Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 83 - Kata yang Manis


__ADS_3

*Dira*


“Dia kemarin datang ke rumah kamu? Lalu, lalu?” tanya Charlotte tidak sabar.


“Tidak ada lalu. Aku tidak ikut mengobrol dengan dia bersama keluargaku. Untuk apa juga aku berada dalam satu ruangan dengan tukang selingkuh itu?” kataku mencibir. “Apa pun yang dia lakukan, aku tidak akan kembali kepadanya.”


“Wow, Dira. Jadi, Colin berniat mengajak kamu untuk kembali kepadanya?” tanya Wyatt yang mendadak tertarik dengan topik pembicaraan kami.


“Memangnya apa lagi tujuan kedatangannya ke rumahku dengan membawa bunga untuk Mama dan makanan kesukaan keluargaku? Tentu saja dia ingin aku kembali kepadanya.”


“Kalian perempuan perlu belajar banyak dari kami laki-laki. Jika kami datang tidak untuk menemui kalian, itu artinya bukan kalian tujuan dari kedatangan kami. Sekarang aku tanya kamu.” Wyatt memasang wajah serius. “Apa Colin datang menemui kamu?”


“Tidak. Tetapi apa lagi maksudnya kalau bukan untuk mendekati aku lagi?”


“Apa dia mengatakan itu kepadamu kemarin? Bahwa dia datang untuk mendekati kamu lagi?”


“Tidak. Tetapi—”


“Maka kesimpulannya, dia datang bukan demi kamu. Cara berpikir kami tidak serumit kalian para perempuan. Jadi, Dira, berhenti mencurigai pemuda malang itu. Dia adalah laki-laki yang baik dan percayalah kepadaku, kamu beruntung karena kamu pernah menjadi pacarnya.”


“Omong kosong apa ini?” protes Charlotte. “Walaupun Colin tidak mengatakan tujuan kedatangan dia ke rumah Dira secara blak-blakan, anak usia lima tahun juga tahu demi siapa dia begitu. Kamu dan dia sama saja. Kalian berbuat kesalahan, lalu kalian berharap kami lupa dan memaafkan kalian dengan bersikap manis. Wyatt, kalau kamu mau membela Colin, pergi dari sini.”


“Aku tidak membela Colin. Aku sedang mengajari Dira cara berpikir logis,” kata Wyatt membela diri.


“Dira!” Terdengar panggilan seseorang dari arah belakang kami. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.


“Ayo, cepat! Aku tidak mau bicara dengannya sekarang.” Aku menarik tangan Charlotte dan Wyatt agar mereka mempercepat langkah mereka.


“Dia ulet juga, ya. Colin punya saingan yang berat.” Wyatt tertawa kecil.


“Aku tidak akan kembali lagi pada Colin. Dia sudah menyia-nyiakan kesempatan yang dia miliki.”


“Jadi, mengapa kamu menghindari Jordan? Dia kelihatannya pemuda yang baik. Melihat usahanya mendekati kamu, dia pasti serius dengan perasaannya kepadamu.”


“Masalahnya, aku tidak punya perasaan padanya. Yang dia lakukan itu norak. Sama noraknya dengan Colin.” Aku mendesah lega saat kami memasuki ruang kelas.


“Sama noraknya seperti kamu meminta aku untuk kembali,” ucap Charlotte menimpali. Wyatt tertawa keras yang dihadiahi Charlotte pukulan pada lengannya. “Aku sangat membenci kamu!”

__ADS_1


“Cinta dan benci itu bedanya tipis, honey. Kamu boleh menyangkali perasaanmu padaku sekarang. Tetapi suatu hari nanti, kamu akan memaafkan aku dan menerima aku kembali.” Wyatt mendekati Charlotte dan sahabatku itu mundur. Langkahnya terhenti karena pahanya menyentuh meja.


“Omong kosong. Aku tidak mencintai kamu. Apa gunanya mencintai orang yang memanfaatkan perasaanku untuk membantu musuh keluargaku membalas dendam? Jangan bicara cinta, Wyatt. Karena aku tahu bahwa kamu tidak pernah mencintai aku,” semprot Charlotte.


Wyatt meletakkan kedua tangannya di atas meja sehingga tubuh Charlotte terkurung. Aku sampai menahan napas menunggu responsnya. “Aku selalu mencintai kamu. Dan kamu tahu itu.”


Kalau Charlotte tidak meleleh, maka aku tersentuh mendengar kalimatnya itu. Cinta. Entah mengapa kata itu terdengar sangat manis, penuh janji, dan emosional. Tidak semua orang mengatakannya dengan tulus. Tetapi aku tahu Wyatt serius dengan perasaannya pada sahabatku.


Papa mengatakan cinta setiap hari kepada Mama, begitu juga sebaliknya. Ketika mereka sedang bertengkar, kata itu mampu membuat mereka berdamai kembali. Saat mereka sedang berpisah, kata itu membuat mereka tidak sabar untuk bertemu lagi. Waktu mereka sedang bersama, kata itu akan membuat mereka berciuman panas sampai aku dan kedua saudaraku harus memberi mereka ruang untuk berduaan saja.


“Yang aku tahu, kamu membohongi aku. Apa kamu pikir aku akan percaya lagi padamu setelah semua yang kamu lakukan di belakangku? Tidak akan, Wyatt.” Charlotte mendorong tubuh Wyatt menjauh, lalu dia duduk di kursinya.


“Hai, Dira!” sapa Jordan dari ambang pintu.


Aku mendesah pelan melihat dia mendekati aku. Wyatt tersenyum penuh arti, sedangkan Charlotte menyembunyikan senyumnya dengan tangannya. Dasar pengkhianat. “Hai, Jordan.” Aku berjalan ke mejaku dan duduk di bangkuku.


“Aku memanggil kamu tadi, apa kamu tidak mendengar?” tanyanya sambil berdiri di sisi mejaku.


“Oh, maafkan aku. Kami takut terlambat, jadi kami buru-buru masuk kelas.” Aku melirik arlojiku. “Masih ada lima menit sebelum bel berbunyi.”


“Apa kamu datang pada acara hari Sabtu nanti?” tanyanya antusias.


“Kalau begitu, apa kamu mau pergi bersamaku?” Pertanyaannya itu mengundang sorakan dari teman-teman yang duduk di dekatku.


Aku memutar bola mataku melihat reaksi mereka. “Aku akan datang bersama sopirku. Kita bertemu di sekolah saja, Jordan.” Mereka kini mengejek aku dengan ber-huu panjang.


“Maksudku, aku ingin bertemu dengan keluargamu sebelum kita berangkat.”


“Untuk apa kamu bertemu dengan keluargaku?”


“Tentu saja untuk berkenalan. Kita sudah lama berteman, jadi—”


“Jordan, aku akan bersama Charlotte dan Wendy sebelum datang ke acara itu. Lalu kami berangkat bersama ke sekolah. Kamu tidak akan bertemu dengan keluargaku. Lagipula mereka punya acara masing-masing pada setiap akhir pekan. Jadi, kita bertemu di sekolah saja.”


“Baiklah, kalau begitu. Aku akan tunggu kamu di pintu masuk.” Dia berjalan menuju mejanya sebelum aku sempat menjawab.


Aku benar-benar tidak mengerti dengan sikapnya. Dia sudah meminta maaf karena memaksa aku menjadi pacarnya. Lalu setelah kami sepakat untuk berteman, untuk apa dia bersikap seolah-olah kami lebih dari teman?

__ADS_1


“Sombong sekali dia. Mentang-mentang tenar, disukai banyak laki-laki, dia menolak mereka semua. Lihat saja kalau dia sudah tidak muda lagi, dia pasti terima saja semua laki-laki yang datang,” sindir teman yang duduk di sisi kananku kepada teman di sebelah kanannya.


“Hei.” Charlotte yang duduk di depannya menepuk mejanya. “Sahabatku disukai banyak orang bukan karena dia tenar, tetapi karena dia baik hati. Kalau kalian berhenti menjelek-jelekkan orang lain, aku yakin banyak laki-laki yang mulai melirik kalian.”


“Ngga usah ceramah di sini. Kamu dan Dira sama saja. Kalian sok cantik dengan menolak laki-laki yang suka dengan kalian. Memangnya kalian mau laki-laki yang seperti apa? Aktor Hollywood? Apa Wyatt kurang ganteng dari semua aktor itu?” balas gadis itu.


“Tunggu dulu.” Charlotte mengamati gadis itu baik-baik. Lalu dia tertawa kecil. “Kamu suka Wyatt?”


“Iya. Ada masalah? Dia sedang sendiri, tidak ada salahnya, ‘kan, aku menyukai dia? Siapa tahu suatu hari nanti dia akan membalas perasaanku.” Gadis itu mengangkat dagunya, menantang Charlotte.


“Ambil saja. Dia bukan siapa-siapa lagi bagiku.” Charlotte tersenyum mengejek.


“Aku tidak butuh izin darimu. Kita lihat saja apa kamu bisa tersenyum saat dia menjadi milikku nanti.”


“Selamat pagi, anak-anak!” Wali kelas kami memasuki ruangan dengan wajah riang. “Bagaimana kabar kalian pagi ini? Pasti lega, ya, sudah melalui ujian terakhir.”


Charlotte mengedipkan sebelah matanya ke arahku sebelum membalikkan badannya. Aku hanya menggeleng pelan melihat aksinya membela aku dari cibiran teman sekelas kami. Dia tidak perlu melakukan itu. Aku bisa membela diriku sendiri.


Kami menggunakan waktu belajar untuk membahas kembali soal yang kami terima selama ujian berlangsung. Ada dua tipe soal sehingga setiap barisan menerima soal yang berbeda. Dengan begitu, kami yang duduk bersampingan tidak bisa saling mencontek jawaban. Kedua tipe soal itu kami bahas bersama. Aku cukup percaya diri ketika satu demi satu jawaban sesuai dengan jawaban yang aku pilih saat ujian. Papa dan Mama pasti akan bangga melihat nilaiku nanti.


Walaupun kami tidak belajar hal baru lagi, sekolah tetap berakhir seperti jam biasanya. Aku tidak mungkin menunggu sampai Adi selesai mengikuti pelajaran tambahan, jadi aku sudah berpesan kepada Pak Sakti agar menjemput aku lebih dahulu.


“Lihat, ‘kan?” ucap Charlotte penuh kemenangan. Dia menoleh ke arah Wyatt sambil mengulurkan tangannya. “Colin sedang berusaha untuk mendekati Dira lagi. Mana seratus ribu?”


“Colin?” Aku melihat ke arah gerbang dan menemukan dia sedang duduk santai di atas jok sepeda motornya. “Tunggu. Kalian taruhan mengenai tujuan kedatangan Colin kemarin??”


“Hei, jangan salahkan aku. Wyatt yang menantang aku dan kamu tahu aku tidak suka diremehkan. Jadi, aku terima tantangannya. Lumayan, aku bisa pesan hamburger porsi besar lengkap dengan kentang goreng dan soda.” Charlotte melayangkan selembar uang berwarna merah di depanku.


“Aku tidak percaya kalian melakukan ini.” Aku menatap mereka dengan tajam. Wendy yang berjalan di sisiku hanya tertawa geli.


Wyatt menyapa Colin dengan ramah saat kami sudah berada di dekatnya. Pemuda itu berdiri dan tersenyum kepada kami. Aku berniat menelepon Pak Sakti karena dia belum datang. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Dia atau Kak Hadi selalu menjemput tepat waktu. Jika ada halangan, mereka selalu memberi tahu lewat pesan di ponsel.


“Pak Sakti tidak akan datang sekalipun kamu meneleponnya.” Colin menepuk jok sepeda motornya. “Aku yang akan mengantar kamu pulang.”


Aku tidak memedulikan ucapannya dan meletakkan ponselku di telingaku. Pak Sakti menjawab panggilan dariku dan memberi tahu tepat seperti yang Colin ucapkan. Bahkan Kak Hadi sendiri yang mengizinkan Colin untuk menjemput aku dari sekolah.


“Daripada pulang denganmu, aku lebih baik pulang bersama Charlotte.”

__ADS_1


“Maaf, Dira. Apa kamu lupa?” Charlotte melingkarkan tangannya di bahu Wendy. Mereka saling bertukar pandang penuh arti. “Kami akan mengantar Wendy ke tempat kerjanya, lalu menjemput Clarissa. Hari ini ulang tahun kepala koki kami dan kami ingin memberi kejutan.”


“Tidak, Charlotte. Kamu tidak punya rencana itu tadi,” protesku. Dia hanya mengabaikan aku dengan pergi bersama Wendy dan Wyatt ke mobilnya. Dasar pengkhianat.


__ADS_2