
*Hadi*
Usai jam makan siang, Tegar meminta aku menemani dia dan karyawan magang untuk mengunjungi salah satu toko kami. Aku menurut dan kami membagi mereka dalam dua kelompok. Satu mengikuti aku, sedangkan yang lainnya bersama Tegar.
Setelah berkeliling dan mengamati hal-hal yang bisa mereka manfaatkan sebagai ajang promosi, aku dan Tegar berkumpul kembali. Dia memberi instruksi kepada mereka, lalu kami kembali ke mobil. Suasana kantor kami cukup riuh ketika kami membuka pintunya.
“Hadi!” panggil manajer kami. Aku segera mendekatinya. “Sebaiknya kamu segera pulang. Terjadi kecelakaan di depan gerbang sekolah adikmu. Pak Mahendra sudah berulang kali menghubungi kamu, tetapi kamu tidak menjawab.”
Aku segera menurut dan memasuki bilikku. Di sanalah benda yang tidak aku perhatikan itu berada. Aku meninggalkan ponselku di atas meja. Setelah memasukkan semua barang pribadiku ke ransel, aku bergegas keluar dari ruangan menuju tempat parkir.
Kondisi yang membuat para pegawai di divisi pemasaran akhirnya bisa aku pahami. Mereka pasti sudah mendengar kabar mengenai Adi. Apakah dia baik-baik saja? Oh, Tuhan. Semoga dia tidak terluka seperti Clarissa. Tidak. Aku tidak perlu khawatir. Papa membawa Adi pulang ke rumah, itu artinya dia tidak terluka parah.
Hampir dua jam bergelut di tengah lalu lintas, aku akhirnya tiba di rumah. Pak Kafin yang keluar dari pintu depan dan menolong aku memasukkan mobil ke garasi. Ke mana Pak Sakti? Apakah dia baik-baik saja? Pak Abdi memberi tahu aku di mana keluargaku berada. Aku bergegas menuju kamar Adi.
Papa dan Mama duduk di tepi tempat tidur Adi yang sedang tertidur pulas. Mereka terlihat khawatir. Aku mendekat dan mereka menoleh ke arahku. “Adi baru saja tertidur,” kata Papa sambil berdiri. “Sebaiknya kita ke ruangan lain.”
Aku menurutinya. Papa dan Mama berjalan di depanku. Aku menutup kamar itu perlahan agar Adi tidak terbangun. Mereka menuruni tangga, jadi aku sudah bisa menebak mereka akan memasuki ruang keluarga. Pak Abdi membantu membukakan pintu sekaligus mengumumkan bahwa makan malam akan siap lima menit lagi. Papa mengangguk.
“Ke mana Dira, Pa? Apa dia belum pulang?” tanyaku bingung melihat ke sekitar kami. Biasanya dia tiba di rumah lebih dahulu daripada aku.
“Dia baru saja pergi ke apartemen Colin,” jawab Papa pelan. Dia terlihat sangat lelah.
Aku segera waswas mendengar kalimat itu. Colin setiap hari mengantar dan menjemput adiknya dari sekolah. Apakah terjadi sesuatu kepadanya? “Apa Colin atau Lily terluka?”
Papa menggeleng pelan. “Syukurnya, mereka juga baik-baik saja. Tetapi Dira sangat khawatir setelah melihat keadaan Adi yang terguncang berat. Jadi, dia pergi untuk melihat keadaan Colin dan adiknya.”
Ooo. Jadi, itu sebabnya Pak Sakti tidak ada di rumah. Pasti dia yang mengantar Dira ke sana. “Apa yang sebenarnya terjadi, Pa?” Hal itu bisa aku ketahui dari media berita, tetapi Papa selalu lebih tahu secara detail dibandingkan semua media tersebut.
__ADS_1
“Irwan masih mencari tahu. Menurut keterangan Colin, mobil ini tiba-tiba saja melaju dengan cepat di depannya dan menabrak tembok gerbang sekolah Adi.” Papa terdiam sejenak. Dia kesulitan untuk melanjutkan penjelasannya. Aku menunggu dengan sabar. “Dari berita terakhir yang disampaikan lewat berita, ada dua puluh orang yang menjadi korban. Sebelas anak sekolah tewas di tempat.”
Oh, Tuhan. Mereka semua masih muda. Anak belasan tahun yang masih punya banyak mimpi dan harapan yang ingin mereka raih. Semuanya itu musnah begitu saja, karena keteledoran seorang pengemudi mobil. Tetapi aku mendesah lega, Adi selamat dari kecelakaan maut itu.
“Adi tidak terluka sama sekali. Tetapi dia sangat terguncang, jadi aku memanggil Andreas untuk memberi dia penenang.” Papa terdiam sejenak, karena Mama terisak. “Dia berhasil mengelak dari mobil itu, tetapi tidak dengan siswa yang berjalan di sisi dan belakangnya. Dia terus merasa bersalah, karena dia selamat sedangkan mereka tidak.”
“Bertahun-tahun aku juga Dira sekolah di sana, hal ini tidak pernah terjadi. Apa yang dilakukan oleh pengemudi itu sehingga mengebut di kawasan sekolah? Apalagi tepat pada jam pulang sekolah. Oh, Tuhan. Sebelas nyawa melayang itu bukan jumlah yang sedikit.” Aku menyisir rambut dengan jemari di tangan kananku. “Apa mungkin dia mengincar seseorang secara khusus?”
Papa menggelengkan kepalanya. “Irwan masih mencari tahu. Aku tidak bisa ikut ke kantor polisi untuk melihat pelakunya. Adikmu lebih membutuhkan aku.”
“Jika dia sengaja melakukan itu, kamu harus menyuruh Zach untuk menghukum dia seberat mungkin. Apa kamu mendengarkan aku? Gara-gara dia, putraku sampai menangis sesedih itu,” kata Mama.
“Tentu saja, Za. Dia pasti akan mendapatkan hukuman yang paling berat.” Papa mencium sisi rambut Mama. “Kita makan sekarang?” tanya Papa kepadaku. Aku mengangguk.
Kami makan dalam diam. Aku tahu bahwa Mama tidak selera makan, tetapi dia memaksakan dirinya untuk menghabiskan semua makanan yang Papa taruh di atas piringnya. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku menelepon Clarissa. Sebelum aku mengatakan apa yang terjadi, dia sudah mengetahui semuanya dari berita yang dia tonton bersama neneknya.
“Mengapa kamu bertanya begitu?” Dia malah balik bertanya, dan itu menjadi pertanda bahwa telah terjadi hal yang membuat dia tidak bahagia.
“Apakah nenekmu memarahi kamu, karena memasak banyak makanan, tetapi aku tidak jadi datang?” tanyaku berhati-hati.
“Apa kamu lupa dengan Wyatt? Dia dengan senang hati memakan semua piza dan pastel bagianmu.” Dia tertawa geli. “Aku tidak apa-apa, sayang. Mungkin aku kelelahan, karena memasak banyak makanan untuk pemuda yang aku cintai.”
Seandainya saja aku bisa melihat wajahnya saat ini. Kami tidak bisa melakukannya, karena dia belum bisa melihat tombol-tombol pada ponselnya. Jadi, aku yang harus menunggu dia menelepon aku. Dia tahu di mana posisi nomorku. Setelah membuka kunci layar dengan sidik jari, dia cukup menyentuh simbol yang aku desain itu, maka kami pun terhubung.
Adi terlihat lebih segar pada pagi harinya. Kami tidak membahas apa pun yang terjadi di sekolahnya. Mama menceritakan rencananya bertemu dengan Tante Rasmi siang nanti untuk membahas proyek buku barunya. Aku dan Dira berebut memberitahukan rencana kami di kantor dan kampus.
“Aku baik-baik saja. Kalian semua tidak perlu khawatir. Kejadian itu masih terbayang dengan jelas, tetapi aku tidak akan histeris lagi.” Adi tersenyum sedih. “Aku selamat dari musibah itu, karena Tuhan tahu Mama akan sangat sedih bila kehilangan aku.”
__ADS_1
Mama terisak. Dia berdiri dan mendekati adikku. Kami ikut menangis bersama mereka. Bukan hanya Mama. Aku juga belum siap kehilangan adikku secepat ini. Aku, Dira, dan Papa ikut berdiri dan memeluk Adi. Kami tahu ada banyak orang di luar sana yang menangisi kepergian anak dan saudara mereka yang meninggal, karena kecelakaan itu. Tetapi aku tidak mau menyimpan rasa bersalah mensyukuri luputnya adikku dari malapetaka. Bukan kami yang merencanakan kecelakaan itu.
Karena kondisi sekolah yang belum kondusif, kegiatan belajar mengajar ditiadakan sampai para guru dan siswa pulih dari rasa terguncang mereka. Sekolah juga perlu memperbaiki tembok yang rusak akibat kecelakaan tersebut. Jadi, Adi punya banyak waktu untuk memulihkan diri.
Suasana di tempat kerja masih penuh dengan bisik-bisik yang ada hubungannya dengan kecelakaan pada hari sebelumnya. Wajar saja. Tidak ada yang bisa percaya bahwa ada orang yang tega menyetir dalam keadaan tidak sehat. Apalagi yang menjadi korban adalah anak sekolah.
Ponselku bergetar saat aku bersiap untuk pulang. Selama beberapa hari ke depan, Clarissa tidak keberatan aku tidak menemuinya di rumahnya. Dia mengerti bahwa prioritasku saat ini adalah Adi. Aku menjawab panggilan masuk tersebut.
“Tolong, minta Colin untuk datang ke rumah. Dira membutuhkannya. Aku harus ke kantor polisi dan pulang setelah urusan di sana selesai,” kata Papa yang tidak menunggu aku merespons.
Aku tertegun sejenak menatap layar ponselku tersebut. Apa yang terjadi sehingga Papa harus ke kantor polisi dan Dira membutuhkan Colin? Menuruti perintah Papa, aku menelepon sahabatku dan memintanya datang ke rumah kami. Aku juga bergegas pulang.
Untuk menemani aku dalam perjalanan, aku meminta Tante Lindsey untuk menghubungkan aku dengan cucunya lewat panggilan video. Aku tertegun ketika yang menghubungi aku adalah Charlotte. Mengerti apa yang sedang terjadi, aku meminta dia untuk memberikan ponselnya ke kakaknya.
“Kamu tidak sebut cucu Nenek yang mana, makanya mereka mengerjai kamu,” ucap Clarissa yang tertawa puas. “Apa kabarmu, sayang? Bagaimana pekerjaanmu hari ini?”
Aku menceritakan kepadanya aktivitas kami tadi di kantor. Dia juga berbagi kegiatannya bersama neneknya. Mengemudikan ditemani seseorang memang lebih menyenangkan. Apalagi aku bisa melihat wajahnya. Lalu lintas yang macet total pun tidak membuat aku kesal.
Pak Sakti mengambil alih mobil ketika aku tiba di rumah. Setelah berterima kasih kepadanya, aku melewati Pak Abdi yang menjaga pintu tetap terbuka. Keluargaku sudah berada di ruang keluarga dengan Colin duduk di sisi Dira. Mereka menikmati kue dengan jus jeruk. Aku menyapa mereka, lalu duduk di samping Mama.
“Ada apa, Kak?” tanya Dira kepadaku. Aku hanya menggeleng. “Wajah Kakak terlihat tegang. Apakah ada masalah di tempat kerja?”
“Tidak.” Aku melirik ke arah Colin. “Tidak ada masalah di tempat kerja.”
Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini Papa yang masuk. Wajahnya terlihat sangat serius. Aku berdiri dan duduk di sisi Adi agar Papa bisa berada di samping Mama. “Papa juga terlihat tegang. Apakah ada kejadian buruk di kantor?” tanya Dira sambil melihat aku dan Papa secara bergantian.
“Ini bukan masalah di tempat kerja,” jawab Papa pelan. Kami menunggu dia melanjutkan kalimatnya. “Ini mengenai orang yang sudah mengemudikan mobil nahas kemarin.”
__ADS_1