
Hadi menutup mulut dan wajahnya terlihat membiru. Dia segera berdiri, lalu berjalan menuju bagian belakang rumah. Kami menatapnya dengan bingung. Colin kemudian berdiri dan menyusul Hadi. Aku dan teman-teman saling bertukar pandang. Hanya Wyatt yang tertawa.
“Apa yang terjadi?” tanya Dira bingung.
“Kamu tidak bisa menebaknya dari tiga potongan video yang aku ceritakan tadi?” tanya Wyatt. Kami memikirkan apa yang dia sampaikan itu. Mereka datang bertiga, lalu Valeria mengajak laki-laki lain.
“Menjijikkan. Apa kamu yakin itu yang kamu lihat pada video itu?” tanya Charlotte yang segera tahu apa yang membuat Hadi mual. Wyatt menganggukkan kepalanya.
“Aku tidak mengerti,” ucap Dira dengan lugu. Aku melirik Charlotte dan Wyatt agar mereka yang menjelaskannya. “Mengapa kalian hanya diam?”
“Mereka berempat ada dalam satu kamar, Dira,” ucap Wendy menjelaskan. “Apa kamu tahu apa artinya itu? Empat orang dalam satu tempat tidur.”
“Apa?” seru Dira heran. “Tidak mungkin. Kak Hadi dalam keadaan tidak sadar. Apa yang mereka lakukan terhadap dia di kamar itu?” Kami sama-sama mengangkat bahu. “Ukh. Menjijikkan.”
Para tamu undangan mulai pamit pulang setelah mereka selesai makan. Om Hendra dan Tante Zahara masih saja terlihat tenang menerima ucapan selamat dari semua orang. Aku saja tidak bisa menunggu tangan dan kakiku pulih untuk bisa memberi pelajaran kepada dua gadis itu.
Ketika hanya ada kami para sahabat keluarga, terdengar bunyi beberapa kendaraan memasuki pekarangan depan rumah Hadi. Tidak lama kemudian beberapa polisi masuk dan dituntun menuju ruang kerja Tante Zahara. Valeria dan Manda menolak untuk ikut bersama mereka. Lalu wanita yang Valeria panggil mama tadi juga berusaha untuk melepaskan putrinya dari mereka.
Setelah suasana tenang kembali, kami berkumpul bersama di ruang depan. Hadi membopong aku dan memindahkan aku duduk di sofa. Akhirnya, aku bisa duduk dengan nyaman. Duduk pada satu posisi untuk waktu yang lama benar-benar tidak menyenangkan.
“Kehebohan apa yang terjadi tadi, Hendra?” tanya Om Giovanni tidak sabar. “Mengapa aku dengar Hadi menghamili salah satu gadis itu?”
“Gadis itu putri Keva. Apa kalian masih ingat dia?” tanya Om Hendra. Pertanyaan itu ditujukan kepada orang dewasa. Jadi, ini masih ada hubungannya dengan masa lalu Om Hendra? Sama seperti pria yang bernama Vivaldo itu.
“Wanita tadi itu Keva Heilyn??” tanya Tante Darla terkejut. “Dia tidak seperti Keva yang aku kenal.”
“Penampilan wanita yang mendapatkan perawatan tubuh terbaik tentu saja akan terlihat berbeda ketika dia tidak bisa membayar semua itu lagi, Darla,” ucap Tante Qiana. “Apa itu artinya Hadi akan menikah dengan gadis itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya?”
“Aku tidak menghamili siapa pun, Tante,” protes Hadi. Dia melihat ke arah papanya. “Aku tidak mau menikah dengannya, Pa.”
__ADS_1
“Kamu hanya akan menikah dengan Clarissa. Jangan khawatir, Nak,” goda Om Hendra yang mengundang tawa semua orang. “Bayi itu bukan anakmu. Dia melakukannya dengan orang lain.”
“Apa maksud Papa? Bukankah video yang Papa tunjukkan kepadanya—”
“Itu hanya potongan dari kejadian yang sebenarnya. Aku membutuhkan pengakuan mereka agar bisa menuntut perbuatan mereka terhadap kamu.” Om Hendra tersenyum. “Apa kamu lupa bahwa kamu punya seorang pengawal? Dia melaporkan kejadian itu kepadaku. Karena kamu tidak mungkin dibawa pulang begitu saja, aku memintanya untuk memindahkan kamu ke kamar lain.
“Saat dia keluar dari kamar mandi, gadis itu terkejut kamu tidak ada lagi di tempat tidur. Aku tidak tahu mengapa dia tetap melanjutkan rencananya dengan tidur bersama pria lain. Karena itu, aku sengaja tidak memberi tahu siapa pun apa yang sebenarnya terjadi. Aku butuh pengakuan dari mulut mereka langsung. Tanpa itu, mereka bisa saja berkelit dan bukti yang aku punya tidak akan berguna.”
“Jadi,” ucap Hadi pelan. “Aku tidak ada di kamar itu ketika Valeria membawa pria lain?”
“Tidak. Kamu seharusnya tahu bahwa tidak ada yang tidur denganmu. Aku sengaja diam agar kamu tetap berpikir bahwa sesuatu telah terjadi pada malam itu. Apa yang aku harapkan terjadi. Mereka datang sendiri ke perangkap kita.” Om Hendra tersenyum puas.
“Kamu bilang dia sedang hamil. Apakah bijak memenjarakan gadis itu?” tanya Tante Lindsey. “Aku mengerti bahwa yang dia lakukan sangat jahat. Tetapi usianya masih muda dan kita semua pernah melakukan kesalahan seperti dia pada usia itu.”
“Dia tidak menyesali perbuatannya, Nenek,” kata Charlotte menimpali. “Dia bahkan tidak meminta maaf atas tuduhan jahat yang dia katakan terhadap Hadi. Dia malah menyalahkan Om Hendra atas semua kemalangan yang terjadi dalam hidupnya.”
“Ibu dan anaknya sama saja, ya. Aku ingat Keva pernah mengatakan itu juga,” ujar Tante Darla.
Namun Charlotte juga benar. Gadis itu tidak menyesali perbuatannya, juga tidak menganggap yang dia lakukan itu salah. Om Hendra yang tidak ada hubungannya dengan keputusannya itu pun turut disalahkan. Padahal yang punya masalah di masa lalu adalah ibunya dengan pria itu.
Aku jadi teringat dengan yang Finley lakukan kepadaku. Masalahnya adalah dengan Mama, tetapi dia menyeret aku juga dalam dendamnya. Cinta yang selalu aku anggap tidak ada, lalu akhirnya bisa aku rasakan di tengah-tengah keluarga kandungku, ternyata bisa memicu orang berbuat jahat.
“Itu bukan cinta,” kata Nenek saat kami membicarakan masalah tadi di mobil. “Cinta tidak egois apalagi sampai menyakiti. Bila Keva menang benar-benar mencintai Hendra, dia tidak akan meracuni pikiran putrinya. Valeria melakukan semua itu karena mamanya berbohong. Jika Keva jujur, Valeria tidak mungkin berniat menyakiti Hadi. Karena bukan Hendra yang telah menghancurkan hidupnya, melainkan perbuatannya sendiri.”
“Kasihan mereka, ya, Ma. Selalu saja ada orang yang berusaha untuk menyakiti mereka. Pertama, tiga orang yang sudah membuat Dira malu. Sekarang, ada yang berniat merusak reputasi Hadi.” Aku mendesah pelan. “Siapa yang akan menyakiti mereka selanjutnya?”
“Semakin tinggi posisimu, semakin besar tantangan yang akan kamu hadapi. Itu hukum alam,” kata Kakek. “Jangan terlalu dipikirkan. Perkuat hubunganmu dengan Hadi, maka kalian tidak akan mudah dihancurkan oleh orang-orang yang iri dengan kalian.”
Kata-kata Kakek itu aku simpan dengan baik. Karena yang dia ucapkan itu benar. Perusahaan yang Om Hendra pimpin semakin hari semakin sukses. Ada banyak toko serba ada baru dengan nama dan konsep yang berbeda, tetapi miliknya tidak pernah kekurangan pelanggan.
__ADS_1
Setelah Valeria, mungkinkah akan ada orang lain lagi yang akan mencoba menyakiti Hadi? Waktu yang dia pilih untuk mengumumkan kehamilannya pasti telah dia dan Manda rencanakan dengan baik. Ada banyak tamu undangan yang datang. Cukup satu orang saja yang mendengar kalimatnya itu, maka seluruh orang yang hadir akan mengetahuinya.
Charlotte membenarkan dugaanku tersebut. Dia dan Wyatt memasuki kamarku dan menunjukkan berbagai media berita yang memuat kabar kehamilan Valeria. Postingan orang-orang yang berteman dengannya di media sosial juga didominasi oleh berita tersebut. Hal yang menurutku sangat aneh.
“Tidak biasanya Om Hendra membiarkan berita buruk mengenai anak-anaknya menyebar di media sampai seluas ini,” kataku pelan. “Apakah dia sengaja melakukannya?”
“Benar juga.” Charlotte mengambil tabletnya kembali dariku. “Mengapa semua berita ini dibiarkan tetap ada di media? Video Dira saja tidak sempat aku tonton sudah dihapus dari internet.”
“Uncle Hendra selalu berpikir lebih cepat dan lebih jauh dari kita.” Wyatt berbaring di tempat tidurku dengan santai. “Aku yakin dia punya rencana di balik itu semua.”
*******
Sementara itu di kantor polisi~
Keva berlari memasuki pintu depan dan segera bertanya ke mana dua orang gadis yang baru dibawa tadi berada. Pria yang ditanyanya itu menunjuk ke arah sebuah pintu. Tanpa pikir panjang, Keva mengetuk dan membuka pintu tersebut. Ada tiga orang petugas yang berada di dalam. Dia tidak melihat putrinya atau gadis yang bersamanya.
“Di mana putri saya, Pak?” tanya Keva kepada salah satu petugas.
“Sedang dimintai keterangan di dalam. Ibu sebaiknya duduk di sana,” ucap seorang dari mereka. Keva terpaksa menurut. Dia duduk dan melihat ke arah ruangan lain dengan cemas.
Hampir satu jam menunggu, pintu terbuka dan putrinya keluar bersama seorang petugas. Kedua tangannya terborgol di depan tubuhnya. Hal yang sama juga terjadi kepada Manda. Keva segera berlari mendekat. Valeria menghindar dari sentuhannya.
“Jika Mama datang hanya untuk meminta aku memohon maaf kepada keluarga Mahendra, aku tidak mau dengar.” Valeria menatap Keva dengan tajam. “Aku tidak bersalah. Mereka yang seharusnya meminta maaf kepadaku.”
“Anak bodoh!” kata Keva dengan suara tertahan. “Apa kamu mau menyia-nyiakan hidupmu seperti aku? Kuliahmu hampir selesai. Apa kamu pikir kamu masih punya masa depan dengan label napi menempel di riwayat hidupmu? Usiamu masih muda, sayang. Perjalanan hidupmu masih panjang. Hanya Hendra yang bisa menolong kamu saat ini.”
“Mamamu benar.” Manda menengahi. “Aku akan keluar dari sini besok. Tetapi kamu akan tinggal lama di penjara atas perbuatanmu terhadap Hadi.”
Valeria menoleh ke arah gadis yang berdiri di sebelahnya. “Kamu akan bebas besok? Tidak mungkin. Kamu yang merencanakan semua ini, jadi kamu juga akan dipenjara,” protesnya.
__ADS_1
Manda tersenyum. “Aku punya orang berduit yang akan membantu aku bebas.” Dia melihat Valeria dan Keva secara bergantian. Valeria merapatkan bibirnya. “Apa kalian punya kenalan yang akan mau membantu kamu bebas?”