
*Dira*
Tahun berganti, tawaran menjadi bintang iklan atau film masih mengalir. Walaupun tidak sebanyak pada akhir tahun lalu, ini masih rekor bagiku. Biasanya aku yang mendatangi mereka dan mengikuti audisi. Hanya satu atau dua perusahaan saja yang datang mengundang aku menjadi model mereka.
Menurut Vikal, pagelaran kebaya Bu Riani yang membuat aku menjadi favorit banyak orang. Dia menyarankan agar aku menggunakan setiap kesempatan dengan baik. Namun aku tidak mau rakus dan mengenyampingkan studi dan keluarga demi pekerjaan. Jadi, aku hanya mengambil beberapa saja yang menawarkan kontrak terbaik menurut Om Zach.
Lagi pula aku tidak mau orang bosan melihat aku tampil hampir setiap hari di layar datar, lebar, media daring, maupun cetak. Melihat wajah kita ada di hampir setiap jalan tentu membanggakan, tetapi tidak bagi orang lain. Mereka lama-lama akan muak, lalu bosan melihat wajahku. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan hanya karena rakus.
Papa dan Mama sangat bahagia melihat hasil nilai semester pertamaku dan Adi. Kami makan malam bersama untuk merayakannya. Adi menggunakan kesempatan itu untuk memberi tahu kami bahwa dia akan mengikuti turnamen game bersama Colin, Lily, dan Diah. Kakak menyampaikan hasil nilai uji coba tes kemampuan berbahasa Inggrisnya yang lebih baik dari Clarissa. Kami tertawa.
“Kamu menolak semua tawaran mereka, bagaimana dengan aku dan Rasmi? Apa kamu mau bermain dalam film terbaru yang diangkat dari novelku?” tanya Mama setelah mendengarkan ceritaku.
“Serius, Ma? Novel Mama akan diangkat jadi film lagi?” tanyaku tidak percaya. Mama mengangguk senang. “Novel yang mana? Aku tidak yakin aku akan bisa menjadi karakter itu. Biasanya tokoh Mama mandiri dan tegar. Aku tidak begitu.”
“Justru kamu berhasil berakting ketika kamu bisa menjadi orang yang berbeda dari karaktermu sendiri.” Mama mengedipkan sebelah matanya. “Pikirkanlah. Masih ada waktu sebelum audisi para pemain film dimulai.” Kakak dan Adi menggoda aku dengan sorakan mereka.
Pernikahan sudah di depan mata, aku dan Colin tidak punya waktu untuk bertemu. Dia sibuk dengan keluarganya, aku dengan keluargaku. Karena itu, aku sangat terharu bisa bertemu dengannya lagi pada acara makan malam bersama keluarga besar kami.
Orang tua Uncle Will juga datang untuk menyaksikan kami mengucapkan sumpah setia. Mereka memperkenalkan keluarga mereka kepada kami. Lalu Papa memperkenalkan kami semua kepada mereka. Acara itu berjalan dengan lancar dan semua orang sangat bahagia.
Aku bangun pagi pada hari pernikahanku untuk dirias oleh orang yang sudah biasa mengurus aku selama menjadi model. Aku sudah biasa tampil dengan riasan lengkap dan tebal, jadi pada hari istimewaku, aku meminta dandanan yang sederhana. Mereka berhasil ketika aku melihat Papa dan kedua saudaraku mengangakan mulut mereka melihat penampilanku.
“Hari ini aku akan sangat bangga berjalan di samping putriku yang sangat cantik,” puji Papa yang mengulurkan tangannya kepadaku.
“Lebih cantik daripada mamanya?” goda Mama. Papa hanya tertawa.
__ADS_1
Kami berangkat bersama ke gereja, tetapi hanya aku sendirian di mobil pengantin. Colin akan pergi bersama keluarganya dan kami bertemu di sana. Beberapa saat berada di ruang tunggu, aku dan Papa diminta untuk bersiap memasuki ruang ibadah.
Dia membantu merapikan kerudungku, lalu memberikan bunga tangan kepadaku. Melihat dia hanya menatap aku dalam diam, air mataku mengancam untuk keluar. Sebentar lagi aku bukanlah anak gadis kecilnya lagi. Aku akan menikah dan menjadi tanggung jawab pria lain.
“Semoga bahagia, sayang. Jika kamu menemui masalah apa pun, pintu rumahku selalu terbuka untukmu. Kamu akan segera menjadi istri, jangan manja lagi.” Papa membelai pipiku. “Colin pasti akan menjaga kamu dengan baik. Tetapi bila dia gagal, aku akan membawamu pulang.”
Aku tertawa mendengarnya. “Sudah, Pa. Riasanku bisa rusak karena air mata,” ucapku lirih.
Colin segera mengalihkan perhatianku kepadanya begitu pintu gereja dibuka. Dia kelihatan sangat berbeda dengan setelan hitamnya. Rambutnya juga ditata dengan rapi. Rasa bangga memenuhi dadaku. Kami bertahan selama belasan tahun bersama, semoga kami bisa bertahan menghadapi masalah berikutnya sampai kematian yang memisahkan kami.
Papa meletakkan tanganku di atas tangan Colin sebagai simbol dia merestui hubungan kami dan menyerahkan tugas melindungi aku kepada calon suamiku. Papa tidak mengatakan apa pun, tetapi aku yakin mereka sudah bicara berdua mengenai harapan Papa kepada Colin.
Kami terharu saat mengucapkan sumpah dan memasangkan cincin. Ketika kami dinyatakan sah sebagai suami istri, kami kembali menitikkan air mata. Aku kini mengerti mengapa orang-orang menangis pada hari pernikahan mereka. Hal ini seperti mimpi sekaligus nyata. Aku tidak bisa menjelaskan emosi yang aku rasakan bisa bersama orang yang aku cintai selamanya.
Acara dilanjutkan dengan makan malam bersama di sebuah gedung dengan kapasitas besar. Kami sudah mengantisipasi bahwa tamu yang datang tidak akan muat ditampung di aula hotel mana pun. Aku adalah anak pertama Papa yang menikah, jadi koleganya pasti datang. Tidak peduli mereka mendapatkan undangan atau tidak. Teman-teman model yang pernah bekerja bersamaku juga tidak mau tahu mengenai undangan.
Setelah para tamu pamit, seluruh keluarga dan sahabat terdekat kami berfoto bersama kami. Aku tidak yakin akan ada hasil yang bagus, karena semua orang sibuk menyatakan pendapatnya. Ada yang mengarahkan agar kami tersenyum. Yang lain sibuk mengatur posisi setiap orang supaya hasilnya bagus. Fotografer tidak peduli dengan kondisi itu dan terus saja memotret kami semua.
“Sekali lagi, selamat atas pernikahan kalian. Kami akan pulang.” Mama menarik lengan Papa.
“Ingat, apa yang aku katakan kepadamu, Colin. Perlakukan putriku dengan baik,” kata Papa penuh arti. “Sebaiknya kalian tidak melakukannya malam ini, karena—”
“Sayang, kita harus cepat. Kafin sudah lama menunggu.” Mama memotong kalimat Papa. Dia berat hati mengikuti Mama menuju mobil.
“Selamat bersenang-senang.” Wyatt mengedipkan sebelah matanya kepada Colin. Charlotte hanya tertawa geli melihat sinyal itu.
__ADS_1
“Pergi, Kak. Tidak usah mengatakan apa pun,” kataku mencegah Kak Hadi mengucapkan apa yang ada di kepalanya. “Kamu juga, Adi. Sana, jangan biarkan Papa dan Mama menunggu.” Bukannya pergi baik-baik, mereka malah tertawa bersama.
Uncle Will, ah, maksudku, Dad, Mama Gista, dan Lily juga mengucapkan selamat sekaligus pamit. Aku dan Colin menunggu sampai semua mobil bergerak dari depan pintu utama hotel. Kami akan menginap di hotel untuk malam ini. Lalu kami akan ke apartemen yang menjadi tempat tinggal kami selanjutnya. Pekerja dari rumah Papa sudah memindahkan semua kado kami dari hotel ke sana.
Membuka kado akan menjadi pekerjaan yang sangat lama untuk aku selesaikan. Ada banyak sekali orang yang memberi kami hadiah. Aku melupakan sejenak tugas besar yang sudah menunggu di tempat tinggal kami besok. Pada malam ini, aku ingin sekali beristirahat setelah berhari-hari harus ikut Mama dan Mama Gista ke sana kemari.
Aku sangat berterima kasih kepada Mama yang sudah memikirkan segalanya dengan baik. Penata riasku sudah menunggu di kamar kami. Dia membantu aku melepaskan semua hal yang menempel di rambutku dan membuka kancing di belakang gaun yang tidak bisa aku raih. Aku akhirnya bisa menarik napas lega setelah gaun itu longgar.
Colin yang baru keluar dari kamar mandi kembali terlihat seperti dirinya yang biasanya aku kenal. Setelan itu telah membuatnya terlihat seperti orang lain. Dia melihat ke sekitar kamar kami. “Ke mana wanita tadi?” tanyanya.
“Sudah pulang. Aku akan mandi sebentar.” Aku melewatinya menuju kamar mandi. Tanganku tetap ada di depan dadaku agar gaun itu tidak meluncur jatuh.
Aku tidak membawa pakaian ganti, jadi aku hanya memakai mantel saat keluar dari kamar mandi. Colin sudah tertidur pulas di atas tempat tidur. Aku tertawa kecil mendengar dengkuran halusnya. Dia pasti sangat kelelahan sampai tidak bisa menunggu aku selesai mandi.
Merasakan perutku lapar, aku memesan makanan setelah memakai piyama. Aku tidak bisa banyak makan, karena tamu tidak berhenti mengucapkan selamat. Papa yang akan membayar tagihan kami, jadi aku tidak boleh menyia-nyiakannya.
Aku sudah terbiasa melihat Colin sedang tidur, jadi melihat dia begini bukanlah hal yang baru. Aku membantu memperbaiki posisi tidurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Posisi tempat tidur yang dia pilih sama dengan posisi kesukaanku. Sepertinya aku yang harus mengalah dan tidur di sisi ranjang di sebelahnya.
Pintu diketuk, aku segera membukanya dan mempersilakan pelayan meletakkan makanan dan minuman pesananku di atas meja. Aku menutup pintu dan menguncinya begitu wanita itu keluar. Mendengar erangan pelan Colin, dia pasti mencium aroma makanan yang memenuhi kamar.
“Ya, ampun. Maafkan aku, sayang.” Dia duduk dan melihat keadaan di sekelilingnya. “Aku tertidur.”
“Tidak apa-apa. Aku tahu kelelahan.”Aku menepuk permukaan sofa. “Duduk di sini, sayang. Aku sudah memesankan makanan untukmu juga.”
“Kamu memang istri yang baik.” Dia duduk di sisiku, lalu mengecup pipiku.
__ADS_1
Istri. Kata yang masih terdengar asing di telingaku. Meskipun ini adalah hal baru bagiku, aku tidak akan berhenti belajar menjadi pasangan yang terbaik untuk suamiku. Ada banyak hal di depan sana yang sudah menunggu kami. Apa pun yang terjadi, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menepati setiap kata yang aku ucapkan pada sumpahku.