Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 141 - Putus Hubungan


__ADS_3

*Colin*


Aku tidak tahu harus mengatakan apa begitu mendengar penjelasan dokter mengenai pemeriksaan fisik Dad. Aunt Chelsea memaksakan kehendak kepadanya. Dari hasil pemeriksaan darahnya juga ditemukan adanya bahan yang biasanya ada pada obat tidur dan perangsang. Perempuan berengsek. Dia melakukannya pada saat ayahku tidak sadar.


Untung saja perempuan itu masih di kamar hotel yang sama, jadi polisi bisa menangkapnya dan menahan sampai proses persidangan nanti. Pernyataan yang dia berikan hanya formalitas semata, karena semua bukti yang ditemukan sangat memberatkannya.


Atas perintah dari kepolisian, dia menjalani pemeriksaan kesehatan dan perbuatannya tidak bisa dia bantah lagi. Dia menularkan penyakit kelamin kepada Dad. Penyakit yang sama yang diderita Dad, karena ulahnya. Dokter menyimpulkan demikian setelah memeriksa Mama dan hasilnya negatif atas penyakit tersebut. Hasil cek darahnya yang paling mengejutkan adalah dia sedang hamil. Usia kandungannya sudah delapan minggu.


Walaupun dia adalah korban, Dad tetap menghubungi keluarga almarhumah Mom untuk memberi tahu di mana Aunt Chelsea berada. Biar bagaimana pun, Aunt membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya untuk menjalani proses hukum sampai persidangan usai.


Dad tidak peduli dengan statusnya sebagai kakak iparnya. Kejahatan tetaplah kejahatan. Apalagi Aunt jelas-jelas mencoba untuk menjebak Dad agar menjadi ayah dari janin yang dia kandung. Aku tidak menyangka cinta bisa membuat orang menjadi sejahat itu.


“Aku mohon, Will,” pinta Grandma, ibu kandung Mom, yang meminta kami bertemu dengan mereka. Tetapi Dad menyebut alamat kantor Uncle Zach sebagai tempat pertemuan kami. Uncle Hendra tahu segalanya dan membantu Dad dalam setiap proses hukum yang harus dia jalani. “Chelsea sedang mengandung, bebaskan dia. Aku janji, dia tidak akan melakukan hal yang sama lagi.”


“Mister Lewis menginginkan proses hukum tetap berjalan. Tetapi bila Miss Huber setuju untuk mengakui kesalahannya dan memenuhi semua syarat yang Mister Lewis ajukan, maka dia tidak perlu menghabiskan waktunya di penjara,” kata Uncle Zach mewakili Dad.


“Syarat apa?” tanya pengacara Grandma.


“Miss Huber tidak boleh datang lagi ke Indonesia untuk alasan apa pun. Dia juga tidak boleh berada pada satu tempat yang sama dengan Mister Lewis dalam kunjungannya ke Amerika. Uang sebesar seratus ribu US Dollar harus disumbangkan pada yayasan yang mengurus korban pemerkosaan di Amerika, sebagai ganti rugi. Lalu, Mister Lewis menyatakan putus hubungan dengan Keluarga Huber. Jadi, dia tidak akan berkunjung lagi pada hari-hari besar ke rumah kalian. Ada tanggapan?” ucap Uncle Zach dengan sikap serius dan profesional.


“Seratus ribu dolar itu jumlah yang besar,” ucap Grandma lirih.


“Guncangan jiwa, penderitaan fisik, dan terancamnya pernikahan Mister Lewis dengan istrinya lebih mahal dari jumlah uang itu,” kata Uncle Zach dengan tegas. “Terima tawaran kami atau Miss Huber tetap menjalani proses hukum.”


Grandma, Grandpa, dan pengacara mereka saling berdiskusi. Kami menunggu dengan sabar. “Baik,” kata pengacara mereka, akhirnya. “Semua persyaratan itu kami setujui. Tetapi Mister Lewis tidak akan menahan anak-anaknya untuk menemui kakek dan nenek mereka, ‘kan?”


Dad dan Uncle Zach menoleh ke arahku. Sepertinya pertanyaan itu harus aku jawab sendiri. “Aku dan Lily tidak akan menginjakkan kaki lagi di rumah Grandpa dan Grandma. Maafkan aku bersikap lancang. Tetapi aku tidak mau bertemu secara tidak sengaja lagi dengan orang yang sudah membuat Dad dan Mama susah. Grandma tidak pernah berusaha memberi pengertian kepada Aunt Chelsea mengenai perasaannya kepada Dad. Jadi, ini kesalahan Grandma juga.”


“Chelsea sudah dewasa, aku tidak mungkin mengatur hidupnya lagi,” kata Grandma membela diri.

__ADS_1


“Aku ada di sana, Grandma. Aku mendengar apa yang Grandma katakan kepada Dad saat kami datang berkunjung tanpa Mama. Grandma meminta Dad untuk menceraikan Mama dan menikah dengan Aunt Chelsea. Apa itu yang namanya tidak mengatur hidup Aunt lagi?” tantangku. Grandma merapatkan bibirnya. Dia pasti tidak menduga bahwa aku mendengar percakapan itu.


“Jika Grandma tidak berada di pihak Aunt, kejadian di hotel pada hari Sabtu dan Minggu lalu tidak akan pernah terjadi. Aku juga yakin, Grandma tahu mengenai rencana Aunt datang ke Indonesia. Iya, ‘kan? Aku tidak percaya nenek dan tanteku sendiri tega melakukan hal ini kepada ayahku.” Aku memegang tangan Dad yang ada di atas meja.


“Sayang, apa itu benar? Kamu tahu mengenai kepergian Chelsea ke sini?” tanya Grandpa terkejut. Grandma hanya diam.


“Kalau semuanya sudah sepakat, maka kita lanjut ke langkah berikutnya.” Uncle Zach memberikan sebuah map kepada pengacara Grandpa. “Nama yayasan dan rekeningnya ada pada surat perjanjian ini. Begitu uang ditransfer, Miss Huber akan dibebaskan. Tolong tanda tangani kedua berkas itu.”


Grandpa dan Grandma membubuhi tanda tangan mereka, begitu juga dengan sang pengacara. Aku tidak tahu mengapa tanda tangan keduanya dibutuhkan, tetapi itu urusan Uncle Zach dan kami percaya kepadanya. Lalu Dad dan Uncle pun menandatangani berkas tersebut.


Uncle Zach memberi satu map kepada pengacara Grandpa, satu untuk Dad, dan satu lagi untuk dirinya sendiri. Kedua pengacara itu saling berjabatan tangan, tetapi Dad menolak untuk menyentuh tangan siapa pun, termasuk Grandpa dan Grandma.


“Kamu tidak bisa memisahkan aku dengan cucu-cucuku, Will,” kata Grandma kepada Dad.


“Grandma, ini keputusan kami, bukan Dad. Hubungan kita sudah berakhir. Sebaiknya Grandma berhenti menuduh Dad sembarangan,” kataku mengingatkan.


“Kamu tidak bisa melakukan ini, Colin. Kamu dan Lily adalah cucuku,” ucap Grandma sedih. Aku memalingkan wajah, tidak mau melihatnya lagi.


Ketika mereka keluar, aku tidak menoleh sama sekali. Apa yang mereka lakukan tidak termaafkan. Lily bahkan lebih terluka dari apa yang aku rasakan. Bagaimana bisa Grandma masih berharap kami mau datang menemui mereka?


“Aku akan memberi tahu kamu begitu perwakilan yayasan menghubungi aku. Lalu kita akan ke kantor polisi untuk membebaskan Chelsea,” kata Uncle Zach kepada Dad.


“Terima kasih, Zach. Tanpa kamu, aku tidak akan bisa menyelesaikan kasus ini dengan baik.” Dad menjabat tangan Uncle.


“Teman Kak Hendra adalah temanku juga. Kakak sudah memberi tahu aku bahwa kapan pun kamu butuh penasihat hukum, maka aku selalu siap sedia.” Uncle melirik ke arahku sesaat. “Mengenai Gista, jangan khawatir. Kak Ara akan bicara dengannya.”


“Baik. Tetapi jangan terlalu keras kepadanya. Dia berhak marah dan kecewa kepadaku. Aku sudah gagal menjaga diriku sendiri.”


“Tidak, Will. Kamu adalah orang baik dan Chelsea memanfaatkan hal itu. Dia berbohong dengan mengaku kecopetan saat ziarah ke makam almarhumah istrimu. Kamu tidak tahu itu. Kamu juga tidak tahu bahwa dia akan berbuat jauh dengan memasukkan obat tidur ke minumanmu.” Uncle menepuk pundak Dad. “Fokus pada Gista. Lupakan perempuan jahat itu.”

__ADS_1


Dad mengangguk pelan. Uncle menoleh kepadaku dan menganggukkan kepalanya. Dia keluar dari ruangan, meninggalkan aku berdua saja dengan Dad. Aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menolong mengurangi beban yang dia rasakan.


Kami menuju uang tunggu khusus dan Lily masih berada di sana, sibuk dengan ponselnya. Melihat kami datang, dia segera berdiri dan memeluk Dad. “Apa semuanya sudah beres, Dad?” tanyanya.


“Sudah, sayang. Ayo, kita jemput Mama.” Dad merangkul bahu Lily dan mengajaknya keluar dari ruangan tersebut. Aku mengikuti mereka. Uncle Zach sengaja meminta adikku menunggu di ruangan itu agar tidak berpapasan dengan Grandpa atau Grandma. Lily juga tidak mau bertemu mereka.


Aku yang mengendarai mobil, karena Dad masih emosional. Walaupun dia tidak mengatakannya, aku tahu dari ekspresi wajahnya. Sejak kejadian di kamar hotel, Dad dan Mama menjauh. Dad tidur di sofa dan mereka sudah satu minggu lebih tidak bicara atau bersentuhan.


Di mana Dad berada, Mama pasti menghindari ruangan tersebut. Aku dan Lily berusaha melakukan apa yang kami bisa. Tetapi hubungan mereka belum membaik juga. Mama masih tidak mau bicara atau berada di dekat Dad.


“Colin, berhenti di depan toko bunga itu. Kita perlu membeli beberapa tangkai mawar merah untuk Mama,” ucap Lily. Aku menurutinya dan berhenti di depan toko tersebut. “Aku segera kembali!”


Dad melihat ke arah Lily yang berlari memasuki toko tersebut. Dia mendesah pelan. “Aku sangat berterima kasih pada usaha kalian berdua. Maaf, aku belum bisa membuat mamamu memaafkan aku. Seandainya aku hanya tertangkap sedang mencium wanita lain, masalahnya tidak akan seperti ini. Tetapi Gista menemukan aku telah tidur dengan perempuan lain.”


“Beri Mama waktu, Dad. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja,” kataku meyakinkannya. Dad hanya tersenyum.


Aku mengendarai mobil begitu Lily kembali dengan satu buket mawar merah di tangannya. Kedua sisi jalan macet total karena kami dekat dengan pusat kota. Hal yang membuat aku lebih suka naik sepeda motor daripada menyetir mobil. Jam menunjukkan pukul lima sore. Semoga saja Mama masih berada di tempat kerjanya.


“Tenang saja. Aku sudah memberi tahu Mama. Pasti Mama menunggu sampai kita datang,” kata Lily mengurangi rasa khawatirku.


“Terima kasih, sayang,” kata Dad. Lily membalas dengan pelukan.


“Dad jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja,” kata Lily mengucapkan kalimat yang sama denganku. Itu memang harapan kami berdua terhadap hubungan orang tua kami.


Kami sama-sama mendesah lega begitu tiba di pekarangan depan gedung kantor milik Uncle Hendra. Sudah banyak mobil dan sepeda motor yang mengantri keluar, begitu juga dengan karyawan yang berjalan kaki. Kami mengantri sampai tiba di depan pintu utama gedung.


“Bukankah yang di depan itu mobil Kakek Kenzie?” tanya Lily.


“Kamu benar. Itu nomor plat mobil Kakek.” Aku menoleh ke arah Dad dengan khawatir. Apakah ini seperti dugaanku?

__ADS_1


“Itu Mama!” Lily segera keluar dari mobil. Aku dan Dad mengikutinya.


“Mengapa kalian semua ada di sini?” tanya Mama heran. Nenek Hagia keluar dari mobilnya, Mama menoleh dan memintanya untuk menunggu. “Maafkan aku. Seharusnya aku mengatakannya, tetapi aku ... aku akan menginap di rumah orang tuaku sampai keadaan tenang.”


__ADS_2