
*Clarissa*
Aku tidak pernah merasa begitu bahagia. Saat keluarga Foster mengangkat aku menjadi anak mereka, rasanya tidak sebahagia ini. Mereka memberi aku tempat tinggal, kasih sayang, tetapi aku bisa merasakan bahwa mereka memperlakukan aku berbeda dengan Reese. Wajar saja, dia adalah anak kandung mereka, maka dia adalah prioritas.
Kakek, Nenek, Grandpa, Grandma, juga Charlotte sangat sayang kepadaku. Para orang dewasa bahkan memperlakukan aku lebih istimewa daripada adikku sampai dia merasa cemburu. Aku tahu mereka hanya bercanda, karena mereka tidak akan menyakiti Charlotte secara sengaja. Tetapi aku bisa merasakan ketulusan mereka kepadaku.
Mereka suka sekali menunjukkan perhatian mereka lewat sentuhan. Awalnya, aku merasa risi karena tidak terbiasa. Memegang tangan, ciuman di wajah, pelukan adalah hal yang jarang aku dapatkan. Bahkan keluarga Foster sekalipun tidak seintim itu denganku. Hanya Reese yang sesekali memeluk atau menggandeng tanganku saat mengajak aku bermain bersama. Bapak dan Ibu Foster hanya sesekali saja menepuk bahuku ketika memuji atau menggandeng tanganku saat kami di luar rumah.
Setiap kali merasa sangat bahagia, aku selalu kehilangan segalanya secepat aku mendapatkannya. Karena itu aku tidak bisa membuang pikiran buruk itu dari kepalaku. Aku takut mereka akan kecewa ketika aku melakukan sebuah kesalahan, lalu membuang aku. Atau ada yang memfitnah aku dan mereka mengusir aku dari rumah.
Aku tidak peduli dengan kenyataan bahwa mereka adalah orang kaya raya. Semua itu aku anggap sebagai keberuntungan yang aku dapatkan dengan terlahir di keluarga mereka. Seandainya mereka adalah keluarga yang miskin, aku akan tetap bangga menjadi anggora keluarga mereka. Tetapi aku takut kehilangan kasih sayang mereka. Aku takut akan ada orang lain yang seperti Finley itu mencoba memisahkan aku dari keluargaku lagi.
“Mengapa kamu kelihatan sedih, Clarissa?’ tanya Charlotte yang tiba-tiba saja sudah berlutut di sisiku. Kami sedang duduk di kursi yang tersedia di tepi kolam renang menikmati buah yang dipotong oleh kedua nenek kami dan diletakkan di atas piring. Para pria sedang asyik berenang.
“Ah, tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu.” Aku tertawa kecil. “Apa yang kamu lakukan? Ayo, kembali ke tempat dudukmu.” Nenek dan Grandma duduk di sisi kanan dan kiriku, maka Charlotte duduk di kursi di seberangku dengan meja berada di antara kami.
“Hadi tidak menghubungi kamu sejak semalam? Apa itu yang kamu pikirkan? Dia pasti belum terbiasa dengan status baru kalian. Jangan khawatir, dia akan segera terbiasa. Aku jamin, kamu sangat beruntung bisa mendapatkan pemuda seperti dia.” Grandma mengedipkan sebelah matanya.
“Grandma selalu mengatakan itu saat Wyatt mendekati aku. Aku masih kelas satu SMU, tetapi Grandma dan Grandpa tidak melarang aku untuk berkencan. Justru mereka yang terus mendorong aku untuk menerima lamaran Wyatt untuk menjadi pacarnya.” Charlotte tertawa kecil. “Dan mereka berdua benar. Aku sangat beruntung memiliki dia sebagai pacarku.”
“Kami dan orang tua Wyatt sudah lama berteman. Sama seperti kami dengan orang tua Hadi. Jadi, kami tahu bahwa anak-anak mereka juga akan menjadi orang baik. Aku tidak akan melepaskan kesempatan baik seperti itu.” Grandma memberikan sepotong apel yang sudah dibersihkannya kepadaku. “Fakta bahwa mereka adalah anak orang kaya juga anggap saja sebagai bonus.”
__ADS_1
“Kamu benar-benar tahu memilih laki-laki yang baik. Hadi dan Wyatt sama-sama ahli waris utama dari usaha dan kekayaan keluarga mereka.” Nenek tertawa geli. “Orang lain akan menganggap kamu sebagai nenek yang mata duitan.”
“Aku tidak pernah peduli dengan apa kata orang, terutama mereka yang iri dengan hidupku. Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk kedua cucuku. Nenek mana yang tidak menginginkan hal yang sama?” Grandma mengangkat kedua bahunya dengan santai.
“Akui saja, Grandma. Kamu hanya mengincar harta kekayaan keluargaku,” goda Wyatt. Dia mengikat tali mantel mandinya di dekat pinggangnya saat berjalan mendekati Charlotte. Kami tertawa mendengarnya. “Tetapi aku tidak keberatan, karena aku mendapatkan gadis yang aku cintai. Dia lebih mahal dari semua harta yang ada di dunia ini.” Wyatt mencium puncak kepala adikku.
“Kamu mengatakan itu supaya aku menjawab iya atas pembicaraan kita semalam, ‘kan?” kata Grandma yang menatapnya penuh arti. Kami bertiga mengerutkan kening mendengarnya. Kami tidak tahu bahwa mereka punya pembicaraan rahasia semalam.
“Pembicaraan mengenai apa, Claudia?” tanya Nenek ingin tahu.
“Hadi dan Clarissa bertunangan, jadi aku mau meresmikan hubunganku dengan Charlotte juga. Kami sudah dua tahun bersama, orang tuaku juga sudah mendesak aku untuk segera melamarnya.”
“Tapi, Wyatt, kalian akan mulai kuliah pada pertengahan tahun ini,” ucap Nenek bingung.
“Apa yang menjamin bahwa pertunangan kita nanti akan membuat mereka menjauh dariku? Honey, aku sudah memilih kamu. Aku tidak akan berpaling pada laki-laki lain.” Charlotte menggeleng pelan. “Lagi pula kalau kamu mau kita bertunangan, kamu bisa meminta padaku untuk menikah denganmu, lalu memberi aku sebuah cincin. Beres.”
“Aku tidak mau acara ini hanya antara kita berdua. Aku mau seperti yang terjadi pada Hadi dan Clarissa semalam. Itu jauh lebih mendebarkan, sweety.”
“Aku tidak tahu mengapa Claudia keberatan dengan itu atau dia hanya menggoda kamu, tetapi aku setuju saja jika kamu ingin bertunangan dengan Charlotte. Cucuku tidak pernah mengeluh tentang kamu, Kakek juga senang dengan hubungan kalian. Jadi, mengapa tidak?”
Wajah Wyatt segera berubah bahagia. “Kalau begitu, bisakah kita melakukannya besok, Nek? Undang semua teman Kakek, Nenek, Charlotte, siapa saja untuk menghadirinya. Aku yang akan menanggung semua pengeluarannya.”
__ADS_1
“Tidak bisa besok, Wyatt. Aku tidak mungkin meminta mereka semua mendadak datang ke rumah ini. Biar kami diskusikan dahulu. Aku janji, sebelum Claudia dan Mason kembali ke Amerika, kalian berdua akan resmi bertunangan.”
“Yes! Terima kasih banyak, Nek! Aku sangat mencintaimu!” Wyatt memeluk dan mencium pipi Nenek, lalu melakukan hal yang sama pada Grandma. Aku dan Charlotte tertawa geli melihat tingkahnya. “Apa aku boleh meminta satu hal lagi? Aku ingin mengajak Charlotte kencan dan kami mungkin akan pulang malam.”
“Aku sudah bilang, kamu tidak perlu meminta izin.” Grandma memutar bola matanya. “Ah, karena ini malam minggu, mengapa kalian tidak kencan ganda saja? Bawa Clarissa dan ajak Hadi untuk ikut bersama kalian.”
“Semakin ramai semakin baik.” Wyatt menarik tangan Charlotte, lalu tanganku. “Kami akan bersiap-siap sekarang. Terima kasih banyak, Nenek, Grandma.”
Tempat pertama yang kami datangi adalah rumah Hadi, tetapi dia tidak ada di rumah. Om Hendra dan Tante Zahara menyambut kami dengan ramah. Begitu tahu alasan kedatangan kami, Dira dan Adi ingin ikut serta. Karena hanya mereka yang tahu dia mana Hadi berada, maka kami membawa mereka bersama kami.
Ketika kami tiba di sebuah komplek perumahan, kami berhenti di dekat lapangan basket. Colin dan Hadi sedang bersiap untuk pergi dengan sepeda motor sahabatnya itu. Setelah berbicara beberapa saat, Hadi masuk ke mobil, meninggalkan Colin bersama teman-teman mereka.
Aku tidak perlu menoleh ke belakang untuk tahu ekspresi wajah Dira. Dia pasti merasa tidak nyaman melihat mantannya berada sedekat ini dengannya. Hubungan Hadi dan Dira sangat istimewa sehingga dia tidak keberatan kakaknya masih bersahabat dengan mantannya. Aku merasa bersalah telah menjadi alasan mereka putus, tetapi aku segera membuang jauh pikiran itu. Colin sudah memberi tahu kami bahwa ini hanya bagian dari rencananya. Aku sama sekali tidak bersalah.
Saat kami tiba di mal dan aku berjalan sambil bergandengan tangan dengan Hadi, aku merasa begitu nyaman menceritakan semua yang aku rasakan. Aku tidak sadar aku menangis saat menceritakan ketakutanku kepadanya. Aku tidak tahu ada apa denganku. Sudah dua kali tangisku pecah saat bersamanya dan aku juga tidak keberatan setiap kali dia memeluk aku seerat ini.
Kami kehilangan jejak adik-adik kami saat kami kembali berjalan ke tempat di mana terakhir kali kami melihat mereka. Hadi mengajak aku untuk memeriksa setiap restoran yang kami lewati dan mencari mereka di antara para pengunjung.
Aku tidak memerhatikan jalan di depanku ketika seseorang menabrak sisi tubuhku. Pemuda itu meminta maaf, tetapi Hadi tidak terima. Aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga dia begitu marah. Karena kami berada di keramaian, aku tidak mau menarik perhatian orang banyak. Jadi, saat dia ingin mengejar laki-laki itu, aku menahan tangannya.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada khawatir. Aku menggelengkan kepala saat dia bertanya apa pemuda itu menyakiti aku. Tetapi aku memeriksa tasku dan keadaannya baik-baik saja, lalu mataku tertuju pada pergelangan tangan kiriku. Oh. Tidak. “Ada apa, Rissa?”
__ADS_1
“Ge-gelang pemberianmu tidak ada.” Aku menunjukkan pergelangan tanganku di mana perhiasan itu seharusnya berada.