan denganmu.”
“Hai, Clarissa! Claudia menceritakan banyak hal tentang kamu padaku. Namaku Luca Hudson. Aku dan keluargaku berencana berlibur ke Indonesia pada pertengahan bulan ini. Aku tidak sabar bicara langsung dengan orang yang selalu Claudia puji setinggi langit,” kata pemuda itu dengan ramah.
“Ng, oke. Senang berkenalan denganmu, Luca Hudson. Semoga kamu akan menyukai kunjunganmu ke negeri ini nanti,” kata Clarissa pelan.
“Aku harus pamit, karena keluargaku sudah mengajak untuk pulang.” Pemuda itu menoleh ke arah Claudia, lalu mencium pipinya sebelum pergi.
“Bagaimana menurutmu? Apakah dia tampan?” tanya Claudia dengan nada senang setelah pemuda itu tidak terlihat lagi di layar.
“Aku tidak mengerti. Mengapa Grandma memperkenalkan kami sekarang? Kami bisa bertemu nanti saat dia sudah di sini,” ucap Clarissa bingung.
__ADS_1
“Karena, sayangku, aku dan Mason sepakat untuk mendekatkan kalian berdua. Dia sangat menyukai kamu setelah mendengar banyak hal tentangmu. Keluarganya juga tidak keberatan untuk mengenal kamu lebih dekat. Bila kamu menyukainya juga, maka ini akan menjadi pernikahan terbesar dalam keluarga kita! Keluarga Hudson menguasai bisnis properti di Amerika!” pekik Claudia senang.
Ponsel di tangan Clarissa meluncur bebas ke tempat tidur. Dia masih punya masalah yang belum selesai, kini neneknya malah membawa pemuda lain yang bisa memperumit hidupnya.