Dia Yang Tak Terjangkau

Dia Yang Tak Terjangkau
Bab 106 - Harga Diri


__ADS_3

*Dira*


Semula aku berpikir bahwa gadis bernama Valeria itu adalah lawan tangguhku. Ternyata dia tidak secantik yang aku duga. Tubuhnya juga lebih pendek dariku. Itu adalah hal yang menjadi kekurangan di mata Colin. Karena dia suka gadis yang bertubuh tinggi. Walaupun harus aku akui dia gadis yang menarik bagi sebagian pria, mulutnya akan membuat laki-laki menjauh.


Aku membenci Colin dengan segenap hatiku, tetapi aku tidak terima bila ada yang menghina dia serendah itu. Dia bukan bayang-bayang Kak Hadi. Sekalipun para gadis lebih suka mendekati kakakku, bukan berarti tidak ada perempuan yang tertarik pada Colin.


Dia tidak melihat apa yang terjadi selama kami berlibur di Ubud. Tanpa statusnya sebagai ahli waris Papa, Kakak bukanlah siapa-siapa di mata gadis lain. Mereka justru lebih menyukai Colin dengan wajah dan postur tubuh baratnya. Seandainya kami masih berpacaran, para gadis itu tidak akan berani menggodanya.


Tidak salah lagi. Aku cemburu. Dan aku tidak bisa menahan diriku di depan Colin. Sial. Untung saja dia tidak membahas hal ini lebih lanjut atau aku akan malu sendiri karena keceplosan. Aku perlu melatih emosiku agar tidak menunjukkannya lewat kata-kata kasar.


Namun aku tidak menyesal sudah memaki perempuan itu dengan label yang pas. Walaupun dia punya rambut panjang yang indah dan terawat, dia lebih cocok punya kepala botak. Rambut seindah itu tidak cocok dimiliki oleh perempuan bermulut tajam.


Perhatianku teralihkan dari perempuan itu ketika terdengar suara Charlotte mengeluhkan kakaknya. Dia dan Kak Hadi sama saja. Sama-sama keras kepala. Yang satu jelas masih sayang tetapi tidak mau menjatuhkan harga dirinya dengan mencoba memperbaiki hubungan mereka. Yang satu lagi terlalu banyak keraguan sehingga menghalangi niatnya untuk mendekati Kakak.


Pembicaraan kami terpotong ketika terdengar suara Clarissa dari arah belakang kami. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tersenyum melihat kedatangannya. Kakak pasti akan senang melihat gadis yang dia cintai datang menemuinya. Tentu saja dia menutupinya dengan alasan dia datang untuk makan siang gratis. Dia bodoh jika dia pikir kami akan percaya dengan kalimatnya itu.


“Begitu. Apa itu juga alasan kamu memutuskan hubungan kita?” Terdengar suara Kak Hadi dari arah belakang kami. “Karena aku terlalu mandiri sehingga tidak membutuhkan kamu?”


Aku dan Charlotte saling bertukar pandang mendengar kalimat itu. Kami bergeser agar mereka berdua bisa berdiri berhadapan. Seandainya saja ada jagung berondong. Ini akan menjadi tontonan yang menghibur dan aku lapar.


“Mengapa kamu malah membahas hubungan kita? Aku tidak menyebut kalimat terakhir itu. Tidak ada hubungan antara kemandirian kamu dengan aku.”


“Tentu saja ada. Bahkan sangat erat kaitannya. Kamu tidak akan memutuskan aku semudah itu kalau kamu tahu bahwa aku membutuhkan kamu. Mandiri, omong kosong. Aku tidak akan tinggal bersama orang tuaku jika aku semandiri yang kamu katakan tadi.”


“Kamu mau aku bagaimana? Meminta maaf? Aku sudah meminta maaf dan menjelaskan mengapa aku terpaksa melakukan itu.”


Kakak terdiam sejenak. Dia menatap Clarissa, lalu aku, seolah-olah dia baru menyadari sesuatu. “Tidak. Aku yang meminta maaf. Seharusnya aku tidak membahas hal ini lagi.” Dia melihat ke arah kami semua, lalu memasang senyum tipis. “Aku lapar. Ayo, kita makan sekarang.”


Apa yang baru saja terjadi? Kakak dan Clarissa sedang bertengkar dan semuanya mendadak berhenti? Apa yang tadi Kakak pikirkan sehingga dia terdiam? Sebaiknya aku bicarakan ini dengannya nanti. Aku juga sudah lapar dan tidak punya tenaga lagi untuk berpikir keras.


Kakak sekali lagi mengabaikan semua bunga dan hadiah yang disodorkan oleh para penggemarnya. Pak Sakti sudah menunggu kami di tempat parkir, begitu juga dengan sopir Charlotte. Kami menaiki mobil kami masing-masing, sedangkan Colin mengendarai sepeda motornya.


“Kalau kamu mau pergi bersamanya, aku bisa menelepon dia sekarang,” ucap Adi yang sudah ada di dalam mobil. “Aku yakin dia dengan senang hati akan berhenti dan membonceng Kakak.”

__ADS_1


“Sejak kapan kamu ada di mobil ini?” tanyaku terkejut. Mereka bertiga tertawa.


“Aku tahu kalian akan makan siang bersama. Aku tidak mau ketinggalan. Jadi, aku meminta Pak Sakti untuk menjemputku di rumah.”


“Bagaimana dengan Mama?”


“Mama sedang sibuk menyelesaikan bukunya. Aku sudah ajak, tetapi Mama menolak.”


Karena ada Adi di dalam mobil, aku menunggu saat yang tepat untuk bicara berdua saja dengan Kak Hadi. Walaupun aku yakin dia tidak akan keberatan Adi mendengar percakapan kami, aku tidak mau ada orang lain yang membuat dia tidak nyaman bicara jujur.


Apa yang sedang kamu pikirkan, Dira? Kamu juga sedang punya masalah cinta. Masalahmu saja belum selesai, mau sok menjadi pahlawan untuk kakakmu. Iya, tetapi bukan berarti aku tidak bisa menjadi pendengar bagi masalah kakakku.


Kakak memilih restoran yang menyediakan menu steak kesukaan Mama. Karena jaraknya tidak jauh, beberapa menit saja kami sudah tiba dan bisa segera memesan makanan kami. Tetapi Colin yang mengendarai sepeda motor malah belum sampai juga.


“Mencari siapa, Kak?” goda Adi. “Kak Colin?” Aku menarik napas panjang agar tidak terpancing untuk menjitak kepalanya.


“Cole menjemput Lily di apartemen mereka. Dia akan segera bergabung dengan kita. Adiknya sendiri di rumah, jadi aku meminta dia untuk mengajaknya juga,” kata Kakak memberi tahu kami.


Saat mereka akhirnya datang, mereka memesan makanan terlebih dahulu. Lily duduk di samping Adi, sedangkan Colin di sisi Clarissa. Pertanyaan yang sudah ditahan sedari tadi akhirnya diajukan juga. Charlotte menanyakan hasil seminar Kak Hadi. Aku tidak terkejut ketika Kakak mengumumkan dia lulus dan mendapatkan nilai A.


“Kamu hanya membuat aku semakin gugup,” ucap Colin sambil meletakkan tangannya di dadanya. “Apa aku bisa lulus juga besok? Aku tidak peduli dengan nilai yang aku dapatkan, yang penting lulus.”


“Tentu saja nilai tidak penting. Aku bertemu dengan banyak orang dengan nilai akademik tinggi, tetapi omongannya tidak berisi.” Wyatt memutar bola matanya. Dia melingkarkan tangannya di bahu Charlotte. “Gadisku yang nilai akademiknya tidak setinggi mereka justru jauh lebih cerdas.”


Kami ber-huu ria dan tertawa bersama. “Bagaimana denganmu, Hadi? Pemuda secerdas kamu mencari gadis seperti apa? Aku tahu kamu dan Clarissa dahulu dijodohkan. Tetapi jika kamu bisa memilih, gadis seperti apa yang didambakan oleh laki-laki secerdas kamu?”


“Gadis yang mau berjuang bersamaku dan menghargai perjuanganku. Kalian sudah lihat apa yang terjadi pada Dira. Itu hanya satu contoh yang sanggup orang lakukan kepada kami karena status kami sebagai anak Papa. Aku yakin ada banyak tantangan lain yang akan kami hadapi ke depan. Jadi, gadis itu harus seorang pejuang tangguh, bukan yang mudah menyerah.”


Walaupun Kakak tidak menyebut namanya, kami tahu siapa yang dia maksudkan dengan gadis yang mudah menyerah. Dan anehnya, aku tidak merasa tersinggung atau terluka ketika Kakak mengingat kejadian yang menyakitkan itu. Apa ini artinya aku sudah mulai pulih?


“Wow. Aku pikir kamu akan mengatakan gadis yang cantik, menarik, cerdas, kuliah di universitas ternama, berasal dari keluarga yang terpandang ….” Charlotte menatap Kak Hadi dengan heran. “Kamu bisa memilih gadis mana pun dan kamu hanya butuh seorang pejuang? Kamu tidak keberatan dengan perbedaan sosial atau pendidikan, misalnya?”


“Kamu belum melihat gadis mana saja yang berusaha mendekati aku, Charlotte? Yang kamu lihat di kampus tadi adalah gadis biasa dengan cara pendekatan yang mainstream. Kamu belum melihat apa yang para gadis anak dari kolega Papa lakukan setiap kali kami bertemu,” kata Kakak dengan arogan.

__ADS_1


“Memangnya apa yang mereka lakukan?” tanya Charlotte ingin tahu. Aku tersenyum menyadari apa yang sedang sahabatku itu lakukan. “Mengajak kamu kencan? Menyatakan cinta lewat saham?”


“Kurang lebih seperti itu. Mereka menawarkan pernikahan dengan keuntungan bisnis yang besar, merger lewat pernikahan, atau sekadar menjadi teman tidur tanpa ikatan. Jangan bayangkan gadis muda lugu yang sedang menawarkan dirinya padaku. Tetapi bayangkanlah wanita muda yang sangat menarik dengan kata-kata manis yang sulit ditolak oleh pria muda seperti aku.”


“Jangan bilang menarik artinya mereka berpakaian minim dengan bentuk tubuh yang menggoda iman setiap pemuda seperti kita,” kata Wyatt sarkas.


“Mereka tidak selalu berpakaian minim. Beberapa berpakaian tertutup tetapi membentuk lekuk tubuh mereka. Kadang-kadang mereka tidak puas hanya dengan membujuk saja, Wyatt. Mereka juga sering berpura-pura tidak sengaja mendekatkan dada mereka pada tubuhku. Aku—”


“Sudah cukup!!” Seseorang memukul meja dengan keras, membuat kami hampir terlompat dari kursi kami masing-masing.


*******


“Perempuan sialan!!” Valeria melempar tasnya ke atas sofa. Lalu dia berjalan mondar-mandir di ruangan tersebut. “Rencanaku hari ini hancur karena dia.”


“Valeria, apa itu kamu?” Seorang wanita separuh baya datang dari arah dalam rumah menuju ruang depan di mana Valeria berada. “Ada apa? Mengapa kamu pulang malah marah-marah begini?”


“Tidak ada apa-apa, Ma.” Valeria tersenyum saat dia memeluk mamanya dan mencium pipinya. “Bagaimana keadaan Mama? Apa semuanya baik-baik saja di rumah?”


“Semuanya baik-baik saja. Hari ini aku membuat satu video dengan resep masakan yang baru. Sudah banyak yang menonton dan memberikan jempol. Semoga video ini akan viral seperti yang lain. Dan aku sudah mengirim beberapa kue pesanan ke para pemesan. Pendapatan hari ini lumayan besar.” Wanita itu mengajak putrinya ke dapur.


“Mama pasti kelelahan. Biar aku yang membereskan semuanya. Mama duduk saja.” Valeria menarik salah satu kursi untuk mamanya, sedangkan dia berjalan mendekati wastafel.


“Kamu memang anak yang baik,” puji wanita itu dengan senyum bahagia.


“Apa Mama sudah menghubungi Om Noah?” tanya Valeria.


“Dia tidak mau menjawab teleponnya,” ucap wanita itu pelan.


Valeria melempar spons yang ada di tangannya ke dalam mangkuk berisi air sabun hingga busanya berserakan. “Mama adalah kakak kandungnya. Bagaimana bisa dia diam saja melihat kakak dan keponakannya hidup miskin begini? Masa memberi modal usaha saja dia tidak mau!?”


“Nak, jangan bicara begitu. Kita tidak miskin. Aku berusaha untuk memenuhi semua kebutuhanmu agar kamu punya semua yang anak-anak lain punya.”


“Kita tidak tinggal di rumah besar, tidak punya kendaraan pribadi, dan tidak punya banyak uang. Iya, Ma. Kita miskin!” semprot Valeria.

__ADS_1


__ADS_2