Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 175 - Atas Nama Cinta


__ADS_3

Dia menggelengkan kepalanya. “Aku tidak merasakan ada yang berbeda pada tubuhku. Dorongan apa pun yang kamu maksudkan itu tidak aku rasakan sama sekali. Aku serius. Yang ingin aku lakukan saat ini adalah mencekik Valeria.”


“Lalu mengapa Valeria mengatakan itu kepadaku? Kalau dia tidak ada hubungan dengan kejadian di hotel itu, mengapa dia bertingkah seolah-olah ada kejutan yang akan kamu berikan kepadaku?” Aku semakin bingung. “Tetapi untuk apa dia susah payah membuat kamu tidur dan membawa kamu ke kamar hotel bila kalian tidak melakukan apa pun?”


“Sepertinya aku mengerti mengapa Papa merahasiakan apa yang dia ketahui mengenai kejadian ini,” ucap Hadi pelan. Dia melirik jam tangannya. “Sebaiknya aku ke kantor. Clarissa akan menunggu aku, jadi aku tidak boleh sampai lembur. Jaga dirimu, Cole.”


Aku hanya bisa bengong melihat dia bergegas berjalan menuju mobilnya. Dia akhirnya mengerti alasan Uncle Hendra merahasiakan apa yang terjadi di hotel itu, tetapi otakku malah semakin kosong. Ayahnya selalu cepat dalam menindak orang jahat. Mengapa kali ini berbeda? Uncle tidak pernah membiarkan seseorang bebas setelah menyakiti anaknya lebih dari seminggu.


Charlotte dan Wyatt menolak untuk makan siang bersama kami, karena punya rencana sendiri. Jadi, aku hanya berdua saja dengan Dira. Gadisku yang biasanya banyak bicara itu mendadak diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Ponselnya yang biasanya punya segudang hal menarik sama sekali tidak dia keluarkan dari tasnya.


“Ada apa, sayang? Apa yang sedang menyusahkan hatimu?” tanyaku pelan.


Dia menggeleng pelan. “Keadaan agensi sedang kacau. Aku belum menceritakan kepadamu apa yang disampaikan Pak Billy kepadaku dan Vikal pada hari Minggu lalu.”


“Iya. Kamu lebih memilih diam selama kita melakukan panggilan video pada malam itu. Aku pikir kamu sedang kelelahan.” Aku menyentuh tangannya yang ada di atas meja. “Ada apa, sayang?”


“Hubungan rahasia Laras ketahuan Pak Billy. Kontraknya langsung diputus dan dia harus membayar denda yang tidak sedikit kepada atasanku.” Dia mendesah pelan.


“Lalu mengapa kamu yang terlihat sedih?” tanyaku masih tidak mengerti.


“Pak Billy datang untuk berbicara denganku dan Vikal pada acara audisi yang aku ikuti. Dia ingin memastikan bahwa putranya tidak mendekati aku juga. Aku sedih melihat dia terluka,” kata Dira dengan lirih. “Hampir semua orang tahu perbuatan putranya, sedangkan dia tidak.”


“Itu bukan hal yang mengherankan. Orang tua mana yang percaya bahwa anaknya akan berbuat sejahat itu. Lalu apa yang dia lakukan pada anaknya itu?” tanyaku ingin tahu.


“Memecatnya dan meminta dia untuk tidak pernah datang lagi ke agensi. Setelah dia pergi, satu per satu model akhirnya berani mengakui bahwa mereka juga pernah dilecehkan oleh pria itu. Pak Billy memercayai mereka, karena dia sudah melihat sendiri bukti rekaman CCTV yang ada di pintu masuk ruang kerjanya tersebut.” Dia menggeleng pelan.


Aku mendekatkan punggung tangan Dira ke bibirku dan menciumnya. Dia sedikit terkejut. “Terima kasih, sayang. Kamu telah menjaga dirimu dengan baik. Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan aku lakukan seandainya dia berani menyentuh kamu.”

__ADS_1


“Vikal tidak pernah meninggalkan sisiku sedetik pun setiap kali aku berada di agensi. Dia mendengar perintah Papa dengan sangat serius. Tentu saja laki-laki hidung belang itu tidak punya kesempatan untuk mendekati aku.” Dia tersenyum sedih. “Kasihan Laras. Dia kehilangan pekerjaan, juga orang yang dia pikir sangat mencintainya.”


“Apa yang terjadi padanya?” tanyaku pelan.


“Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Dia menghilang begitu saja. Mungkin dia mengurung diri di rumahnya atau pergi ke luar kota untuk menenangkan diri. Entahlah.” Dia mengangkat bahunya.


“Apa ada hal lain yang terjadi pada hari Minggu itu?” tanyaku berhati-hati. Aku tidak percaya bahwa keadaan agensi yang membuat dia jadi pendiam begini. Dia menggeleng pelan dan matanya melihat ke arah meja. “Sayang, kamu tahu bahwa kamu tidak bisa membohongi aku, ‘kan?”


Dia duduk terkulai. “Apa orang-orang tidak akan pernah melupakan video yang viral itu?” tanyanya pelan. “Aku susah payah melupakannya. Mengapa mereka masih saja menyinggungnya lagi?”


“Siapa yang menyinggungnya, sayang?” tanyaku menahan darahku yang mendidih.


“Salah satu juri. Dia meminta aku untuk membuka pakaian di depan mereka,” ucapnya sedih. “Aku tidak melakukan itu untuk menarik perhatian orang, Colin. Aku juga tidak melakukan itu untuk bisa lulus menjadi model utama di pagelaran yang diadakan Ibu Riani.”


“Hei, mereka hanya iri dengan keberhasilanmu. Tidak usah dimasukkan ke dalam hati. Kamu tidak perlu bekerja sama dengan orang seperti mereka. Masih ada banyak perusahaan lain yang mencari bintang iklan berkualitas. Mereka yang rugi sudah menghina kamu,” kataku dengan tegas. “Apa kamu dengar itu? Lupakan saja apa yang dia katakan.”


“Itu baru Diraku,” pujiku dengan bangga. Dia tersenyum. Pelayan datang mengantarkan makanan pesanan kami. Benar-benar waktu yang tepat. “Makan yang banyak. Kamu membutuhkannya untuk menghadapi orang jahat di luar sana.” Dia tertawa.


“Bagaimana kabar Uncle dan Tante? Apa mereka sudah baik-baik saja?” tanyanya mengubah topik.


“Yep.” Aku mengangguk senang. “Mereka sudah tidur satu kamar lagi. Tentu saja Dad memeriksa keadaannya dahulu sebelum kembali bermesraan dengan Mama. Aunt memang luar biasa. Dia tega melakukan hal sejahat itu terhadap orang tuaku atas nama cinta.”


“Kejadian itu mengingatkan aku kepada Jordan. Dia juga melakukan hal yang sama demi cinta. Membuat aku tidak sadar, lalu berniat meniduri aku. Mungkin bagi setiap orang, cinta punya arti yang berbeda.” Dira mengangkat kedua bahunya.


“Itu bukan cinta, sayang. Itu obsesi. Kamu tidak akan bisa menyakiti orang yang kamu sayangi. Kamu pasti akan mengutamakan kebahagiaannya. Itu juga yang dilakukan oleh Aunt Chelsea. Karena itu aku tahu aku mencintai kamu dan yang aku lakukan kepadamu dengan menyewa jasa pacar palsu adalah salah.”


“Dunia tidak seindah yang selama ini kita bayangkan, ya.” Dira tersenyum sedih. “Aku pikir kalau kita berbuat baik, maka orang-orang akan baik kepada kita. Ternyata aku salah. Kebaikan mereka ada syaratnya. Lihat saja apa yang Reese lakukan kepada Clarissa. Mengerikan sekali.”

__ADS_1


“Jangan lupakan orang baik yang ada di sekitarmu, karena perbuatan mereka, sayang. Kamu punya Wendy dan Charlotte yang masih setia berteman denganmu.”


“Kamu benar.” Dia menyentuh lenganku. “Aku juga masih punya kamu.”


“Aku pernah berbuat jahat kepadamu, jadi aku tidak masuk hitungan,” kataku mengingatkannya.


“Itu lebih baik lagi. Dengan begitu, aku tahu bahwa aku bersama manusia biasa, bukan jadi-jadian.” Dia mengedipkan sebelah matanya. Aku tertawa. “Jam pulang Lily hampir tiba dan aku harus kembali ke kampus untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya.”


Kami menyelesaikan makan kami secepat mungkin. Aku mengantarnya terlebih dahulu ke kampus, lalu melesat ke sekolah Lily. Gerbang sekolahnya baru saja dibuka ketika aku menghentikan sepeda motor di depannya. Melihat anak-anak remaja dengan seragam sekolah mereka, aku terkenang dengan masa-masa SMU-ku. Waktu ternyata berlalu cepat sekali.


Setelah beberapa tahun lulus sekolah, aku akan lulus dari kampus dalam waktu dekat. Kehidupan sebagai orang dewasa baru pun dimulai. Aku harus mencari pekerjaan dan menghidupi diriku sendiri. Dalam hal ini, menafkahi istriku juga. Apakah aku sudah siap memasuki kehidupan sebagai orang dewasa dan bertanggung jawab sendiri atas masa depanku?


“Ada apa? Tidak biasanya kamu bengong?” sapa Lily membuyarkan lamunanku. “Apa kamu sudah lama menunggu di sini?” Dia mengambil helm yang aku berikan.


“Hanya terkenang dengan sekolahku dahulu,” jawabku santai. Aku melihat dia hanya memegang helm tersebut dan tidak memakainya. “Ada apa? Cepat, pakai. Kita harus pulang sebelum macet.”


“Aku selalu melihat kamu memasangkan helm di kepala Dira. Mengapa aku harus memakainya sendiri?” Dia menyodorkan helm itu kembali kepadaku. Aku mengangakan mulutku. “Ayo, cepat. Katamu kita harus cepat sebelum macet.”


Aku menggeleng pelan, tetapi menuruti permintaan anehnya itu. “Dira adalah pacarku, tentu saja sudah menjadi tugasku untuk memanjakannya. Kamu adalah adikku, maka tugasku membuat kamu mandiri. Cepat, cari pacarmu supaya kamu bisa bermanja juga.”


“Diih, punya pacar hanya untuk bermanja? Memangnya aku ini perempuan apa??” protes Lily. Dia menaiki sepeda motor, lalu memeluk tubuhku dari belakang.


“Dad mengajak Mama makan malam di luar. Kamu mau paket burger lengkap dengan soda dan kentang goreng untuk makan malam nanti?” tanyaku sambil menyalakan mesin.


“Aku boleh minta dua porsi?” tawarnya.


“Tentu saja. Tetapi kamu yang buang sampahnya keluar. Setuju?” tanyaku. Dia segera menjawab setuju. Mama akan marah kalau dia melihat bungkusan makanan tersebut. Jadi, kami harus berhati-hati agar bisa makan enak sekaligus tidak mendapat omelannya.

__ADS_1


Aku menyalakan lampu sein kanan untuk memasuki jalan utama. Baru saja melirik kaca spion kanan, tiba-tiba sebuah mobil melintas di depanku dengan cepat. Sedan itu menabrak mobil yang berbaris di depanku dan baru berhenti setelah menabrak tembok sekolah. Bunyi kendaraan yang mengerem tiba-tiba serta teriakan panik orang-orang di sekitar kami memenuhi udara.


__ADS_2