
*Clarissa*
Begitu Hadi jujur dengan perasaannya, dunia ini terasa sangat indah. Dia mencintai aku dan tidak peduli dengan kekuranganku. Dia menerima aku apa adanya. Aku tahu dokter sudah memastikan bahwa kebutaanku hanya sementara, tetapi Hadi berjanji bahwa ini tidak akan memengaruhi apa pun, termasuk perasaannya kepadaku.
Aku tahu bahwa aku tidak salah memilih laki-laki. Hadi adalah pemuda yang baik. Dia hanya marah kepadaku, karena sudah menyakiti hatinya. Itu satu-satunya alasan dia terus menolak cintaku. Dia tidak mau terluka lagi. Ketika dia mengucapkan kata-kata yang menyakitkan, aku tahu bahwa dia sengaja supaya aku menjauh. Syukurlah, aku tidak menyerah. Dia sekarang sudah jadi milikku lagi.
“Halo, sayang,” sapa Hadi saat menjawab panggilan masuk dariku.
“Coba tebak apa yang sedang aku lakukan?” tanyaku kepadanya.
Dia bergumam pelan, menunjukkan bahwa dia sedang berpikir. “Berbaring di tempat tidurmu?”
“Aku memang sedang sakit, tetapi aku masih bisa melakukan sesuatu dengan satu tangan dan satu kaki, Hadi,” ucapku tidak percaya. Mendengar dia hanya diam, aku yang menjawab pertanyaanku sendiri. “Aku memasak kroisan kesukaanmu menggunakan resep rahasia dari nenek Colin.”
“Oh, ya? Bagaimana rasanya? Apakah enak?” tanyanya ingin tahu.
“Mengapa kamu tidak datang dan mencobanya sendiri?” kataku memberinya sinyal untuk menemui aku di rumah. Sejak aku pulang dari rumah sakit, dia tidak pernah datang lagi menjenguk aku.
“Maafkan aku. Dosen meminta aku untuk datang besok pagi ke kampus. Dia akan keluar kota selama satu minggu, karena urusan penelitian. Aku tidak mau menunggu selama itu untuk mendiskusikan masalah di skripsiku, sayang.” Dia hanya mencari-cari alasan saja. “Aku akan datang besok sepulang dari kantor, ya. Kamu mau aku bawakan apa?”
“Kamu sudah tidak mencintai aku lagi. Kamu hanya sayang pada skripsimu. Kemarin kamu melarang aku menghadiri peragaan yang diikuti Dira, lalu hari ini kamu tidak mau mencoba kroisan yang aku buat. Kamu tidak usah datang besok atau sampai kapan pun!” pekikku kesal. Aku segera memutus hubungan telepon sebelum berubah pikiran.
“Wow!” seru Charlotte yang datang dari sebelah kiriku. Dia pasti mengambil satu kroisan dari atas piring saji, karena aku mendengar bunyi gerakan. Aku mengizinkan dia dan Wyatt untuk mengambil bagian mereka dari piring. Bagian Hadi ada di dalam keranjang kecil khusus untuk roti. Tetapi dia sudah menolak bagiannya. “Kamu sudah tahu bahwa bagi Hadi, pendidikan, keluarga, dan perusahaan itu adalah prioritas utamanya. Kamu tidak keberatan sebelumnya. Apa yang membuat kamu jadi semarah ini?”
“Hari ini hari Minggu. Apa aku salah meminta hari ini saja dia sediakan untukku? Aku tidak meminta waktunya seharian, hanya beberapa jam saja.” Ponselku bergetar di atas meja, aku mengabaikannya.
“Kamu tahu dia tidak akan berhenti menelepon kamu. Jadi, sebaiknya kamu jawab panggilan itu,” kata Charlotte mengingatkan. Aku benci setiap kali dia benar.
“Ada apa lagi!?” ucapku kesal kepada orang di seberang telepon. Aku tahu bahwa sikapku ini sangat berlebihan. Tetapi aku berhak untuk meminta waktunya sebentar saja. Dia bisa datang menjenguk aku setiap hari saat berada di rumah sakit. Mengapa setelah aku pulang, dia malah tidak datang lagi?
“Aku mencintai kamu, sayang,” ucap Hadi dengan nada membujuk. “Aku mohon. Jangan marah. Aku pasti akan datang menemui kamu besok. Aku selesaikan skripsiku, lalu selama satu minggu ke depan, aku akan menemui kamu sebelum pulang ke rumah. Bagaimana?”
__ADS_1
“Tidak usah. Aku hanya minta beberapa jam saja, bukan setiap hari. Silakan kerjakan skripsimu.” Aku kembali memutuskan hubungan telepon itu. “Kalau dia menelepon lagi, matikan saja ponselku.” Aku mendekatkan keranjang berisi kroisan bagian Hadi ke arah Wyatt. “Semua ini untukmu.”
“Kamu yang terbaik, Clarissa!” Wyatt berdecak senang. Aku mendengar keranjang itu bergeser ke arahnya. “Sering-sering buat kroisan, ya. Ini enak sekali!”
Aku hanya cemberut dan menggerakkan tombol pada tangan kananku untuk menggerakkan kursi roda. Apa gunanya punya pacar ketika aku membutuhkannya, dia malah lebih suka menghabiskan waktu dengan benda mati. Aku tidak mau berebut perhatian dengan skripsinya itu.
Kakek sudah menyediakan kursi untukku agar bisa ke lantai dua sendiri. Aku tinggal berdiri, lalu berpindah duduk di kursi yang akan membawa aku ke lantai dua. Kursi roda yang lain sudah tersedia di lantai atas, di mana aku meninggalkannya terakhir kali. Aku mengenali setiap sudut rumah, jadi bergerak ke sana kemari tidaklah sulit. Apalagi penglihatanku semakin membaik. Aku sudah bisa membedakan bayangan orang dan benda.
Aku hanya bisa menatap laptopku dengan sedih. Bagaimana aku bisa mengetik hanya menggunakan satu tangan? Aku sudah menggunakan aplikasi mengetik dengan suara, tetapi kesalahan yang terjadi justru lebih banyak dibandingkan bila aku mengetik dengan satu tangan saja. Aku juga tidak mungkin menatap layar begitu dekat hanya untuk membaca huruf satu per satu.
Dosen pembimbingku sudah mengembalikan bab dua yang sedang aku kerjakan yang sudah ditandai. Ada beberapa bagian yang perlu aku perbaiki dan ada banyak teori yang perlu aku tambahkan. Dia menitipkan skripsiku itu kepada Charlotte. Masalahnya hanya tinggal satu. Aku tidak bisa mengetik apa pun yang dosenku minta untuk aku kerjakan.
Perutku lapar. Aku memasak begitu banyak kroisan dengan bantuan Charlotte dan Wyatt, tetapi aku belum mencicipi kroisan buatanku sendiri. Mau turun kembali ke ruang makan, aku tidak mau kesal lagi melihat tingkah Wyatt dan Charlotte. Pintu kamarku diketuk, aku hanya mengabaikannya saja.
Aku membalikkan badanku ke arah jendela ketika pintu itu dibuka. Tidak mau melihat ke arah orang yang masuk ke kamarku tanpa izin. Dia tidak mengatakan apa pun sehingga aku tidak bisa menebak siapa yang datang. Aroma kolonye yang maskulin segera memasuki penciumanku saat dia duduk di sisiku. Jantungku melompat bahagia begitu mengetahui bahwa yang datang adalah Hadi.
Namun aku menahan diri untuk tidak menoleh atau memeluk tubuhnya. Dia sudah berkata tidak, lalu untuk apa dia datang setelah aku marah? Aku mencium aroma kroisan yang masih hangat. Dia pasti membawa keranjang yang berisi kroisan bagiannya.
“Untuk apa kamu datang?” Aku tidak menggubris pujiannya itu.
“Sayangku membuatkan kroisan yang enak untukku,” jawabnya dengan santai.
“Kerjakan saja skripsimu itu. Tidak perlu pedulikan aku.” Sialnya, perutku menggunakan waktu yang tidak tepat untuk berbunyi. Aroma roti itu memang membuat perutku terasa semakin lapar.
Hadi tertawa kecil. “Makanlah, sayang. Kamu pasti sudah lelah memasak kroisan sebanyak ini, lalu memarahi aku lewat telepon.” Dia mendekatkan keranjang roti itu kepadaku. Aku menurut dan mengambil satu kroisan yang ternyata masih hangat itu.
Kami makan dalam diam. Hal yang aku syukuri, karena aku terlalu malu setelah perutku membuka rahasiaku. Menyebalkan sekali. Tetapi Hadi tidak tertawa atau peduli dengan kejadian itu. Dia hanya asyik memakan tiga kroisan berturut-turut. Sampai aku hanya dapat satu bagian saja.
“Apa itu skripsi kamu yang perlu diperbaiki yang ada di dekat laptop?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. “Aku sudah selesai merevisi bab duaku. Kamu pasti kesulitan mengetik dengan kondisi mata dan tanganmu. Mulai besok aku akan bantu kamu. Katakan saja apa yang perlu aku ketik, dengan begitu skripsimu bisa cepat selesai.”
“Jadi, kamu merencanakan datang ke rumah setiap hari untuk melakukan itu?” tanyaku terkejut.
__ADS_1
“Iya. Charlotte dan Wyatt pasti sudah mulai ada tugas dari sekolah. Aku tidak akan melakukan apa pun sebelum dosen selesai memeriksa skripsiku, jadi aku bantu kamu saja,” katanya.
“Terima kasih, Hadi!” Aku memeluknya dengan erat. “Maaf, aku sudah marah kepadamu sebelum mendengarkan penjelasanmu.”
“Tidak apa-apa. Aku harus membiasakan diri, jadi, aw!” Dia segera mengaduh ketika aku mencubit lengannya. “Baru meminta maaf, mengapa kamu sudah mencubit aku lagi?”
“Kamu pasti mau mengejek aku, ‘kan? Aku tidak mau dengar.” Aku melepaskan pelukanku. Dia menarik tanganku dan memeluk aku lagi. Merasakan itu, aku tersenyum bahagia.
“Rissa,” panggilnya pelan. Aku menggumam menjawabnya. “Ada hal penting yang perlu aku beri tahu kamu.” Dia melonggarkan pelukannya, jadi aku terpaksa melakukan hal yang sama.
Mendengar dia hanya diam, aku mengerutkan kening. “Ada apa, Hadi? Apakah ada hal buruk yang terjadi pada keluargamu? Dira dikerjai orang lagi?”
“Tidak.” Dia memegang kedua tanganku tetapi lagi-lagi dia hanya diam. Mengapa dia bersikap aneh? Apa mungkin dia punya berita buruk yang ada hubungan dengan dirinya?
“Sayang, katakan ada apa? Bila aku bisa, aku pasti akan membantu kamu,” kataku membujuk. “Apa ada urusan pekerjaan yang bisa aku bantu? Kamu sedang memikirkan promosi berikutnya?”
Dia masih diam. Ketika aku pikir dia belum mau bicara, dia berkata dengan suara pelan, “Aku belum menceritakan kepadamu apa yang terjadi pada hari Selasa lalu.”
“Bukankah kamu bertemu teman lama, makanya acara makan malam kita bersama keluargamu ditunda?” tanyaku mengingat isi pesannya pada siang itu. Dia terdiam cukup lama membuat aku merasa khawatir. “Sayang, katakan saja. Apa pun itu aku akan coba bantu kamu.”
“Kamu percaya bahwa aku mencintai kamu, ‘kan?” tanyanya pelan. Aku mengangguk pelan. “Kamu juga percaya bahwa aku tidak akan melakukan sesuatu dengan sengaja untuk menyakiti kamu, ‘kan?”
“Iya. Kamu membuat aku takut, Hadi. Langsung saja katakan ada apa,” desakku sudah tidak sabar.
“Aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi pada hari itu. Hal terakhir yang aku ingat adalah usai bertemu Colin, aku ke mobil dan sangat mengantuk. Lalu ketika membuka mata, aku berada di sebuah kamar hotel.” Dia kembali berhenti bicara.
Jantungku berdebar dengan cepat. Kamar hotel dan tidak bisa mengingat apa yang terjadi bukanlah perpaduan yang baik. Aku dan Charlotte banyak menonton film tentang kasus serupa. Dia tidak perlu mengatakannya. Aku sudah bisa menduga apa yang terjadi.
“Tidak perlu dilanjutkan, Hadi. Aku tahu apa yang ingin kamu sampaikan,” kataku memotong ketika melihat dia begitu kesulitan mengucapkan kalimat berikutnya. “Kamu tidur dengan seorang gadis.”
“Aku tidak merencanakan hal itu. Sungguh! A-aku ….” Dia mendesah frustrasi. “Keputusan sekarang ada di tanganmu. Aku pasrah kamu akan melakukan apa pada hubungan kita.”
__ADS_1